
Urusan rumah sakit sudah ditangani oleh pihak keluarga Willow. Juvenal meminta pihak rumah sakit untuk memasukkan ke dalam peti jenazah putrinya. Juvenal juga sudah memesan penerbangan untuk membawa putrinya.
"Pa, aku minta maaf padamu belum bisa menjaga Willow dengan baik," ucap Owen pada Juvenal.
"Kamu suaminya?" tanya Juvenal. Bahkan, Juvenal tidak tahu kalau Willow sudah menikah.
"Iya, Pa. Sebelumnya aku minta maaf. Berulang kali sudah mengingatkannya untuk berubah, tetapi dia tetap ngotot pada pendiriannya."
"Dia seperti mamanya. Keras kepala!"
Obrolan anak mantu dan papa mertua disaat yang tidak tepat ketika sudah kehilangan seseorang yang sebenarnya sangat berarti, tetapi dia tidak bisa menahan rasa sakit atas penderitaan yang selama ini dipendamnya.
"Maafkan atas kesalahannya. Jujur, aku sangat kehilangan sekali karena semua ini juga penyebab dariku." Juvenal menyadari semua kekeliruannya, tetapi sudah terlambat mengambil sikap. Sehingga sekarang dia harus bertanggung jawab atas manta istrinya yang saat ini berada di rumah sakit jiwa.
"Aku akan membawanya dan memakamkannya di sana. Setelah ini, kembalilah hidup seperti sebelumnya. Sekali lagi aku minta maaf."
Beberapa orang yang ikut ke rumah sakit sengaja membiarkan Owen berdua saja dengan Juvenal. Sementara Owen sengaja tidak mengabari pihak keluarganya sendiri. Bukan karena tidak mau, tetapi Owen tidak tega membiarkan mereka berspekulasi yang bukan-bukan tentang istrinya.
"Pa, maaf aku tidak bisa mengabari keluargaku. Aku tidak bisa membuat mereka bersedih dan memandang rendah istriku. Jujur, aku sudah memasukkan gugatan perceraian ke pengadilan karena dia tidak mau berubah. Itulah yang membuatku kesal. Padahal, walau bagaimanapun masa lalunya, aku masih mau menerimanya. Boleh aku tanya satu hal?"
"Katakan!"
"Benarkah kalau papa menjadikannya penebus utang sehingga Willow tidur dengan klien-klien papa?"
Deg!
Juvenal sungguh terkejut. Tidak mungkin dia menjadikan putrinya seperti itu.
"Bohong! Dia bahkan masih gadis, kecuali--"
Owen paham arah pembicaraannya. Dia bahkan belum menyentuhnya sama sekali.
"Tidak, Pa. Aku belum melakukan apapun pada putrimu."
__ADS_1
Sungguh, Owen pun sama terkejutnya. Dia tidak bisa memungkiri bahwa Willow benar-benar menjaga dirinya dengan cukup baik.
Beberapa orang akhirnya datang lagi. Semuanya berkumpul di sana, termasuk Olivia dan Dizon. Rasanya ini kabar duka yang sangat menyakitkan. Bagaimana kisah seorang gadis kehilangan nyawanya sendiri karena depresi. Tak ada pendampingan dan butuh kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.
"Puas kamu?" tanya Olivia. Dia sebenarnya geram pada Juvenal.
"Kamu tahu kan, Diana itu orangnya seperti apa? Ambisius dan perfeksionis. Kami tidak cocok sama sekali."
"Tapi kamu menikah dengannya, kan?" balas Olivia lagi.
"Iya, kami menikah. Kemudian lima tahun yang lalu aku memutuskan untuk bercerai karena aku menyukai saudarinya."
"Kau ini, apa yang ada dalam pikiranmu? Kamu membuat mama dan anak depresi secara bersamaan. Ini gila, sih." Bagaimanapun, Olivia pernah menjadi masa lalu Juvenal.
Percuma berdebat dengan Juvenal. Dia seolah tidak menyadari kesalahannya. Dia tetap saja seperti menyalahkan orang lain.
Urusan untuk menguburkan Willow ke negara asalnya bukan menjadi masalah keluarga Dizon. Mereka melepaskan kepergian peti yang membawa jenazah Willow. Itu sekitar beberapa jam dari kematiannya.
