
"Benar semua ini, Willow? Kenapa kamu ingin menghancurkan keluarga kami? Kami tidak ada hubungannya lagi dengan keluargamu sudah cukup lama. Kenapa harus kami? Bukankah mamamu juga ada hubungannya dengan Sean?" Kini Olivia yang angkat bicara.
Willow diam. Tangannya masih dalam genggaman suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami. Owen sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan. Walaupun tidak dalam waktu dekat, tetapi sudah dipastikan kalau sebentar lagi statusnya menjadi janda.
"Aku hanya tahu mama selalu memanggil nama Om Dizon. Aku ingat kalau Om Sean pernah menikah dengan mama, tetapi aku selalu mendengar namanya. Makanya aku mencari Om Dizon. Kurasa kehancuran mama ada hubungannya denganmu, Om." Bukan malah merendah, Willow malah seakan seperti menantang Dizon.
"Juvenal, bawa pergi putrimu yang sudah tidak waras itu!" Amarah Dizon benar-benar memuncak kali ini.
"Tidak, aku tidak mau pergi dengan orang yang sudah menyakiti mamaku. Om juga harus bertanggung jawab!" Willow melepaskan tangan Owen. Kali ini dia sudah dikuasai amarahnya.
"Harusnya kamu itu berpikir ulang sebelum menyakiti orang lain. Dengarkan dari sisi Om Dizon dulu." Kali ini Max ambil suara. Dia tidak tahan melihat Willow yang seolah menyalahkan semua orang. "Asal kamu tahu, Willow. Aku memutuskanmu karena aku cukup sadar diri bahwa jiwa psiko-mu mulai terlihat. Kau sengaja menyakiti dirimu sendiri dan membuatku harus menerima hukuman yang tidak seharusnya. Aku jalani, tetapi untuk kali ini. Kamu yang harus menanggung akibat dari perbuatanmu!"
"Karena kamu pria bodoh! Om Dizon dan Juvenal juga pria bodoh. Kalian semua berbahagia atas penderitaan mamaku. Aku tidak terima!"
Pelayan yang kebetulan mengantarkan minuman untuk tamunya atas permintaan Olivia itu juga mendapatkan perlakuan di luar nalar. Willow maju ke arah pelayan, merebut nampan, kemudian melemparkannya.
Praang!
Pyaar!
Semu gelas berhamburan pecah begitu saja. Willow kemudian mengambil salah satu pecahan gelas yang lumayan runcing. Sekali tusuk saja bisa membuat darah mengucur deras.
"Willow, buang itu! Jangan membahayakan dirimu!" Kali ini Helga yang maju untuk menyadarkan gadis itu.
"Tidak, aku akan nekad. Aku menginginkan Darsh. Aku tidak mau kalian semua. Kumohon serahkan Darsh padaku," ucapnya.
Semua orang yang berada di sana tentu saja dibuat terpaku atas tindakan Willow barusan.
"Willow, buang itu! Kita pulang untuk memperbaiki semuanya," ajak Juvenal.
"Apa? Aku tidak salah dengar, hah? Kau mau memperbaiki semuanya? Mamaku depresi karenamu. Sekarang kau mau kita memperbaiki keadaan?" Willow menggeleng. Dia berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri dengan mengarahkan pecahan gelas itu pada urat nadi di tangannya.
"Cukup, Willow! Lepaskan! Jangan sakiti dirimu seperti itu. Lihatlah suamimu itu!" teriak Darsh.
__ADS_1
"Darsh, kami akan bercerai. Aku mau kamu yang menggantikannya," ucapnya.
"Willow, tolong lepaskan itu, Nak. Kita bicarakan ini baik-baik," pinta Olivia.
Sementara Glenda sejak tadi diam saja berada di samping mama mertuanya. Dia cukup ngeri melihat ulah Willow seperti itu. Untung saja kedua anaknya berada di rumah sehingga dia tidak lagi khawatir.
"AKU TIDAK MAU!" Teriaknya sambil berusaha memutuskan urat nadinya.
Glek! Semua orang bahkan tidak mempercayai Willow seperti itu.
Darah mulai mengucur dari pergelangan tangannya.
"Ayo bantu dia, Owen! Willow bisa mati kalau seperti itu," teriak Max.
Dizon, Juvenal, dan Olivia hanya menatap nanar tanpa bisa mengendalikan Willow.
Owen dan Darsh maju. Salah satu merebut pecahan gelas itu. Salah satunya lagi menarik tubuh yang mulai lemah. Willow masih sempat mendorong Owen agar tidak menyentuhnya. Dia menarik Darsh sehingga menjadi sandaran dirinya. Darsh terduduk di lantai yang kebetulan masih ada pecahan gelas yang berserakan.
