
Semenjak kepergian Owen dan Willow untuk honeymoon membuat Glenda menginginkan hal yang sama. Ya, walaupun tidak pergi honeymoon, setidaknya Glenda bisa menikmati quality time berdua bersama suaminya.
Baby W sudah terlihat semakin menggemaskan. Keduanya juga bisa ditinggal agak lama sehingga semuanya aman.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Darsh di kamarnya.
"Aku ingin jalan-jalan, Sayang."
"Ke mana?"
"Entahlah, aku ingin ke tempat yang romantis."
Semenjak menikah, Glenda jarang sekali pergi berlibur. Bukan jarang lagi, lebih tepatnya tidak pernah sama sekali. Darsh juga sibuk di kantor. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya. Glenda sendiri sibuk dengan dua bayinya. Walaupun ditemani dua baby sitter, kesibukan Glenda tidak berkurang sama sekali.
"Aku akan bicarakan ini dengan Mama. Tunggulah sebentar! Kurasa kamu memerlukan liburan juga."
Darsh mulai menanggapi permintaan istrinya dengan cepat. Terkadang berada di kantor dan bertemu banyak orang membuatnya bosan. Bagaimana dengan sang istri yang selalu berada di rumah dan bertemu dengan orang yang sama? Tentu saja tingkat kejenuhan yang dialami istrinya semakin tinggi.
"Darsh, mama pasti sudah beristirahat. Besok saja."
"Kalau menunggu besok, aku khawatir kalau kamu sampai mengigau. Bahaya!" canda suaminya.
Darsh lekas menemui mamanya yang kebetulan saat ini berada di ruang tengah. Wanita paruh baya itu sedang menunggu kabar dari Willow. Hampir setiap malam, Olivia menantikan kabar bahagia anak angkatnya itu. Bukannya Olivia tidak percaya pada Owen, tetapi dia hanya ingin tahu seberapa besar kebahagiaan yang dimiliki Willow saat ini. Mengingat Olivia semakin membenci dengan kelakuan Juvenal yang menelantarkan putrinya dan menjadikan gadis itu penebus utang.
"Hei, belum tidur, Boy? Bayimu sudah tidur?"
"Iya, Ma. Alicia dan Naomi sudah menidurkan keduanya."
Darsh duduk di sofa tepat di depan mamanya. Dia mempunyai harapan besar untuk rencananya kali ini.
"Apakah ada yang penting? Mama tahu, kamu akan datang ke Mama kalau urusannya mendesak dan terlalu penting."
Darsh cukup tersenyum menanggapi ucapan mamanya. Dia tahu, sebentar lagi mamanya pasti akan bertanya lagi.
"Katakan! Mama sedang menunggu kabar dari Willow."
"Ma, biarkan saja mereka. Lagi pula keduanya sudah menikah. Apa yang perlu Mama khawatirkan?"
__ADS_1
Olivia menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya. Ini pertama kalinya dia khawatir pada seseorang. Bukan tanpa sebab bahwa melepaskan anak perempuan jauh lebih sulit daripada anak laki-laki.
"Mama tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini. Kamu pasti akan merasakan kalau Welenora sudah tumbuh dewasa."
Deg!
Darsh tidak tahu sebenarnya apa yang sedang dipikirkan mamanya. Namun, wanita paruh baya itu terlihat sangat cemas dan sesekali melihat ke ponselnya.
"Oke, Ma. Aku hari ini tidak tahu apa yang sedang Mama pikirkan, tetapi aku mau minta izin pada Mama kalau aku dan Glenda akan berlibur untuk beberapa hari. Kurasa ini perlu disampaikan kepada papa. Di kantor tidak ada yang bisa menggantikanku selain papa."
Olivia berdehem menggoda putranya.
"Ehem, sepertinya Mama tahu. Kamu iri ya kalau Willow honeymoon? Kamu ingin pergi berdua saja tanpa anak-anakmu?"
"Tidak seperti itu, Ma. Kami tetap membawa Willy, Welenora, dan kedua baby sitter-nya. Kurasa itu lebih baik daripada kami meninggalkan mereka."
Sejenak Olivia berpikir. Semenjak pernikahan putranya, Darsh memang tidak pernah mengajak Glenda untuk pergi berdua saja. Mungkin ini saatnya Olivia memberikan kesempatan pada putranya untuk membahagiakan sang istri.
