
Segala sesuatu yang sudah dijanjikan pada Owen bukanlah omong kosong. Pagi ini Sean meminta Owen dan Willow untuk sarapan di rumah Dizon. Apalagi pagi ini Sean dan istrinya akan kembali ke negara I menyusul putrinya yang lebih dulu pulang.
"Kalian sudah datang rupanya." Sean baru saja bergabung di meja makan. Sejak pagi dia dan sang istri sibuk memasukkan beberapa barang ke koper.
"Iya, Om. Sesuai permintaan, kami datang tepat waktu." Owen tidak bisa menolak permintaan sesederhana itu.
"Ayo langsung sarapan saja. Kurasa Sean dan Callista berangkat ke bandara satu jam lagi. Masih ada waktu untuk berbincang sebentar." Olivia sebagai tuan rumah menyiapkan segala sesuatunya. Dia tak lupa menyiapkan oleh-oleh yang akan dibawa Sean pulang ke negaranya.
Darsh dan Glenda baru saja keluar karena kedua bayinya sangat rewel di pagi hari. Pasangan muda itu lantas bergabung dengan semua orang di meja makan.
"Maaf, aku terlambat," ucap Darsh.
Tatapan binar bahagia menatap lekat ke arah lelaki dua orang anak itu. Entah tatapan karena kagum atau ada maksud lain. Ya, Willow menatapnya dengan sangat intens, tetapi Darsh menanggapinya biasa saja. Toh itu adalah istri sahabatnya yang sudah dianggap anak oleh keluarganya.
"Hai, Darsh. Kita bertemu lagi," ucap Willow yang membuat semua orang sedikit terkejut, termasuk Owen. Tak biasanya Willow seramah itu pada orang lain.
"Ayo, langsung sarapan saja," ajak Dizon menghindari basa-basi di meja makan.
Apakah istriku tertarik pada Darsh? Kenapa tatapannya lain? Setelah pergi berbulan madu, bahkan dia sudah melupakan malam pertama kami. Batin Owen.
Mendapatkan hadiah dari Sean tentunya Owen merasa senang. Namun, kalau sampai istrinya jatuh cinta pada Darsh, apa yang akan dilakukan? Walaupun Owen sendiri tahu betul bahwa Darsh tidak akan tergoda oleh siapapun.
Beberapa orang makan dalam suasana hati yang sangat riang. Berbeda dengan Owen, pikirannya entah ke mana. Mungkinkah keputusannya untuk menikah dengan Willow terlalu cepat sehingga gadis itu belum bisa menerima kenyataan ini sepenuhnya? Ataukah memang sejak awal Willow menyukai Darsh, tetapi karena sahabatnya itu sudah beristri sehingga dia memutuskan untuk dekat dengannya. Apalagi dia sungguh jelas menolak Max sampai akhirnya lelaki itu masuk penjara.
"Owen, lekaslah habiskan sarapanmu! Aku minta tolong antarkan Om Sean ke bandara," ucap Darsh membuyarkan lamunannya.
"Oh, iya Darsh. Maaf, aku hanya kepikiran Kafe. Tidak biasanya aku meninggalkannya sepagi ini," ucap Owen beralasan. Dia tidak ingin kecurigaannya pada sang istri diketahui oleh sahabatnya.
Seusai sarapan, Owen bersama pelayan membantu Sean untuk memasukkan beberapa koper ke dalam mobil miliknya.
"Sean, hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari aku ketika sampai di rumah." Dizon memeluk pria paruh baya itu.
"Iya, aku sudah menyimpan nomormu. Kurasa adikmu, Felix pasti masih berada di sini." Sean tahunya kalau adik kandung Dizon itu sedang berlibur bersama anak dan menantunya disela kesibukannya.
"Iya, dia memang mengabariku, tetapi untuk mampir ke sini rasanya tidak lagi. Mungkin saja setelah berlibur, dia akan kembali ke negaranya."
__ADS_1
"Callista, aku pasti sangat merindukanmu," ucap Olivia.
"Kapan-kapan giliran dokter Olivia yang datang ke tempat kami." Callista juga memberikan pelukan hangat pada Olivia.
"Kamu tidak mampir lagi ke tempat Zelene? Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah ini, bukan?"
Callista menggeleng. "Lain waktu saja. Kami bisa ketinggalan penerbangan kalau harus mampir ke sana."
"Baiklah." Olivia melepaskan pelukannya.
