Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Namanya Orlen


__ADS_3

Mengawali hari baru dengan suasana yang berbeda telah membuat Owen memutuskan sesuatu hal secara sepihak. Semalaman dia menginap di hotel. Pagi ini, dia duduk manis untuk menikmati secangkir kopi dan sarapan paginya di restoran yang letaknya tepat di lantai dasar hotel.


"Rasanya nikmat sekali bisa melihat suasana keramaian seperti ini," ucapnya lirih. Dia lantas menyeruput kopinya yang sudah mulai menghangat.


Seusai menyelesaikan sarapan paginya, Owen lantas pergi ke Kafe untuk mengurus pekerjaannya. Dia malas untuk pulang ke apartemen. Biarkan saja sang istri bertindak sesuka hatinya.


Sampai di Kafe, suasana masih belum terlalu siang sehingga masih banyak waktu untuk bersantai sejenak. Walaupun beberapa karyawannya sudah lalu lalang untuk mengurus beberapa tamunya yang datang untuk sekadar sarapan pagi atau menikmati kopi pagi yang nikmat.


"Pagi, Tuan." Sapa salah satu karyawannya.


"Pagi juga. Ada apa?"


"Pagi tadi ada Nyonya Willow datang ke sini mencari Tuan. Namun, kami menjawabnya tidak tahu."


"Hemm, tak masalah. Biarkan saja. Lanjutkan pekerjaanmu."


Mungkin ini adalah hal yang sangat tepat yaitu mengabaikan istrinya untuk beberapa waktu. Sampai dia menyadari kekeliruannya. Kalau sampai batas waktu yang ditentukan tak ada kepastian, Owen siap untuk menduda. Apalagi dia sudah cukup bukti untuk mengajukan perceraiannya.


"Baik, Tuan."


Owen masuk ke ruangannya. Mendadak dia harus berpikir keras untuk menyelesaikan masalah ini.


"Apakah aku harus berbicara dengan aunty Olivia tentang sikap Willow akhir-akhir ini yang mulai berubah?" Owen menyandarkan badannya pada kursi kebesarannya. Dia harus memikirkan cara yang tepat, tetapi di dalam bayangannya hanya ada dua pilihan, lanjut atau tinggalkan.


Owen mencoba mencari solusi dengan meminta pendapat Darsh. Mungkin dia bisa memberikan arahan. Owen mendial nomor ponsel sahabatnya itu, tak lama sambungan langsung terhubung.


"Halo, ada apa?" ucap Darsh.


"Darsh, apa aku bisa bertemu dengan mamamu?"


"Hah, mama? Untuk apa?"


"Aku ingin membicarakan perubahan sikap Willow."


"Jangan!" Suara Darsh seperti tidak suka kalau Owen menemui mamanya.


"Kenapa?"


"Ehm, maksudku bukan begitu. Mama mungkin sedang sibuk. Lain waktu akan kukabari."


"Baiklah." Tak ada gunanya memaksa Darsh.


"Ya sudah, aku berangkat bekerja dulu."


Klik. Sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh Darsh.


"Baiklah, aku harus sedikit lebih bersabar."


...*****...


Di sisi lain, Darsh yang baru saja menikmati sarapan paginya, mendadak menghentikan aktivitasnya karena menerima telepon dari Owen.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?"


"Owen minta bertemu dengan mama untuk membicarakan Willow, tetapi aku menolaknya."


"Ah, iya. Jangan sampai Owen bertemu mama. Bisa gawat semuanya."


"Iya, aku sebisa mungkin menahan mama untuk tidak bertemu dengannya."


"Apa rencanamu hari ini?" Glenda penasaran. Dia sebenarnya tidak bisa ikut campur terlalu jauh.


"Kamu diam saja. Biarkan aku yang melakukan rencananya."


Sejak pagi, Darsh sudah mengirimkan pesan pada orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Helga. Namun, dia mengingat sesuatu.


"Sayang, hari ini aku mungkin tidak akan ke kantor."


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau mencari seseorang." Darsh mengingat pertemuannya dengan pelayan Kafe kemarin malam. Bisa saja pelayan itu ada hubungannya dengan Helga.


"Tapi, apa tidak sebaiknya kamu meminta tolong orang lain? Aku jadi semakin mengkhawatirkanmu, Sayang."


"Jangan berlebihan. Aku laki-laki, bisa menjaga diri."


Darsh keluar dari rumahnya. Dia berniat pergi ke Kafe yang semalam dirinya sempat mampir. Namun, ini sangatlah lucu. Padahal masih pagi. Mungkin saja sampai sana belum terlalu siang.


"Oh ya ampun, aku harus datang ke Kafe itu pagi-pagi sekali. Apakah aku akan menemukan Helga di sana?"


