Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Keinginan Yang Belum Terwujud


__ADS_3

Willow baru saja masuk ke toilet. Entah apa yang akan dilakukan di sini? Willow bercermin kemudian mencuci tangannya. Seseorang baru saja keluar dari toilet menuju cermin. Ya, dia adalah Helga.


"Kamu beruntung bisa dekat dengan Owen. Dia lelaki baik," ucap Helga yang berdiri tepat di sampingnya. "Aku memang belum mengenalmu, tetapi kita akan menjadi teman yang baik, bukan?"


Willow mengulurkan tangannya pada gadis yang bersama Max. Dia tahu kalau dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan lelaki itu.


"Willow."


Helga menyambut uluran tangannya. "Helga Orlen. Panggil Helga saja. Apakah namamu hanya Willow saja?"


Sebenarnya Willow memiliki nama papa biologisnya. Namun, semenjak pria brengsek itu menghancurkan kehidupannya, Willow hanya mau memakai namanya saja.


"Iya, Willow saja." Willow melepas jabatan tangan Helga.


"Kamu cantik, Willow. Owen pasti memperlakukanmu dengan cukup baik. Dia memang sangat baik," ucap Helga yang beberapa kali memuji Owen.


Willow cukup tersenyum. Dia tidak mau banyak orang tahu tentang masa lalunya. Cukup Owen saja yang sudah berbaik hati menolongnya.


"Iya, dia cukup baik."


"Semoga hubungan kalian lancar, ya," ucap Helga yang memutuskan untuk keluar dari toilet lebih dulu.


Hubungan? Bahkan hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Tidak lebih dari itu. Helga salah paham padaku.


Willow pun akhirnya keluar dari toilet. Dia sempat berpapasan dengan perempuan yang bersama sahabat Owen. Willow belum paham betul beberapa orang yang kebetulan ada di mejanya.


"Hai," sapa Jillian ramah.


"Eh, iya," jawab Willow. Dia tidak ingin berinteraksi terlalu banyak dengan orang asing.


"Kamu kekasihnya Owen?" selidik Jillian.


Ingin menjawab sejujurnya, namun dia teringat keberadaan Max di sana. Kalau sampai ketahuan bahwa dia dan Owen tidak ada hubungan apapun, maka semuanya akan terbongkar. Bisa saja Max menyeretnya kemudian melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


"Ehm, i-iya," jawab Willow. Dia merasa kaku menghadapi perempuan yang terlihat lebih muda di hadapannya.


"Perkenalkan namaku Jillian. Suamiku juga sahabat kekasihmu." Jillian mengulurkan tangannya berniat untuk mengenal gadis itu lebih baik.

__ADS_1


Willow membalas jabatan tangan Jillian. "Willow."


"Nama yang cantik. Persis seperti orangnya. Oh ya, kamu mau kembali ke meja? Tunggu sebentar, ya! Kita balik bersama, bolehkah?" Jillian seolah minta persetujuan Willow.


Willow mengangguk. Jillian langsung masuk ke toilet. Tak lama, dia sudah keluar dan mengajak Willow kembali ke meja.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Jillian. Jarak toilet dengan meja yang ditempatinya memang agak jauh. Cukupan untuk perempuan yang butuh obrolan panjang.


Deg!


Menikah? Bahkan kami tidak ada hubungan apapun, Jillian.


"Ehm, kami belum tahu," ucapnya beralasan. Dia tidak mungkin mengatakan kalau mereka tidak ada hubungan.


"Baiklah, kamu malu-malu mengakuinya. Nanti, aku akan tanyakan pada Owen. Dia kenal baik denganku," ucapnya mengabaikan Willow. Jillian sangat senang akhirnya Owen memiliki pasangan. Padahal dari beberapa sahabatnya, dia yang sulit sekali tertarik pada perempuan. Itu yang diceritakan suaminya.


Willow hendak melarang Jillian untuk menanyai Owen, namun sudah terlambat. Jillian lebih dulu sampai di meja dan duduk di sana. Semuanya sempat berhenti mengobrol karena kedatangan Jillian.


"Sayang, kamu tahu tidak, aku barusan bersama siapa?" ucap Jillian pada Justin.


"Memangnya siapa, Sayang?"


"Aku bersama kekasihnya Owen. Willow namanya," balas Jillian.


Deg!


Bukan hanya Owen, Darsh dan yang lainnya terpaku dengan ucapan Jillian barusan. Darsh yang mengerti semua ceritanya merasa tidak tahu jika Owen sudah memiliki hubungan lebih dengan gadis itu.


