
Berlama-lama di dalam kamar membuat Darsh merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Apalagi keputusannya untuk menerima permintaan terakhir Grandmanya, membuatnya nekat antara menyerah dan mengejar Glenda. Darsh belum tahu apa yang akan dilakukan pada gadis itu. Kemungkinan kalau terdesak, Darsh akan melakukan hal yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya.
"Sebaiknya aku mandi dan mengantar Jillian ke restoran ZA. Aku juga ada perlu di sana." Darsh bergegas bersiap. Dia tidak ingin terlambat ke sana. Ada dua hal penting yang harus diselesaikan. Pertama, mengantar Jillian bertemu sahabatnya. Kedua, urusan masa depan Darsh untuk mewujudkan keinginan terakhir Grandmanya.
Sementara Jillian yang berada di kamarnya terlihat nampak bermalas-malasan. Gadis itu sebenarnya enggan untuk ikut kakak sepupunya, tetapi karena sudah terlanjur mengiyakan, Jillian akhirnya bersiap-siap juga. Hampir selesai dengan make up naturalnya, suara ketukan pintu menghentikan kegiatannya.
"Ya, tunggu!" Jillian bergegas membuka pintunya.
Ceklek!
"Kak Darsh sudah siap?" tanya Jillian.
"Menurutmu? Apa kamu sudah siap?"
"Tunggu, aku selesaikan sebentar." Glenda masuk lagi ke kamarnya untuk melanjutkan sedikit saja riasan wajahnya yang hampir selesai.
"Jangan terlalu menor! Aku sudah tahu kalau kamu berdandan untuk siapa. Setidaknya berbincanglah dengan Justin dan Max juga. Setelah itu, terserah padamu!" Darsh berusaha bersikap adil pada sahabatnya.
"Ck, apaan sih, Kak Darsh? Ini natural banget. Mana mungkin aku dandan menor di depan lelaki yang belum menjadi suamiku," celetuknya.
"Hemm, lekaslah! Aku tidak mau datang terlambat daripada mereka," ucap Darsh.
Lelaki itu lebih dulu menuju ke mobilnya. Tak lama, Jillian menyusulnya.
"Kak, kenapa kamu memakai kacamata hitam? Ini siang hari, loh."
"Cukup diam dan nikmati perjalananmu. Jangan komentar aneh-aneh terhadapku."
Jillian terdiam. Darsh bergegas mengemudikan mobilnya. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Glenda. Sebelum orang lain lebih dulu mendapatkannya, dia harus bergerak cepat. Walaupun Darsh tidak tahu harus memulainya dari mana.
Rupanya mereka sampai di restoran ZA sedikit terlambat. Pasalnya, Justin sudah menunggunya di sana.
"Aku sengaja datang lebih awal, Darsh," ucap Justin.
"Hemm, masuklah dulu bersama Jillian. Aku masih ada urusan penting," balas Darsh.
Darsh tidak ingin menyulut kesalahpahaman dengan Glenda kalau gadis itu tahu Darsh masuk dengan Jillian. Glenda belum mengenal gadis itu.
"Kak, aku bersamamu saja." Jillian tidak terima kalau harus masuk bersama Justin.
"Jill, kakak mau ke toilet. Apa kamu mau ikut?" ucapnya beralasan.
"Yah, baiklah." Jillian mengalah.
Justin membawa Jillian ke tempat pertama kalinya datang bersama Darsh. Dia langsung menarik satu kursi dan mempersilakan gadis itu duduk.
Jillian sebenarnya merasa tidak nyaman dengan perlakuan lelaki itu. Dari arah lain, rupanya Frey sempat melihat semuanya.
"Wah, kalian rupanya sudah datang, ya. Mana Darsh?" tanya Frey yang langsung mendekat setelah melihat kejadian barusan.
__ADS_1
Jillian merasa tak enak hati pada lelaki itu.
Apa jangan-jangan Kak Frey sudah melihat semuanya? Aku nanti saja mengirim pesan padanya bahwa ini hanyalah salah paham saja. Aku berusaha bersikap baik pada Kak Justin.
"Darsh ke toilet pamitnya. Duduk, Frey!" ucap Justin.
"Oke. Oh ya, sebaiknya kita pesan makanan dulu. Nanti kalau yang lain datang, bisa langsung makan tanpa menunggu lagi," ucapnya.
"Hemm, baiklah. Aku panggil pelayan dulu ya," ucap Justin sembari menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah menemukan pelayan yang kebetulan tidak terlalu sibuk, Justin langsung memanggilnya. "Pelayan ...."
Pelayan itu langsung menghampiri pelanggannya.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya Pelayan itu. Dia terlihat masih muda dan cantik. Siapa lagi kalau bukan Glenda. Gadis itu tidak sadar kalau Darsh mengamatinya dari jauh.
"Keluarkan semua menu terbaik yang ada di restoran ini. Seperti tempo hari," ucap Justin.
Tentu saja ini bukan pertama kalinya ada seseorang yang memesan makanan sebanyak ini.
"Kak, ini terlalu banyak," tegur Jillian.
