Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Pertunangan (1)


__ADS_3

Keluarga Vigor Abraham sedang disibukkan dengan persiapan pertunangan nona mudanya. Beberapa pelayan membantu menyiapkan makanan dan dekorasi kecil di dekat meja makan. Glenda yang memintanya untuk mengabadikan momen penting dalam hidupnya.


Glenda sedang berada di kamarnya. Dia sudah menyiapkan gaun terindah yang akan digunakan malam ini. Bukan gaun mahal atau mewah, tetapi gaun yang pas dan melekat indah di badannya. Tidak terlihat seksi dan sangat anggun dipakainya.


"Sayang, bagaimana perasaanmu malam ini?" tanya Zelene.


"Glenda masih tidak percaya kalau hari ini adalah pertunanganku, Mom. Oh ya, kalau Om Sean tahu bagaimana? Apa tidak marah? Bukankah usia Kak Aquarabella lebih tua dariku, sedangkan aku sudah menerima lamaran terlebih dahulu," jelasnya.


"Tidak akan marah, sayang. Jodoh datang disaat yang tepat."


Sesaat Glenda terdiam. Kita tidak akan tahu kapan cinta berlabuh dan jodoh datang disaat yang tak terduga.


"Mommy yakin?" tanya Glenda. Dia merasa tidak enak harus menikah lebih dulu dari pada kakak sepupunya.


"Tentu, Sayang. Sudahlah, lekaslah bersiap. Jangan sampai keluarga Damarion sudah datang, tetapi kamu belum siap."


Zelene membiarkan putrinya menyiapkan diri. Sementara, dia masuk ke ruang makan untuk mengecek kesiapan pelayan rumahnya. Setelah itu, Zelene masuk ke kamarnya untuk melihat suaminya yang sepulang dari restoran belum kelihatan keluar kamar sama sekali.


Ceklek!


"Honey?" Melihat kedatangan istrinya, Vigor sedikit terkejut.


"Kenapa begitu, Honey? Apa ada yang salah dengan semua ini?" Zelene yakin kalau suaminya sedang memikirkan ulang pertunangan ini. Apakah akan dilanjutkan atau berhenti begitu saja?


"Apa kamu yakin untuk melanjutkan pertunangan ini? Rasanya aku tidak rela melepaskan Glenda kepada keluarga Damarion. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap Dizon? Pria itu pasti sangat kaku dan membuat putri kita ketakutan," jelas Vigor.


Zelene yang semula berdiri kemudian mendekati suaminya yang masih bersandar di headboard ranjangnya. Dia duduk di sana dan bersila menghadap suaminya. Kedua tangannya lantas memegang tangan kekar yang selama ini menjadi sosok yang hangat sebagai pelindung sekaligus pria yang selalu menunjukkan betapa berharganya istrinya itu.


"Dad, mama Jenica sudah memberikan pesan dan wejangan terbaik untuk putri kita. Kamu tidak perlu khawatir tentang Dizon Damarion. Kak Olivia bisa mengatasinya."


Vigor masih setengah hati mendengar ucapan istrinya. Tidak mungkin dia sanggup mengawasi keseharian putrinya ketika berada di rumah mertuanya.


"Apa ini ucapan untuk menguatkan aku?" selidik Vigor.


Zelene mengubah posisinya. Dia melepas tangannya dan menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya. Walaupun sudah paruh baya, sisa ketampanan dan kekar suaminya masih terlihat jelas sampai saat ini.


"Percayalah! Putri kita akan sama seperti Olivia. Dia pasti bisa mengendalikan Darsh dengan mudah. Kamu percaya padaku, kan?"


Sesaat Vigor terdiam. Dia berusaha mencerna setiap ucapan istrinya. Dia tidak bisa membayangkan kalau seorang Glenda Abraham tinggal serumah dengan mertuanya yang kaku dan suaminya. Apalagi yang Vigor tahu, sikap pria itu yang lumayan membuat orang lain bisa naik pitam menghadapinya.

__ADS_1


Vigor tidak merespon. Dia masih dalam diamnya. Rasa kalut dan ragu mulai menyerang.


"Honey, bersiaplah! Sebentar lagi mereka akan datang."


Zelene turun dari ranjang untuk menuju ke meja makan dan mengecek persiapan paling akhir di sana.


"Tunggu, Honey! Kamu mau ke mana?"


Zelene menoleh sekilas ke arah suaminya. "Mengecek persiapan meja makan. Cepatlah bersiap! Aku sebentar lagi kembali."


Ceklek!


Selepas kepergian istrinya, Vigor masuk ke kamar mandi. Tak ada gunanya lagi harus memikirkan hal-hal di luar kendalinya. Toh semua ini sudah berjalan sesuai rencana dan mama mertuanya juga sudah menyetujuinya. Butuh alasan apalagi untuk menolak calon menantu seperti Darsh Damarion?


