Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Rencana Membuka Cafe


__ADS_3

Darsh sengaja meninggalkan istrinya seorang diri di apartemen. Dia akan menemui Owen terlebih dahulu. Tumben sekali sahabatnya itu mengajak bertemu dan beri empat mata.


"Owen," sapa Darsh ketika sudah sampai di restoran AB.


Owen sengaja memintanya ke sana agar bisa berbincang berdua saja tanpa diketahui sahabatnya yang lain. Sebenarnya urusan Owen hanya membahas masalah Jillian. Mungkin saja Darsh belum tahu hasil akhirnya.


"Hai, Darsh. Kamu datang sendiri? Tidak mengajak kakak ipar?"


"Tidak, kamu ada apa? Tumben minta bicara berdua saja."


"Ini masalah Jillian, Darsh. Adikmu itu sudah memutuskan untuk tidak memilih salah satunya."


Darsh malah baru tahu kalau Jillian sudah memutuskannya. Dia pikir, perjodohan itu berlanjut setelah gadis itu lulus kuliah.


"Baguslah."


"Kenapa begitu, Darsh?"


"Biar aku tidak pusing melihat pertengkaran Max dan Frey yang terus saling sindir itu. Seperti perempuan saja."


Darsh benar. Max terkadang seperti seorang perempuan yang sangat cerewet. Sahabatnya sampai tidak menyangka kalau kedewasaannya terkadang berada di tempat yang salah.


"Aku juga lelah sudah mengingatkannya berkali-kali," balas Owen.


"Oh ya, aku malam ini tidak bisa pergi ke Club ya, kamu tahu sendirilah, istriku di apartemen sendirian. Lagi pula, aku tidak ingin bertemu Helga, Aimee, dan Clianta. Mereka pasti heboh bertemu denganku. Aku memang sengaja menghindari mereka."


"Tak masalah, Darsh. Kalau aku jadi kamu juga akan melakukan hal yang sama."


"Kamu benar. Oh ya, mengenai kelanjutan untuk mengejar Helga, bagaimana?"

__ADS_1


Darsh tahu bahwa lelaki itu fans beratnya Helga. Walaupun gadis itu bisa dikatakan rusak luar dalam, namun cinta Owen tetap padanya.


"Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu malam ini, tetapi aku tahu kalau kamu sekarang berbeda. Jangan khawatir, aku akan berusaha sendiri."


"Maafkan aku, Owen. Bukannya aku tidak mau bantu. Helga pasti langsung agresif padaku."


Owen sudah paham mengenai hal itu. Makanya dia tidak terlalu memaksanya. Sekiranya tidak ada masalah antara Max dan Frey, hubungan persahabatan mereka akan terjalin dengan baik lagi. Rupanya sangat sulit jika di tengah mereka ada nama wanita.


"Darsh, menurutmu apa aku salah ingin memperjuangkan Helga?" Owen berulang kali memikirkannya. Dia memang siap untuk mengubahnya, tetapi apakah orang lain ataupun dirinya bisa menerima untuk berubah?


"Ehm, aku tidak bisa menghalangi hatimu untuk siapa, namun alangkah baiknya kamu mencari gadis lain yang lebih baik daripada Helga. Kamu juga tahu kalau Max selalu memakai jasanya. Tak perlu kuceritakan lagi lah Helga itu seperti apa. Lepaskan saja hatimu, fokus untuk mencari yang lainnya. Kamu masih muda, Owen. Kamu lelaki bijaksana. Aku percaya, kelak kamu akan menemukan gadis yang sangat luar biasa."


Owen setuju dengan pemikiran Darsh. Sebenarnya terlalu berat kalau harus bertahan untuk mengejar Helga. Posisi gadis itu terlalu ekstrem. Dia bisa saja mencari lelaki yang beruang dan mapan. Owen memang berasal dari keluarga kaya raya, namun mengenai uang, dia tidak bisa royal seperti Max.


Owen untuk saat ini masih belum bekerja. Dia masih mengandalkan keuangan yang ditransfer ke rekeningnya berasal dari keuangan keluarganya. Mungkin dia ingin bekerja, tetapi bingung harus bekerja di mana.


Dari keempat sahabatnya, hanya Justin dan Owen yang belum bekerja. Bukannya mereka tidak mau bekerja, hanya saja belum ada yang cocok di dalam pilihan hidup mereka.


"Owen, pesankan minuman atau makanan dulu. Sejak tadi kita ngobrol jadi tidak enak diperhatikan pelayan terus," ucap Darsh.


