
Berbeda dengan pemikiran Grandma, wanita tua itu selalu menekankan kenyaman dan pemilihan sesuai dengan kata hati. Kalau sudah merasa sama-sama cocok, tidak ada salahnya untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius. Lebih tepatnya untuk membangun sebuah komitmen dalam hal pernikahan.
"Cukup, Grandpa. Lupakan pemikiran kunomu itu. Anak-anak jaman sekarang jauh lebih cerdas untuk memilih daripada jaman dulu. Kita yang selalu dijodohkan akan kalah dengan yang memilih sendiri. Lihat Felix dan Dizon. Mereka hidup bahagia dengan pilihannya masing-masing," sahut Grandma.
"Hemm, kamu selalu saja membela mereka." Grandpa tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya. Sudah dipastikan kalah telak jika menghadapinya.
Setelah acara makan bersama selesai, Olivia meminta mereka untuk beristirahat di kamar masing-masing. Rumah Dizon sengaja dibuat banyak kamar untuk mengantisipasi kedatangan semua keluarganya.
Sementara Mama dan Papa Olivia tidak bisa menghadiri pengangkatan cucunya menjadi CEO karena mereka ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan sama sekali. Olivia bisa memakluminya karena jarak yang jauh dan perjalanan yang sangat melelahkan.
"Darsh, antarkan Jillian ke kamarnya. Kamu pasti ingin mengobrol sesama anak muda, bukan?" ucap Mamanya.
Mamanya benar. Misinya untuk menghadirkan Jillian adalah untuk memancing keempat sahabatnya untuk datang ke rumah. Walaupun tanpa adanya gadis itu mereka juga pasti datang, tetapi kehadiran Jillian akan menjadi magnet tersendiri untuk mereka.
"Oke, Ma." Darsh berdiri diikuti oleh Jillian.
"Tante, Jill pamit ke kamar dulu, ya," ucapnya.
"Silakan, Jill. Selamat beristirahat," jawab Olivia.
Darsh belum menanyakan apapun tentang Jillian di hadapan keluarganya. Dia ingin bertanya secara pribadi kepada gadis itu.
Darsh membuka kamar yang dimaksud. Kamar khusus yang disediakan untuk Jillian dengan nuansa khas perempuan.
"Wah, kamar ini lebih indah daripada beberapa tahun yang lalu, Kak," ucap Jillian ketika sudah berada di dalam kamar.
"Tentu, Jill. Mama selalu mempercantik kamar ini. Maksudku, tidak hanya kamar ini. Semua kamar di desain hampir mirip seperti kamar di rumah kalian."
"Tante Oliv memang hebat. Selain pernah menjadi seorang dokter, untuk urusan desain interior lumayan menarik juga," ucapnya membanggakan tante satu-satunya itu.
Jillian duduk di ranjang yang ukurannya lebih lebar dari beberapa tahun yang lalu. Sofanya juga lebih cerah seperti kamar remaja yang bertransisi menjadi dewasa. Tidak ada lagi boneka di sana. Semua berganti menjadi lukisan dan beberapa bunga hias.
Darsh sendiri memilih duduk di sofa. Ada banyak hal yang ingin dibicarakan dengan gadis itu.
"Jill, apa kamu sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Darsh.
Jillian memandang Kakak sepupunya itu dengan tatapan yang sangat aneh menurutnya.
"Kenapa kamu malah menatapku seperti itu?" ucap Darsh lagi.
"Hemm, Kak Darsh itu lucu. Persis dengan Mommy. Pertanyaannya tidak jauh seputar lelaki saja. Padahal aku belum selesai kuliah dan belum ingin memikirkan tambatan hati yang seperti Kakak bilang."
"Kamu tidak tertarik dengan teman sekampus, misalnya," cecar Darsh. Dia harus mendapatkan kejelasan jika Jillian benar-benar bebas.
"Kak Darsh, mana mungkin aku tertarik dengan mereka. Fokusku hanya kuliah. Kakak tahu kan, beberapa tahun lagi Daddy akan menjadikanku CEO Damarion Corporation. Itu rasanya seperti menjadi putra mahkota yang sebentar lagi akan menjadi raja. Rasanya sangat aneh untuk perempuan sepertiku," jelasnya.
__ADS_1
Sepertinya aku harus memilihkan salah satu dari sahabatku yang berpotensi untuk menjadi CEO. Siapa ya kira-kira? Kalau Max aku tidak akan merekomendasikan dirinya sama sekali. Kasihan Jillian kalau mendapatkan lelaki agresif sepertinya. Entahlah, kenapa aku yang pusing memikirkan Jillian, yah?
"Kak, kenapa diam? Aku sudah berbicara panjang lebar. Ingin mendapatkan komentarmu juga. Bagaimana perasaan Kakak diangkat menjadi CEO DD Corporation di usia yang masih sangat muda ini?" tanya Jillian.
