
Darsh duduk di kursi penumpang, sedangkan Glenda duduk di kursi depan. Tadinya hendak duduk di kursi penumpang, tetapi Jillian menariknya untuk masuk ke depan. Jillian sengaja tidak ingin mengganggu kakak sepupunya yang cenderung lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya.
"Kak, kamu baik-baik saja?" selidik Jillian. Sepanjang jalan, napasnya pun tidak terdengar, apalagi suaranya.
"Aku baik, Jill. Setelah sampai rumah, jangan lupa kabari semua pelayan untuk menyiapkan keperluannya," jelas Darsh.
Darsh bahkan tidak melirik Glenda sama sekali. Dia malah membuang pandangannya. Mungkin karena mendadak menjadi seperti ini. Grandma kesayangannya harus pergi tepat di hari pernikahannya.
Bahagia mungkin saja ada dalam hati Darsh. Dia menikah dengan orang yang memang diharapkan sejak awal. Berduka, sudah pasti itu dirasakannya. Dia sangat terpukul. Semuanya begitu cepat. Pengangkatan menjadi CEO, pertunangan dengan Glenda, pernikahan dadakan, dan kepergian grandmanya yang sangat mendadak.
Sampai rumah, Darsh tak menunggu Glenda. Dia langsung masuk ke kamarnya. Glenda juga melakukan hal yang sama, tetapi ketika sampai kamarnya, dia sangat terkejut. Semua koper dan beberapa barangnya sudah berpindah tempat. Entah pelayan rumah itu memindahkannya ke mana.
Glenda mencari pelayan yang kebetulan ditemuinya di dapur. Tak ada orang lain di sana karena semua sibuk menyiapkan keperluan untuk menerima tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Nyonya Carlotta.
"Bi, maaf, koper yang ada di kamar sebelah sana dipindahkan ke mana, ya?"
"Ehm, Nyonya Kayana meminta kami untuk memindahkannya ke kamar Tuan Darsh, Non," jawab pelayan.
"Maaf, bisakah Bibi mengantarku ke kamarnya?" Tentu saja dia masih bingung bagian mana saja yang harus dihapal. Rumah seluas itu dengan beberapa kamar. Bisa saja dia tersesat.
"Ini Nona kamarnya."
"Terima kasih, Bi."
Pelayan itu langsung pergi. Glenda berusaha mengetuk pintu kemudian masuk.
Tok tok tok.
Ceklek!
Glenda sudah masuk dan sempat saling menatap dengan Darsh. Suaminya itu duduk di sofa. Semenjak kedatangan Glenda, suaminya menyandarkan tubuhnya.
"Darsh, maaf aku langsung masuk."
"Tidak masalah. Ini juga kamarmu," jawab Darsh.
"Apa kamu perlu diambilkan minum?" tanya Glenda. Sebagai istri, dia berusaha memberikan yang terbaik pada suaminya.
__ADS_1
"Hemm, ambilkan untukku." Semenjak di rumah sakit, tenggorokan Darsh memang kering. Minuman yang diterimanya juga diletakkan begitu saja.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Glenda kembali ke dapur untuk meminta dua gelas dan satu teko berisi air. Tak lupa, dia meminta nampan kecil untuk membawanya ke kamar.
"Terima kasih, Bi," ucap Glenda pada pelayan.
Glenda meletakkan nampan di meja yang tak jauh dari pintu kamar. Dia pun mengetuk pintu kemudian membukanya. Tak lupa, dia mengambil kembali nampannya.
Ceklek!
Glenda lekas meletakkan nampannya di meja sofa tepat di hadapan Darsh. Dia mengambilkan segelas untuk suaminya.
"Minumlah!"
Darsh menerima gelas pemberian istrinya kemudian meminumnya. Dia mengembalikan gelasnya ke atas nampan.
"Terima kasih."
"Duduklah! Apa yang ingin kamu bicarakan?" Darsh tidak mungkin menunjukkan sikap kakunya berlebihan pada Glenda. Apalagi statusnya sudah menjadi istrinya. Mungkin dia bukan lelaki romantis dengan kata-kata. Dia akan melakukannya dengan tindakan.
Sesaat suasana hening. Glenda masih menimbang satu pertanyaan yang ingin disampaikan pada suaminya.
"Ehm, apakah kamu menyesal dengan pernikahan ini?" Glenda menunduk. Darsh melirik sekilas ke arahnya. Mungkin saja Glenda menyesal telah menanyakan hal itu kepadanya.
