Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Aku Akan Menikah


__ADS_3

Olivia bergegas ke kamar putranya. Malam ini, dia akan menyelesaikan masalahnya.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanya Darsh.


"Mama, Darsh. Buka pintunya!"


Ceklek!


"Ada apa, Ma? Darsh ingin tidur," ucapnya beralasan. Sejak tadi Darsh pusing memikirkan mama papanya yang ribut terus.


"Mama ingin berbicara sebentar denganmu. Ini mengenai papamu. Besok, papa akan memberikan persetujuannya atau tidak," ucapnya.


"Tidak penting, Ma! Lagi pula, bisa saja keluarga Glenda akan menolakku."


"Darsh, lihat Mama! Kamu percaya pada Mama, kan? Jangan khawatirkan Glenda. Orang tuanya pasti akan menerimamu," ucap Olivia meyakinkan putranya.


"Kenapa Mama bisa seyakin itu?"


"Mama tahu betul sikap keluarganya. Jangan khawatir ya, lusa kamu akan segera mendapatkan jawaban dari Glenda. Siapkan dirimu untuk pertunangan dan pernikahan secepatnya."


"Ma, aku izin keluar malam ini. Aku mau bertemu sahabatku," pamit Darsh.


"Untuk apa, Darsh? Ini sudah cukup malam," tolak Olivia.


"Aku sudah lama tidak bertemu mereka, Ma. Aku bosan terus berada di rumah. Kepalaku pening, Ma," ucapnya beralasan. Setidaknya dia bisa duduk manis di Cafe dan menikmati secangkir kopi di malam hari.


"Baiklah. Ingat, jangan pergi ke Club. Cukup ke Cafe kalau mau." Tak bosan Olivia mengingatkan putranya.


Bergegas lelaki itu meninggalkan mamanya setelah mendapatkan izin. Sebelum itu, tak lupa dia mengirimkan pesan kepada sahabatnya untuk menunggu di Cafe yang dimaksud.


Darsh sudah kembali. Dia tak lagi menyamar menjadi lelaki biasa. Kali ini dia memakai mobil sport yang sama kerennya seperti milik Frey. Dia tidak ingin menunjukkan lagi masa lalunya karena sebentar lagi dia akan menikah.


Beberapa sahabatnya sudah membalas grup chatnya. Dia tak perlu lagi membalasnya karena mereka sudah paham betul siapa Darsh sebenarnya.


Darsh lebih dulu sampai ke Cafe. Setelah itu, Frey juga datang hampir bersamaan dengannya.

__ADS_1


"Darsh, aku yakin kalau kamu sedang pusing, kan?" selidik Frey.


Darsh menatap sahabatnya itu penuh tanda tanya. Mereka baru saja sampai di tempat parkir, tetapi Frey sudah menyudutkannya dengan sebuah pertanyaan.


Apa Frey mengetahuinya?


"Sudahlah, Darsh. Jillian sudah cerita kepadaku," ucapnya lagi.


"Rupanya kamu sudah dekat dengannya, ya? Aku pikir sekedar pertemanan biasa saja."


"Sudahlah, Darsh. Aku akan menutup rapat rahasia ini sampai kamu sendiri yang akan mengumumkannya. Aku cukup sadar diri, sebagai asisten harus berusaha tetap menjaga rahasia atasannya. Bukan begitu, Tuan Darsh Damarion?"


Darsh tidak menanggapinya lagi karena Max keburu datang.


"Halo, Tuan Darsh. Kamu tahu tidak, aku sangat patah hati terhadap adikmu. Dia telah memilih orang lain ketimbang aku," keluh Max.


"Ck, masih ribut soal itu saja, Max," balas Darsh.


"Mau bagaimana lagi, Darsh. Justin juga patah hati."


"Sudahlah, Max. Jodoh akan datang diwaktu yang tepat. Ayo kita masuk," ajak Darsh.


Kedua sahabatnya memang belum datang, tetapi keduanya mengatakan akan datang. Mungkin sedikit terlambat. Dari jauh, Darsh sudah melihat sesuatu yang sangat mengganggu pandangannya. Siapa lagi kalau bukan kehadiran Helga dan Aimee. Rupanya keduanya masih sering berkunjung ke Cafe ini. Hanya saja, sekarang mereka sedang bersama pria lain. Semoga saja mereka tidak menyadari keberadaan Darsh di sana.


"Max, jangan sampai Helga atau Aimee menemukanku," ucap Darsh.


"Memangnya kenapa? Ini tempat umum. Tidak salah kalau mereka menemukanmu juga di sini," balas Max yang kebetulan duduknya menghadap gadis itu.


Sementara Darsh, sengaja memunggungi mereka. Dia tidak boleh terjebak situasi sulit yang akan merugikannya seumur hidup Darsh.


