Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Lelaki Pilihan Jillian


__ADS_3

Seusai berbicara dengan kakak iparnya, Felix keluar untuk menemui keponakannya yang sedang berada di dalam kamar.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanya Darsh.


"Ini Om Felix, Darsh," jawab Felix.


"Tunggu, Om!" Darsh bergegas membukakan pintu.


Ceklek!


"Boleh Om masuk?"


"Silakan, Om." Darsh kembali menutup pintunya. "Ehm, kalau boleh tahu, ada apa ya?"


Felix sebenarnya ingin langsung berbicara dengan keponakannya itu, tetapi dia juga harus mencari tempat yang tepat untuk berbicara.


"Bisa kita bicara di balkon? Om ingin bertanya banyak kepadamu."


"Mari, Om. Silakan." Darsh langsung membuka pintunya menuju ke balkon. Di sana ada dua kursi menghadap ke halaman samping. Lebih tepatnya ke kolam renang.


Felix langsung duduk. Sesaat pria itu terdiam. Dia tahu harus mulai dari mana.


"Darsh, kamu tahu kan mengenai permintaan terakhir Grandma? Tanpa Om jelaskan pun, kamu sudah paham arah pembicaraan ini akan ke mana. Sebenarnya Om dan papamu sedang mengalami dilema yang luar biasa berat untuk hal ini."


Jangankan papanya ataupun omnya, Darsh juga merasakan dilema yang sama. Andaikan keputusan jatuh kepadanya, siap ataupun tidak, Darsh harus segera menikah. Itu merupakan pilihan terberat dalam hidupnya. Belum lagi Darsh hanya cocok dengan satu gadis saja.


"Lalu, apa yang membuat Om datang menemuiku? Apakah papa dan Om sudah memutuskan bahwa aku yang akan menikah lebih dulu?" cecar Darsh.


Felix terdiam. Dia menghirup dalam-dalam oksigen yang berada di sekitarnya. Nafasnya seolah terhenti sesaat dan membutuhkan suplai udara semaksimal mungkin.


"Mamamu barusan menemui kami. Dia menyatakan keberatannya untuk menikahkanmu lebih cepat. Om mempertimbangkan lagi usulannya. Memang benar, jangankan kamu, Om sendiri juga belum siap menikah saat seusiamu itu, Darsh."


Darsh yang awalnya berdiri kemudian duduk. Dia melihat wajah Omnya sangat kacau sekali. Walaupun Mamanya berusaha menyelematkan dirinya, tidak menutup kemungkinan dia bisa menjadi target sebenarnya.


"Apakah Om akan menikahkan Jillian? Bukankah dia masih kuliah?"

__ADS_1


"Itulah yang memberatkan Om. Dari segi usia, Jillian bisa saja menikah untuk saat ini. Namun, untuk membaginya antara kuliah dan rumah tangganya, Om tidak bisa membayangkan."


Mereka terdiam. Sangat lama berkutat dengan pikiran masing-masing. Felix sedang memikirkan putrinya, sedangkan Darsh memikirkan keadaannya sendiri jika mendadak dipaksa menikah.


"Om, kalaupun aku yang terpilih menikah duluan, aku tak masalah. Aku kasihan pada Jillian. Apalagi sudah hampir memasuki tugas akhir. Ada baiknya Om bicarakan lagi dengan mamaku dan seluruh keluarga besar. Jika mereka setuju, maka aku yang akan menentukan calonku sendiri."


Tak ada pilihan lain. Dia harus mengambil risiko untuk memilih Glenda sebagai pasangan hidupnya. Dia harus menyiapkan opsi terbaik supaya tidak terjebak drama perjodohan yang akan dibuat Grandpanya.


"Nah, memangnya kamu sudah punya calon?" selidik Felix.


Darsh tersenyum. Dia tidak yakin kalau gadis itu mau menikah dengannya.


"Entahlah, Om. Aku masih ragu."


Felix juga tidak tega harus menekan Darsh terlalu dalam. Dia cukup sadar diri bahwa putrinya-lah yang akan terpilih untuk memenuhi keinginan terakhir mamanya.


Aku tak masalah kalau Jillian harus memenuhi keinginan terakhir mama. Asalkan dia akan menikah dengan lelaki pilihannya. Ini akan sangat sulit karena Jillian belum pernah mengenal lawan jenisnya sama sekali.


"Darsh, tadi mamamu bilang kalau kamu punya sahabat yang usianya sudah cukup matang. Apakah aku bisa mengenalkan lelaki itu pada Jillian? Ehm, maksudku tidak hanya matang, tetapi dia juga sudah mapan."