Owen lekas memanggil pelayan. Dia meminta maaf karena saking asyiknya mengobrol hingga lupa untuk memesan makanan ataupun minuman. Selesai urusannya dengan pelayan, Owen melanjutkan obrolannya.


"Bagaimana, Darsh? Aku meminta pertimbangan darimu."


Apa tidak sebaiknya dia membuka Cafe saja? Dia pasti punya banyak teman yang akan membantunya dan mempromosikan Cafe barunya itu. Kerja kantoran sudah banyak. Aku rasa Owen tidak cocok bekerja kantoran. Coba kuusulkan begitu saja. Siapa tahu dia bisa menerimanya.


"Darsh, kok malah diam, sih?" protes Owen.


"Aku sedang berpikir, Owen. Tunggulah sebentar. Aku akan mengatakannya."

__ADS_1


Bersamaan dengan datangnya pelayan mengantarkan pesanan mereka. Obrolan terhenti untuk menikmati makanan dan minumannya. Cukup beberapa menit untuk menghabiskan semuanya. Owen hanya memesan sedikit saja makanan itu.


"Apa tadi yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Owen.


"Mungkin sebaiknya kamu membuka Cafe saja. Aku pikir itu bukan ide buruk, Owen. Kamu bisa tanya mengenai hal ini pada papa mertuaku. Dia sudah mengelola restoran sejak lama. Pasti bisa membantumu mengatasinya."


Owen tersenyum lega. Tidak sia-sia dia memiliki sahabat seperti Darsh. Dia selalu memiliki banyak ide dan pertimbangan baru dalam berbisnis.


"Ehm, tetapi itu tidak mudah, Darsh. Aku meminta syarat padamu," ucap Owen. Ada alasan khusus untuk memberikan syarat itu pada Darsh.


"Ck, kamu menyusahkan saja. Harusnya aku yang memberikan syarat padamu," canda Darsh.


"Aku serius, Darsh. Ini demi masa depanku. Kamu tahu Max, kan? Dia hobi sekali meremehkan rencana orang. Aku tahu, dia sudah berhasil lebih dulu. Namun, waktu usaha seseorang kan tidak bisa disamakan dengannya. Walaupun kita juga sahabatnya, aku tidak ingin merendahkannya. Sikapnya yang seperti itu pun aku tidak pernah protes. Hanya mengingatkan agar hubungan persahabatan kita tetap lancar. Itu juga yang kamu mau, kan?"


Owen cukup bisa dipahami. Dia akan mengajukan diri sendiri ketika posisinya terjepit dan ingin merahasiakan sesuatu. Tak ada salahnya ini menjadi rahasia berdua antara Owen dan Darsh.


"Bisa dipahami, Owen. Aku akan menyampaikan ini pada mertuaku. Dia pasti mau membantumu. Ketika launching Cafe saja, Max dan yang lainnya baru dikabari. Anggap saja kejutan untuk mereka."


Owen setuju pada usul Darsh. Dia harus menyiapkan dana awal dan rencana apa saja yang masuk dalam daftar yang dibutuhkan. Mungkin sewa tempat atau bagaimana. Itu perlu konsultasi dulu dengan mertuanya Darsh yang lebih dulu terjun ke usaha restoran. Tentunya mengenai urusannya dengan Cafe tak akan jauh beda.


Owen sengaja ingin membuktikan dirinya mampu untuk mematahkan ucapan Max. Tidak semua orang harus sepertinya dan tidak semua orang akan berdiam diri. Mungkin saja Owen dendam pada Max, namun lelaki itu tidak dendam dalam hal buruk. Dia ingin menunjukkan bahwa seorang Owen Othman juga bisa berhasil. Setelah itu, dia ingin tahu apakah Helga akan tertarik dengan dirinya atau malah mengabaikannya.


Oh God, kenapa pikiranku kembali pada Helga? Harusnya aku fokus pada tujuanku untuk menang dalam pertarungan ini. Aku tidak bisa membiarkan Max menyepelekan aku.


"Owen, aku pamit pulang, ya. Aku ke sini sengaja tidak pamit pada kakak iparmu."


"Oh ya ampun, Darsh. Apa yang kamu lakukan padanya? Lain kali, pergi ke mana pun pamitlah. Kasihan kakak ipar pasti khawatir terhadapmu," jelas Owen.


Darsh pamit, tak lupa dia membayar pesanan makanannya. Dia hendak pulang ke apartemen. Darsh tidak tahu saja kalau istrinya sekarang berada di rumah orang tuanya. Sebentar lagi pasti terjadi kehebohan yang membuat dua keluarga panik. Salah Darsh sendiri, tinggal bilang ke mana, apa susahnya. Iya, kan?

__ADS_1


__ADS_2