
Keluarga Darsh Damarion disambut oleh Zelene seorang diri. Wanita paruh baya itu lantas meminta tolong pelayan untuk memanggilkan Glenda dan suaminya yang sedang berada di kamar putrinya.
"Selamat datang," sambut Zelene.
"Terima kasih, Ze," balas Olivia.
Darsh menyerahkan beberapa kotak untuk keluarga calon tunangannya. Beberapa kotak itu langsung diterima oleh pelayan rumah itu.
"Apa ini, Kak?" tanya Zelene berbasa-basi.
"Hanya sekadar oleh-oleh untuk keluargamu."
Zelene meminta mereka untuk menunggu di ruang tamu. Sementara sambil menanti Glenda dan suaminya.
"Silakan duduk. Putri dan suamiku masih bersiap. Sebentar lagi pasti keluar," ucapnya.
Tak lama, orang yang dimaksud sudah menampakkan dirinya. Keluarga Dizon lantas berdiri untuk menyambutnya.
"Selamat datang di rumah keluarga Abraham. Semoga betah dengan suasananya," ucap Vigor.
"Terima kasih," balas Olivia.
Mereka duduk kembali. Sesaat semuanya terdiam. Darsh sebenarnya sangat mengagumi kecantikan calon istrinya, tetapi karena dia merupakan manusia kulkas kedua setelah papanya, tak heran kalau tatapannya begitu datar.
Untuk mengurai kekakuan yang terjadi di ruang tamu, Olivia berinisiatif mencairkan suasana. Dia memang belum paham betul siapa putrinya Zelene. Itulah sebabnya didalam kesempatan yang baik ini, Olivia meminta gadis itu untuk memperkenalkan diri.
"Ehm, sebelumnya aku meminta maaf pada kalian. Keluargaku memang belum terlalu mengenal putri kalian, tetapi dalam kesempatan kali ini, izinkan putri kalian untuk memperkenalkan diri. Setelah itu, putraku akan memperkenalkan dirinya juga," ucap Olivia.
Glenda nampak canggung dengan suasana seperti ini. Walaupun ini yang kedua kalinya pertemuan mereka, tetapi rasanya sangat berbeda.
"Sayang, berdirilah dan perkenalkan dirimu," pinta Zelene.
__ADS_1
Glenda berdiri. Dia berusaha bersikap ramah pada calon mertuanya dan calon suaminya. Sedetik, tatapan matanya beradu pandang dengan Darsh Damarion, lelaki yang menjadi pilihannya untuk melabuhkan seluruh hati dan raganya seumur hidup Glenda.
"Selamat malam. Perkenalkan namaku Glenda Abraham. Aku putri tunggal di keluarga ini. Usiaku dua puluh satu tahun," ucapnya.
Olivia tersenyum. Dugaannya benar kalau usianya tak jauh beda dengan Darsh. Setidaknya Glenda sudah cukup umur untuk menikah dengan putranya.
"Terima kasih, sayang. Duduklah kembali. Sekarang giliran putramu, Kak," ucap Zelene.
Glenda duduk kembali dan kini giliran Darsh yang berdiri. Lelaki itu sangat terlihat tampan tanpa kacamata hitamnya yang biasanya bertengger di wajahnya ketika bertemu dengan Glenda. Mungkin sengaja dipakai agar orang lain tidak mengenalinya.
"Perkenalkan Darsh Damarion, usiaku baru dua puluh dua tahun," ucapnya. Setelah itu duduk kembali.
Vigor sedikit tercengang. Bisa-bisanya putrinya akan menikah dengan lelaki yang masih dibilang sangat muda ini. Dia juga belum tahu apakah sudah bekerja atau masih mengandalkan harta orang tuanya.
"Ehm, Darsh, boleh Om tanya sesuatu?"
"Silakan, Om." Darsh tidak heran. Ini akan menjadi momen sesi tanya jawab sebelum masuk ke inti pertunangan. Keluarga pihak perempuan juga ingin mengetahui semuanya tentang calon suami putrinya.
"Apakah kamu bekerja? Maaf, bukan maksudku untuk lancang menanyakan ini. Kamu tahu sendiri kan, kalau aku tidak akan mudah menyerahkan putriku pada orang lain," ucap Vigor menjelaskan.
"Tentu saja, Om. Aku baru saja menggantikan jabatan CEO DD Corporation. Om tentu tahu kan. Walaupun itu perusahaan yang dibangun oleh papaku, Om jangan khawatir. Semua keperluan putri Om akan kami sediakan tanpa kekurangan suatu apapun," tegasnya.
