
Semalam sudah jelas keputusan Jillian kalau gadis itu menolak pernikahan dini. Pagi ini, semua orang berada di meja makan. Olivia dan Kayana dibantu pelayan rumah untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
Sembari menunggu persiapan sarapan pagi yang belum terlalu siap, Dizon menyelipkan rapat dadakan melanjutkan keputusan semalam. Menurutnya belum mendapatkan kesepakatan final antara mereka dan putranya, Darsh.
"Darsh, Papa ingin bertanya padamu. Seperti yang Jillian katakan semalam bahwa dia menolak perjodohan ini. Bagaimana denganmu?" tanya Dizon.
Darsh yang sejak tadi mengamati sekelilingnya, kini berganti menatap Mamanya. Lelaki itu akan meminta bantuan Mamanya jika kondisinya mendesak seperti sekarang ini.
"Pa, tanyanya nanti saja. Biarkan dia sarapan dulu. Jangan buat moodnya menurun di pagi hari," balas Olivia. Dia merasa kalau putranya membutuhkan dirinya.
"Baiklah. Darsh, urusan kita belum selesai, Nak. Kapan kamu mulai masuk ke kantor?" tanya Dizon.
"Segera setelah Jillian pulang, Pa," jawabnya.
"Kenapa alasannya aku, sih?" protes Jillian.
"Bukankah kamu yang ingin jalan-jalan dulu?" sahut Darsh.
"Sudah-sudah, jangan ribut. Makan dulu, yuk!" ajak Olivia.
Semuanya mulai menikmati makanan yang ada di piring masing-masing. Lain halnya dengan Darsh. Sekali suap, nampaknya dia berusaha untuk menghitung jumlah kunyahannya berapa kali. Dia lebih banyak melamun lebih tepatnya.
Bagaimana aku harus mengatakan ini padanya? Aku menerima hubungan persahabatan dengannya, tiba-tiba aku datang dan melamarnya. Oh ya ampun, cobaan apalagi ini?
"Darsh? Halo," panggil Olivia.
"Eh, ya, Ma. Ada apa?" Darsh tersentak dari lamunannya.
"Makan dulu, Darsh," tegur Olivia.
"Darsh," panggil Grandma.
__ADS_1
"Ya?" Darsh menoleh ke arah Grandmanya.
"Apa kamu juga akan menolak permintaan Grandma?" tanya Carlotta.
Darsh terdiam. Jika Jillian sudah menolak, masihkah dirinya juga menolaknya? Bagaimana perasaan Grandmanya jika dia melakukan hal yang sama seperti adik sepupunya itu?
"Tentu tidak, Grandma. Aku akan mewujudkan semua permintaan Grandma, tetapi berikan aku waktu, ya," jawabnya.
Semua mata tertuju padanya, termasuk Mama dan papanya. Sepertinya tak akan sulit untuk menikahkan Darsh lebih cepat.
"Bagus itu, Darsh. Grandpa salut padamu." Kali ini, pria tua itu menyetujui jawaban cucunya. "Oh ya, jangan lupa pilih gadis yang sepadan. Itu saja pesanku! Kalau aku yang akan memilihkan, tentu kalian pasti akan marah padaku."
Grandpa selalu saja bisa menyulut perkara di antara mereka semua. Untung saja Dizon tidak sepertinya sama sekali.
"Grandpa jangan khawatir. Darsh sudah punya calon yang tepat. Aku harap kalian semua bisa menerimanya," ucap Darsh penuh percaya diri. Namun, jauh di lubuk hatinya, Darsh ingin berteriak sekuat tenaga. Bagaimana mungkin dia mengajak gadis itu untuk menikah? Sementara dia baru mengenalnya beberapa kali. Tentu saja pasti akan mendapatkan penolakan darinya. Tidak hanya darinya, tetapi dari orang tuanya juga.
Olivia merasa tidak tenang melihat putranya seperti itu. Dia yakin kalau saat ini pikiran Darsh tertuju pada gadis itu. Berbeda dengan Kayana dan Felix yang merasa lega karena terlepas dari perjodohan dadakan putrinya.
"Lupakan Jill, itu bukan salahmu," balas Darsh.
Grandma sendiri mengamati kedua cucunya. Bukan salahnya juga meminta seperti itu mengingat semua anak-anaknya menikah di usia yang tak lagi muda. Carlotta juga tidak bermaksud untuk membuat cucunya menderita karena pernikahan ini. Dia berharap ada kebahagiaan di dalamnya.