Selesai urusan di rumah sakit, mereka mengantar Juvenal dan peti jenazah ke bandara. Papa biologisnya yang akan membawanya pergi untuk di makamkan di pemakaman yang tidak jauh dari rumahnya di negara X.
"Aku minta maaf," ucapnya lirih.
"Maaf saja tidak cukup, Om. Apa Om juga sadar kalau kelakuan Om ini berimbas ke banyak orang? Tidak hanya mamaku saja yang menjadi korban, tetapi juga semua sahabatku termasuk diriku. Harusnya Om sadar dan mulai berubah!" Darsh kesal. Kekesalannya itu cukup mewakili semua orang yang ada di sana.
"Maaf, bukan maksudku seperti itu. Sekali lagi atas nama Willow dan aku, kami meminta maaf."
Kalau sudah seperti ini saja, Juvenal mendadak bersikap hangat. Tadinya saja sama-sama nyolot dan saling serang.
"Owen, kamu tidak ikut mengantar istrimu ke negara X?" tanya Darsh. Bagaimanapun sahabatnya itu juga pasti merasa kehilangan.
"Tidak, Darsh. Aku sudah mengembalikan Willow pada papanya. Dia sudah bukan tanggung jawabku sekarang."
Owen masih terluka dengan sikap istrinya yang tidak mau berubah. Sikap nekadnya cukup membuktikan kalau selama ini Owen tidak pernah dianggap sama sekali. Jadi, untuk apa sekarang harus ikut ke negara X hanya untuk mengantarkan saja.
__ADS_1
"Tak masalah. Aku dan Livia akan mengurus pemakamannya. Dan kamu, Orlen, aku meminta maaf," ucap Juvenal. Dia sudah mendapatkan penjelasan dari Livia mengenai Helga Orlen sehingga Juvenal pun sadar diri dan tidak akan memaksakan kehendak ketika bertemu dengan Orlen.
"Iya, Om. Aku juga minta maaf," ucapnya. Helga menggenggam erat tangan Max. Setelah semua ini berakhir, keduanya memutuskan untuk menikah.
Semua persiapan keberangkatan telah selesai. Sehingga Juvenal dan Livia lekas masuk ke dalam pesawat. Kini, masalah Willow telah usai. Namun, mereka mengkhawatirkan Owen yang bisa saja memiliki trauma.
"Owen, kamu baik-baik saja?" tanya Darsh.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik." Owen menjawabnya singkat.
"Darsh, sebaiknya kamu dampingi Owen terus. Kamu juga, Max. Tante khawatir kalau Owen akan kepikiran terus pada Willow. Jangan sampai Owen juga depresi karena kehilangan," jelas Olivia.
"Mama jangan khawatir. Aku dan Max akan menjaganya dengan baik."
Kini posisi mereka berada di tempat parkir untuk kembali ke rumah. Glenda memang tidak ikut karena syok. Dia lebih memilih kembali ke rumah untuk menjaga kedua anaknya.
"Apa kamu yakin bisa pulang sendiri?" tanya Darsh meyakinkan. Walaupun Darsh ada istrinya di rumah, tetapi tetap saja dia sendirian di sini. Hanya bersama orang tuanya. Papanya saja malas bertemu dengan Juvenal. Sehingga sesampainya di bandara, pria paruh baya itu lebih memilih menunggu di tempat parkir.
"Sebaiknya kamu pulang bersama kami, Owen. Aku akan mengantarmu," ucap Max.
"Ya, Max. Aku juga khawatir dengan Owen. Sebaiknya kita pulang bersama," sahut Helga.
"Kalian jangan berlebihan. Aku baik-baik saja. Lebih baik kalian pulang terlebih dahulu. Aku mau mampir ke Kafe sebentar," ucap Owen.
"Ayolah, Brother! Jangan seperti ini. Aku malah khawatir kalau membiarkanmu seorang diri," ucap Darsh.
Semua sahabatnya terlalu berlebihan. Dia baik-baik saja. Bahkan sebelum Willow meninggal. Dia merasa kalau akan kehilangan selamanya tanpa bercerai.
"Jangan berlebihan. Aku bukan duda depresi. Jadi, aku akan pulang sendiri. Terima kasih." Owen lantas meninggalkan mereka semua menuju ke mobilnya. Walaupun Owen terus menyanggah kalau dia baik-baik saja, Max berinisiatif untuk mengikuti dari belakang.
...🪴🪴🪴...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. terima kasih
__ADS_1