
"Tentu saja aku akan mendukung suamiku. Darsh, kurasa ada sesuatu yang aneh. Kamu ingat kan kejadian di apartemen Owen beberapa bulan yang lalu sampai akhirnya Max menjadi tersangka. Apakah Max tahu sesuatu?"
Deg!
Cerdas. Itulah yang patut diucapkan untuk sang istri, Glenda. Kenapa Darsh bisa melupakan sahabatnya itu? Bukankah selama ini yang paling dekat adalah Max?
"Jangan-jangan pertunangan spontan yang dilakukan di hadapanku itu atas permintaan Willow? Mungkin saja gadis itu sengaja memancingku apakah aku menyukainya atau tidak?"
"Oh ya ampun, Darsh. Kenapa kita bahkan tidak tahu sama sekali? Lalu, apa tujuan Willow sebenarnya?"
"Itulah yang sedang kucari."
Glenda turun dari pangkuannya. Jika diteruskan, bisa saja Glenda khilaf dan semakin meminta lebih.
"Eh, kenapa turun? Bukankah kamu meminta dimanja dan diperhatikan?" ucap Darsh.
"Aku tidak mau kalau kamu semakin mesum, Darsh."
"Hemm, baiklah."
Glenda hendak masuk ke kamar mandi, namun Darsh mencegahnya. "Tunggu! Kamu mau ke mana?"
"Aku hanya ingin mencuci muka. Kenapa?"
"Di sini saja. Temani aku sebentar. Aku masih merindukanmu."
"Ish, rayuan apalagi ini, Darsh? Kurasa efek Willow mengatakan cinta padamu membuat kamu takut kehilanganku, yah?" Tentu saja Glenda akan terus menggodanya.
"Hemm, kamu bicara apa? Cinta dan dirimu tak akan pernah tergantikan, Glenda. Kamu orang pertama dan terakhir yang akan mendampingiku selamanya. Jangan pernah berubah atau berusaha meninggalkanku."
Pria sedingin kulkas bisa juga berubah sehangat dan romantis seperti ini. Glenda merasa kalau rasa takut kehilangan dirinya jauh lebih besar dari apapun. Itu sudah menunjukkan bahwa Darsh sangat mencintainya.
"Apa kamu mau tetap di sini dengan semua rasa penasaranmu? Sebaiknya kamu bersiap dan temui Max. Semoga kamu mendapatkan jawaban."
Ya, Darsh hampir melupakan Max. Istrinya memang alarm yang mujarab sebagai pengingat hal-hal yang dilupakannya.
"Baiklah."
...*****...
__ADS_1
Darsh sekarang sudah berada di rumah tahanan yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Butuh waktu berjam-jam untuk sampai di sana. Sebenarnya ini bukan jam kunjungan, tetapi dia meminta izin untuk bertemu karena ada kepentingan yang sangat serius.
"Darsh, kau ke sini?" Max terlihat sedikit kurus. Hanya tinggal beberapa bulan lagi dia menyelesaikan masa hukumannya.
"Maaf, selama ini aku mengabaikanmu."
Selama berada di penjara, tak satupun sahabatnya yang datang untuk menjenguknya. Namun, Max tidak mempermasalahkan. Apalagi usaha showroom-nya tetap berjalan lancar. Walaupun dia tidak pernah mengetahui laporannya.
"Tidak masalah. Aku senang kamu masih mau mengurus usahaku. Oh ya, ada apa kamu ke sini? Masalahnya ini bukan jam berkunjung."
"Apa kamu mengetahui sesuatu tentang Willow?"
Deg!
"Apa maksudmu? Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan wanita itu." Max ingin menghindar dari pertanyaan sederhana itu.
"Max, kali ini tolong bantu aku. Ini mengenai kelangsungan hidup orang banyak. Orang tuaku, aku, dan Owen. Keselamatan keluargaku juga bergantung dengan jawaban yang kamu berikan."
Deg!
Ada apa ini? Kenapa seolah terjadi sesuatu yang besar sekali? Batin Max.
"Aku tahu kami semua mungkin egois tidak pernah mau mendengar pembelaanmu, tetapi di sini ada banyak hati yang akan terluka jika kamu tidak mau mengatakan hal yang sesungguhnya." Darsh memohon dengan iba. Dia menyadari kalau selama ini salah terhadap Max dan baru menyadarinya hari ini.
"Kurasa itu tidak perlu lagi, Darsh. Tunggu saja sampai aku keluar dari sini."
Deg!