"Pelayan! Tolong bersihkan! Panggil ambulance!" Teriakan Olivia tidak terkontrol. Dia lekas maju untuk mencoba memberikan pertolongan pertama. Dia menekan bagian lain untuk menghentikan pendarahannya. Sementara yang lain masih menatap tidak percaya kejadian seperti ini.
"Dad, sebaiknya kamu tolong putrimu! Jangan jadi pria pengecut!" ucapnya.
Selang beberapa menit dengan kehebohan yang belum usai, ambulance datang. Beberapa perawat masuk membawa brankar untuk mengangkat tubuh Willow yang mulai melemah. Dia terlalu nekad untuk mengambil keputusan. Juvenal pun mendekat untuk membantu mengangkat putrinya. Dengan sisa tenaganya, Willow menepis tangan papanya, Juvenal.
"Per-gi-lah!" ucapnya dengan suara lemah. Dia tidak ada tenaga lagi. Sementara pihak rumah sakit lekas membawa Willow menuju ke ambulance.
Belum jauh dari lokasi ambulance terparkir, perlahan Willow menutup matanya. Dengan sisa terakhir nafasnya, dia menyelesaikan akhir hidupnya yang tidak bahagia itu.
Hening. Sepi. Angin duka melambai menyambut kepergian gadis kecil yang terluka sedari kecil. Kehidupannya tidak semulus kecantikan wajahnya.
Perawat menghentikan aktivitasnya sejenak. Salah satu dari mereka menyadari kalau pasien sudah meninggal.
"Kenapa berhenti?" tanya Olivia yang membuyarkan keheningan.
__ADS_1
"Pasien sudah meninggal, Nyonya," ucap salah seorang perawat.
Deg!
Jantung Olivia rasanya seakan berhenti berdetak. Dia tidak menyangka kalau depresi berat yang dirasakan oleh Willow berakhir fatal. Tidak ada yang mempedulikan lagi gadis itu sampai akhir hayatnya. Kalau saja Olivia menyadari sejak awal, tentu saja dia akan membawanya ke psikiater. Namun, dia terlihat normal seperti pada umumnya.
Juvenal yang melihat kematian tragis putrinya terduduk lemah tak berdaya. Dia cukup banyak menanggung dosa dari setiap masalah yang pernah ditimbulkan olehnya.
"Sebaiknya kalian bawa ke rumah sakit untuk mengurus pemakamannya. Kami akan membawanya ke negara X," ucap Juvenal. Bagaimanapun dia tetap papanya.
Owen tidak bisa menangis lagi. Dia sudah mati rasa pada istrinya. Kalaupun kehilangan, itu bukan salahnya. Berulang kali Owen memintanya untuk berubah, tetapi Willow enggan untuk mengikuti ucapan suaminya. Dia lebih memilih jalannya sendiri. Siapa sangka akan berakhir tragis seperti ini.
"Sabar ya," ucap Max menepuk pundak sahabatnya.
Jenazah Willow tetap dibawa ke rumah sakit. Beberapa orang ikut mengantar dengan mobil masing-masing. Begitu juga dengan Owen. Walau bagaimanapun, dia tetaplah suaminya. Owen masuk ke mobil ambulance yang membawa jenazah Willow.
Juvenal, Livia, Max, dan Helga berada satu mobil yang sama. Sedangkan Olivia, suami, anak, dan menantunya berada di rumah untuk membereskan semua kekacauan yang dibuat Willow.
"Glenda, mintalah pelayan untuk membersihkan kekacauan di ruang tamu. Mama akan bersiap untuk ke rumah sakit dengan papamu," ucap Olivia.
"Baik, Ma." Glenda lantas masuk ke dapur untuk memanggil salah satu pelayan. Setelah urusan selesai, barulah menemui suaminya yang saat ini bersama papanya. Samar-samar Glenda mendengar pembicaraan keduanya.
"Darsh, maafkan Papa," ucap Dizon.
"Untuk apa? Papa tidak salah," balas Darsh.
"Papa sempat tidak percaya padamu."
"Sudahlah, Pa. Lagi pula semuanya sudah berakhir. Dia mengakhiri hidupnya sendiri." Darsh memeluk papanya. Baru kali ini keduanya benar-benar akur seperti itu.
Tak hanya disaksikan Glenda, Olivia pun terlihat senang melihat keakraban suami dan putranya.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. terima kasih