
Pagi menjelang, ponsel Glenda entah sudah berada di mana karena semalam dia memeluknya dengan sangat erat. Glenda terlambat bangun sampai Mommynya mengetuk pintu kamarnya. Ini pertama kalinya Glenda bangun lebih siang.
Tok tok tok.
"Sayang, bangun Nak. Ini sudah siang loh. Daddymu bisa terlambat ke restoran," panggil Zelene.
Glenda baru saja turun dari ranjang dan membuka pintunya.
Ceklek!
"Mom, aku masih ngantuk," ucapnya. "Boleh ya aku izin tidak masuk kerja untuk hari ini saja."
Zelene nampak heran dengan kelakuan putrinya. Biasanya hampir tidak pernah bangun terlambat seperti ini. Bisa jadi karena semalaman tidak tidur karena sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?" tanya Zelene.
"Hah? Eh, enggak Mom. Aku tidak memikirkan sesuatu," ucap Glenda beralasan. Padahal semalam dia kepikiran mengenai Darsh terus.
"Jangan bohong, Glenda. Mommy paham betul siapa dirimu. Kalau memang ada masalah, ceritakan ke Mommy. Sebisa mungkin Mommy akan membantumu," jelas Zelene.
Apa sebaiknya aku cerita saja ke Mommy. Siapa tahu setelah ini aku diizinkan untuk menjalin hubungan dengannya.
"Mom, kalau misalnya aku mempunyai seorang kekasih, boleh?" tanya Glenda dengan suara yang sangat pelan.
"Kamu mau menjalin kasih dengan lelaki itu? Lelaki yang namanya Darsh itu?" selidik Mommynya.
Glenda mengangguk. "Kalau Mommy mengizinkan."
"Sayang, apa kamu yakin? Bukankah kamu juga baru mengenalnya. Selidiki dulu siapa dia? Kalau misalnya dia sudah punya kekasih, bagaimana? Apa kamu siap untuk patah hati?"
Ah, iya. Patah hati menjadi alasan Glenda penasaran untuk menjalin hubungan dengan Darsh. Semasa remaja sampai lulus kuliah, Glenda belum tahu rasanya patah hati. Itulah sebabnya ketika Darsh datang menawarkan sejuta pesonanya itu, membuatnya semakin tertarik untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
"Mom, Glenda yakin kalau lelaki itu tidak punya kekasih," ucapnya penuh percaya diri.
"Bagaimana mungkin kamu bisa seyakin itu, sayang?" Zelene agak khawatir.
"Entahlah, Mom. Perasaanku mengatakan seperti itu," jawab Glenda.
Zelene menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Terlalu mengekang Glenda bukan hal yang baik menurutnya. Terlalu memberikan kebebasan padanya juga tidak terlalu baik. Maka keputusannya diambil jalan tengah untuk menyelesaikan masalah itu.
"Baiklah, Mom menyetujuinya. Ingat, tidak boleh jauh dari jangkauan restoran Daddy. Kalau mau hubungan semakin lancar, lewat jalur vistual lebih bagus. Kamu harus berhati-hati, jangan sampai melakukan hubungan terlarang sebelum menikah. Pihak wanita paling dirugikan di sini. Jaga selalu batasanmu! Ingat, hindari berciuman atau berpegangan tangan. Kalau Darsh lelaki baik, dia akan menjagamu dengan baik sampai waktunya tiba," ucap Zelene. Ceramah dadakan membuatnya berusaha untuk mengatur nafasnya kembali.
__ADS_1
"Siap, Mom. Terima kasih. I love you, Mom." Glenda memeluk Mommynya dengan bahagia sekali. Keinginannya untuk mempunyai seorang kekasih akan terwujud.
"I love you too. Sebaiknya kamu mandi dulu. Daddy juga sudah pergi ke restoran."
Glenda masuk lagi ke kamarnya. Sebelum mandi, dia menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepada Darsh. Dia ingin bertemu hari ini.
[Darsh, bisa bertemu hari ini? Kalau bisa, jam sepuluh temui aku di restoran ZA.]
Setelah pesan terkirim, Glenda masuk ke kamar mandi. Dia tidak ingin terlambat datang ke restoran walaupun bukan untuk bekerja.
Rasanya hari ini Glenda akan mendapatkan kesempatan besar untuk lebih dekat dengan Darsh. Lelaki pertama yang mendekatinya dan menarik hatinya sampai sejauh ini.
Setelah selesai, Glenda mengambil bajunya kemudian bersiap. Dia memandang cermin dan menyisir rambutnya terlebih dahulu. Tak lupa, Glenda memoles make up tipis di wajahnya. Biasanya kalau hari kerja, dia akan menggunakan make up yang sedikit tebal, tetapi tidak terlalu mencolok. Kalau urusan seperti ini, Glenda sudah terbiasa melakukannya sendiri.
