
Selagi Max mundur, ini kesempatan Willow untuk melepas cincin pertunangannya kemudian mengembalikan pada Max. Mengenai uang yang sempat dipakainya, Willow akan meminta Max untuk menghitungnya. Dia berjanji akan menyicil utangnya itu.
Secepatnya Willow meraih tangan Max untuk mengembalikan cincin itu, namun sepertinya Max sudah terlanjur emosi. Dia melemparkan cincin itu sekenanya kemudian menampar Willow dengan tangannya yang keras itu.
Plak!
Willow terkejut, namun dia tidak berani melawan. Sudah cukup penderitaannya hidup bersama Juvenal, papa biologisnya.
"Kamu menolak menikah denganku?" Setelah menampar, Max masih tidak terima. Beberapa perempuan telah menolak menikah dengannya. Padahal dari segi harta, Max bisa memberikan segalanya. Namun, dari segi perasaan, agaknya Max lebih senang memiliki hubungan dengan wanita-wanita bebas yang tidak terikat ikatan dengannya.
Max hampir mencekik leher Willow dan kebetulan Owen hendak ke toilet. Owen mengamatinya dari jauh pertengkaran itu karena dia belum berani mendekat. Sebenarnya bukan urusannya, namun Owen tidak tega kalau Max menyakitinya.
Hampir mencekik leher gadis itu, Owen merobek baju Willow sehingga menampakkan sesuatu yang tidak semestinya dilihat. Max juga mencium paksa gadis itu. Owen yang merasa sisi kemanusiaannya muncul, mendadak dia langsung melayangkan bogeman mentah pada Max.
Bug bug bug!
Berulang kali sampai Max tersungkur. Untung saja Owen memakai baju dobel, sehingga salah satunya bisa digunakan untuk menutupi tubuh Willow yang tidak layak untuk dilihat.
"Pakailah! Kamu jangan khawatir, aku akan membawamu pergi." Owen kasihan melihat gadis itu. Setelah memakaikan baju darinya, rupanya Max hendak membalas perlakuan Owen padanya. Namun, Owen selalu sigap.
"Jangan ikut campur urusanku!" bentak Max.
"Aku tidak akan ikut campur jika kamu ribut sesama pria, tetapi dia wanita. Kamu akan menjadikannya calon istrimu, tetapi sikapmu seperti itu malah menakutinya," balas Owen santai.
"Bukan urusanmu! Kamu mau jadi pahlawan kesiangan untuk wanita ******* ini, hah?" Max masih saja merendahkan Willow. Padahal gadis itu sudah terisak dengan air mata bercucuran.
"Aku akan melaporkan kejadian ini pada Darsh. Ingat, kamu tidak akan mendapatkan ampun darinya!" ancam Owen kemudian membawa gadis itu pergi.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Di dalam mobil, Willow masih terisak. Dia memang sekarang hidup sebatang kara. Niatnya menerima Max karena dia yakin kalau lelaki itu akan membuatnya aman dan melindunginya.
"Kamu tidak perlu ceritakan masalahnya. Aku sudah tahu semuanya. Sekarang, kamu mau pulang ke mana?" sesekali Max merasa iba.
"A-aku biasanya tinggal di hotel yang disewa Max, tetapi setelah kejadian ini, aku tak lagi ke sana."
"Kamu bisa tinggal di apartemenku. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Ceritakan masalahmu, agar aku bisa membantu. Namun, jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa."
Willow tahu kalau usia Owen memang jauh lebih muda darinya, namun lelaki itu bisa bersikap lebih dewasa daripada Max. Mungkin dengan ikut dengannya, semuanya akan aman. Sebelum sampai ke apartemen, Owen mampir ke toko baju untuk membelikan beberapa baju untuk Willow.
"Maaf, aku tidak tahu ukuran tubuhmu, namun aku akan turun untuk membelikan beberapa baju untukmu. Kalau kamu turun, aku tidak yakin pelayan toko ini akan melayanimu dengan baik. Kamu tidak apa-apa, kan?"
Willow hanya mengangguk menyetujuinya. Owen membeli beberapa kaos dan celana serta beberapa rok kira-kira cukup untuk Willow. Tak lupa, dia juga membelikan dalaman untuk gadis itu. CD maupun bra-nya, Owen hanya mengira-ngira saja.