Perjalanan yang cukup jauh ditempuh dengan waktu yang singkat. Walaupun sebenarnya jarak tempuh dan perhitungan waktunya tetap sama, tetapi semangat Darsh untuk membongkar kebusukan Willow membuatnya merasa tidak lama.


Kafe rupanya baru buka sekitar jam 10. Ini masih jam sembilan pagi. Setidaknya satu jam lagi Darsh menunggunya.


Sabar. Ini demi terbongkarnya kejahatan Willow selama ini. Aku harus yakin kalau Helga berada di sini. Batin Darsh.


Tepat jam 10, perlahan beberapa karyawan Kafe memulai aktivitasnya. Darsh langsung saja masuk ke dalam untuk menanyakan perihal pelayan yang semalam melayaninya.


"Maaf, Tuan. Anda mencari pelayan yang shift semalam?"


"Iya, aku tidak tahu namanya. Aku juga melupakan wajahnya karena semalam lampu Kafe ini remang-remang."


"Itu memang sudah konsep Kafe ini, Tuan. Mungkin Anda mengingat cirinya?"


"Ah, iya. Rambutnya lurus panjang, bermata biru."


Pelayan Kafe ini hanya ada satu yang memiliki ciri khas itu. Dia memang karyawan baru yang bekerja sekitar lima bulan yang lalu menurut cerita karyawan Kafe yang ditemuinya.


"Siapa namanya? Dan, di mana tempat tinggalnya?" tanya Darsh.


"Oh, dia itu Livia. Dia karyawan baru dan menjadi pelayan tercantik di sini. Ada hubungan apa Anda dengan Livia?" selidik karyawan itu.


"Kami tidak tahu tempat tinggal pastinya, tetapi beberapa karyawan tahu di mana tempat tinggalnya. Aku akan menanyakannya."

__ADS_1


Membiarkan karyawan itu sejenak mencari informasi, Darsh menunggunya. Tak lama, karyawan itu kembali membawa secarik kertas.


"Ini, Tuan."


Darsh menerima sebuah alamat dan bertuliskan nama Livia di sana.


"Terima kasih."


Darsh lekas keluar meninggalkan Kafe itu menuju ke alamat yang dituju. Memang tak jauh dari Kafe itu berada. Namun, jalanan ke tempat itu harus melewati jalan setapak yang sulit dilewati kendaraan. Jangankan mobil, sepeda motor pun susah.


Darsh harus memarkirkan mobilnya cukup jauh. Dia melewati jalan setapak untuk sampai ke alamat yang dituju.


Sebuah rumah kost yang terdiri dari beberapa kamar itu terlihat sangat sepi. Darsh berusaha masuk dan mencari keberadaan Livia.


"Tuan, Anda mau mencari siapa?" tanya seseorang yang kebetulan bertemu dengannya. Dia juga wanita karena kost ini dikhususkan untuk wanita.


"Ehm, apakah di kost ini ada yang namanya Livia?"


"Oh, Livia si mata biru. Gadis cantik yang paling seksi dan bekerja di Kafe itu, kan?"


"Iya, apakah ada di sini?"


"Itu, Livia di kamar nomor 17. Silakan ketuk saja. Kalau jam-jam seperti ini mungkin dia sedang tidur."


"Baiklah, terima kasih."


Bagaikan gayung bersambut, Darsh langsung melangkahkan kakinya menuju kamar nomor 17 yang dimaksud. Dia mengetuk pintunya berulang kali sampai pada ketukan ke empat, barulah si pemilik kamar membuka pintunya.


Ceklek!


"Ada apa?" tanya gadis si mata biru.


"Kamu Livia, kan? Apa kamu tidak mengenaliku?" tanya Darsh.


Livia menelisik wajah Darsh dengan seksama. Kemudian Livia baru menyadari bahwa dia mengenalinya.


"Iya, aku mengenalmu. Namamu Darsh, kan? Aku memang mengenalmu dari teman lamaku. Dia sudah resign dari Kafe tempatku bekerja sekitar tiga bulan yang lalu," jawab Livia.


"Apakah aku boleh tahu siapa nama temanmu itu? Dan, kenapa dia sering sekali menunjukkan wajahku padamu?" Darsh semakin penasaran.


"Dia sering menceritakan tentangmu. Dia bahkan terus terang padaku kalau jatuh cinta padamu. Namun, dia tidak mau memaksakan untuk mengejarmu. Dia cukup tahu diri karena kamu sudah menikah, kan?" terang Livia.


Jangan-jangan dia memang Helga? Tetapi, kenapa dia bisa bekerja di Kafe ini kemudian resign? Batin Darsh.


"Siapa nama temanmu itu?"


"Namanya Orlen."


...🍃🍃🍃...


Yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya

__ADS_1



__ADS_2