
Hari yang telah ditentukan tiba. Glenda baru saja pulang dari berlibur. Dia juga sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi sebagai pelayan. Beberapa rekan kerja masih belum tahu kenyataannya jika Glenda adalah anak pemilik restoran ZA.
"Baru pulang, sayang?" tanya Zelene.
"Iya, Mom. Daddy mana?"
Glenda baru saja berlibur di tempat grandma kembarnya. Di sana, dia banyak mendapatkan pelajaran baru. Grandma Jenica sangat bijak dalam mengambil keputusan untuknya.
"Daddy masih ke restoran. Bagaimana liburannya? Senang bertemu grandma kembar?"
"Iya, Mom. Grandma Jelita masih sama ketusnya seperti dulu, tetapi sekarang sudah lebih baik. Kalau grandma Jenica, sudah memberikan solusi untuk masalahku, Mom," jelasnya.
"Kenapa mama tidak mengabariku lewat telepon?" keluh Zelene pada putrinya.
"Grandma bilang tak perlu mengatakannya. Cukup jawaban yang dititipkan padaku," Glenda membawa kopernya masuk ke kamar. Dia meletakkan koper itu dan belum sempat membongkarnya karena Mommynya ikut serta masuk ke kamarnya juga.
"Bagaimana kata grandma?"
Zelene sudah tidak sabar menantikan jawaban mamanya. Walaupun sebenarnya keputusan yang dibuat Vigor dengannya sudah sepakat untuk menerima Darsh dan melupakan masa lalu mereka. Demi anak-anaknya, Zelene tidak boleh egois. Makanya, beberapa keluarga perlu dilibatkan. Apalagi mamanya yang selalu memberikan solusi bijak.
"Kita tunggu daddy pulang saja, Mom. Sekalian biar tidak sama-sama penasaran, kan," ucap Glenda.
Kalau suaminya mungkin belum penasaran. Sementara Zelene sendiri yang sudah berada di rumah dan bertemu Glenda, rasa penasarannya sangat tinggi.
"Baiklah, sayang. Kita tunggu daddy pulang saja." Kali ini Zelene harus bersabar menunggu suaminya pulang.
"Baiklah, Mom. Glenda ingin membersihkan diri dulu. Gerah banget," pamitnya.
"Silakan, sayang," balas Zelene.
...***...
__ADS_1
Sore hari di ruang tengah keluarga Abraham, Glenda dan Zelene sedang menunggu kedatangan Vigor Abraham. Tak butuh waktu lama, orang yang dinantikan telah tiba.
Vigor merasa terkejut karena putri tunggalnya sudah berada di rumah. Padahal pamitnya, Glenda akan pulang tepat di hari ketiga penentuan kelanjutan rencananya dengan Darsh.
"Dad, sebaiknya masuk ke kamar dulu. Mandi dan ganti baju. Aku tunggu di sini!" ucap Zelene.
"Iya, Honey."
Vigor bergegas masuk ke kamarnya. Bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia sudah penasaran apa yang akan disampaikan putrinya setelah pulang dari kediaman grandma kembar.
Butuh waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan semua itu. Vigor bergegas kembali ke ruang tengah. Dia dan istrinya siap mendengar apapun keputusan yang akan disampaikan putrinya.
"Bagaimana, sayang? Apa kata grandma?" tanya Vigor. Dia baru saja duduk di sofa.
"Ehm, aku meminta pendapat grandma Jenica, Dad. Dia setuju kalau aku menikah dengan Darsh," ucap Glenda.
Vigor dan Zelene nampak terkejut dengan jawaban putrinya. Keduanya saling pandang untuk memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
"Dia hanya mengatakan kalau laki-laki sudah menyukai atau mencintaimu lebih dulu itu akan sangat mudah hidup bersamanya. Berbeda kalau seorang perempuan yang mencintai laki-laki, tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Jangankan bisa menikah, bersatu saja sulitnya luar biasa," jelasnya.
Ucapan grandma Jenica ada benarnya. Kejadian di masa lalunya yang membuat kehidupannya semakin bijak.
"Kamu setuju dengan ucapan grandma?" selidik Vigor.
"Aku setuju saja, Dad. Kupikir mungkin ini kesempatan terbaikku untuk mendapatkan pasangan. Ya, walaupun aku belum mencintai lelaki itu, tetapi menilik usahanya untuk mendapatkanku bukanlah hal yang mudah. Apalagi aku tahu kalau Darsh bukan pria romantis. Semakin ke sini, aku sangat tertarik padanya," ucapnya.
