
Jillian langsung ke kamarnya. Dia tidak ingin bertemu dengan Max ataupun Frey. Sementara daddynya baru saja keluar ruang kerjanya. Dia menuju ke ruang tengah dengan perasaan bimbang. Belum bisa memutuskan seperti dulu. Bukan karena tidak tegas, tetapi ada hati yang perlu dijaga.
"Max, Frey, aku minta maaf untuk kali. Om maupun Jillian belum bisa memutuskan. Kita tunggu sampai putriku itu lulus kuliah," ucap Felix.
Suasana sudah tidak kondusif. Darsh butuh seseorang yang bisa membantunya. Dia memikirkan istrinya. Gadis itu pasti bisa membantunya.
"Semuanya,aku pamit ke kamar dulu. Ayo sayang," ucap Darsh.
Tentu saja semua orang yang berada di sana merasa kalau Darsh sudah berubah. Padahal sebenarnya dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir kalau hubungannya dengan istrinya terlihat kaku sekali.
Glenda tentu saja mengikutinya. Darsh sudah menarik tangannya, mau bagaimana lagi.
"Maaf, Glenda masuk dulu," pamitnya.
"Iya, sayang," jawab Olivia.
Darsh ingin beristirahat karena malam ini barus ke Bandara lagi untuk menjemput mertuanya. Dia yang membukakan pintu kamar kemudian tugas Glenda yang menutupnya.
"Darsh, kamu ada apa? Sepertinya terlihat kesal sekali dengan Frey?" selidik Glenda.
"Entahlah, Glenda. Aku tidak mau ikut campur lagi urusannya. Dia bilang padaku kalau yakin akan menikahi Jillian. Sekarang di depan daddynya, dia terlihat tidak yakin dan memberikan Max kesempatan. Jujur, aku tidak rela kalau Jillian mendapatkan Max," ucapnya. Baru kali ini dia terbuka dengan gadis yang sudah sah menjadi istrinya.
Glenda mendekati suaminya. Dia berusaha menjadi gadis yang sedikit agresif. Tak hanya mendekati, dia juga memegang kedua tangan suaminya.
"Darsh, biarkan Jillian yang menentukan pilihannya. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuknya. Kalaupun ternyata Max yang terpilih, kamu bisa apa? Garis takdir seperti kita, Darsh. Aku juga tidak pernah tahu kita menikah secepat ini. Walaupun kamu tahu, sikap kita sangat berbeda. Aku berusaha bersikap agresif terhadapmu. Aku minta maaf." Glenda melepaskan tangan Darsh kemudian berbalik arah menuju ranjang. Malam ini, dia akan tidur sendirian lagi di ranjang king size di kamar itu. Darsh pasti memilih untuk tidur di sofa seperti hari-hari sebelumnya.
"Glenda, maafkan aku. Aku terlalu sibuk mengurus adikku. Aku mengabaikanmu. Aku minta maaf," ucap Darsh.
Glenda berbalik badan, dia sudah sampai di ranjangnya. "Tak perlu meminta maaf, Darsh. Lama-lama aku terbiasa dengan sikapmu. Aku memang bukan perempuan mandiri seperti yang dikatakan Max hari ini." Glenda tidak jadi ke ranjang. Dia lebih memilih ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan piyama tidur. Malam ini, dia akan tidur lagi di ranjang seorang diri.
"Rasanya memiliki suami sama saja dengan masih sendiri dulu. Apa iya aku harus menjadi gadis penggoda di hadapan suamiku sendiri? Dia terlalu dingin." Glenda memandangi dirinya di depan cermin. Dia marah pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang suami malah mengabaikan istrinya seperti ini?
__ADS_1
Glenda bergegas kembali ke kamarnya. Dia melihat Darsh masih di sofa. Lelaki itu malah sudah dalam posisi rebahan di sana.
"Darsh, boleh aku berbicara denganmu sebentar saja?" tanya Glenda.
"Katakan! Aku sebenarnya sudah mengantuk, tetapi sebelum aku tertidur, katakan saja," jawab Darsh.
"Apa kamu tidak ingin tidur seranjang denganku?"
Deg!
Status hubungannya sekarang sudah berbeda. Wajar kalau Glenda menanyakan hal itu. Darsh otomatis langsung duduk. Dia memandang lekat istrinya. Bukannya malah menjawab, lelaki itu malah bertanya padanya.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Darsh.
"Menjadi suami yang sempurna untukku," jawabnya.
"Maksudnya?" Darsh seperti merasa aneh mendengar jawabannya.
