Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Tingkah Pengantin Baru


__ADS_3

Menenteng kantong plastik berisi bunga tentu saja menjadi pertanyaan tersendiri untuk Jillian yang kebetulan bertemu dengan Glenda.


"Kak, bunga dari mana?" tanya Jillian.


"Kamar kakak, Jill."


"Kenapa mau dibuang, ya? Sini, buat Jillian saja!"


"Jangan, Jill. Nanti kakakmu marah. Biarkan kuberikan pada pelayan saja." Glenda tidak mau membuat keributan di hari pertama pernikahannya.


Glenda menuju ke dapur, menemui pelayan yang ditemuinya di sana. Dia baru saja sampai di rumah ini, tentunya belum banyak mengenal siapa pun.


"Bi, bisa tolong buang bunga-bunga ini?" ucap Glenda.


"Kenapa di buang, Non? Sayang masih bagus ini," ucap pelayan.


"Buang saja! Ini permintaan suamiku," ucapnya tanpa ragu. Lagi pula tidak ada salahnya dengan kata suami.


"Baik, Non. Bibi buang ya, takutnya kalau tidak dilakukan, Tuan Darsh bisa marah," ucapnya.


Darsh bisa marah? Apakah dia pemarah juga? Kalau sampai dia marah, aku tidak tahu apakah aku harus melawan atau diam saja? Ah, entahlah. Selama aku tidak membuat gara-gara dengannya, kupikir aman saja.


"Baiklah, Bi. Terima kasih. Aku kembali ke kamar lagi, ya," pamitnya.


Melewati ruang tengah, nampak semua orang sudah berada di sana. Hanya Om-nya saja yang tidak kelihatan. Mungkin sudah pulang untuk menjemput keluarganya.


"Glenda, Darsh di mana?" tanya Kayana.


"Ada di kamar, Tante. Apa perlu dipanggilkan?"


"Tidak usah. Biarkan saja, mungkin dia lelah. Katakan saja, sebentar lagi jenazah grandma tiba di rumah. Pemakaman akan dilangsungkan esok pagi."


"Baik, Tante."


Glenda kembali ke kamarnya. Dia masuk untuk melihat suaminya. Rupanya lelaki itu sedang duduk di sofa. Dia terlihat lebih segar.


"Darsh, bisa kita bicara sebentar?" tanya Glenda.


"Duduklah!" Darsh menunjuk tempat di sebelahnya.


"Terima kasih." Glenda duduk sesuai ucapannya.

__ADS_1


"Katakan!"


"Tante Kayana bilang kalau sebentar lagi jenazah grandma sampai. Pemakaman akan dilangsungkan esok pagi. Mungkin sedang menunggu orang kita," jelas Glenda.


"Hemm, kamu sudah makan?" Walaupun sedang berduka, Darsh tidak boleh mengabaikan Glenda. Apalagi dia baru pertama kali tinggal di rumah keluarganya. Tentu akan terasa asing baginya.


Glenda menggeleng. Sebenarnya dia sangat lapar. Setelah sarapan pagi yang sangat tidak nyaman karena tidak banyak orang di rumah. Apalagi Darsh juga tidak ada di sana.


"Makanlah dulu! Minta sama pelayan. Katakan saja kalau kamu lapar. Mereka tidak akan tega membiarkanmu kelaparan," jelasnya.


Glenda sebenarnya ingin melakukan hal itu. Mengingat sebentar lagi jenazah akan tiba di rumah. Semua orang pasti sangat sibuk.


"Nanti saja," tolaknya.


"Ingat, jangan sampai kamu sakit!" ancam Darsh.


Glenda bingung harus seperti apa? Dia berdiri menuju ke ranjang. Sebelum itu, dia mengambil segelas air minum untuk mengganjal perutnya yang lapar. Dia duduk terdiam di sana menerawang jauh ke depan. Bahkan ketika Darsh keluar, Glenda tidak menyadarinya sama sekali.


Darsh tidak tega melihat istrinya seperti itu. Dia pergi ke dapur untuk mengambilkan beberapa makanan yang ada di lemari pendingin.


"Tuan, mau dibuatkan minuman apa?" tanya pelayan.


"Buatkan jus mangga, Bi. Aku tunggu, ya!"


Darsh sengaja meminta jus mangga supaya Glenda kenyang. Dia menyiapkan nampan kecil yang di isi beberapa makanan dan jus mangga untuk istrinya. Darsh tidak ingin makan. Dia masih teringat akan kejadian yang membuatnya terpukul hari ini.


"Ehm, Tuan minta apalagi?" tanya pelayan.


Jus mangga segelas dengan beberapa kue tentunya bukan untuknya. Darsh juga tidak terlalu suka dengan jus. Tentu saja pelayan menanyakannya lagi.


