Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Rencana Proyek Bersama


__ADS_3

Sore hari di rumah Darsh, Jillian nampak berbeda. Dia terkadang tersenyum sendirian sampai membuat Glenda merasa aneh. Wanita hamil itu menanyakan perihal kejadian yang dialami Jillian sebelum sampai di rumahnya.


"Darsh, Jillian kenapa?"


"Entahlah. Kupikir setelah bertemu Justin dia akan terlihat murung, rupanya malah menjadi aneh," jawab Darsh.


"Jadi kamu pertemukan dengan Justin?"


"Tentu. Menurutmu bagaimana?" Pendapat istrinya penting juga untuk mengambil tindakan ke depannya.


"Aku tidak akan memberikan pendapat untuk Jillian maupun Justin. Aku hanya ingin agar suamiku memberikan kecupan lembut untuk anak yang ada di dalam perutku ini." Glenda menunjuk perutnya yang sudah mulai buncit. Kehamilannya sudah memasuki bulan ke empat. Rasanya seperti baru hamil saja tiba-tiba sudah terlihat sebesar ini.


"Hemm, kamu merayuku mengatasnamakan orang lain," cibir Darsh.


"Darsh, dia bukan orang lain, tetapi putra kita," balas Glenda.


"Darimana kamu yakin kalau ini anak laki-laki?"


"Tendangannya kuat, Darsh."


"Kapan kita akan memeriksakan kandunganmu?"


"Kenapa memangnya?"


"Aku ingin tahu jenis kelaminnya dan akan menyiapkan nama untuknya. Dia akan menggunakan nama Damarion."


"Tidak. Kalau ini kembar, kita bisa pake nama Abraham dan Damarion. Aku tidak mau kedua anakku ikut namamu!"


"Mana bisa kembar! Aku tidak ada keturunan kembar, Glenda."


"Apa kamu lupa kalau grandmaku itu kembar. Kalau mommyku tidak bisa memiliki keturunan kembar, ada kemungkinan aku yang akan melahirkan bayi kembar."


"Oh ya ampun. Aku akan semakin pusing karena rumahku ini pasti akan ramai."


"Kalau kembar, aku mau menggunakan jasa baby sitter."

__ADS_1


Keributan suami istri itu nampaknya menjadi pertunjukan seru bagi Jillian. Gadis itu tidak menyangka kalau menikah dan hamil akan seperti itu. Keributan yang lucu.


"Kak, kalian berdua manis sekali," ucap Jillian. Dia sengaja mendekat.


"Eh, apa maksudmu?" tanya Darsh.


"Iya lucu saja. Apakah seperti itu kehidupan pernikahan?" tanya Jillian penasaran.


"Kalau mau tahu, makanya lekaslah menikah!" Skak mat dari Darsh sangat menusuk hatinya.


"Ish, Kak Darsh jangan seperti itu. Sebentar lagi aku akan menikah. Aku sebenarnya ingin taruhan dengan Kakak. Siapa lelaki yang paling romantis di dunia ini? Kakak atau Kak Justin? Kalau kakak menang, aku akan memberikan hadiah istimewa untuk Kakak, tetapi jika kakak kalah. Kakak harus menuruti semua keinginanku!" ucap Jillian yakin.


"Ehem, ngomong-ngomong ada perkembangan bagus. Baguslah! Sebentar lagi Om Felix tidak akan pusing menggelar sayembara untuk putri kerajaan Damarion. Sebentar lagi pangeran bermobilnya akan menjemput dan meminangnya. Selamat!" ucap Darsh.


"Sayang, kamu berlebihan menggoda Jillian. Ingat, kalau kamu kalah, Jillian akan memanfaatkanmu!" sahut Glenda dengan candaannya.


"Kakak ipar benar. Apa salahnya memanfaatkan kakak sendiri seperti ini? Daripada aku mempermainkan orang lain, lebih baik kakakku sendiri!" Jillian mentowel hidung kakaknya kemudian kabur ke kamarnya.


"Dasar Jillian!"


Glenda malah menertawakan tingkah suaminya yang seperti anak kecil itu. Namun, hal itu malah membuat Darsh bertanya balik padanya.


"Tentu saja itu lucu. Jillian menggodamu dan aku sangat senang sekali. Beda lagi kalau gadis atau wanita lain menggodamu. Aku bisa saja mematahkan hidungnya!" ancam Glenda.


"Kamu cemburu?"


"Tentu saja! Kalau istrimu digoda oleh orang lain, apakah kamu tidak cemburu?"


