Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Amarah Owen


__ADS_3

"Itulah yang sedang kupikirkan, Sayang."


"Bagaimana bunyi surat Max selanjutnya?" Glenda penasaran, tetapi dia tidak berani memintanya langsung.


Minta Owen menceraikan dirinya sebelum semuanya terlambat. Dia menciptakan kebohongan demi kebohongan yang kurasa kalian tidak menyadarinya.


Deg!


"Apa yang sebenarnya ingin digapai Willow, Glenda? Max bilang banyak kebohongan yang dia ciptakan."


Glek!


Glenda susah sekali sampai harus menelan salivanya sendiri. "Apakah tentang orang tuanya itu juga sebuah kebohongan? Lalu, yang katanya dia dijadikan obyek penebus utang juga kebohongan? Oh ya ampun, kenapa ini bisa terjadi? Dan, kita semua percaya?"


Darsh sangat kacau. Dia takut kalau orang tuanya tidak tahu, tetapi malah dimanfaatkan dengan baik oleh Willow. Ingin bercerita, kalau tidak ada bukti, untuk apa?


"Darsh, apa sebaiknya kamu kasih tahu mama untuk lebih berhati-hati dengan Willow?" ucap Glenda yang mulai mengkhawatirkan mamanya.


Darsh berpikir sejenak. Kalaupun mamanya tahu, justru sikap naturalnya selama ini akan menghilang. Sehingga Willow pasti merasakan adanya perubahan sikap Olivia.


"Tidak! Cukup kita saja yang tahu. Biarkan mama dan papaku bersikap senatural mungkin."


Ya, sepertinya Darsh setuju dengan usul yang diberikan sang istri padanya.


"Sayang, sebaiknya kita minta bantuan daddyku. Tak menutup kemungkinan dia akan membuat celah untuk memanfaatkan situasi seperti ini. Apalagi mom-ku masih ada hubungan kekerabatan dengan Om Sean. Jelas ada kemungkinan dia memanfaatkannya."


Deg!


Darsh hampir melupakan. Jika hubungan di masa lalu masih ada sangkut pautnya dengan dua keluarga. Bisa jadi, Willow juga mengincar mereka.


"Bagaimana cara kita bertemu daddy tanpa orang lain tahu kalau kita sedang menyusun rencana?"


Jelas Willow pasti akan menghalanginya. Kemungkinan kalau dia sadar, sesegera mungkin dia juga akan menyusun strategi.


"Kita makan siang saja di restoran. Baru aku akan menemui papa. Bagaimana? Sekarang kita istirahat dulu. Sudah larut. Apa masih ada surat Max yang belum kamu baca, Sayang?"


"Masih ada, tetapi kita lanjutkan besok saja. Baca beberapa saja sudah pusing."


"Tunggu, Sayang. Baca satu lagi lah. Aku penasaran!"


Deg!


Kenapa semakin ke sini, aku juga semakin penasaran? Batin Darsh.

__ADS_1


"Baiklah, kita baca satu lagi."


Darsh, dia itu ratu drama. Mungkin kalian juga tidak menyadarinya.


Deg!


Sungguh ini diluar dugaan. Semua orang mengira memang ini nyata dan dia juga benar-benar terlihat tertekan.


"Sayang, Max bilang apa?


"Willow ratu drama."


"Oh ya ampun. Aku semakin syok mendengarnya." Glenda sampai menutup mulutnya sendiri karena rasa terkejut yang tiada terkira. "Kita akan berjuang bersama, Sayang. Aku tidak mau keluarga kita terpecah karena Willow. Ehm, permintaan Om Sean mengenai Kafe-nya Owen sebaiknya kamu tunda dulu. Aku takut kalau itu malah dimanfaatkan olehnya dengan baik."


Untung saja antara Glenda dan Darsh selalu terbuka, sehingga keduanya tidak mungkin gampang terperdaya oleh sikap Willow. Walaupun baru menyadarinya sekarang, tak masalah baginya.


"Mari kita beristirahat dulu," ajak Glenda untuk kedua kalinya.


Darsh merapikan kertas itu. Dia belum membaca sepenuhnya. Dia harus menyelesaikan teka-teki pertamanya dulu yaitu mencari Helga.


Glenda menunggunya kemudian keluar dari ruang kerjanya bergandengan tangan dengan sang suami.


"Tetaplah bersikap biasa. Jangan sampai baby sitter kedua bayi kita merasakan ketakutan juga." Pesan Glenda ini tidak main-main. Tidak menutup kemungkinan Willow akan bertindak nekad.