"Tidak, Jill. Hanya beberapa. Sudahlah, kamu jangan khawatir," balas Justin.
"Bagaimana, Kak?" Glenda berusaha memastikan orderan lelaki itu.
"Seperti yang kukatakan barusan. Itu saja," jawab Justin.
"Baiklah, mohon ditunggu," pamit Glenda.
"Hai, Brother," sapa Max.
"Hemm, sudah pesan makanan?" tanya Darsh. Pikiran lelaki ini sedang tidak fokus. Dia harus memikirkan bagaimana caranya kabur untuk menemui Glenda.
"Kak Justin yang memesannya, Kak," jawab Jillian.
Baguslah kalau begitu. Biar aku cepat bertemu dengan Glenda. Apa yang harus kukatakan padanya?
"Kak, kamu kenapa?"
"Iya, Darsh. Kamu sejak tadi bersikap aneh seperti itu," sahut Frey.
"Aku baik-baik saja. Eh ya, katanya kalian ingin bertemu Jillian, silakan mengobrol." Darsh cukup ingin mendengarnya saja. Dia lebih memilih fokus untuk bertemu dengan Glenda.
Ketika hendak memulai pembicaraan, semua makanannya datang.
"Boleh makan dulu?" tanya Owen.
"Iya, Owen. Kita makan dulu baru lanjut mengobrol lagi. Iya kan, Jill?" ucap Max.
"Eh, iya, Kak," jawab Jillian.
__ADS_1
"Ehm, kalian makan saja dulu. Aku mau ke toilet sebentar. Aku tidak tahu sejak tadi terus saja ingin ke toilet. Maafkan aku, ya," pamit Darsh. Dia harus mengecoh semua sahabatnya.
"Hemm, pergilah," usir Max.
Darsh secepatnya mencari kesempatan untuk bertemu dengan Glenda. Kebetulan gadis itu baru saja melayani pelanggannya. Darsh memanggil gadis itu melalui rekan kerjanya. Dia mengajak Glenda untuk bertemu di samping restoran yang jauh dari jangkauan sahabatnya maupun rekan kerja Glenda.
Darsh lebih dulu menunggunya di sana. Tak beberapa lama, gadis itu sudah menyusulnya.
"Darsh, ada apa? Tumben tidak mengirim pesan dulu?" Glenda langsung ambil posisi duduk di kursi yang kebetulan ada di situ.
"Ehm, aku mendadak datang ke sini. Jadi, aku pikir sekalian bertemu denganmu. Apa aku mengganggu waktumu?"
Darsh cukup sadar kalau Glenda sedang bekerja. Dia juga tidak mungkin menyampaikan hal ini melalui pesan atau hanya sekadar telepon.
"Tidak, aku tidak merasa terganggu, Darsh. Aku sudah meminta izin seniorku."
Darsh terdiam. Dia masih meyakinkan diri untuk mengatakan hal penting ini pada gadis itu.
"Glenda, sebelumnya aku meminta maaf padamu," ucap Darsh.
Glenda sepertinya merasa tidak nyaman dengan ucapan Darsh barusan. Dia merasa bahwa Darsh enggan berteman dengannya, apalagi dia hanya seorang pelayan restoran. Tidak sebanding dengan Darsh yang terlihat kaya itu.
"Soal apa?" tanya Glenda.
"Ehm, apakah kamu sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Darsh to the point.
Glenda menggeleng. Dia memang belum pernah memiliki seorang kekasih.
Apa ini sudah tepat? Apa dia akan menolakku? Eh God, bantulah aku.
"Glenda, mungkin ini terlalu cepat untukmu dan untukku. Aku tidak tahu lagi harus memulainya dari mana. Aku bukan lelaki romantis seperti yang kamu pikirkan selama ini, tetapi aku ke sini bertujuan untuk meminangmu menjadi istriku. Apa kamu mau?" Darsh tidak berbelit-belit. Dia mengungkapkannya secara gamblang.
Deg!
Seperti mimpi di malam hari. Namun, ini sangat nyata. Glenda merasakan ada sesuatu yang aneh dari Darsh. Mungkin dia sedang bermain drama atau berakting di depan Glenda.
"Kamu bercanda, Darsh. Ini bukan lelucon," protes Glenda.
Mana mungkin seorang lelaki yang baru mengenalnya tiba-tiba meminangnya seperti ini?
"Aku tidak sedang melakukan lelucon apapun. Tinggal kamu jawab iya dan tidak. Selesai masalah. Bukan begitu?"
Glenda tidak yakin dengan perasaannya. Dia memang suka dengan Darsh, tetapi mendadak dipinang seperti ini membuatnya bingung juga. Banyak hal yang harus diselesaikan Glenda untuk menerima pinangan lelaki ini kalau misalnya dia menerimanya.
...💟💟💟...
Hai kakak readers di manapun berada. Jangan bosan ya, Emak selalu hadir untuk merekomendasikan karya teman Emak. Yuk kepoin, jangan lupa berikan bintang, masukkan favorit, kemudian baca, dan jangan lupa tinggalkan komentar.
Find The Perfect Love by Author eveliniq
__ADS_1
Terima kasih. Luv Yu All 💝💝💝