Darsh terdiam. Jangankan istrinya, adik sepupunya kalau digoda oleh orang lain saja dia bisa marah. Kecuali lelaki yang memang sudah jelas ada hubungan dengan Jillian. Darsh malah tidak menjawabnya. Dia meninggalkan istrinya begitu saja. Sikap romantisnya masih tiga persen dari total seratus persen. Ini bukan parah lagi, tetapi parah banget.


Glenda berusaha mengejar Darsh, namun diurungkan niatnya. Dia lebih baik menemui Jillian untuk membuat rencana dengan gadis itu agar suaminya mau berubah. Glenda sudah cukup menahan sabar untuk tidak bertingkah yang aneh-aneh karena takut membuat Darsh semakin marah padanya.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanya Jillian dari dalam kamar. Dia memang sengaja menguncinya. Dia tidak ingin ketahuan karena sedang berkirim pesan dengan Justin.

__ADS_1


"Glenda, Jill."


Jillian bergegas membuka pintunya dan mempersilakan kakak iparnya masuk. Jillian kemudian menutup pintunya kembali.


"Duduk, Kak." Jillian tidak tega melihat kakaknya dengan perut buncit dan berdiri seperti itu.


"Terima kasih, Jill. Aku ke sini untuk meminta bantuanmu."


"Bantuan apa, Kak?"


"Kamu tahu betul kan kalau kakakmu itu sangat kaku dan dingin. Aku ingin dia bisa bersikap romantis sedikit saja. Selama ini jangankan bersikap romantis, berbincang dengan lembut seperti lelaki pada umumnya saja sangat jarang sekali. Apakah kamu bisa membantuku?"


Jillian tidak yakin. Dia membutuhkan orang lain untuk melancarkan aksinya itu. Kalau dia sendirian, kemungkinan Darsh akan marah padanya semakin besar.


"Kakak jangan khawatir. Aku akan meminta bantuan Kak Justin. Kak Glenda tidak keberatan, kan?"


Iya, Justin sahabat Darsh. Dia jelas tahu betul bagaimana mengendalikan suaminya. Tak ada salahnya Glenda menyetujui usul Jillian. Lagi pula kalau berhasil, ini akan menjadi awal yang baik untuk pernikahannya. Bukankah tinggal beberapa bulan lagi Glenda akan melahirkan? Kalau sikap Darsh masih saja seperti itu, bagaimana jadinya bayi yang dilahirkan? Mungkinkah Darsh juga akan bersikap sedingin itu pada anaknya?


"Tentu saja. Aku harap rencana ini akan berhasil, Jill. Aku sebenarnya lelah berbicara dengannya. Sampai kadang aku lebih banyak diam."


"Ehm, bagaimana kalau kita adakan double date? Mungkin saja itu akan menjadi awal yang baik untuknya. Ehm, apakah kakak pernah diajak jalan-jalan atau candle light dinner?"


Boro-boro candle light dinner, Jill. Bulan madu dan menikmati keindahan negara mana pun, kami belum pernah. Ini saja sudah langsung hamil. Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin berbulan madu lebih dulu. Tidak seperti ini jadinya.


Glenda cukup menggeleng. Itu sudah mewakili seluruh jawaban pertanyaan Jillian padanya.


"Astaga, kakak ipar! Kak Darsh parah sekali. Kalau seperti ini, rasanya aku kesal padanya. Tunggu saja pembalasanku! Lihatlah apa yang akan kami lakukan untukmu!" Jillian benar-benar kesal. Rupanya dia jauh lebih beruntung bisa mengenal Justin yang selalu bisa mengimbanginya. Nampaknya untuk rencana double date harus diundur dulu sampai kondisi Darsh berubah sedikit saja.


"Makanya, Jill. Maaf ya, aku merepotkanmu."


"Tidak masalah, Kak. Aku akan membantumu. Sebentar lagi aku akan melihat bagaimana bucinnya kakakku padamu. Jangan putus asa! Kami akan membantumu," jelas Jillian.


Jillian akan menyusun proyek bersama Justin untuk membuat Darsh sedikit lebih bisa bersikap normal dan mengurangi sikap dinginnya itu. Dia juga akan merencanakan liburan terdekat untuk sekadar membuat kakak iparnya senang.


Jillian lekas mengambil ponselnya kemudian mendial sebuah nomor penting untuknya.

__ADS_1


"Kak, bisa temui aku di pusat perbelanjaan X? Aku ada perlu penting denganmu," ucap Jillian ketika sambungan telepon terhubung.


Rasanya baru bertemu sebentar, tetapi Jillian sudah mulai bergantung padanya. Semoga ini awal yang baik untuk Jillian dan juga Glenda.


__ADS_2