"Tidak! Aku sudah mewujudkan keinginan terakhir grandma. Kenapa?"
Darsh berusaha bersikap tenang. Walaupun hatinya sedang bergemuruh tak menentu. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana bahagia dan duka. Datangnya bersamaan sehingga dia tidak bisa memilih salah satunya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja. Apa kamu memerlukanku untuk mengambilkan baju ganti?"
"Tidak perlu! Beristirahatlah. Aku bisa melakukannya sendiri," ucapnya.
"Darsh, kalau kamu memerlukanku, katakan saja."
Tidak akan mungkin Glenda membiarkan suaminya tetap diam di kamar. Sebenarnya dia ingin agar lelaki itu keluar untuk melihat persiapan atau bagaimana, tetapi Glenda menciut nyalinya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Darsh. Kalau kamu mau keluar, aku akan menemui Jillian." Glenda hendak bangkit dari sofa, tetapi sebuah tangan mencegahnya.
"Jangan pergi! Jangan pernah tinggalkan aku!" ucap Darsh.
Glenda mengira ini adalah efek ditinggal grandma secara mendadak. Dia bimbang, sikap Darsh menjadi berubah seperti ini.
"Tak pernah terpikirkan diriku untuk meninggalkanmu, Darsh." Glenda sejak awal sudah menyukai lelaki yang dikiranya romantis, tetapi dinginnya mulai terlihat.
"Boleh aku meminta sesuatu padamu?" Darsh melepaskan tangannya. Dia berdiri menatap ranjang pengantin di kamarnya yang bernuansa putih dan banyak bunga-bunga di sana. Rasanya sangat bertolak belakang dengan keadaannya saat ini.
"Katakan, Darsh!"
Darsh menoleh sekilas menatap Glenda. Dia tidak ingin menjadi lelaki yang tidak jujur untuk mengatakannya. Mungkin ini akan menyakitinya. Kalau Glenda mau mengerti, dia pasti akan melakukannya.
"Hari pernikahan kita bersamaan dengan kepergian grandma-ku. Tentu saja ini akan menjadi hari yang akan diliputi nuansa duka sampai kapan pun. Aku ingin kamu membersihkan semua bunga yang ada di ranjang itu dan tidak akan pernah ada perayaan aniversary untuk pernikahan kita. Apa kamu setuju?"
Deg!
Glenda sebagai perempuan yang ingin menikmati indahnya aniversary bersama pasangan harus menelan pil pahit dengan apa yang diminta Darsh saat ini. Baru pertama kali menjadi istrinya beberapa jam yang lalu sudah terlihat bertolak belakang dengan keinginan Glenda. Sepertinya Glenda harus menekan egonya kali ini. Jika tidak, bisa runyam hubungannya yang baru dibangun.
"Iya, apapun ucapanmu, akan kuingat."
"Satu lagi. Tidak akan ada perayaan makan bersama di hari ini. Maksudnya semacam perayaan makan siang ataupun malam untuk beberapa tahun ke depan."
Glenda cukup tahu betul harus bersikap seperti apa. Darsh pilihannya. Tidak mungkin dia akan mengecewakan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Walaupun dia harus berperang batin dengan dirinya sendiri.
"Tentu! Aku akan mengingatnya." Glenda beranjak dari tempat duduknya berniat untuk mengambil kantong plastik guna untuk membersihkan semua bunga di ranjang pengantinnya.
Darsh tak lagi mencegahnya. Glenda secepatnya membersihkan semua bunga di ranjang itu. Dia memasukkan semua bunga itu dan berniat untuk menyerahkannya pada pelayan. Tidak tega kalau harus membuang bunga seindah itu. Selesai membereskan ranjang yang terus saja diamati Darsh, Glenda rasanya gugup berdua di kamar bersama suaminya. Walaupun dia tahu kalau tidak akan terjadi sesuatu padanya. Dia lekas mengambil kantong plastik itu untuk dibawa keluar kamar. Hendak membuka pintu, Darsh memanggilnya.
"Glenda!"
"Ya?" Dia menoleh ke arah Darsh. Tangan satunya memegang kantong plastik dan satunya lagi memegang handle pintu.
"Terima kasih." Darsh langsung masuk ke kamar mandi. Mungkin untuk membersihkan diri.
Glenda menatap punggung suaminya yang mulai menghilang. Ada rasa dihargai di dalam diri Glenda. Suaminya bisa memperlakukannya dengan baik. Tak membuang waktu, Glenda harus menyerahkan pada pelayan secepatnya.
__ADS_1