Andai saja Vigor tahu kalau di luar sana seorang Darsh memiliki fans fanatik, tentunya dia harus lebih bersyukur karena putrinya-lah yang dipilih oleh lelaki muda itu. Vigor memang belum tahu dan masih menganggap lelaki itu anak kecil yang sama seperti putrinya.


Keluar dari kamar mandi dan sudah rapi ternyata membuat Zelene yang baru saja masuk merasa bangga pada suaminya.


"Terima kasih, Honey. Kamu sudah menurunkan egomu demi putri kita."


"Sama-sama, Honey. Bersiaplah. Aku ingin menemui putri kita sebentar," pamit Vigor pada Zelene.


Tok tok tok.


Sedikit lama, biasanya Glenda akan lekas membukanya. Mungkin saat ini dia sedang sibuk berhias untuk menyambut kedatangan calon tunangannya. Vigor hampir saja kembali dan ketika mendengar pintu mulai dibuka, diurungkan niatnya.


Ceklek!


"Daddy? Maafkan aku. Aku masih melanjutkan riasanku yang tinggal sedikit saja. Masuk, Daddy," ucap Glenda.


Vigor yang tadinya hampir kembali, akhirnya sekarang berada di dalam kamar putrinya. Dua puluh satu tahun gadis itu menemaninya dan sekarang seorang lelaki akan meminangnya secara resmi. Itu artinya kesempatan untuk bermanja dan bercanda dengan putrinya tinggal beberapa waktu saja.


"Boleh Daddy memeluk Glenda?"


"Tentu saja, Dad. Aku masih putrimu yang polos," candanya.


Vigor memeluk putrinya sangat erat. Dia berusaha meyakinkan dirinya seribu persen untuk menerima Darsh Damarion sebagai calon menantunya di keluarga Abraham. Setelah itu, Vigor melepas pelukannya. Dia mengambil tempat duduk di sofa kamar putrinya.


Glenda kembali ke meja riasnya dan memoleskan lipstik tipis dibibirnya yang mungil itu.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu benar-benar siap untuk semua ini?" Pertanyaan terakhir untuk meyakinkan Vigor sendiri.


Glenda yang awalnya menatap cermin, membalikkan tubuhnya untuk menatap Daddynya.


"Dad, grandma Jenica sudah memberikan solusi bijak padaku. Aku harap keputusanku yang melibatkan semua orang ini akan berakhir indah," ucapnya.


Glenda sudah terlanjur jatuh hati pada pesona Darsh sejak awal pertemuannya. Tidak mungkin dia bisa menolak apalagi mengatakan tidak untuk menerima pinangan lelaki itu. Baginya, Darsh adalah lelaki istimewa yang datang pada saat dirinya menginginkan seorang lelaki yang bisa diajak untuk menjalin hubungan sepasang kekasih. Tampaknya alam tidak menginginkan mereka menjadi sepasang kekasih melainkan langsung suami istri.


"Baiklah, sayang. Daddy akan mendukungmu. Apapun yang terjadi padamu sekiranya kamu membutuhkan Daddy, jangan sungkan untuk mengatakannya," balas Vigor.


Pembicaraan yang belum selesai, seseorang telah mengetuk pintu kamar Glenda.


Tok tok tok.


Glenda segera membuka pintunya dan melihat pelayan rumahnya berdiri di sana.


"Ada apa, Bi?" tanya Glenda.


"Non, tamunya sudah datang. Nyonya Zelene meminta saya untuk memanggil Anda dan Tuan Vigor," jawab pelayan tersebut.


"Terima kasih, Bi. Aku dan Daddy akan keluar," ucapnya.


Glenda menutup pintunya kembali. Dia mendekati Daddynya dan berusaha meminta doa restu darinya.


"Dad, keluarga Darsh sudah datang. Kuharap Daddy memberikan doa terbaik untuk kelancaran hubungan kami," pinta Glenda.


Pria paruh baya itu hanya bisa memberikan doa terbaik untuk putri tunggalnya. Dia tidak mungkin bisa mengecewakan gadis itu untuk memutuskan hubungan sepihak dengan calon menantunya, Darsh Damarion. Vigor harus berusaha menahan egonya untuk semua ini.


...🌼🌼🌼...


Duh, yang sudah tidak sabar untuk ikutan lamaran. Sabar, Emak Author ngos-ngosan abis bantu-bantu di rumah Onty Zelene. Nyiapin jamuan makan untuk Papa Dizon. Ah, sabar yah 😍


Yuk, sambil nunggu pertunangannya pasangan muda mudi ini, Cus mampir karya keren milik teman Emak.


Ternyata Itu Cinta bu Author Aveeiiii


Terima kasih dan tetap semangat. Miss you All... 😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2