Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Rencana Jalan-jalan


__ADS_3

Tepat jam tujuh pagi, mobil pengantar jenazah membawa grandma ke pemakaman. Semua orang sudah siap di mobil masing-masing yang akan membawa mereka ke makam. Darsh dan istrinya berada di mobil yang sama dengan sahabatnya dan juga Jillian. Max yang meminta untuk mengemudikan kendaraannya. Dia berada di depan bersebelahan dengan Jillian.


Mama papanya Darsh berada dalam satu mobil dengan om dan tantenya. Grandpanya juga berada dalam rombongan yang sama.


"Jill, arah pemakaman ke mana?" tanya Max.


"Ikuti saja mobil daddyku!"


"Hemm, baiklah," jawab Max.


Semuanya terdiam. Tak ada pembicaraan lagi sampai pada pertengahan jalan, Owen menanyakan sesuatu.


"Darsh, apakah kamu dan kakak ipar sudah sah?"


Darsh dan Glenda saling pandang. Mereka sudah tidur di kamar yang sama, tetapi Darsh sengaja membiarkan Glenda untuk leluasa tidur di ranjang.


"Kita sudah sah menjadi suami istri. Memangnya kenapa?" selidik Darsh.


"Kalau begitu, bantu aku mendapatkan Helga!" ucap Owen.


Deg!


Seketika Max mengerem mendadak mobilnya.


Chiiiittt!


"Max, ada apa?" teriak Justin yang duduknya paling belakang.


"Tidak apa-apa. Sepertinya barusan ada kucing yang lewat," ucapnya beralasan. Dia melanjutkan laju kendaraannya.


"Hemm, lain kali hati-hati. Oh ya, Owen, kami akan membahas masalahmu setelah kita kembali ke negara H. Bagaimana?" usul Darsh.


"Tak masalah, Darsh. Aku juga ingin menikah sepertimu," jelas Owen.


"Woi, kerja dulu!" sindir Justin.


Owen hanya tersenyum saja menanggapi sindiran Justin. Mereka semua tahu kalau Helga itu seperti apa. Tidak akan mungkin seorang Owen pantas dijodohkan dengan Helga yang notabene gadis malam. Dia juga sering bersama dengan Max. Bahkan keduanya juga berkencan.


Jarak pemakaman dengan rumah keluarga Damarion tidak terlalu jauh. Sehingga mobil mereka cepat sampai. Jillian lebih dulu masuk bersama Glenda. Istri Darsh sengaja membiarkan suaminya bersama sahabatnya.


"Kak, bagaimana perasaanmu setelah menikah dengan kak Darsh?" selidik Jillian.


"Biasa saja, Jill. Lagi pula pernikahan kami ini sangat mendadak."

__ADS_1


"Hemm, apakah kak Glenda mencintai Kak Darsh?"


Jillian terus saja memojokkan kakaknya. Dia penasaran, kalau diizinkan, setelah mendapatkan gelar sarjananya, Jillian juga ingin menikah.


"Entahlah, Jill. Semua berjalan dengan sangat cepat. Kalau soal mencintai itu urusan belakangan, tetapi aku sudah tertarik dengan kakakmu sejak awal pertemuan kami."


Untung saja Glenda dan Jillian sampai di waktu yang tepat. Jika tidak, Jillian akan terus menginterogasinya sampai ke akar-akarnya.


Pemakaman berlangsung sangat cepat. Giliran keluarga Damarion untuk menabur bunga, setelah itu sahabat Darsh bersama dengan Jillian dan Glenda. Darsh juga ikut dalam antrean ini.


Darsh tak kuasa melihat pemakaman grandmanya. Wanita yang selalu menjadi idola di dalam keluarga Damarion. Melihat papa dan omnya terlihat sedih seperti itu membuat Darsh semakin merasa tersiksa. Takdir tak akan pernah tahu. Cahaya yang terpancar dari Carlotta sudah menurunkan anak-anak baik seperti Felix maupun Dizon.


"Ma, kalau Mama mau pulang dulu, pulang saja. Darsh ingin di sini dulu," ucap Darsh ketika Olivia mengajaknya untuk pulang.


"Darsh, Max dan sahabatmu juga mau pulang. Kemu di sini sendirian?"


"Tidak, Ma. Glenda yang akan menemaninya," sahut Glenda.


"Baiklah, Glenda. Pulanglah naik taksi, atau kalau kalian kesulitan, minta Darsh untuk telepon Max supaya kalian di jemput," ucap Olivia sebelum meninggalkan pemakaman.


Semua orang meninggalkan sepasang pengantin baru yang fokus memandangi makam. Darsh terus saja menaburkan bunga tanpa henti. Dia merasakan kehilangan yang teramat sangat.