"Darsh, Grandma meminta maaf padamu, Nak. Grandma tidak bermaksud untuk membuatmu tertekan dengan pilihan ini. Jika kamu mau membatalkan rencana ini, tak masalah untukku."
Darsh yang sudah selesai dengan sarapan paginya, dia berdiri dan mendekati Grandmanya. Darsh memegang kedua tangan Grandmanya.
"Jangan seperti itu, Grandma. Aku akan mewujudkannya untukmu. Doakan cucumu ini." Darsh berusaha mendapatkan kekuatan lebih untuk mendekati Glenda.
"Tentu, Nak. Grandma akan mendukungmu."
Sejenak Darsh merasa ragu untuk mengatakannya. Namun, tidak ada hal yang tidak mungkin bagi keluarga besarnya untuk menerima gadis itu.
__ADS_1
"Ehm, Grandma, sebelumnya aku mau minta maaf. Aku mengatakan ini di depan kalian semua agar tidak akan ada lagi penolakan untukku maupun gadis itu. Sebenarnya aku sudah memilih salah satu gadis yang menarik untukku, mungkin tidak untuk kalian. Dia berasal dari kalangan biasa. Jika kalian merestui hubungan kami, maka aku akan mengatakan padanya bahwa aku meminangnya," jelas Darsh.
Semua keluarganya yang berkumpul di ruang makan nampak terkejut mendengar penuturannya. Lain halnya dengan Olivia. Dari awal dia sudah tahu mengenai kabar seperti ini.
"Mana bisa begitu, Darsh? Itu sama saja kamu menurunkan level keluarga Damarion. Apa kamu sadar dengan pilihanmu? Jangan-jangan gadis itu hanya memanfaatkan hartamu saja," serang Grandpa.
"Pa, cukup! Biarkan Darsh menentukan pilihannya sendiri," sahut Felix.
"Oh, rupanya aku tahu. Darsh pasti sudah menirumu, kan? Aku yakin, Dizon tidak akan setuju. Aku sadar betul karena istriku terlalu memanjakan Felix, itulah sebabnya dia berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan persetujuan dariku," balas Grandpa.
Suasana meja makan seperti medan pertempuran. Semuanya saling serang untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Sampai akhirnya sebuah suara membuyarkan peperangan mereka.
"Pa, Oliv tidak pernah mempermasalahkan siapapun pilihan Darsh. Aku akan tetap mendukungnya. Dengan atau tanpa persetujuan suamiku. Karena aku tahu putraku seperti apa," balas Olivia. Dia tidak ingin putranya terombang-ambing dengan ucapan Papa mertuanya itu. Sedangkan Dizon pasti akan menuruti apapun perkataannya.
Seketika suasana meja makan menjadi sepi. Tak ada lagi yang bersuara, kecuali suaminya yang pamit untuk pergi ke kantor.
"Ma, aku ikut saja keputusanmu. Aku pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, setelah beberapa hari lagi Darsh akan menggantikannya," pamitnya.
"Hati-hati, Pa," balas Olivia.
Setelah kepergian Dizon, belum ada satupun yang berani bersuara. Jika bukan karena Darsh ada janji dengan sahabatnya, dia juga malas berada di sana. Janji untuk makan siang bersama mereka, karena waktunya masih lama, Darsh memilih untuk masuk ke kamarnya.
"Ma, Darsh ke kamar dulu. Oh ya, Jill, jangan lupa nanti sebelum makan siang, kita akan pergi ke restoran yang sudah kujanjikan padamu," pamitnya.
"Iya, Kak," jawab Jillian.
Lelaki itu langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya di ranjang. Dia sedang memikirkan keputusannya untuk segera meminang Glenda antara tepat dan tidak tepat.
"Apa aku terlalu terburu-buru mengambil sikap? Sebenarnya tidak juga. Mungkin waktunya saja yang tidak tepat karena aku baru saja mengenalnya," ucapnya seorang diri.
Keputusannya memang tepat. Dia tidak ingin mengecewakan Grandmanya, tetapi untuk mendekati Glenda dengan sebuah kata pernikahan membuat Darsh ragu pada gadis itu. Dia ragu akan mendapatkan penolakan yang menyakitkan. Apalagi ketika Darsh teringat gadis itu berjuang untuk menanyakan status hubungannya, Darsh hanya menanggapinya sebagai seorang sahabat dan tak lebih dari itu. Darsh bimbang. Dia mengusap kasar wajahnya. Tidak biasanya dia berada di dalam posisi seperti sekarang ini.
__ADS_1