"Pergilah! Jangan bawa kedua cucuku. Biarkan mereka di rumah. Mama rasa, kamu memang perlu honeymoon. Ya, setidaknya bisa menambah cucu untuk Mama."
Glek!
"Tidak, Ma. Aku kasihan pada Glenda. Dia seperti kesulitan saat menjalani kehamilannya. Aku takut."
"Hei, Boy! Apa kamu tidak kasihan pada anakmu? Setidaknya tambah lagi lah. Kan kalian juga masih muda."
"Bukan seperti itu, Ma. Aku tidak tega melihat Glenda hamil lagi, tetapi kalau Glenda masih mau, aku akan berusaha."
Olivia tersenyum. Putranya sudah dewasa, terkadang Olivia menganggap masih seperti anak kecil yang perlu diperhatikan dan dibimbing.
"Katakan pada Glenda kalau Mama mengizinkan kalian pergi berdua. Mama rasa ini juga bulan madu kalian. Mama akan meminta papa untuk mengurus segalanya."
"Jangan, Ma. Biarkan kami yang akan mengurusnya. Mama sampaikan saja pada papa untuk mengurus perusahaan."
Mendapatkan persetujuan dari mamanya, Darsh segera kembali ke kamar untuk menyampaikan kabar baik ini. Sudah diputuskan kalau mereka tidak akan membawa bayi kembarnya.
Ceklek!
__ADS_1
Darsh melihat istrinya masih duduk manis di atas ranjang menunggu suaminya.
"Bagaimana? Apa mama setuju?"
Darsh sengaja berpura-pura sedih sehingga membuat istrinya langsung enggan untuk menatapnya. Rasanya rencana liburan sekadar wacana yang tak kunjung terealisasi.
"Kalau memang tidak diizinkan, mau bagaimana lagi," ucap Glenda melihat wajah murung suaminya. Dia langsung menarik selimut untuk lekas tidur karena memang sudah larut.
"Kamu kecewa?" tanya Darsh.
Glenda hanya menggeleng. Tak perlu dijelaskan lagi. Dia sangat kecewa karena selama menikah, Glenda belum pernah menikmati liburan hanya berdua dengan suaminya. Kali ini mereka berencana membawa si kembar malah sepertinya gagal.
"Jangan seperti itu. Kita akan pergi berdua untuk berlibur," ucap Darsh akhirnya.
Senyuman merekah langsung muncul di bibir Glenda. Masih tidak percaya juga dengan ucapannya barusan. Glenda menyingkirkan selimutnya kemudian menghambur untuk memeluk suaminya.
"Ini bukan mimpi, kan?"
Darsh membalas pelukan istrinya dengan sangat lembut sekali. "Tidak, mama sudah mengizinkan. Namun, kita tidak akan membawa Willy dan Welenora. Apa kamu senang?"
"Tentu, tetapi jangan lama-lama. Terlalu lama berpisah dengan mereka, aku pasti sangat rindu, Sayang."
Jangankan Glenda, Darsh pun ketika berada di kantor juga merindukan hal yang sama. Rasanya ingin cepat pulang dan menemui mereka.
"Iya, tiga hari saja. Oh ya, mama meminta cucu lagi."
Glek!
Ucapan Darsh barusan membuat Glenda melepaskan pelukannya kemudian mundur. Ingatannya setelah melahirkan dua bayinya saja masih terasa jelas.
"Aku tidak mau pergi, Darsh. Lupakan untuk berlibur. Aku sudah tidak menginginkannya."
"Hei, kamu kenapa?"
"Aku belum siap kalau hamil lagi, Darsh."
Darsh memeluk istrinya dari belakang karena Glenda sengaja membuka tirai jendelanya. Dia memandang jauh ke depan sebagai wujud kekesalan pada dirinya sendiri. Bukan tidak bahagia atas pernikahannya, tetapi hanya ingin menikmati waktu yang pernah terlewatkan. Dia hanya ingin seperti Owen maupun Willow. Bisa menikmati kebersamaan tanpa gangguan orang lain.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku tidak akan membuatmu hamil dalam waktu dekat. Kita akan tetap pergi berlibur. Jangan cemaskan permintaan mama. Dia hanya bercanda."
Glenda lega. Sekarang fokuskan untuk bahagia dan menyenangkan diri. Selama setahun lebih pernikahannya, ini untuk pertama kalinya mereka akan pergi berdua menikmati bulan madu keduanya. Anggap saja seperti itu, padahal keduanya belum pernah pergi berbulan madu sama sekali.