Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Tidak Mungkin


__ADS_3

Darsh masuk ke rumah. Dia sebenarnya ingin langsung sampai ke kamarnya, tetapi Jillian menghentikannya.


"Kak, bisa bicara sebentar?"


Darsh menoleh keberadaan Jillian yang terlihat baru saja keluar dari kamarnya.


"Hemm, soal apa?" jawab Darsh cuek.


"Kak Frey sudah punya kekasih?" Jillian mendekat. Harapannya untuk mendapatkan jawaban bukanlah semata ingin mengetahui perihal teman kakaknya itu, tetapi ada urusan lain.


"Kamu menyukainya?" selidik Darsh.


Cukup dengan Jillian tersenyum sudah mewakili semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Darsh.


"Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Besok malam masih ada tiga lagi sahabat Kakak. Pilihlah salah satu dari mereka kalau kamu mau."


"Kak, dia itu nyambung banget ngobrol sama aku," ucap Jillian.


"Setelah kamu--"


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di sini?" tanya Daddynya Jillian yang kebetulan lewat.


"Ehm, anu Dad, besok kan acaranya Kak Darsh. Nah, dia memintaku untuk memilihkan jas yang cocok untuknya. Bukankah besok akan ada tamu spesial?" Jillian takut ketahuan Daddynya. Makanya dia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Benar begitu, Darsh?" tanya Felix.


Ck, Jillian ada-ada saja. Kenapa dia harus berbohong? Hemm, memang enak kukerjain.


"Bohong, Om. Jillian yang paling antusias karena besok, beberapa sahabat Darsh akan datang. Tentunya dia bingung untuk memilih yang mana. Apalagi sahabat Darsh ini memiliki karakter yang macam-macam. Kalau Om membutuhkan salah satu dari mereka untuk menjadi calon menantu, dipersilakan," jelas Darsh.


Jillian sudah melotot berusaha mengkode kakak sepupunya itu, tetapi tidak digubris sama sekali.


Ish, Kak Darsh menyebalkan. Kalau begini kan bisa saja Daddy akan marah padaku. Huft, Kak Darsh.


Felix menatap anak gadisnya. Memang dia terlalu mengekang putrinya untuk sekadar mengenal lelaki seumuran dengannya. Tindakan Felix tidak salah, tetapi ini kesempatan langka. Lagi pula setelah mereka berkenalan, Jillian akan kembali pulang ke rumahnya. Kesempatan mereka untuk bertemu semakin minim dan hanya bisa dilakukan secara virtual. Apa salahnya kalau Felix memberikan kesempatan ini? Toh istrinya dulu juga menikah muda dengannya.


Tak ada salahnya aku memberikan kebebasan kepadanya. Hanya selama di sini juga, kan?


"Baiklah, Daddy akan--"


"Wah, ramai sekali. Yang lainnya mana?" sapa Dizon yang baru saja pulang dari kantor.

__ADS_1


"Kak Dizon, apa kabar?" Felix belum memberikan kesempatan putrinya karena keburu sang kakak pulang dan menghampirinya. Dia langsung memeluk kakaknya itu dengan haru.


Setelah berpelukan untuk beberapa saat, Felix sebenarnya ingin memanggil orang tuanya. Namun, Dizon menahannya.


"Kak, aku panggilkan Mama dan Papa, ya?"


"Tunggu sampai makan malam tiba. Kami akan bertemu di meja makan. Biarkan mereka beristirahat dulu. Hai, Jillian," sapa Dizon.


"Hai, Om," balasnya.


"Ya sudah, Darsh lanjutkan mengobrolnya. Papa akan ke kamar dulu," pamitnya.


Dizon meninggalkan mereka bertiga. Entah obrolan apa yang sempat terhenti. Sepertinya sedang serius sekali.


"Dad, apa yang ingin disampaikan?" tanya Jillian penasaran.


"Ehm, apa ya? Eh yang tadi, ya. Daddy akan mengizinkanmu untuk mengenal salah satu dari mereka, tetapi ingat. Tetap jaga batasanmu!" pesan Felix. Pria itu kemudian kembali ke kamarnya.


Jillian nampak senang sekali.


Iyes, terima kasih Daddy. I love you, Daddy.


"Cie, selamat berjuang. Semoga hasilnya tidak membingungkan," ledek Darsh.


Apakah mereka bisa seperti Kak Frey? Atau malah lebih dan lebih lagi. Aduh, kenapa kak Darsh yang mau naik jabatan, malah aku yang galau seperti ini?


...***...