"Aku tidak mau dikejar oleh mereka. Itu saja, Max," ucapnya beralasan. Sebentar lagi, Darsh akan melamar Glenda dan menikahi gadis itu. Tentu saja keberadaan kedua gadis itu akan sangat mengganggunya.


Frey melihat wajah kacau Darsh yang tidak biasanya. Dia seperti menahan kekecewaan teramat sangat untuk hari ini.


Apa yang baru saja terjadi padanya? Kenapa Darsh terlihat kesal sekali.


Frey sebenarnya ingin menanyakan hal itu, tetapi keburu dua sahabatnya itu datang dan mengganggu fokusnya.

__ADS_1


"Hai, maafkan aku. Aku sedikit terlambat karena ban mobilku bocor. Terpaksa aku meminta tolong Justin untuk menjemputku," ucap Owen.


"Tak masalah, Justin. Yuk, kalian pesan minuman atau cemilan apa dulu, gih. Nanti aku yang bayar," ucap Max.


"Ok, Max. Tumben kali ini kamu yang traktir? Bukankah hari ini harusnya Darsh yang membayarnya?" protes Owen.


"Hemm, sama saja, Owen. Max berbaik hati padaku. Dia tahu kalau aku dalam kesulitan," canda Darsh.


Mereka menertawakannya. Untung saja Frey lebih cepat meminta mereka untuk segera diam. Jika tidak, bisa saja Helga akan menyadari keberadaan Darsh.


Rasanya seperti menjaga anak gadis agar tidak didekati oleh orang lain. Setelah kepergian Owen untuk memesan makanan dan minuman, mereka mulai melanjutkan pembicaraannya. Sebenarnya Owen bisa saja langsung memesannya di meja, tetapi kalau ke tempat pelayan yang berdiri di dekat kasir, suasananya terasa nyaman saja menurut Owen.


"Ada apa Darsh? Kamu mendadak meminta kami berkumpul. Kalau tidak ada berita penting, sebaiknya bisa disampaikan lewat pesan saja," protes Justin.


"Aku memang ingin menyampaikan hal penting ini kepada kalian semua, tetapi tetap aku akan menunggu Owen kembali. Dia harus tahu langsung dari mulutku," ucap Darsh.


"Darsh, sepertinya Helga menyadari keberadaan kita," ucap Owen yang baru saja datang.


"Biarkan saja. Aku tidak ada urusan dengannya. Dia gadis bebas. Ke manapun tak akan jadi masalah."


Sesaat mereka terdiam melihat pergerakan Helga. Rupanya gadis itu baru saja mendapatkan klien kencannya. Makanya Darsh tidak akan khawatir lagi kalau dia akan datang dan memaksa dirinya seperti kapan hari.


"Max, sebaiknya kamu berhenti mengencani gadis-gadis sepertinya. Apa kamu tidak takut kalau mereka hanya akan memanfaatkan hartamu saja?" tegur Frey.


"Oh ayolah, Tuan Asisten. Aku berbeda dengan kalian. Kalian masih polos, sedangkan aku, kalian kan sudah tahu. Aku lelah bekerja dan aku butuh pelepasan," ucap Max jujur. Selain dia merupakan playboy cap kadal, Max juga pemain handal. Berapa banyak wanita yang dikencaninya dan berakhir di ranjang.


"Kalau begitu, menikahlah!" usul Frey.


"Woah, Tuan Frey yang terhormat. Aku rasa setelah pertemuanmu dengan Jillian, kamu banyak berubah ya? Atau, kamu sengaja ingin pamer kepadaku kalau ternyata kamu berhasil mendapatkan gadis itu?" tuduh Max.


"Max! Harusnya tidak seperti itu. Kamu menyakiti Frey. Kamu tahu kan perjanjian yang sudah dibuat untuk tetap bersaing secara sehat dan tidak akan merusak persahabatan kita?" Sekali lagi Owen mengingatkan.


"Sudahlah, jangan ribut. Aku ingin kalian tahu. Mungkin ini baru kalian ketahui saat ini. Sebelumnya, aku meminta maaf kepada kalian semua. Aku akan menikah!" ucap Darsh.


Deg!


Semua sahabatnya terdiam. Memandang Darsh dengan penuh pertanyaan. Melirik mimik muka lelaki itu bahwa ucapannya bukan sekadar prank belaka. Candaannya cukup membuat orang lain berpikir serius atau bahkan guyonan belaka. Beberapa pertanyaan muncul di setiap pikiran sahabatnya. Mungkin setelah ini Darsh akan mengalami keributan sesaat karena terlambat memberitahukan kabar bahagia itu. Lebih tepatnya Darsh merahasiakannya.

__ADS_1


__ADS_2