
"Dad, tolong pertimbangkan lagi agar aku bisa ikut ke tempat Om Dizon," ucap Jillian terlihat lesu.
"Iya, Dad. Tolong juga pikirkan ulang niat Daddy untuk membuat aku dan Zack pulang lebih awal. Kan Daddy juga tahu kalau aku ingin sekali jalan-jalan. Ini kesempatan langka, Dad. Apa Daddy tega membiarkan aku, Zack, dan Gavino hanya bertiga di rumah. Ya, walaupun ada baby sitter-nya Gavino." Aquarabella tidak mau mengalah. Dia juga ingin menikmati liburan. Apalagi ini tentang negara H yang belum pernah dikunjungi sama sekali.
"Tolong cari solusinya, Dad. Apalagi kita semua mau ikut. Jelas kalau kita memilih penerbangan first class, tetap saja semua akan berbaur dengan penumpang lainnya. Ayo Dad, bantu mikir. Ini kesempatan langka, loh," ucap Glenda merayu daddynya.
Bahkan ketiga perempuan muda yang sudah menikah itu berlomba-lomba merayu daddynya masing-masing. Sementara untuk ketiga wanita paruh baya itu masih dalam pikirannya masing-masing. Puluhan tahun terpisah, sekarang dipertemukan lagi dengan sahabatnya dan sama-sama sudah memiliki menantu sekaligus cucu.
"Oke, Daddy sudah menemukan solusinya." Vigor lebih dulu membuat semua orang yang berada di sana dalam binar bahagia.
"Apa, Dad? Cepat katakan." Glenda sudah tidak sabar.
"Aku akan menyewa pesawat khusus yang bisa menampung kalian semua, tetapi--" Vigor ragu apakah ini akan berjalan lancar atau tidak.
"Kamu pasti butuh ini, kan?" Sean menunjukkan black card di hadapan Vigor.
Vigor langsung tersenyum. Siapa lagi bosnya di sini kalau bukan Sean. Kekayaannya yang tidak akan habis sampai beberapa puluh turunan itu.
"Pesankan penerbangan untuk besok pagi. Urus semuanya, aku akan transfer seluruh biayanya," jelas Sean.
"Baik, Bos." Vigor sangat senang. Pada akhirnya semua masalah menemukan solusinya.
"Terima kasih, Dad," ucap ketiga perempuan muda itu secara bersamaan.
Jillian, Glenda, dan Aquarabella terlihat sangat bahagia bisa bersama-sama. Namun, hanya Willow saja yang berusaha memendam kepedihan. Andai saja dia benar anak dari Sean, tentu tak akan menderita seperti ini.
"Baiklah, semua sudah diputuskan. Harap serahkan data diri pada suamiku. Kami wanita paruh baya akan pergi ke dapur menyiapkan makan malam. Sisanya bisa berkemas karena esok pagi kita akan berangkat. Namun, sebelum itu kita akan mampir ke makam grandma dulu." Tak bisa dipungkiri, Zelene masih merindukan mamanya.
"Setuju." Semua orang yang sedang berkumpul di ruang tamu telah sepakat. Tak ada yang akan kembali ke rumah masing-masing karena mereka akan pergi bersama untuk mengunjungi rumah Dizon dan Olivia.
***
Di dapur, dua sahabat dan Zelene sudah berada di sana memegang peralatan masak masing-masing. Sudah disepakati mereka akan memasak makanan khas negara T itu. Sebenarnya tak ada yang sulit karena Zelene memiliki restoran. Dia juga jago masak.
Memasak bersama sahabat dan adik iparnya membuat Callista merasa senang.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya punya besan seperti dokter Olivia?" tanya Callista.
Zelene tersenyum. Dengan Olivia memang tidak ada masalah. Yang bermasalah adalah suaminya dan Dizon.
"Kami baik, Kak. Tak ada masalah. Memang terkadang Vigor dan Dizon sesekali hampir saja ribut, tetapi aku dan Kak Olivia berusaha melerainya. Lagi pula anak-anak kami saling mencintai. Apa salahnya?"
Bayangan mereka akan memiliki menantu yang tidak ada hubungannya dengan keluarga di masa lalunya. Namun, Zelene salah. Justru dia mendapatkan menantu dari keturunan Dizon Damarion langsung.
"Aku penasaran. Apakah kutukan Dizon itu benar terjadi pada putrimu, Kak?" tanya Zelene. Walaupun dia sudah tahu kalau keponakannya menikah, namun dia belum mengenal betul siapa Zack Leoline.
"Iya, dia duda. Perkenalannya cukup rumit. Aku sampai lelah pada waktu itu, tetapi Zack mudah luluh di hadapan istrinya. Jadi, aku tidak khawatir lagi mengenai hubungan keduanya."