Kedua cucu kebanggaan keluarga Dizon kebetulan berada di sana juga. Sehingga Callista menyempatkan diri untuk menggendong salah satunya.
"Cucumu sudah semakin besar, ya?" ucap Callista.
Bayi-bayi itu berceloteh ria karena sudah hampir mendekati usia tujuh bulan. Umurnya selisih kurang lebih empat bulan dengan bayinya Aquarabella.
"Cucumu juga. Ingat, sampai rumah lekas periksa kondisi Aquarabella. Kurasa dia hamil lagi."
"Oh astaga, Zack itu benar-benar cepat sekali membuat anakku sampai hamil lagi," canda Callista.
"Baiklah semuanya, aku langsung pamit ke kantor, ya. Papaku bisa marah kalau aku kebanyakan libur," pamit Darsh. Dia sudah rapi dan sangat wangi dengan aroma maskulinnya.
Tatapan mata Willow lagi-lagi tertuju padanya. Mungkin Darsh tidak menyadarinya, tetapi Owen melihatnya dengan cukup jelas.
Kamu jangan bermain-main denganku, Willow. Batin Owen.
Setelah kepergian Darsh untuk ke kantor, segera Owen mengantarkan sepasang suami istri itu ke bandara. Owen juga ditemani Willow yang saat ini sudah duduk berada di sampingnya.
"Om, ini langsung ke bandara atau mau mampir ke mana dulu?" tanya Owen yang mulai mengemudikan mobilnya keluar dari halaman.
"Langsung ke bandara saja. Aku tidak ingin terlambat," jawab Sean.
Sesaat mereka terdiam dan fokus dengan urusannya masing-masing. Sesekali Owen melirik ke istrinya yang fokusnya entah ke mana.
"Willow, Aunty harap setelah ini mendapatkan kabar baik darimu. Semoga kamu lekas hamil, ya," ucap Callista yang membuat gadis itu sedikit terkejut kemudian menjawabnya dengan terbata.
__ADS_1
"I-iya, Aunty. Mohon doanya, ya?"
"Tentu saja. Owen, kurasa kamu perlu lebih giat lagi. Lihatlah menantuku itu. Sepertinya dia berhasil membuat putriku hamil lagi," ucapnya bangga.
Glek!
Pikiran Owen melayang ke mana-mana. Bahkan dia belum mendapatkan malam pertamanya.
"Iya, Tante. Pasti. Owen akan bekerja keras," ucapnya dengan penuh keyakinan, tetapi hatinya ragu.
"Baguslah kalau begitu. Usaha kalian biar bisa dinikmati keturunan kalian," ucap Callista seolah menasehati.
Perbincangan terjeda manakala Owen mempercepat laju kendaraannya. Jalanan mulai padat sehingga dia takut membuat Sean dan istrinya terlambat.
"Maaf, Om. Aku sedikit ngebut. Jalanan biasanya tidak seperti ini, tetapi sepertinya aku harus mencari celah."
"Tak masalah. Berhati-hatilah. Masih ada cukup waktu. Kami tidak akan terlambat!" balas Sean.
Mobil Owen membelah jalanan. Berbelok ke kiri dan ke kanan demi mendapatkan slot kosong agar mobilnya bisa melaju lebih cepat dan sampai di bandara lebih awal.
Tepat waktu. Mobilnya sudah memasuki area bandara. Tak lupa, Owen memastikan mobilnya masuk dulu ke tempat yang gampang membawa Sean dan sang istri. Baru setelahnya dia akan mencari tempat parkir.
"Sayang, kamu bantu aunty Callista untuk membawa beberapa barang, ya," pinta suaminya.
"Baik."
Kini mereka sudah berada di dalam bandara dan siap mengantar Sean dan Callista untuk kembali ke negaranya.
"Terima kasih. Owen dan Willow, kalau kalian sempat, jangan lupa mampir ke rumah kami. Aku pasti sangat senang kalau kalian mau datang," ucap Sean sembari memeluk satu persatu.
"Terima kasih, Om. Lain kali aku dan suami pasti akan datang," jawab Willow.
Entah, mendengar kata suami rasanya hati Owen menampik semua itu. Setelah kepergian Sean, maka dia harus lekas menyelesaikan masalahnya. Mumpung belum terlalu jauh.
Benar saja, setelah Sean dan sang istri masuk ke dalam pesawat. Tinggallah mereka berdua yang sama-sama diam dengan perasaan masing-masing. Owen curiga kalau Willow menyukai Darsh sejak lama.
__ADS_1