
Seusai acara pernikahan JJ, kini semua anggota keluarga sedang berada di meja makan. Ada anggota keluarga baru yang ada di sana yaitu Justin. Suasana makan malam menjadi canggung karena beberapa orang berusaha menggoda Justin maupun Jillian.
"Jill, kamu mau langsung pulang ke rumah atau mau berada di sini selama beberapa hari?" tanya Kayana.
Jillian nampak menoleh ke arah suaminya untuk meminta persetujuan. Justin sepertinya masih ingin berada di negara tempat tinggalnya.
"Ehm, kami di sini dulu, Mom," jawabnya.
"Mau menginap di rumah ini atau di hotel? Bisanya pengantin baru mempunyai privasi khusus yang tidak mau diganggu oleh siapa pun," ucap Felix.
"Ehm, aku rembukan dulu sama Kak Justin, Dad."
Suasana makan malam terasa berbeda. Semua canda tawa semakin terlihat di sini. Hanya saja, Darsh dan Glenda masih terlihat kaku. Pasalnya setelah menikah, jangankan resepsi pernikahan, bulan madu saja tidak ada dalam agendanya. Sungguh mereka seperti patung saat berada di meja makan. Keduanya tetap fokus pada makanannya.
Semua orang yang ada di sana mengelukan sikap romantis Justin. Darsh merasa tersisih kalau soal sikap romantis. Dia hanya memiliki 10 sampai 20 persen saja. Merasa tersisih, Darsh berdiri untuk kembali ke kamarnya.
"Selamat malam semua, Darsh pamit tidur dulu," ucapnya.
Glenda merasa tak enak hati untuk tetap berada di sana. Mau mengikuti suaminya ke kamar, kesannya angkuh. Sementara tetap di sana dengan obrolan yang dia tidak paham, untuk apa? Lagi pula semua sedang membahas bulan madu dan rencana pengangkatan Justin menjadi CEO Damarion Corporation. Itu artinya, Justin resmi resign dari perusahaan DD Corporation yang sekarang dipegang Darsh, suaminya.
"Maaf, Glenda pamit dulu. Maaf semuanya," pamit Glenda.
"Istirahatlah, Sayang!," ucap Olivia.
Sepeninggal menantunya, Olivia melanjutkan perbincangan dengan adik ipar, suaminya, dan beberapa orang yang masih berada di sana.
"Bagaimana, Jill? Apa kamu mau berbulan madu ke negara T? Di sana suasanya indah dan bagus loh. Setahu Aunty, grandma kembar Glenda juga berada di sana." Olivia mengingat cerita menantunya mengenai Jelita dan Jenica yang akhirnya hidup bersama.
__ADS_1
"Wah, tante Jelita ada di sana juga!" seru Kayana. Dia ingat betul bagaimana sahabatnya, Callista harus berusaha kuat melawan wanita perfeksionis itu. Rupanya dia menyimpan masa lalu yang menyedihkan.
"Iya, Kay. Lama tidak tahu kabarnya, keduanya sudah hidup bersama. Sementara Sean dan keluarganya masih berada di dekat kalian."
"Sean pasti sok sibuk. Dia kan selalu begitu," sahut Dizon.
"Kak, Kak Sean memang seperti itu. Lagi pula, pada saat pernikahan Glenda yang mendadak, dia menyempatkan diri untuk menjadi saksi."
"Dad, padahal aku rindu dengan Callista. Kenapa ya dia tidak muncul saja di hadapanku?" Kayana mengenang masa lalunya bersama sahabat terdekatnya itu.
"Mungkin ada alasan khusus kenapa keluarga Kak Sean menghindari kita, Mom. Namun, aku juga tidak tahu apa itu."
Obrolan orang dewasa membuat Justin dan Jillian tidak nyaman untuk ikutan nimbrung. Rasanya apa yang orang tuanya obrolkan bersama dengan keluarga lainnya membuatnya tidak paham.
"Mom, Jill dan Kak Justin ke kamar dulu, ya. Silakan lanjutkan obrolannya!"
"Justin akan bicarakan lagi, Tante. Jangan khawatir!" ucap Justin akhirnya. Dia masih belum terbiasa dengan keluarga Darsh maupun orang tua Jillian. Itulah sebabnya ketika Jillian mengajak Justin masuk, itu merupakan keputusan yang bagus.
...🍒🍒🍒...