"Kamu tenang saja. Aku akan menempatkan beberapa orang yang akan mengawasi rumah kita. Dan, beberapa lagi bodyguard yang akan mengawal kemampuan kalian pergi. Namun, aku tidak serta merta memperlihatkannya. Aku akan membuat seolah kalian tanpa pengawalan," ucap Darsh ketika sampai kamarnya.


"Hemm, kamu selalu merayuku. Oh ya, apa kamu tidak ingin berproduksi lagi?"


"Hah?" Glenda mendongak menatap suaminya. "Apa ini tentang sesuatu yang indah?"


"Kau ini, kalau mesum ya mesum saja. Bisa-bisanya pura-pura seperti ini."


"Ck, ajaran mesum itu kamu yang mengajarkan. Bukan aku!"


...*****...


Di sisi lain, sepasang suami istri sama-sama diam di kamar yang sama. Owen lebih memilih duduk di sofa daripada seranjang dengan sang istri.


"Kamu yakin tidak menginginkan anak dariku?" Pertanyaan Owen ini langsung ke inti permasalahannya.


Willow merasa kalau Owen tidak tahu pembicaraannya dengan Darsh di kantor hari ini.


"Bukannya aku tidak menginginkan, Owen. Aku belum siap. Maafkan aku." Willow menjawabnya setenang mungkin seperti biasanya.

__ADS_1


"Sampai kapan? Sampai kamu menginginkan hamil dengan pria lain?"


Deg!


"Bicara apa kamu ini? Bukankah kamu juga sudah tahu kalau aku sudah dijamah pria lain sebelum kamu. Aku minta maaf. Aku masih trauma untuk melakukan itu," ucapnya.


"Sebenarnya apa tujuanmu menikah denganku? Kalau tujuanku menikah denganmu sudah jelas kalau aku menginginkan anak."


Deg!


Owen merasa kalau Willow menyimpan rahasia besar. Dia tahu apa yang dikatakan Willow di kantor Darsh. Dia tak sepenuhnya pergi ke toilet.


"A-aku belum siap saja."


Owen tentu saja buntu. Dia harus bersikap seperti apa lagi? Padahal dia sudah jatuh cinta pada Willow sepenuhnya. Sampai dia rela menikahi gadis itu dan menerima semua masa lalunya.


"Sampai kapan? Sampai kamu menua? Ingat, kamu sudah tak lagi muda. Kalaupun kamu tidak mau memberikan anak untukku, aku tak masalah. Aku akan mencari rahim pengganti yang bisa menampung bibit dariku. Aku masih muda, sedangkan kamu? Apa yang diharapkan dari wanita berumur sepertimu?" Owen meradang. Bahkan, dia belum mendapatkan malam pertamanya. Yang lebih menyakitkan lagi, Willow menyukai Darsh, sahabatnya sendiri.


"Owen, tidak seperti itu maksudku. Aku meminta tenggang waktu dua bulan. Setelah itu, aku akan siap untuk hamil."


Owen mencibir sang istri. "Ini pernikahan, Willow. Bukan cicilan Bank yang memiliki tenggang waktu seperti itu. Aku tidak mau!"


Glek!


Willow salah besar. Jika di awal dia bisa mengendalikan Owen, sekarang tidak lagi.


Oh God, aku harus bagaimana sekarang? Batin Willow.


"Aku memberikan waktu padamu seminggu. Jika dalam seminggu kamu masih tidak mau, aku terpaksa mencari wanita lain. Aku minta maaf."


Owen keluar dari kamarnya. Dia meninggalkan istrinya sendirian. Owen sudah tidak peduli lagi. Dia cukup sakit hati dengan ucapan istrinya yang ternyata jatuh cinta pada Darsh.


Owen lebih memilih keluar unit apartemennya kemudian pergi ke sebuah hotel dan bermalam di sana.


Kini, Owen berada di balkon hotel menatap jauh ke depan.


"Aku tidak tahu rahasia besar apa yang sedang kamu sembunyikan. Aku akan mencari buktinya sendiri tanpa melibatkan Darsh. Awas saja kalau kamu membuat persahabatan kami hancur."


Owen melupakan Max. Dia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat setelah ini. Dirasa tak mungkin juga menjauhi Willow, tetapi demi mencapai tujuannya dia akan melakukan apapun.


Owen belum tahu ada rahasia besar yang berpusat pada Max saat ini. Rasanya seperti berperang seorang diri. Dia juga tidak tahu kalau malamnya Darsh diliputi kecemasan berlebihan tentang beberapa rencananya.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sambil menunggu update, jangan lupa mampir karya keren Author Morata. Jangan lupa tinggalkan jejaknya



__ADS_2