Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Bentuk Protes Glenda


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Darsh masih teringat betul ucapan mama mertuanya. Dia sudah membuatnya kecewa. Harapannya kali ini sampai apartemen dan menemukan keberadaan istrinya. Mobil di parkir asal di Basemen ketika sampai. Dia secepatnya harus menuju ke unit apartemennya. Berjalan dengan langkah cepat sudah dilakukan. Membuka unit apartemen dan masuk ke dalamnya. Sepi, tak berpenghuni.


"Kemana kamu sebenarnya, Glenda? Jangan buat aku semakin bersalah pada orang tuamu."


Darsh mencoba meneleponnya lagi. Namun, kali ini suara operator seluler yang menjawabnya. Itu artinya ponsel Glenda dalam posisi off. Darsh mencoba mencari solusi dengan menelepon mamanya. Dia butuh kekuatan dari wanita paruh baya itu. Darsh tidak tahu harus berbuat apa selain meminta masukan darinya. Hanya butuh waktu beberapa detik saja, panggilan ke mamanya langsung diangkat.


"Halo, Darsh. Ada apa?" sapa mamanya.


"Ma, aku kehilangan Glenda," ucapnya lirih.


"Bagaimana bisa, Darsh? Kamu telah berbuat apa pada istrimu? Apa kamu menyakitinya?" Suara mamanya meninggi. Tentu saja Darsh merasa bersalah dalam hal ini.


"Entahlah, Ma. Kami tidak sedang bertengkar. Aku juga tidak menyakitinya," jawabnya.


Padahal seseorang diujung telepon tertawa dalam hati. Bukan bermaksud untuk mengerjai putranya, tetapi itu sebagian trik untuk menaklukkan suami dingin seperti Darsh. Dizon dulu juga seperti itu. Kalau bertemu saja dinginnya minta ampun. Kalau sudah ditinggal seperti ini, baru berada penyesalannya.


"Datanglah ke rumah! Kita bicarakan baik-baik dan mencari solusinya bersama."


"Tapi, Ma. Orang tuanya juga sudah tahu kalau putrinya menghilang," jawab Darsh. Tentu saja dia tidak bisa berbohong.


"Oh ya ampun, Darsh. Sudahlah, lebih baik kamu ke rumah mama. Mama akan membantu mencarikan solusinya."


"Baik, Ma."


Darsh menutup teleponnya. Dia bergegas pergi menuju ke rumah orang tuanya. Baru kali ini Darsh merasa seperti orang yang bingung. Tidak tahu arah dan tujuannya. Rupanya mempunyai seorang istri membuatnya harus bertanggung jawab besar.


Darsh mempercepat laju kendaraannya. Walaupun dalam posisi panik, dia masih bisa menguasai keadaan. Seharusnya Darsh pamit pada istrinya ke mana dia akan pergi. Mungkin itu yang membuat Glenda kesal dan terus kabur.


"Apa karena itu kamu marah padaku, Glenda? Maafkan aku," ucapnya yang masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


Darsh tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada mamanya? Apakah dia harus mengatakan kalau istrinya menghilang? Tentu saja itu membuat kepercayaan mama padanya turun drastis.


Mobilnya mulai memasuki halaman rumah orang tuanya. Perasaannya jauh lebih rumit dibandingkan ketika melangsungkan pernikahan mendadak itu. Tanggung jawab kepada seorang gadis saja tidak becus, bagaimana kalau nantinya mereka memiliki anak?


Darsh masuk ke rumah orang tuanya dengan perasaan was-was. Sebentar lagi tidak hanya mama mertuanya, tetapi juga mamanya akan marah dan menunjukkan rasa kecewa mereka padanya.


Olivia sudah menunggunya di ruang tengah. Kebetulan suaminya sedang beristirahat sejak tadi sehingga pria paruh baya itu tidak tahu kehebohan yang diciptakan menantunya. Glenda sendiri belum keluar dari kamar putranya. Mungkin sama kelelahannya dengan Dizon, suami Olivia.


"Sayang, kenapa kamu terlihat cemas seperti itu?" tanya Olivia.


Darsh mendaratkan tubuhnya di sofa. Dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Haruskah dia mengatakan kalau Glenda menghilang? Gadis cukup umur itu tidak tahu arah jalan pulang. Pembahasan di telepon membuat Darsh cukup tahu kejadian yang akan menimpanya setelah ini.


"Kamu bertengkar dengannya?" selidik Olivia.


"Tidak, Ma. Aku pergi, tetapi tidak pamit padanya. Kalaupun dia pergi, harusnya bisa mengirim pesan padaku, kan? Kalau sudah seperti ini, aku terlihat sangat bodoh di mata orang tuanya. Aku malu, Ma."


