
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Glenda mengusulkan untuk tinggal di rumah orang tuanya untuk sementara waktu. Selain untuk mengantisipasi kesepian di rumah, Darsh bisa lebih tenang saat bekerja.
"Sayang, lebih baik kita tinggal di rumah orang tuaku untuk sementara waktu. Lagi pula mama dan papa pasti masih lama. Bagaimana? Apa kamu setuju?" usul Glenda. Walaupun sudah ada baby sitter di rumahnya, tetapi bersama orang tuanya akan jauh lebih baik.
"Lekas minta Alicia dan Naomi untuk berkemas. Aku akan mengantar kalian. Jangan lupa siapkan beberapa pakaian untuk kita. Aku juga akan tinggal di sana," jelas Darsh.
Glenda pergi ke kamar bayi kembarnya yang masih tertidur pulas. Hari ini masih libur sehingga Darsh berada di rumah.
"Alicia dan Naomi, minta tolong siapkan perlengkapan bayiku untuk beberapa hari ke depan. Jangan lupa untuk membawa perlengkapan kalian juga. Kita akan menginap di rumah orang tuaku. Apa bisa disiapkan sekarang?"
"Baik, Nyonya," jawab Naomi.
Kedua baby sitter itu lekas menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara Glenda kembali ke kamar untuk menyiapkan keperluannya dan sang suami. Dia mengambil dua koper. Masing-masing diisi pakaian Darsh maupun Glenda.
"Sayang, apa kamu sudah mengabari mommy?" tanya Darsh.
"Belum. Kurasa kita lebih baik langsung datang saja."
"Bagaimana kalau mommy tidak siap? Maksudku, di sana kan tidak ada box bayi. Jadi, bagaimana?"
Ah, Glenda melupakan hal sepenting itu. Apa sebaiknya memang dia lebih memilih untuk mengikuti ucapan suaminya?
"Baiklah, aku telepon sekarang."
Glenda meletakkan bajunya kemudian mengambil ponsel. Dia mendial nomor telepon mommynya. Tak beberapa lama, telepon pun tersambung.
"Tumben, Sayang?" sapa Zelene.
"Mom, jangan seperti itu! Anakmu ini masih membutuhkanmu juga, kan?"
Zelene tertawa. Putrinya memang jarang sekali menelepon kalau bukan urusan yang sangat penting sekali.
"Ya, ya. Baiklah. Katakan apa yang kamu inginkan?"
"Kami akan pergi dan menginap di tempat mommy untuk beberapa hari. Apakah mommy keberatan?"
__ADS_1
Zelene bahagia mendengar kabar baik ini. Sungguh luar biasa membuatnya tidak mampu berkata-kata lagi.
"Tentu, sayang. Mommy tunggu!'
"Tapi, Mom-"
"Kenapa lagi, Sayang?"
"Di sana tidak ada box bayi? Bagaimana nasib kedua bayi kembarku?"
Glenda memang tidak tahu kalau ternyata diam-diam orang tuanya menyiapkan dua box untuk cucunya. Mereka mengantisipasi hal mendadak seperti ini. Terbukti, sekarang terjadi juga.
"Jangan khawatir. Datang saja. Kami akan menyiapkan yang terbaik untuk kedua cucuku itu."
"Baiklah, mom. Kami akan bersiap-siap. Terima kasih, Mom."
"Sama-sama, Sayang."
Sambungan telepon kemudian diputuskan. Glenda menyampaikan kabar baik bahwa orang tuanya siap kapanpun cucunya datang.
Persiapan untuk ke rumah orang tua istrinya sudah siap. Darsh sengaja mengemudikan kendaraannya sendiri. Sopir pribadinya sedang cuti. Namun, sebelum berangkat Darsh mendapatkan telepon untuk datang ke apartemen Owen. Ada masalah serius yang dihadapi lelaki itu.
"Ada apa, Sayang?"
"Owen memintaku untuk datang ke apartemen. Sepertinya ada masalah pribadi. Kamu akan kuantarkan dulu. Setelah itu, aku pamit ke apartemen Owen."
"Baiklah kalau begitu."
...🍃🍃🍃...
Selepas mengantar istrinya dan berpamitan dengan mertuanya, kini tujuan Darsh ke apartemen Owen. Sepertinya ada masalah penting, tetapi Owen tidak mengatakannya.