"Hemm." Darsh berdiri. Dia pergi ke kamar mandi sebentar untuk berganti baju. Sama dengan apa yang dilakukan Glenda, dia memandang cermin di sana.
"Apa aku keterlaluan padamu? Aku tahu ini terlalu mendadak. Terkadang, aku seperti merasa masih menjadi Darsh yang harus tinggal sekamar sendirian," ucapnya.
Darsh rupanya tidak ganti baju. Dia hanya melepaskan kaos yang dikenakannya. Selebihnya, dia tetap memakai celana panjang. Dada bidangnya terlihat sempurna untuk ukuran laki-laki sepertinya.
Darsh kembali ke kamarnya. Entah tujuannya untuk apa hanya menggunakan celana panjangnya saja. Glenda yang posisinya sudah berada di ranjang dibuat takjub dengan kemunculan Darsh yang seperti itu.
"Darsh?" Glenda heran, padahal di kamar ini AC-nya menyala dan akan sangat dingin jika tidak menggunakan pakaian.
"Bukankah kamu memintaku menjadi suami sempurna? Inilah aku, Glenda. Namun, aku tidak akan melakukan malam pertama kita di sini," ucapnya.
Glek!
__ADS_1
Malam pertama? Glenda bahkan belum memikirkannya. Dia hanya ingin suaminya itu bisa seranjang dengannya. Setidaknya supaya bisa lebih dekat dan menghilangkan kekakuan di antara keduanya.
"Bukan itu maksudku, Darsh," ucapnya terus memandangi bentuk tubuh suaminya.
"Tidurlah! Aku tidak akan melakukannya sebelum kamu siap." Darsh menuju ranjang. Dia mengambil tempat yang berbeda dengan Glenda. Ranjang king size itu malah terlihat masih longgar ketika Darsh sudah masuk ke dalam selimut.
Glenda tidak berani lagi memandangi suaminya. Rupanya ucapannya barusan membuat Glenda deg-degan. Bisa-bisanya Darsh membahas malam pertama dengannya.
Darsh juga bukan lelaki yang tidak punya keinginan. Namun, dia berusaha menahannya agar Glenda juga merasa nyaman. Satu hal yang sedang dipikirkan Darsh. Apakah Glenda siap memiliki anak di usia yang masih muda ini? Kalau memang belum siap, Darsh tidak akan memaksanya.
Hening. Glenda dan Darsh sama-sama terdiam. Darsh memandangi punggung Glenda yang sedang memunggungi suaminya. Dia sangat malu sebenarnya. Memejamkan mata juga sulit. Padahal Darsh sendiri sudah terpejam sejak tadi karena malam ini harus menjemput mertuanya.
"Darsh," panggil Glenda.
Tidak ada sahutan yang menandakan lelaki itu telah tertidur. Glenda baru berani membalikkan badannya untuk melihatnya.
Deg!
Jantung Glenda rasanya mau lepas. Pemandangan yang luar biasa indah. Wajah suaminya yang tampan itu menjadi magnet tersendiri untuknya.
Kamu tampan sekali, suamiku. Aku tidak menyangka akan dipertemukan dengan orang sepertimu. Cukup sempurna untuk ukuran lelaki yang hadir di mataku. Sayang, terkadang kamu salah sangka dengan permintaanku ini. Aku hanya ingin memandangmu lebih dekat. Aku juga belum siap untuk melakukan malam pertama kita. Batin Glenda.
Malam semakin larut. Glenda terlelap. Entah sudah berapa jam dai tertidur. Darsh akhirnya terjaga. Melihat istrinya tidur dengan wajahnya tertuju ke arahnya, dia yakin kalau gadis itu sebelum terlelap puas memandangi wajah suaminya. Sekarang giliran Darsh yang mencuri pandang.
Rupanya ini yang kamu maksud? Kamu memang cantik. Terkadang sikapku keterlaluan membuatmu salah paham. Aku juga yakin kalau kamu sedang berusaha mendekatiku dan untuk mendapatkan perhatian lebih. Maafkan aku, Glenda. Aku sedang berusaha. Batin Darsh.
Lelaki itu duduk dan menyandarkan kepalanya pada headboard ranjang. Dia melihat jam dinding sudah menunjukkan saatnya untuk menjemput mertuanya. Sebelum itu, Darsh memberikan kecupan pertamanya di dahi sang istri.
"Tidurlah! Aku akan menjemput mom dan daddymu," pamit Darsh.
Glenda terlelap. Tentu saja dia tidak bisa mendengarkan dan merasakan keromantisan yang Darsh berikan untuknya.
__ADS_1