Restoran ZA mulai tampak lenggang. Pergantian shift juga sudah selesai. Tinggal Glenda yang sedang berada di tempat parkir. Dia menunggu Daddynya yang belum kelihatan.


"Sayang, maaf harus menunggu lama," ucap Vigor.


"Tidak masalah, Dad. Biasanya juga begitu," balasnya.


"Langsung pulang atau mampir dulu?" tawar Vigor.


"Pulang saja, Dad. Aku juga lelah." Glenda langsung masuk ke mobil setelah Daddynya membukakan pintu untuknya.


"Sepertinya kamu bertemu dengan seseorang. Siapa dia?" tanya Vigor ketika sudah berada di kursi kemudinya.


"Daddy melihatnya?" Glenda menoleh ke arah Daddynya.

__ADS_1


"Hemm, hanya dari jauh. Daddy tidak berani mendekat, sayang."


"Iya, Dad. Dia itu Mr. D. Sayang sekali tidak mau membuka kacamatanya," keluh Glenda.


Vigor merasa putrinya sudah mulai berubah. Rasa penasaran terhadap lawan jenisnya semakin tinggi.


"Kamu menyukainya?" Vigor mulai mengemudikan mobilnya.


"Entahlah, Dad. Perhatiannya padaku sudah membuktikan lebih dari cukup kalau aku juga layak dikenal walaupun sebagai pelayan restoran."


"Kamu menyesal kalau Daddy dan Mommy menyembunyikan identitasmu?"


Sebenarnya Glenda sangat menikmati posisinya sekarang. Dia bisa mempunyai banyak teman. Dia juga bebas untuk berinteraksi dengan siapapun tanpa menunjukkan status sosialnya.


"Enggak, Dad. Hanya saja, aku khawatir kalau Darsh akan menolakku," ucapnya sendu.


"Hemm, jadi Mr. D itu kepanjangannya Darsh. Sangat menarik," goda Daddyny.


"Oh, ya ampun. Apakah aku keceplosan, Dad?" tanya Glenda.


"Iya. Bukan lagi keceplosan, tetapi sudah membuka namanya," goda Vigor lagi.


"Dad, please. Jangan beritahu Mommy, ya? Aku pasti diledekin lagi."


"Boleh Daddy selidiki?" tanya Vigor. Dia tidak mau putrinya tiba-tiba dikecewakan oleh lelaki itu.


"Tidak perlu, Dad. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Kalau aku ingin bertemu, cukup memintanya untuk datang ke restoran. Lagi pula, dia sangat ramah dan sopan kepadaku. Daddy tak perlu punya pikiran buruk terhadapnya. Daddy lihat, dia datang ke restoran dan menemuiku. Itu sudah cukup menunjukkan kalau dia lelaki baik," jelas Glenda.


"Baiklah, terserah kamu, sayang. Ingat pesan Daddy, jangan main hati kalau tidak mau tersakiti," ucap Vigor.


Daddy salah besar. Justu aku mulai berani merakit hatiku untuk meyakinkan diri apakah aku bisa menerimanya jika sewaktu-waktu lelaki itu mengatakan perasaannya kepadaku. Menurutku, dia lelaki sempurna walaupun kenyataannya bukan lelaki romantis seperti pandanganku.


"Daddy jangan khawatir. Doakan Glenda. Kalaupun dia yang terbaik untukku, pasti akan selalu bersama. Misalnya kami saling menyukai, apakah Daddy setuju?" tanya Glenda.


Vigor diam. Dia belum memutuskan apapun untuk putri tunggalnya. Dia masih perlu memikirkan pantas atau tidak seorang Darsh untuk bersanding dengan putrinya. Vigor perlu tahu banyak hal tentangnya.


"Daddy belum bisa memberikan keputusan, sayang. Kamu baru saja mengenalnya. Mungkin seiring perjalanan waktu, Daddy dan Mommy berusaha meyakinkan diri untuk bisa menerima Darsh," jelasnya.


"Hemm, baiklah. Apa yang harus Glenda lakukan supaya Daddy dan Mommy bisa menerima Darsh?" tanya Glenda.


"Pertemukan Daddy dengannya terlebih dahulu, baru Daddy akan memutuskan."

__ADS_1


"Oh ayolah, Daddy. Itu tidak mungkin. Glenda hanya pelayan, mana mungkin mempertemukan pemilik restoran dengannya. Itu akan membuatnya semakin curiga tentang siapa Glenda sebenarnya," tolak Glenda.


Vigor harus memikirkan ulang untuk mengenal lelaki itu lebih dekat. Ucapan Glenda memang ada benarnya. Terlalu dini membuka jati diri putrinya apalagi di depan Darsh.


__ADS_2