Oh, rupanya ini masalah sebenarnya. Glenda kesal karena Darsh tidak pamit padanya. Ini hal yang cukup lumrah.


"Tidak terlalu, tetapi dia kecewa padaku."


Benar saja, kalau di posisi yang sama, Olivia juga akan mengatakan hal seperti itu. Menantunya tidak bisa menjaga putrinya dengan baik.


"Istirahatlah dulu di kamarmu! Mungkin kamu lelah, Darsh. Kita baru sampai dan kamu sudah pergi ke mana-mana."


"Mana mungkin aku bisa beristirahat, Ma. Sementara Glenda belum ketemu. Apa yang akan kukatakan pada orang tuanya?" Darsh semakin panik.


"Percayalah pada Mama. Istirahat di kamarmu akan membuatmu jauh lebih tenang. Setelah itu, baru kita cari istrimu bersama-sama."


Olivia terpaksa berbohong. Kalau bukan seperti ini, Darsh tidak akan menyadari kesalahannya. Itu juga pernah dilakukan pada suaminya. Kalau Glenda tidak melakukannya dengan cepat, Olivia khawatir kalau menantunya itu tidak akan kuat dengan sifat putranya.

__ADS_1


"Baiklah, Ma."


Darsh menuju ke kamarnya. Dia tidak tahu kalau istrinya sedang terlelap di sana. Dia membuka pintu dan terkejut mendapati kamarnya dengan lampu yang menyala.


Tunggu! Kenapa lampu kamarku sudah menyala? Apakah ada orang lain yang menempatinya?


Darsh perlahan mendekati ranjangnya. Betapa terkejutnya melihat istrinya terlelap di sana. Wajah cantik, teduh, dan menentramkan sedang merajut mimpinya di ranjang milik suaminya. Menemukan gadis yang dicarinya berada di kamar membuat Darsh merasa lega. Rasa khawatir sirna begitu saja. Ingin rasanya mengecup puncak kepalanya, tetapi diurungkannya. Jika tadi dirinya terkejut karena tidak mendapati istrinya di apartemen, maka Darsh akan memberikan kejutan pada istrinya. Dia sengaja mengambil kursi dan duduk di tepi ranjang.


Glenda masih pulas. Efek perjalanan jauh dari negara I ke negara H. Gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaan suaminya. Beberapa menit kemudian, Glenda mulai menggeliat dan membuka matanya secara perlahan. Istirahatnya sudah lebih dari cukup. Dia menoleh ke sana ke mari bermaksud mencari keberadaan jam dinding.


Deg!


Tatapan matanya bertemu dengan Darsh, suaminya. Tentu saja membuat Glenda sangat terkejut.


"Darsh," ucapnya lirih.


"Puas mengerjaiku?" tuduh Darsh.


"A-aku tidak mengerjaimu, Darsh. Aku hanya kesal padamu. Aku ke sini untuk mengantar makanan untuk mama mertua. Aku lelah dan ingin istirahat. Mama mertua memintaku untuk masuk dan beristirahat di kamar ini."


"Kamu tahu, karena ulahmu, mamamu kecewa padaku. Aku mencarimu ke sana, kupikir kamu sedang berada di sana. Jangan lakukan hal ini lagi!"


"Aku tidak akan melakukannya kalau kamu tidak memulainya terlebih dahulu!" Tentu saja ini wujud protes Glenda kepadanya.


"Memulai yang bagaimana? Aku hanya pergi sebentar untuk bertemu dengan Owen," ucapnya beralasan.


"Kamu pergi tanpa pamit, Darsh! Aku kesal. Sangat kesal malah. Aku seperti orang lain yang keberadaannya tidak dianggap sama sekali. Apa itu caramu memperlakukan istrimu?" Glenda tidak main-main dengan ucapannya. Mungkin dengan diam, Darsh tidak akan mengerti apa kesalahannya.


"Aku buru-buru."

__ADS_1


"Setidaknya kamu bisa mengirimkan pesan padaku. Apa itu sulit, Darsh?"


Glenda menyandarkan badannya pada headboard ranjang. Pertarungan ini baru dimulai. Dia tidak boleh menyerah untuk membuat suaminya. Jika tidak, Glenda bisa saja memberikan kesempatan pada gadis lain untuk mengejar suaminya. Itu tidak boleh terjadi. Sebelum semuanya terlambat, Glenda harus membuat suaminya lebih dulu bucin padanya. Walaupun Glenda tidak yakin rencananya akan berjalan mulus dan dalam waktu singkat.


__ADS_2