
"Nama yang cantik seperti orangnya," balas Max.
Gadis itu mengikuti Max naik ke mobilnya. Lelaki itu mengantarkannya ke sebuah hotel mewah di dekat tempat tinggalnya.
"Max, apakah ini hotel mewah?" tanya Willow. Dia sebenarnya ingin masuk ke sana, namun karena kondisi keuangannya yang menipis, Willow menolaknya.
"Iya, ini hotel terdekat dengan tempat tinggalku. Kamu jangan khawatir!"
"Maaf, Max. Uangku tidak cukup. Aku masih harus bermalam di tempat ini selama beberapa hari ke depan," tolak Willow.
"Kamu jangan khawatir! Aku yang akan membayarnya." Max berusaha membantunya dengan apa yang dimilikinya saat ini. Apalagi Willow itu sangat menarik di depan matanya.
Willow ingin menolak, namun hari semakin larut. Dia tidak mungkin akan tidur diluaran sana. Akhirnya Willow menerimanya. Max merasa senang karena bantuannya diterima dengan baik.
...🍃🍃🍃...
Olivia dan Dizon yang sedang berada di kamar sedang berada pada pikirannya masing-masing. Dizon sudah tidak pernah memikirkan Diana maupun Willow, namun kenapa Diana mengirimkan putrinya untuk mencari keberadaannya?
"Pa, apa yang kamu pikirkan?"
"Apa kamu mencurigaiku menjalin hubungan dengan Diana sampai memiliki anak?"
"Tidak, aku sudah mengetahui semuanya. Memangnya kenapa?"
"Aku hanya bingung tujuannya untuk apa?"
"Entahlah, Pa. Sebaiknya kamu temui saja dia."
__ADS_1
Olivia setuju agar suaminya menemui Willow. Bagaimana pun juga, Diana pernah hidup di masa lalu suaminya.
Olivia berusaha meminta nomor telepon gadis itu dari putranya. Mungkin saja Willow meninggalkan nomor yang bisa dihubungi.
Butuh beberapa menit, Olivia sudah mendapatkannya. Sebelum dia menelepon, Olivia membuat kesepakatan dengan suaminya.
"Pa, aku mau kita bertemu Willow. Tidak hanya kamu saja, tetapi berdua. Kalaupun ada masalah serius, setidaknya ini tidak akan mengganggu hubungan rumah tangga kita maupun putra kita."
Dizon menyetujuinya. Beberapa waktu mendial nomor itu, akhirnya tersambung. Olivia mengatakan kalau akan menemuinya di hotel tempatnya menginap keesokan harinya dan Willow setuju.
...🍃🍃🍃...
Keesokan harinya, suasana makan siang di restoran hotel X semakin canggung karena ini pertemuan Dizon dengan Willow setelah puluhan tahun tidak bertemu.
"Ada apa?" tanya Dizon. Sejak awal pertemuannya, Dizon berusaha bersikap dingin pada anak Diana.
Dizon tidak menyangka, wanita itu sekarang kena karmanya. Dia berusaha memainkan tiga pria sekaligus sampai Sean hampir teperdaya kalau Willow putrinya.
"Bagaimana, Ma?" Dizon berusaha meminta persetujuan dari istrinya.
"Kita tidak bisa ke sana, Pa. Kecuali melalui video call. Itu pun kalau Willow menyetujuinya." Olivia tidak mau apa yang sudah dibangun susah payah dengan suaminya hancur dalam sekejab. Walaupun niat Willow hanya untuk meminta maaf. Dia juga akhirnya tahu, mantan calon suaminya itu pergi gara-gara mama gadis ini.
"Maaf, Tante. Mama ingin bertemu secara langsung," ucap Willow memohon.
"Maaf, Willow. Di mana Papamu? Apakah dia tidak bersama mamamu lagi? Seharusnya kami menolaknya sejak awal, namun karena kemanusiaan, aku masih mempertimbangkannya," terang Olivia.