"Buatkan kopi hitam saja. Antarkan ke kamarku!"


Darsh membawa nampan itu ke kamarnya. Dia merasa bertanggung jawab penuh pada istrinya. Bagaimana pun, gadis pilihannya itu sudah mendapatkan restu dari grandmanya. Tentu dia tidak akan mengabaikan istrinya.


Ceklek!


Darsh membuka pintu, dia membawa nampan itu dan meletakkannya di meja sofa. Istrinya masih berada di ranjang. Gadis itu melihat kedatangan Darsh dengan beberapa makanan.


"Makanlah!" perintah Darsh.


"Tidak, Darsh. Aku tidak akan memakannya jika kamu juga tidak makan," tolak Glenda. Mana mungkin gadis itu bisa kenyang, sementara pasangannya tidak makan.

__ADS_1


Darsh tidak ingin berdebat. Dia mendekati istrinya dengan membawa nampan itu. Dia duduk di hadapan Glenda.


"Tolong, jangan buat aku mengecewakan grandma!"


Darsh meninggalkan makanan itu di sana. Dia berharap agar istrinya lekas memakannya. Namun, bukan Glenda namanya kalau langsung memakannya. Apalagi Darsh tidak menyentuh makanannya sama sekali.


"Tidak, aku tidak akan memakannya jika kamu tidak makan bersamaku. Aku tahu, sejak pagi kamu belum makan sama sekali. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjagaku? Bukankah grandma ingin kita terus bergandengan tangan? Kalau kamu tidak mau makan, aku tidak akan menyentuhnya sama sekali."


Rupanya Darsh salah mengenai Glenda. Dia pikir, Glenda adalah gadis penurut, tetapi rupanya sama keras kepalanya dengannya. Darsh terdiam, menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa. Dia hanya memandangi istrinya dari jauh.


Glenda juga tidak mau berdiam diri saja. Dia memindahkan nampan itu ke meja sofa seperti semula. Dia berusaha bernegosiasi dengan suaminya.


"Kita harus makan!" ucapnya.


Darsh masih terdiam sampai suara ketukan pintu mengejutkannya. Glenda tidak enak berdiam diri terus. Dia berinisiatif membuka pintunya.


Ceklek!


"Non, ini kopi untuk Tuan Darsh," ucap pelayan yang memberikan cangkir dan piring kecilnya.


"Terima kasih, Bi." Glenda menerimanya dan meletakkan cangkir itu di meja sofa. Setelah itu dia kembali untuk menutup pintunya.


"Darsh, makan dulu, ya?" tawar Glenda.


"Makanlah! Aku akan meminum kopi saja," ucapnya.


Glenda memandang lekat wajah suaminya. Wajah yang terlihat lesu karena kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya.


"Darsh, kamu suamiku sekarang. Aku tahu, kamu sedang berduka atas kepergian grandma. Kumohon, makanlah. Kalau kamu tidak mau makan dengan tanganmu sendiri, izinkan aku menyuapinya. Maaf jika aku lancang." Glenda mengambil kue dan memotongnya. Dia menyuapkan kue itu ke mulut Darsh. Suaminya tidak menolak.


Setelah Darsh makan, Glenda baru menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Tak banyak memang, Darsh hanya makan beberapa suap saja.


"Terima kasih." Darsh membuka penutup cangkirnya. Dia membiarkan kopi itu sedikit dingin supaya bisa dinikmati.


"Darsh, aku ambilkan air minum?"


"Tidak perlu! Aku tunggu kopinya sedikit dingin. Bersihkan dirimu, sebentar lagi jenazah grandma datang. Cepatlah! Aku tunggu," ucap Darsh.


Sebelum ke kamar mandi, Glenda menghabiskan segelas jus mangga. Dia mengembalikan gelasnya ke nampan. Tak lupa, dia mengambil bajunya di koper. Kali ini Glenda merasa kebingungan. Semua warna bajunya tidak ada yang sesuai. Suasana sedang berduka, tidak mungkin dia menggunakan salah satu bajunya. Darsh melihat istrinya yang tak kunjung masuk ke kamar mandi. Mungkin ada sedikit masalah yang mengganggunya.


"Kenapa belum ke kamar mandi?"

__ADS_1


"Bajuku tidak ada yang cocok, Darsh. Semuanya berwarna. Aku bingung mau pakai yang mana?"


Glenda tidak mungkin sekurang ajar itu memakai baju warna warni untuk menyambut kedatangan grandmanya. Untuk membelinya juga sudah tidak mungkin. Tinggal bagaimana Darsh akan memberikan solusi untuk semua masalahnya.


__ADS_2