"Kenapa kamu tidak ikut pulang?" tanya Darsh.


Darsh tidak menjawabnya. Dia melihat makam grandmanya yang masih basah. Baru kemarin wanita tua itu menyaksikan pernikahannya dan sekarang sudah dimakamkan untuk selama-lamanya.


"Besok kita akan pulang," ucap Darsh.


Terkejut? Tentu saja, seharusnya besok orang tua Glenda baru datang.


"Darsh, besok pagi mom dan dad-ku baru datang. Apa iya kita langsung kembali?"


Darsh hampir melupakannya. Seharusnya pernikahannya baru digelar lusa, tetapi karena mendadak, kemarin sudah selesai dengan prosesi seadanya.


"Baiklah, kita tunggu sampai semua orang berkumpul. Kemungkinan setelah itu, kita akan kembali ke negara H bersama-sama."


Glenda mengangguk. Darsh terus memandang makam grandmanya.


"Grandma, apa kamu tahu gadis di sampingku ini? Dia permintaan terakhirmu. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya. Dia satu-satunya gadis yang membuatmu pergi dengan tenang. Dia juga yang telah mengisi separuh hidupku," ucapnya lirih.


Glenda mendengar ucapan suaminya, tetapi tidak secara keseluruhan. Jadi, dibiarkan saja supaya lelaki itu lebih ikhlas atas kepergian grandmanya.


"Darsh, lanjutkan saja. Aku tunggu di depan," pamit Glenda.

__ADS_1


Darsh tidak menjawabnya. Dia tiba-tiba menggenggam erat tangan istrinya. Tentu saja membuat Glenda terkejut.


"Grandma, kami pamit dulu," ucap Darsh. Sepanjang jalan keluar makam, Darsh masih menggenggamnya.


Darsh berusaha mewujudkan semua keinginan terakhir grandmanya termasuk untuk menjaga Glenda dengan baik.


Di depan makam, tidak ada taksi atau apapun yang lewat. Darsh melepaskan genggaman tangan Glenda dan berniat untuk meneleponnya. Belum sempat menelepon, dia melihat mobil Jillian sudah datang dari jauh.


"Mereka datang disaat yang tepat," ucap Darsh.


Glenda merasa terkadang Darsh sangat manis, terkadang dia juga sangat dingin.


"Darsh, menunggu lama?" tanya Max.


Rupanya Max datang bersama Jillian. Tumben gadis itu tidak protes lagi dengannya. Biasanya Max selalu saja membuat mood Jillian turun.


"Tidak, Max. Kamu datang disaat yang tepat. Terima kasih." Darsh membukakan pintu untuk Glenda.


"Terima kasih," ucap Glenda.


Semua sudah berada di dalam. Jillian sengaja mengajak Max saja karena ingin berbincang berdua dengannya seperti yang dibicarakan dengan Frey beberapa jam yang lalu.


"Jill, apa ini tidak salah?" tanya Darsh.


Jillian paham dengan apa yang dimaksud kakaknya. Ini adalah kesepakatan antara dirinya dan Frey untuk memberikan kesempatan pada Max.


"Tidak, Kak. Aku dan Kak Max hanya ingin menjemputmu."


Jillian bersikap biasa saja pada Max. Dia memang belum tahu akan memilih siapa untuk kelanjutan hubungannya. Yang pasti, untuk saat ini demi meredam keributan antara Max dan Frey, dia harus menjadi penengah.


"Darsh, langsung pulang atau mau mampir ke mana dulu?" tanya Max.


"Langsung pulang saja, Max. Aku ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan keluarga besar dan istriku juga."


Glenda cuma bisa menatap suaminya tanpa berkomentar apapun. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang akan dibicarakan suaminya padanya.


"Kak Glenda rencana pulang kapan?" tanya Jillian.


"Belum tahu, Jill. Tunggu kedatangan orang tua kakak dulu. Mungkin besok baru diputuskan."


"Ehm, kalau begitu, besok aku ajak kakak jalan-jalan ke Mal dulu bagaimana? Di tempat kakak tidak ada Bakso, kan? Kalau di sini, semuanya ada. Mau lokal ataupun mancanegara, tinggal pilih," pamer Jillian.


"Jill, kamu cuma mengajak kakak ipar saja? Aku juga ingin tahu tempat tinggalmu dengan baik. Siapa tahu kita berjodoh. Benar begitu, kan?" sambung Max.

__ADS_1


Tentu saja Jillian akan mengajak semuanya. Tidak hanya Max saja. Semua sahabat kakaknya pun akan ikut andil dalam acara kuliner bersama. Itupun kalau daddynya Jillian mengizinkan.


__ADS_2