Setelah selesai, Glenda mengambil tas selempangnya dan memasukkan ponselnya ke sana. Tak lupa, dia juga memasukkan dompetnya untuk persiapan ongkos taksi ke restoran ZA.
Ceklek!
Glenda keluar kamarnya. Sebelum itu dia mengecek ponselnya terlebih dahulu. Ada balasan pesan dari Darsh yang isinya sangat mengejutkan.
[Ok.]
Jawabannya hanya terdiri dari dua huruf vokal dan konsonan itu. Benar-benar sangat tidak romantis. Inikah lelaki pilihannya?
"Hati-hati, sayang," ucapnya.
Glenda sangat ceria. Tak lupa dia memakai masker untuk menutupi wajahnya. Dia juga menyiapkan kacamata hitam, tetapi tidak berani menggunakannya. Kacamata hitam miliknya terlalu mahal. Kalau Darsh bisa mengenalinya, bisa makin kacau urusannya.
Glenda sekarang sudah berada di dalam taksi menuju ke restoran. Dia tidak ingin dikenali oleh rekan kerjanya dan berharap pertemuannya dengan Darsh berjalan dengan lancar.
Apa yang harus kukatakan pada lelaki itu? Apa tiba-tiba aku bilang padanya, tembak aku dong. Ih, enggak banget, kan? Ah, biarlah Darsh saja yang mengatakan apa yang ingin dikatakan.
"Non, sudah sampai," ucap sopir taksi.
"Eh, iya. Ini uangnya, terima kasih." Glenda bergegas turun dan masuk ke restoran. Dia memilih tempat yang letaknya berada di sudut ruangan yang jauh dari jangkauan pelanggan yang lewat.
Glenda melihat jam tangannya. Masih setengah jam lagi sampai Darsh datang. Dia memesan minuman terlebih dahulu. Tak berapa lama, lelaki berkacamata hitam masuk dan mencari keberadaannya.
"Boleh duduk," ucap Darsh.
"Eh, silakan," jawabnya.
__ADS_1
Diam merupakan hal yang wajar dilakukan seorang lelaki dan perempuan yang baru pertama kali bertemu, tetapi ini bukan pertemuan pertamanya. Keduanya masih saja terlihat kaku.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Darsh berusaha membuka percakapan. Dia tidak ingin berlama-lama di restoran karena mamanya sudah mewanti-wanti untuk lekas pulang. Dia belum mencoba pakaian yang akan digunakan nanti malam.
Aku harus jawab apa?
"A-aku sebelumnya minta maaf, Darsh. Mungkin ini terlalu cepat untuk kita, tetapi aku tidak bisa menyembunyikan terlalu lama darimu." Kini tidak hanya Darsh yang memainkan teka-teki, ternyata Glenda juga melakukan hal yang sama.
"Apa maksudmu?" tanya Darsh.
"Maaf, Darsh. Sebenarnya --"
"Silakan minumannya, Nona. Apakah Anda mau menambah pesanan lagi?" tanya pelayan itu.
"Darsh, apa kamu juga mau memesannya?" tanya Glenda.
"Tidak usah," jawabnya.
Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan pelanggan di meja itu.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Darsh.
Glenda mengambil minumannya terlebih dahulu. Dia menikmati setengah gelas minuman dingin itu. Setelah itu, Glenda meletakkannya kembali.
"Darsh, sebelumnya aku minta maaf. Mungkin ini terlalu cepat antara kita. Aku hanya ingin tahu kelanjutan hubungan kita akan seperti apa? Maksudku, apakah seperti seorang kekasih atau hanya sebatas teman dan selesai."
Darsh menatap gadis itu dari balik kacamata hitamnya. Dia masih memikirkan jawaban yang tepat untuknya. Sebenarnya ini kesempatan bagus, tetapi Glenda masih misterius untuknya.
Hubungan yang dimaksud Glenda, Darsh mengerti arahnya harus ke mana. Dia tidak bisa dengan mudah memberikan jawaban itu.
"Kalau misalnya di dunia ini hanya ada dua pilihan antara gula dan kopi, kamu akan memilih yang mana?" tanya Darsh.
Glenda bukan gadis yang serakah, dia hanya akan memilih salah satu saja dari pertanyaan Darsh.
"Kopi," jawab Glenda.
"Apa alasanmu?" tanya Darsh
"Tidak ada alasan khusus untuk itu, Darsh. Aku hanya memilihnya saja."
"Aku sebenarnya tahu arah pembicaraanmu, Glen. Aku sengaja memintamu untuk memilih salah satu agar aku yakin kalau kamu memang yang terbaik untukku," jawab Darsh.
__ADS_1
Glenda semakin bingung arah pembicaraan Darsh. Dia juga tidak paham pilihan antara gula dan kopi. Dia hanya memilih apa yang menurutnya bagus untuk dipilih saja.