Itu masih setengah tahun lagi. Entah, apa yang akan diperbuat Willow pada keluarganya? Namun, kenapa dia hanya mengincar keluarga Damarion? Bukan malah keluarga Armstrong?
"Max, sekali lagi aku minta maaf padamu. Kami memang egois. Tapi kamu tahu kan kalau sekarang Owen sudah menikah dengan Willow. Apa kamu juga tahu kalau Willow juga menyukaiku?"
Glek!
Kenapa malah merembet ke mana-mana? Apa sebenarnya tujuan Willow yang lain? Batin Max.
"Aku tidak akan mengatakan apapun padamu, Darsh. Namun, aku akan menuliskan apa saja yang ingin kamu ketahui tentangnya."
Max meminta secarik kertas dan menuliskan segala apa yang diketahuinya. Entah, Max memiliki tujuan apa? Kenapa dia tidak cerita secara langsung? Rasanya sangat aneh sekali harus menunggu Max menuliskan beberapa poin penting. Mungkin juga alasannya karena Max malas berbicara dengannya.
__ADS_1
Menunggu Max butuh waktu yang lumayan. Barulah di menit yang ke 20, Darsh menerima selembar kertas yang sudah dilipat sangat rapi. Rasanya Darsh ingin langsung membacanya, namun Max melarangnya.
"Bacalah ketika sampai di rumah. Aku tidak mau selama perjalanan kamu kepikiran mengenai hal ini. Oh ya, ini pertama dan terakhir kalinya kamu datang ke sini."
Deg!
Apakah Max memutuskan hubungannya dengan Darsh? Kenapa mendadak dia menghindar seperti itu?
"Kamu tidak mau bertemu denganku lagi?" tanya Darsh sebelum meninggalkan rumah tahanan itu.
"Kamu tak perlu tanyakan itu padaku. Semua jawaban ada pada surat itu. Kumohon mengertilah."
Tak menunggu lama, Max kembali. Darsh secepatnya memasukkan kertas itu ke dalam saku jasnya. Dia langsung menuju ke mobil dan lekas pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Darsh masih memikirkan kira-kira apa isi suratnya? Rasanya hatinya semakin sakit mengingat Max tidak mau berbicara dengannya.
"Apa aku keterlaluan pada Max?"
Mungkin saja tanpa disadari, baik Owen maupun Darsh tidak bisa memahami Max dengan baik. Itulah sebabnya Max lebih memilih bungkam daripada harus bercerita padanya.
"Maafkan kami, Max. Kami sudah membuat kesalahan besar padamu."
Malam menjelang, perjalanan Darsh kembali ke rumahnya tidak semudah perjalanan ketika menuju ke rumah tahanan.
Darsh membelokkan mobilnya ke sebuah Kafe yang tidak terlalu ramai. Dia butuh makan dan minum sejenak sambil mencerna pertemuan pertamanya dengan Max setelah sekian bulan tidak bertemu.
Darsh melangkahkan kakinya masuk ke Kafe. Suasana Kafe yang temaram sehingga tidak mudah mengenali setiap orang yang masuk. Dia memilih tempat duduk yang tidak terlalu ramai. Lebih tepatnya di sudut ruangan Kafe.
Seorang pelayan langsung menghampirinya untuk mencatat pesanan. Cukup mudah memang. Kafe ini seperti dikelola oleh orang yang benar-benar profesional. Tanpa menunggu lama, semua pelayan menghampiri tamu yang datang. Darsh juga melihat waktu pesan dan kedatangan pesanannya tak terlalu lama.
Kafe ini unik juga rupanya. Andai konsep Kafe Owen diubah seperti ini, mungkin akan terlihat lebih bagus. Pelayannya juga on time. Kurasa setiap pemesan hanya berjarak paling lama 10 menit. Batin Darsh yang sedang mengagumi Kafe tempatnya singgah.
Seorang pelayan datang membawa sebuah nampan yang berisi pesanan Darsh. Setelah menyuguhkan makanan, pelayan itu masih berada di tempatnya. Seolah sedang menelisik sebuah kebenaran dari tamu yang sedang duduk itu.
Pelayan itu cukup cantik dan sangat menarik. Dia menggunakan seragam Kafe dan potongan rambut lurus panjang. Pelayan itu memiliki mata biru yang menawan. Sangat cantik bahkan lebih cantik ketika dipandang dalam keremangan lampu Kafe.
"Darsh?" ucap pelayan itu dengan suara lirih. Seperti tidak mau didengar oleh siapapun.
Darsh terkejut. Bahkan di tempat seperti ini dia masih dikenali orang. Darsh tidak tahu siapa sebenarnya pelayan itu?
__ADS_1