Willow menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apalagi. Baginya, papa biologisnya itu telah menyakiti seluruh hati dan perasaannya. Tanpa terkecuali. Tidak hanya menyakiti secara hati, namun fisik pun sama. Itulah sebabnya, Willow enggan untuk menikah sampai detik ini. Rasa sakit yang ditinggalkan Juvenal begitu mendalam baginya.
__ADS_1
Dizon baru memikirkannya. Semenjak selesainya permasalahan kala itu, Sean memang sudah bertemu dengan papa biologis Willow. Semuanya sudah kembali normal dan hidup di jalan masing-masing. Namun, Dizon nampaknya memiliki kecurigaan bahwa papanya tidak sebaik yang dibayangkan. Walaupun Dizon brengseknya luar biasa, namun dia masih memiliki hati. Itu pun semenjak bersama Olivia.
"Papa, dia meninggalkan kami. Mama setres dan drop sampai akhirnya nyaris bunuh diri. Itulah sebabnya, mama saat ini koma." Willow sudah tidak tahan lagi dengan air mata kesedihan yang dikeluarkan selama ini.
"A--apa yang dilakukan papamu?" Olivia sungguh tidak menyangka, pria yang hampir saja menjadi suaminya itu rupanya benar-benar jahat. Dizon yang dikiranya kasar dan dingin itu malah jauh lebih bertanggung jawab.
"Papa, ah, aku tidak mau menceritakannya, Tante. Cukup aku saja yang merasa ketakutan akan kelakuannya."
"Willow, bagaimana kami bisa memutuskan kalau kamu tidak menceritakan secara utuh. Lagi pula, hubungan di masa lalu kami sudah benar-benar selesai, lalu kenapa mamamu malah mencariku dan tidak mencari Om Sean?" selidik Dizon.
Mamanya benar. Dizon pasti akan menanyakan kenapa tidak mencari Sean dan malah mencarinya. Sudah bisa di duga, namun mamanya berpesan kalau hubungannya dengan Sean sudah berakhir dengan baik.
"Maaf, Om. Hubungan mama dan Om Sean di masa lalu sudah baik-baik saja. Hanya dengan Om saja yang belum selesai untuk meminta maaf. Hanya itu pesan Mama."
Dizon melirik pada istrinya untuk meminta persetujuan. Namun, ada hal lain yang masih dipertimbangkan Olivia.
"Willow, maaf sebelumnya. Kalau memang kamu mau, kami bisa melakukan video call. Karena sebentar lagi menantuku akan melahirkan. Kami tidak bisa bepergian terlalu jauh." Ada segurat luka yang disembunyikan Olivia. Bagaimana mungkin dia tega melepas suaminya hanya untuk memberikan maaf pada wanita lain? Walaupun hanya maaf, namun kecemburuan yang sudah menumpuk ini tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Willow juga tidak bisa terlalu egois memaksakan diri untuk mengajak Om Dizon ikut dengannya. Pria paruh baya itu telah memiliki istri dan itu sangat tidak baik.
"Baiklah, Om, Tante. Willow setuju. Setelah beberapa hari berada di sini, aku akan segera pulang dan mengabari kalian. Tak masalah untukku, yang pasti aku harap setelah ini Mama bisa membaik seperti semula."
Olivia maupun Dizon akhirnya bisa bernapas lega. Mereka tidak harus pergi ke negara Diana berada. Namun, masih menjadi misteri kenapa Willow enggan menceritakan keburukan papa biologisnya itu. Tak masalah, mungkin itu duka yang harus disimpannya dengan rapat.
"Aku akan membayarnya. Selesaikan makan siangmu!" ucap Dizon. Bagaimana pun juga, dia pernah menjadi gadis kesayangannya kala itu. Hanya saja karena kebohongan Diana, Willow seperti anak yang tidak jelas asal usulnya.
"Terima kasih, Om."
__ADS_1
"Sama-sama. Om dan Tante langsung pamit, ya. Masih ada hal yang perlu diselesaikan. Kamu sudah menyimpan nomor Tante, kan? Pakai nomor itu saja untuk video call." Dizon memang tidak mau istrinya merasa sedih ataupun cemburu. Makanya dia sengaja menggunakan nomor itu untuk terhubung dengan masa lalunya.