Di kamar Darsh, Glenda sudah menyusul dan duduk di ranjang. Wanita hamil itu banyak diamnya. Dia tidak tahu harus bicara apa dengan suaminya.
"Glenda, kenapa kamu diam?" Darsh duduk tepat di samping istrinya.
"Aku harus ngomong apa, Darsh. Kita tidak punya banyak waktu seperti Jillian. Bahkan, apa pernah kamu mengajakku untuk sekadar pergi berbulan madu?" Glenda berdiri menuju jendela. Wanita hamil itu membuka tirainya untuk memandang langit malam yang sangat indah. "Apakah masih ada kesempatan lagi untuk kita?"
Darsh berdiri. Dia mendekati istrinya dan berdiri tepat di sampingnya. Dia juga memandang jauh ke depan untuk memulai sesuatu yang baru dan belum pernah dijalaninya.
__ADS_1
"Glenda, maafkan aku. Selama kita bersama, aku belum pernah membahagiakanmu. Apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Aku ingin kita tinggal beberapa waktu jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Aku ingin menetap di desa untuk beberapa waktu. Mungkin itu tempat yang baik untuk kita memulai hal baru di sana."
Darsh tidak setuju. Apalagi sebentar lagi Glenda akan melahirkan. Tentu dia butuh dukungan orang terdekatnya termasuk orang tuanya. Kalau Glenda meminta tempat yang jauh dari keramaian, itu artinya Darsh akan meninggalkan pekerjaannya dan juga keluarganya.
"Sayang, sebentar lagi kamu melahirkan. Bagaimana mungkin kita akan tinggal di desa yang sangat jauh dari keluarga?"
Untuk pertama kalinya Darsh menolak permintaan istrinya. Bukan tanpa sebab. Kehidupan di desa jelas akan jauh lebih rumit daripada di kota. Darsh heran, kehidupan seperti apa yang diinginkan istrinya sampai wanita hamil itu mengajaknya untuk pergi ke desa?
"Darsh, aku lelah hidup di sini. Aku tahu kamu sibuk, namun ingatkah kamu padaku? Aku sudah cukup bersabar, Darsh. Keuangan kita jauh lebih dari cukup, lalu untuk apalagi kamu masih harus bekerja?" Bukannya Glenda melarang suaminya untuk bekerja, namun karena pekerjaannya itu, dia jarang sekali memberikan perhatian lebih padanya.
"Kamu cemburu dengan pekerjaanku?"
"Aku tidak cemburu akan hal itu, aku hanya butuh diperhatikan seperti Justin memperhatikan Jillian. Jujur, bukan aku iri apa yang dimiliki Jillian saat ini, tetapi aku iri dengan kehangatan sikap Justin pada Jillian. Rasanya seperti menonton film romantis." Glenda mulai memberanikan diri untuk menuntut apa yang diinginkan.
Darsh menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia menyadari kesulitannya untuk bersikap romantis. Bahkan, terkadang pekerjaannya melupakan istrinya selama berhari-hari. Darsh memang mengabari, itu pun hanya pesan singkat mengenai meeting atau apalah.
Darsh menarik tangan istrinya kemudian mengecup punggung tangannya. Ini pertama kalinya dilakukan setelah beberapa bulan menikah.
"Maafkan aku. Aku akan berusaha menjadi lelaki dengan sisi romantis yang kamu inginkan. Sekali lagi, maaf juga telah mengabaikanku."
Darsh melepaskan tangan istrinya. Dia berjongkok untuk berbincang sebentar dengan putranya yang berada di perut istrinya.
"Hei, Boy! Maafkan Daddy, ya. Setelah kalian dewasa, Daddy janji akan mengajak kalian untuk tinggal ditempat yang diinginkan Mommymu. Ingatkan Daddy jika lupa!" Darsh mengecup perut istrinya kemudian mengelusnya supaya bayinya menendang. Benar saja, baru disentuh seperti itu dengan janji-janji manisnya, sang bayi merespon dengan baik.
"Darsh, itu artinya mereka setuju." Glenda baru kali ini bisa tersenyum bahagia melihat sikap suaminya. Ini sangat menyenangkan diperhatikan seperti ini.
__ADS_1
"Kita tunggu anak-anak kita sedikit lebih besar, setelah itu aku akan mengajakmu ke semua tempat yang kamu inginkan. Maafkan aku."