Vigor memang pernah mendengar DD Corporation. Dia tidak menyangka kalau perusahaan besar itu milik Dizon Damarion. Yang dia tahu dari orang-orang kalau pemiliknya adalah Mr. DD. Rupanya itu inisial namanya.
"Baiklah, Darsh. Keluarga kami akan menerimamu sebagai calon menantu," ucap Vigor akhirnya.
Dalam kesempatan ini, Dizon lebih banyak diam. Bukan karena dia malas untuk berbicara atau apa, tetapi dia sudah membuat perjanjian khusus dengan istrinya. Kalau sampai dia berbicara dan membuat suasana kacau bahkan sampai Darsh ditolak oleh keluarga Glenda, maka konsekuensinya Olivia akan menelepon mama mertuanya dan meminta untuk tidak mengusik kehidupan putranya. Ngeri sekali, bukan?
Vigor sampai tidak habis pikir. Papa dari calon menantunya itu malah terdiam dan membuatnya sedikit ragu, apakah putrinya akan diterima dengan baik?
"Tuan Dizon, apakah kamu mau menerima putriku sebagai calon menantu keluargamu?" selidik Vigor.
__ADS_1
Kali ini Olivia tidak akan membuat suaminya pusing. Dia tidak menjawab pertanyaan calon besannya, itu artinya Dizon harus bersuara.
"Ehm, tentu saja Tuan Vigor. Keluarga kami akan menerima putrimu dengan sangat baik," ucapnya.
Terdengar kelegaan pada Olivia dan Darsh. Kedua orang ini khawatir kalau sampai papanya mengatakan ucapan yang mrnyakiti keluarga Glenda.
"Terima kasih, Tuan. Semoga hubungan kekerabatan yang lebih dekat ini bisa membawa pada kebaikan bersama," balas Vigor.
Zelene dan Glenda juga nampak lega. Daddynya memberikan kesempatan terbaik untuk Darsh masuk ke dalam kehidupan mereka.
Selesai berbincang, Zelene mengajak mereka ke ruang makan. Sebelum acara makan bersama dilangsungkan, Zelene meminta Darsh untuk memberikan simbolis sebagai syarat terikatnya Glenda dengannya.
"Mari kita langsung ke ruang makan saja, tetapi sebelum itu, aku meminta Darsh memberikan simbolis kalau Glenda sudah menjadi calon istrinya," ucap Zelene. Tanpa berpikir panjang, Zelene yakin kalau Darsh akan membawa cincin pertunangan itu.
"Tentu, Ze. Di mana Darsh akan menyematkan cincin pada jari manis Glenda?" tanya Olivia.
"Mari ikut kami," ajak Zelene.
Ruang makan yang sudah disulap menjadi tempat yang sangat indah dengan dekorasi pertunangan yang bertuliskan nama Darsh dan Glenda di sana. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Glenda meminta Mommynya sebagai fotografer dadakan untuk membuat dokumentasi pertunangan sederhananya.
Darsh dan Glenda sudah berada di depan dekorasi yang sudah disiapkan. Olivia memberikan satu kotak kecil perhiasan yang diletakkan di tasnya.
"Sayang, ini untuk Glenda dan untukmu."
Darsh menerimanya dan membuka kotak itu. Dia tak banyak bicara. Bergegas Darsh mengambil cincin untuk Glenda kemudian mengembalikan kotak itu kepada mamanya. Setelah itu, Darsh memegang tangan kiri Glenda dan memasangkan cincin itu di jari manisnya.
Tepuk tangan dari semua orang yang ada di ruangan itu menambah kebahagiaan mereka semua. Mommy Glenda tak lupa untuk mengabadikan momen tersebut ke dalam ponsel putrinya. Beberapa pelayan ikut menjadi saksi hari bahagia nona mudanya itu.
Cincin pertunangan itu melekat pas di jari manis Glenda. Gadis itu terlihat sangat bahagia karena lelaki yang disukainya bisa memilihkan cincin yang sederhana dan terlihat elegan di jarinya.
Olivia kemudian memberikan cincin kedua kepada Glenda untuk memasangkan di jari manis putranya.
__ADS_1
"Sayang, ini pasangkan di jari manis calon suamimu," pinta Olivia.
Glenda dengan sangat hati-hati memegang tangan Darsh. Ini untuk pertama kalinya gadis itu bersentuhan langsung dengan tangan calon suaminya. Rasanya ada getaran aneh di dalam tubuhnya. Tak ingin terlalu lama, Glenda segera memasang cincin itu. Semua orang sangat bahagia akhirnya pertunangan mereka berjalan lancar.