Zelene memikirkan nasib putrinya di masa mendatang. Walaupun dia sudah tahu Darsh tipe pria kaku, tetapi anehnya malah Glenda semakin tertarik.
Oh God. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan putriku. Berada dalam satu rumah dengan pria kaku seperti Darsh.
"Mom, kenapa diam? Apa Mommy keberatan dengan saran grandma? Kalau sekiranya Mommy merasa tidak nyaman dengan keputusan ini, silakan bicara langsung pada grandma. Aku siap dengan apapun keputusan kalian," jelas Glenda.
__ADS_1
Glenda paham betul bagaimana sikap orang tuanya. Mereka tidak akan melepaskan dengan mudah anaknya untuk menikah dengan orang lain. Walaupun sebenarnya sudah menyetujui, tetapi pasti ada persyaratan khusus yang akan disampaikan.
"Tidak ada, sayang. Mommy tanya paling terakhir padamu. Apa kamu siap menikah dengannya? Kalau memang belum, katakan alasannya," ucap Zelene.
Glenda terdiam. Ini memang pilihan berat menurutnya. Dia masih teringat ucapan grandma Jenica bahwa menikah bukan sekadar tinggal di rumah yang sama, menjalin cinta, dan sekadar bersenang-senang. Menikah butuh waktu seumur hidup untuk tinggal bersama pasangan yang tidak sejalan dengan kita. Bukan hanya sikapnya, kebiasaannya, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya ketika grandma Jenica menjelaskan detailnya, Glenda bisa mengambil kesimpulan bahwa menikah dengan lelaki yang lebih dulu menyukai akan jauh lebih baik, tetap dengan catatan si perempuan juga merasa nyaman menerimanya. Bukan semacam pernikahan dipaksa dan memaksa.
Glenda cukup sadar untuk menerima kekurangan dan kelebihan Darsh. Lagi pula, Glenda juga mempunyai banyak kekurangan dibanding dengan perempuan pada umumnya. Dia memang bukan perempuan lemah, tetapi masih banyak kekurangan dalam dirinya. Dia sangat bersyukur karena Darsh telah memilihnya.
"Glenda siap, Mom. Tidak ada lagi penolakan yang akan Glenda berikan. Aku yakin kalau Darsh adalah lelaki yang baik. Dia pasti bisa membimbing Glenda menjadi wanita hebat," ucapnya bangga pada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya.
"Baiklah, Sayang. Kalau begitu kabari dia lewat pesan saja. Kita tidak perlu bertemu lagi dengan keluarganya. Kita akan bertemu tepat di hari pertunangan," jelas Vigor.
"Apa yang harus kukatakan padanya melalui pesan, Dad? Aku kenapa tiba-tiba grogi seperti ini, sih?" keluhnya.
"Sabar, sayang. Itu artinya kamu sangat bahagia karena semua keluarga telah setuju," sahut Zelene.
"Katakan padanya kalau kita setuju menerima lamarannya. Lamaran resminya akan berlangsung di restoran ZA dua hari lagi," terang Vigor.
"Restoran ZA, Daddy? Itu artinya semua rekan kerjaku akan mengetahui siapa aku yang sebenarnya? Oh no, Daddy! Aku tidak mau. Lebih baik pertunangan ini dilaksanakan di rumah dan hanya dihadiri keluarga inti saja. Bagaimana, Mom?" ucap Glenda.
"Kenapa kamu khawatir begitu, sih? Lagi pula kamu kan sudah keluar dari pekerjaanmu. Apa salahnya kalau muncul secara tiba-tiba?" balas Vigor.
"Tidak, Dad. Di rumah saja." Glenda memaksa kedua orang tuanya setuju dengan keputusannya.
"Ok, sayang. Mommy dan Daddy setuju," ucap Zelene.
Glenda mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan pada lelaki itu.
[Darsh, aku dan keluarga sudah setuju menerima pinanganmu. Lusa datanglah ke rumah untuk mengadakan pinangan resmi.]
Terkirim.
__ADS_1
Setelah ini, keluarga Abraham akan bersiap menyambut tamu istimewanya. Terlepas dari itu semua, Zelene dan Vigor sangat bahagia ketika melihat putri tunggalnya juga bahagia. Gadis manapun tak akan mungkin bisa menolak dengan pesona Darsh yang sangat rupawan itu.