Sampai di basemen, Darsh bergegas naik ke unitnya. Darsh heran kenapa banyak perawat yang berlalu lalang dan polisi yang datang ke sana. Sepertinya sedang terjadi sesuatu yang serius. Mengingat ucapan Owen seperti tertahan dan menyimpan beban berat.
Kenapa ada perawat dan polisi yang sedang berlalu lalang di apartemen yang sepi ini? Apa yang terjadi?
__ADS_1
Darsh sampai di unit apartemen Owen. Dia melihat dua brankar yang didorong bergantian dan tentunya ada dua pasien yang berada di sana. Unit apartemen Owen terbuka lebar kemudian Darsh lekas berlari masuk ke sana.
Owen terlihat terduduk lemas di sana. Dia tidak bisa berbuat apapun selain menunggu keputusan dari kepolisian.
"Owen, ada apa ini?"
Owen menceritakan detail permasalahan yang terjadi antara Willow dan Max. Keduanya sampai terbaring tak berdaya di brankar dengan bersimbah darah.
"Jadi, kamu tidak tahu apa-apa mengenai ini?"
"Aku di Kafe, Darsh. Aku tahunya pihak apartemen mengabariku kalau di apartemenku terjadi hal buruk. Rupanya Max datang untuk memaksa Willow menerimanya kembali, tetapi dia menolak. Seperti dugaanku melalui CCTV kalau Willow hanya membela diri. Mungkin saja Willow ketakutan sehingga menusuk Max berulang kali dan akhirnya Willow mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Aku kasihan padanya, tetapi Max kenapa masih mengejar Willow?"
Max berulah lagi. Entah, apa yang ada dalam pikiran lelaki itu? Bukankah beberapa hari yang lalu dia sudah bersama Helga?
"Kamu tidak ke rumah sakit?" Darsh melihat Owen tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku takut kalau Willow di penjara, Darsh. Dia hanya membela diri."
"Aku temani ke rumah sakit. Penyelidikan akan berlangsung dan kamu jangan terlalu khawatir berlebihan."
Owen dan Darsh pergi menggunakan mobil Darsh. Di apartemen, garis polisi sudah dipasang di bagian dapur.
"Aku tidak tahu jalan pikiran Max. Dia memaksa Willow untuk mengikuti permintaanya, tetapi dia menolak. Max terus saja memaksa."
"Memangnya Willow tidak tahu siapa yang datang?"
"Aku rasa dia tahu, tetapi mungkin saja Max main licik sehingga dia bisa masuk ke apartemenku dengan mudah. Intinya, keduanya sempat terlihat berselisih paham di ruang tamu. Kemudian Max memperlakukan Willow dengan tidak baik. Mungkin juga Willow ketakutan sehingga dia nekat."
Willow memiliki rasa ketakutan berlebihan saat Max datang. Itu terlihat jelas di CCTV yang sempat diperiksa Owen. Luka masa lalunya membuatnya menjadi perempuan yang tidak percaya diri. Namun, bersama dengan Owen, gadis itu lebih banyak berubah. Entah, setan apa yang merasuki Willow sehingga dia nekat melakukan hal buruk itu Max di sini bersalah. Dia seharusnya tidak seperti itu bersikap pada Willow. Lagi pula, sejak awal Owen sudah menjelaskan kalau mereka menjalin hubungan serius.
"Max keterlaluan! Aku tidak tahu harus membuatnya bagaimana agar dia berubah."
"Kurasa Max juga mempunyai masa lalu kelam. Itu mungkin pemicunya, Darsh. Aku tidak tahu harus mendukung siapa kalau sudah seperti ini? Max sahabatku, tetapi dia sudah keterlaluan. Sedangkan Willow, gadis itu hendak kujadikan sebagai calon istriku. Aku harus bagaimana sekarang?"
Max perlu diberikan pelajaran. Kasusnya sudah ditangani polisi kecuali Willow mau bersaksi untuk membelanya dan mencabut tuntutan atas lelaki itu. Padahal yang melaporkan bukanlah Willow, melainkan Owen.
__ADS_1
"Aku rasa keputusanmu tidak salah, Owen. Max perlu mendapatkan pelajaran penting."