Deg!


"Ehm, begini, Om. Namanya Max, usianya jauh lebih tua dibanding semua sahabatku. Dia memang mempunyai usaha showroom mobil mewah. Menurut Darsh, sebaiknya jangan dijodohkan dengan lelaki itu."


Felix mengernyitkan dahinya. Ucapan kakak iparnya dan Darsh sangat bertolak belakang.


"Kenapa begitu, Darsh?" tanya Felix penasaran.


"Karena Jillian sudah menentukan pilihan, Om," jawabnya. Dia tidak ingin menjelekkan Max di depan Omnya. Bagaimanapun sikap buruk lelaki itu, dia tetap sahabatnya.


Kali ini Felix semakin terkejut. Pasalnya, sebagai Daddynya, dia tidak tahu kalau ternyata putrinya sudah mengenal laki-laki. Apa karena luput dari pengawasannya?


"Om sampai tidak tahu mengenai hal ini? Apa Jillian cerita kepadamu? Atau Om memang kurang kontrol kepadanya?" Felix terlihat sangat bingung. Putrinya selalu taat pada aturan yang sudah ditetapkannya.


"Jillian mengenalnya baru saja, Om. Dia juga masih sahabatku. Aku rasa, Om pasti sudah bisa membaca karakternya, termasuk Jillian juga."


Felix mulai paham maksud Darsh. Selama berada di rumahnya, Jillian selalu menjadi gadis penurut. Makanya Felix agak terkejut ketika Darsh mengatakan kalau gadisnya itu mengenal seorang lelaki.

__ADS_1


"Siapa dia, Darsh? Apa menurutmu dia cocok untuk Jillian?"


Darsh berdiri. Dia menatap jauh ke kolam renang. Airnya sangat tenang.


"Dia asistenku, Om."


"Jadi, Jillian sudah mengenal Frey?"


Darsh membalik badannya kemudian mengangguk. Dia kembali duduk ke tempatnya semula.


"Iya, Om. Kebetulan pertama kalinya mereka bertemu sebelum acara hari ini. Frey hanya berniat untuk mengambil mobilnya saja, tetapi aku sengaja membuatnya berbincang cukup lama. Dan, Jillian rupanya merasa cocok dengan lelaki itu. Bagaimana menurut Om?"


Felix berada dalam dilema besar. Dia tahunya kalau Frey baru saja menjadi asisten Darsh. Itu artinya, dia baru saja bekerja dan tentu saja usianya masih sangat muda sekali.


"Berapa usianya?" selidik Felix.


"Sama denganku, Om. Dua puluh dua tahun. Max memang paling berumur di sini. Dia berusia dua puluh tujuh tahun, tetapi menurutku Max bukan lelaki yang tepat untuk Jillian."


"Berikan satu alasan yang jelas kenapa Max tidak cocok untuk Jillian? Bukankah dia sudah cukup umur dan sangat mapan?"


"Maaf, Om. Aku tidak bisa menjelekkan sahabatku di depan orang lain, walaupun Om juga bukan orang lain untukku. Intinya, Max bukan lelaki yang tepat. Om jangan paksa aku untuk mengutarakan alasannya."


Kalau soal menyimpan rahasia, Darsh memang selalu aman. Dia bisa berteman dengan siapapun karena Darsh bukan tipe lelaki ember yang suka berbicara ke sana ke mari. Bahkan, mengenai hubungannya dengan Glenda, semua sahabatnya belum ada yang tahu.


"Baiklah. Lalu, apa yang harus Om lakukan untuk menentukan pilihan ini?"


"Sebaiknya Om tanyakan langsung pada Jillian. Karena setahuku, Frey memang yang dipilih oleh Jillian."


Felix harus ekstra bekerja keras dan sangat cepat untuk mengatasi masalah ini. Rencananya untuk pulang karena ada urusan penting sepertinya langsung terabaikan. Ternyata ada hal yang lebih penting dari itu semua yaitu masa depan putrinya. Dia secepatnya harus mendapatkan jawaban langsung dari Jillian. Selain tentang rencana perjodohan dan pernikahannya yang sangat mendadak itu. Felix juga harus memikirkan kesiapan putrinya untuk naik ke jenjang pernikahan karena statusnya yang masih sebagai mahasiswa.


...🍒🍒🍒...


Hai Kakak readers di manapun berada. Yuk kepoin karya teman Emak. Jangan lupa berikan bintang, favoritkan, jangan lupa dibaca, terus berikan like dan tinggalkan jejak komentar.


Mawar Tak Bermahkota by Author Riena El Fairuz


Terima kasih. Luv yu All 😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2