Lama berkutat di dapur pada akhirnya semua makanan selesai tepat pada waktunya. Kayana membantu Zelene untuk menghidangkan di meja makan. Sementara Callista bertugas untuk memanggil seluruh anggota keluarganya.
Cukup lima menit mereka sudah berada di meja makan. Semua pasangan wanita sedang menyiapkan makanan masing-masing suaminya. Ya, semacam lomba kalau dilihat.
Pasangan paruh baya tak mau kalah dengan yang muda. Lihatlah gaya percakapan antara Vigor dan Zelene.
"Honey, kamu mau yang mana?" tanya Zelene yang kebetulan sudah memegang piring makan.
Suasana meja makan terkondisikan dengan baik. Pasalnya mereka makan dalam diam. Setelah makan malam, Sean meminta semua orang untuk berkumpul di ruang keluarga. Sean ingin menanyakan perihal Willow dengan Juvenal. Harusnya kalau Diana sudah meninggal, daddynya pasti masih peduli dengan putrinya.
"Aku meminta kalian berkumpul ke ruang tengah. Sebentar saja, setelah itu kalian bisa berkemas," ucap Sean.
Beberapa memang ingin lekas kembali ke kamar karena tidak sabar untuk lekas berkemas. Namun, masih banyak juga yang ikut ke ruang tengah termasuk Willow. Sean sengaja ingin tahu banyak hal dari perempuan itu.
"Sean, maafkan aku. Aku tidak bisa ikut berkumpul. Aku harus menyelesaikan pemesanan pesawat terbang malam ini. Aku belum mendapatkan jadwal keberangkatan dan pesawat yang tepat," pamit Vigor.
"Pergilah! Aku butuh Willow," bisiknya lirih.
Vigor berharap kalau Sean tidak berulah macam-macam lagi. Mengingat sekarang dia sudah memiliki istri, anak, menantu, dan cucu.
"Kak, ingat untuk tidak macam-macam dengan Willow," balas Vigor dengan berbisik juga.
"Kamu pikir aku mau berbuat apa, hah?" Sean lekas meminta Vigor untuk segera mengurus pesawat yang akan disewanya.
__ADS_1
Kini, di ruang tengah hanya ada Felix, Kayana, Darsh, Glenda, Willow, Owen, Callista, dan Sean. Selebihnya, mereka ada urusan lain lagi.
"Om, sebenarnya ada apa? Kenapa Om sengaja mengumpulkan kami di sini?" tanya Glenda.
"Iya, Dad. Ada apa ini?" Callista pun ikut penasaran.
"Sebelumnya aku minta maaf. Aku masih merasakan ada yang janggal mengenai kisah Willow."
Deg!
Willow yang merasa disebut namanya beralih menatap Sean. Tatapan mata wanita muda itu beradu. Entah Sean merasa kasihan padanya atau apapun itu, Willow masih belum tahu.
"Om ingin tahu yang seperti apa?" Darsh berusaha menyela. Bagaimana pun, Willow sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.
"Aku tahu kalau Diana telah meninggal. Akupun mendapatkan berita dari Willow sendiri. Aku memang mantan suaminya Diana, tetapi aku berhasil mempertemukannya dengan Juvenal. Yang ingin aku tanyakan pada Willow, di mana Juvenal sekarang?"
Deg!
Bahkan di saat bahagia seperti ini, Willow enggan sekali menyebut nama pria paruh baya yang kejam itu. Rasanya lebih baik Willow hanya memiliki mama daripada papa yang mendadak menjadi pria bengis.
"Dia mungkin sudah menjadi mati bersama dengan sikap kejamnya itu," jawab Willow setenang mungkin. Dia tidak perlu menangis untuk orang jahat sepertinya.
"Apa maksudmu, Willow?" tanya Sean.
Willow tak mampu lagi menceritakan kisah hidupnya yang benar-benar seperti wanita ****** sesungguhnya. Namun, suaminya lekas menyadari dan meminta maaf pada Sean. Dia yang akan menceritakan kisah hidup istrinya.
"Maaf, Om. Biarkan aku yang bercerita," usul Owen.
Owen menceritakan detail kehidupan Willow sampai semua kejadian buruk datang menimpanya. Tentu saja semua orang yang berada di sana ikut terenyuh dan bahkan menangis untuk Willow. Mereka masih tidak menyangka jika Juvenal tega melakukan hal buruk itu pada putrinya.
"Pria brengsek!" umpat Sean diakhir cerita Owen.
...🍃🍃🍃...
Sambil menunggu update, mampir yuk karya keren ini. Terima kasih
__ADS_1