"Kok aku tidak tahu kabar ini, Owen." Darsh berusaha mengorek informasi penting ini.


Owen jelas saja tergagap. Hubungannya dengan Willow memang belum jelas. Yang terlihat memang hubungan antara atasan dan bawahan. Owen hendak menjelaskan, namun keburu Glenda datang mencari suaminya.


"Sayang, ayo ikut aku! Baby W ingin kamu gendong. Sejak tadi nangis terus," ucap Glenda.


"Baiklah, Owen. Kamu berutang penjelasan padaku!" Darsh lekas pergi dengan menggandeng mesra tangan istrinya.


Beberapa pasang mata tentu saja melihatnya dengan tatapan iri atas kebahagiaan yang dimiliki Darsh. Bukan iri niat untuk menghancurkan, tetapi iri kapan menyusul kebahagiaan mereka.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?" tanya Darsh ketika sampai di ruang kerja daddy mertuanya dan ada sebuah pintu yang mengarah ke kamar tempat istirahat bayi kembarnya.


"Dari tadi baby W rewel, Darsh. Entah apalagi yang diinginkan. Coba kamu gendong salah satunya. Siapa tahu mereka rindu padamu," jelas Glenda.


Darsh mengambil baby Welenora. Bayi perempuan itu langsung mulai berkurang suara tangisannya. Perlahan mulai terlelap, sedangkan baby Willy bersama mommynya. Bayi laki-laki itu juga mulai terdiam dan memejamkan matanya. Sungguh pemandangan yang menakjubkan untuk sepasang suami istri ini.


"Sayang, kurasa baby kita minta ditemani terus," ucap Glenda.


"Iya, mulai manja seperti mommynya," sindir Darsh pada istrinya.


"Hemm, kan sesuai perjanjian kalau aku boleh manja kapan pun yang aku mau. Apa kamu lupa?"


Glek!


Tentu saja Darsh hanya berpura-pura lupa. Padahal dia selalu ingat apa saja yang telah disepakati bersama sang istri. Demi kebahagiaan keluarganya, Darsh rela berubah menjadi pria romantis. Namun, terkadang tiba-tiba menghilang begitu saja sisi romantisnya.


"Hemm, iya. Maaf aku lupa."


Setelah meletakkan kedua bayinya di ranjang, sepasang suami istri ini tak mau kehilangan momen berdua. Darsh yang sudah merindukan istrinya selama beberapa hari, akhirnya luluh juga.


"Sayang, boleh aku memelukmu?" Darsh berusaha meminta persetujuan.


"Tentu saja, Sayang. Walaupun kita sudah punya bayi, jangan lupa kalau kita juga perlu quality time berdua saja. Ini saja lebih dari cukup membuatku bahagia," ucapnya.


Permintaan Glenda memang cukup sederhana. Namun, kalau sampai Darsh tidak bisa memenuhinya, itu sudah kelewatan. Glenda tidak pernah meminta menjadi perempuan yang terlalu berpenampilan wah atau berlebihan. Dia cukup memakai pakaian yang nyaman dan perhiasan yang sederhana dan tidak terlalu mencolok.


Darsh memeluknya. Sangat nyaman ketika bersama Glenda. Dia wanita yang terbaik untuknya. Wanita rumahan yang tidak pernah mengenal dunianya yang terkadang di luar batasnya. Ya, walaupun sekadar ke Club malam, tetapi Darsh belum pernah mabuk sama sekali. Dia cukup tahu diri kalau sampai mabuk, bisa saja merugikan orang lain dan bisa saja merusak diri sendiri.


"Sayang, apa keinginanmu yang belum terwujud?" tanya Darsh. Dia berusaha menggali informasi untuk membahagiakan istrinya.


"Ehm, apa ya?" Glenda berusaha mengingat apa yang diinginkan selama ini, tetapi belum terwujud. "Ah, iya. Aku hanya ingin menginjakkan kakiku di Club malam. Sungguh, aku masih penasaran, Sayang."


Deg!


Seketika Darsh melepas pelukannya. Dia masih kesal sama ide gila istrinya itu. Tidak mungkin Darsh akan membawa istri cantiknya itu ke tempat aneh itu. Sungguh Darsh tidak suka sama sekali.


...🍒🍒🍒...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren milik teman Emak. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya 💟 Terima kasih



__ADS_2