"Rasanya sangat aneh, Jill. Kebebasan terasa dirampas seketika. Padahal aku masih ingin menikmati kebersamaan dengan teman-temanku. Mau bagaimana lagi, Papa sudah waktunya untuk beristirahat."
Jillian tidak bisa membayangkan dirinya akan seperti Kakak sepupunya. Dia juga anak tunggal seperti Darsh. Itulah sebabnya semua beban keluarga akan berada di tangannya.
Darsh sebenarnya ingin melanjutkan obrolan dengan Jillian. Suara ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Jill, aku angkat telepon dulu, ya?" pamitnya.
"Silakan, Kak."
Darsh keluar sebentar. Dia mengangkat telepon dari Frey.
"Halo, Frey. Ada apa?" tanya Darsh.
"Aku mau mengantar mobil jelekmu dan mengambil kembali mobil sport milikku," ucapnya membuat Darsh sedikit kesal.
"Ck, kamu ini. Kemarin kamu sengaja meninggalkanku seorang diri. Salah siapa, hah?" kesal Darsh.
"Maaf, Darsh. Aku tidak enak dengan mereka," ucapnya beralasan.
"Maaf, Tuan CEO. Bisa aku datang sekarang? Sebentar lagi aku sampai depan rumahmu."
"Datanglah. Rumahku terbuka lebar untuk kehadiran asisten Frey Matteo."
Tanpa aba-aba, Frey memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Ck, kalau ada maunya saja seperti itu tingkahnya," gerutu Darsh.
Ini saatnya aku mempertemukan Jillian dengan Frey. Aku ingin tahu reaksi lelaki itu.
Sambil menunggu kedatangan Frey, Darsh kembali ke kamar sepupunya. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Jillian.
Ceklek!
"Kak Darsh, ada apa?" Jillian sebenarnya ingin tidur sejenak, tetapi kakak sepupunya itu masuk lagi. Dia tidak enak hati untuk menolaknya.
"Jill, temani aku mengobrol di teras depan, ya. Sebentar saja," pinta Darsh.
__ADS_1
Jillian turun dari ranjang. Dia sebenarnya masih ingin berbicara banyak dengan kakak sepupunya.
"Baiklah, Kak. Aku mau," ucapnya.
Jillian mengikuti Kakak sepupunya pergi ke teras.
Wah, ini kesempatan bagus untuk mempertemukan Jillian dengan Frey. Mumpung tidak ada pengganggu.
Baru saja keduanya sampai teras, sebuah mobil masuk. Jelas saja Darsh langsung bisa mengenali pengemudi mobil tersebut karena itu memang mobilnya.
"Mobil siapa itu, Kak?" tanya Jillian yang baru saja duduk di kursi.
"Mobil kakak, lah. Jelek banget, yah?" candanya.
"Ck, CEO mobilnya butut begitu," sindirnya.
"Kamu tahu, itu demi menghindari gadis-gadis agresif yang mengejar kakak," ucapnya.
Darsh menghentikan obrolannya ketika Frey sudah berada di hadapannya. Lelaki itu terkejut melihat seorang gadis yang sedang menemani sahabatnya.
Jangan-jangan ini adalah kekasih Darsh. Pantas saja dia menolak ketiga gadis penggoda itu. Kenyataannya milik Darsh sangat sempurna.
"Ehem." Darsh sengaja berdehem untuk membuyarkan lamunan Frey. "Tuan asisten, bisa perkenalkan diri Anda?"
"Eh, perkenalkan saya sahabatnya Tuan Darsh Damarion. Nama saya Frey Matteo," ucapnya. Sepertinya Frey harus secepatnya mencari pasangan karena atasannya diam-diam sudah memiliki seorang kekasih.
"Oh, jadi kamu teman Kak Darsh. Hai, salam kenal. Aku adik sepupunya. Namaku Jillian Damarion," balas Jillian.
Deg!
Frey rasanya ingin terbang ke awan karena melihat kecantikan gadis itu. Sepertinya Max dan Justin akan mendapatkan pesaing baru yaitu Frey sendiri. Dari pandangan pertamanya terlihat Frey sangat tertarik pada Jillian.
"Ehem, Tuan Frey," goda Darsh.
Frey dan Jillian masih sama-sama terdiam. Ini merupakan pertemuan pertama mereka. Walaupun Frey sering mendengar cerita tentang Jillian, ternyata bertemu langsung membuatnya tertarik pada gadis itu. Darsh akan memberikan kesempatan pada keduanya untuk mengobrol sejenak dan saling mengenal lebih dekat.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Hai Akak readers, emak mau merekomendasikan karya yang luar biasa milik sahabat emak. Cus kepoin...
Antara Cinta Dan Corona by Kirana Pramudya
Terima kasih. 😍🙏🏻
__ADS_1