Sebenarnya banyak pasang mata yang takjub pada Owen. Sampai sebuah suara membuyarkan perhatiannya untuk memilih dalaman itu.
"Wah, ini nih lelaki idaman semua wanita. Jangankan hanya di ranjang, dunia nyata saja dia membelikan semua kebutuhan wanitanya. Semoga selalu bahagia," ucap salah seorang pengunjung. Lagi pula, toko itu biasanya dikunjungi perempuan. Wajar saja kalau ada sedikit komentar.
"Tunggulah sebentar! Aku mampir ke supermarket dulu. Kamu jangan khawatir, mobilnya aku kunci dari luar, kamu akan aman di dalam," jelas Owen.
Butuh waktu 20 menit untuk berbelanja kebutuhan dapur. Owen sudah terbiasa semenjak membuka Kafe. Dia seperti mengerti semua kebutuhan lelaki dan perempuan. Setelah membayar kebutuhannya, Owen bergegas kembali ke mobil dengan beberapa kantong belanjaan.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Owen ketika berada di dalam mobil. Tak lupa, dia memberikan air mineral dan sebungkus roti kemasan kecil. "Minumlah! Kamu pasti syok setelah kejadian barusan."
Willow memang terbiasa dengan kekerasan seperti ini. Namun, kalau yang melakukan itu adalah calon suaminya, sungguh tidak wajar sama sekali. Dia menerima botol air mineral dan bergegas meminumnya.
Willow menggeleng. Pertolongan lelaki ini sudah membuatnya semakin tenang. Apalagi akan memberikan tempat tinggal sementara untuknya.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Sampai di basemen, Owen meminta Willow untuk turun dan mengikutinya menuju unit apartemen miliknya. Sesampainya di sana, Owen memberikan paper bag dan meminta Willow untuk membersihkan diri di kamar tamu.
"Kamu jangan khawatir! Walaupun aku sahabat Max, tetapi aku tidak sebrengsek dirinya. Setelah membersihkan diri, keluarlah ke meja makan. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu," ucapnya.
"Terima kasih," balas Willow. Dia memang belum terlalu kenal dengan lelaki yang menolongnya saat ini, namun mengucap terima kasih sangatlah penting untuk hidupnya.
Owen bergegas ke dapur. Dia menyiapkan omelet dan minuman hangat untuk malam ini. Dia sangat kasihan melihat keadaan Willow seperti itu.
Malam ini, aku akan diam dan tidak akan mengadukan kelakuan Max pada Darsh. Lelaki itu hanya akan takut pada Darsh. Namun, yang dilakukan malam ini sangat keterlaluan. Dia kasar sekali!
Menyiapkan omelet tak butuh waktu lama. Owen menyediakan buah potong di meja makannya. Tak lama, Willow pun muncul dengan baju baru yang dibelikan lelaki itu.
"Terima kasih bajunya. Aku Willow. Kamu?"
"Duduklah! Aku Owen. Jangan sungkan untuk meminta tolong padaku. Aku yakin kalau kamu perempuan baik-baik."
Willow tampak nyaman berada dalam perlindungan lelaki bernama Owen. Sungguh, kehidupan masa lalunya yang membuatnya menderita dan membawanya ke negara H atas permintaan Max. Malah sekarang dia ditelantarkan dan dihina seperti ini.
"Terima kasih."
Keduanya makan dalam diam sampai omelet yang disajikan habis. Willow lantas meminum secangkir minuman hangat yang disediakan.
"Kalau kamu mau bercerita, silakan saja! Siapa tahu aku bisa membantumu. Jika tidak berkenan, tidak masalah. Asal kamu bisa nyaman berada di sini."
"Ehm, aku tidak tahu harus cerita darimana. Namun yang kubutuhkan sekarang pekerjaan agar aku bisa membayar uang yang sudah dipinjamkan Max padaku."
Walaupun awalnya uang itu memang diberikan secara cuma-cuma oleh Max. Rupanya lelaki itu selain kaya dan sangat perhitungan sekali. Sekarang Owen yang bingung akan memberikan pekerjaan seperti apa pada Willow? Banyak rahasia yang disimpan gadis itu. Dia terlihat seperti seseorang yang sangat tertekan. Sebenarnya dia cantik, namun karena suatu hal, kecantikannya memudar.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟💟💟 Terima kasih