
Mendekati pernikahan, Glenda mulai merasa tidak nyaman. Sejak kemarin perutnya terasa sakit. Ini jarang sekali dialaminya. Semenjak pagi, dia belum keluar dari kamar. Padahal rencananya pagi ini dia harus ikut ke restoran untuk berpamitan dengan semua rekan kerjanya. Mereka mencari keberadaan Glenda yang jarang terlihat akhir-akhir ini. Bahkan, mereka menciptakan rumor kalau Glenda dikeluarkan dari restoran secara tidak hormat. Itu terdengar jelas di telinga Vigor, daddynya.
Tok tok tok.
Ceklek!
Zelene masuk untuk melihat putrinya. Wanita paruh baya itu penasaran kenapa sejak pagi putrinya tak kunjung keluar kamar.
"Sayang, kamu kenapa? Daddy sudah menunggumu sedari tadi. Makanya Mommy masuk ke kamarmu."
"Entahlah, Mom. Sejak semalam perutku sakit sekali. Melilit, tetapi bukan mules."
"Apa ini bukan waktunya kamu menstruasi, Sayang?" tanya Zelene.
Biasanya Glenda paling rajin untuk menulis kapan jadwalnya mendekati menstruasi. Itu digunakan untuknya menyiapkan pembalut di dalam tasnya. Biar tidak repot juga menurutnya.
"Mom, boleh minta tolong ambilkan kalender di mejaku?" pinta Glenda.
Zelene mendekati nakas untuk mengambil kalender duduk yang ada di atas sana. Dia menyerahkan pada putrinya kemudian duduk di sampingnya.
Glenda membolak-balikkan kalender. Benar saja, ini sudah mendekati masa menstruasinya, tetapi sedikit maju dua hari dari biasanya.
"Bagaimana, Sayang? Apa kamu bisa ikut daddy ke restoran?" Zelene menanyakan karena tidak ingin suaminya terlambat datang ke tempat kerjanya.
"Mom, pending dulu ya ke restorannya? Ini kram perut mendekati menstruasi rasanya sangat tidak nyaman."
"Baiklah. Mommy akan mengatakan pada daddymu. Oh ya, Mommy buatkan air jahe ya? Untuk meredakan rasa sakitnya," ucap Zelene.
"Terima kasih, Mom."
Zelene keluar menemui suaminya. Vigor masih setia duduk di meja makan menunggu anak dan istrinya.
"Bagaimana, Honey? Kenapa Glenda tak lekas keluar kamar?" tanya Vigor.
"Glenda tidak bisa ikut ke restoran hari ini, Dad. Dia sedang mengalami kram perut."
"Oke. Kalau begitu, Daddy berangkat dulu."
Zelene mengantar suaminya sampai ke depan. Setelah suaminya pergi, dia kembali ke dapur untuk membuatkan air jahe.
"Bi, aku minta tolong bereskan meja makan, ya? Glenda sedang kurang sehat," ucapnya sembari menyiapkan gelas dan merebus air. Tak lupa menyiapkan jahe yang selalu menjadi bahan penting yang selalu ada di dapurnya.
__ADS_1
"Baik, Nyonya," jawab pelayan.
Selesai membuat air jahe satu cangkir kecil, Zelene mengambil nampan dan membawa ke kamar putrinya.
Ceklek!
Zelene masuk. Dia melihat putrinya yang masih berbaring di kamar.
"Sayang, minumlah perlahan. Supaya lebih mendingan."
Glenda lekas mengambil cangkir itu dan menuangkan pada tatakan cangkir untuk mengurangi panasnya air jahe itu. Dia langsung menyeruputnya secara perlahan. Selesai menghabiskan air jahe seukuran piring kecil, Glenda meletakkan kembali ke nampannya.
"Bagaimana, Sayang?"
"Lumayan, Mom. Boleh Glenda istirahat untuk hari ini?"
"Tentu, Sayang. Ingat, sebelum istirahat, mandi dulu ya! Calon pengantin harus bersih dan selalu cantik," goda Zelene.
"Hemm, Mommy bisa saja."
"Tentu, Sayang. Ingat, kurang berapa hari lagi? Kamu akan menjadi Nyonya Darsh Damarion. Kalian akan tinggal di kamar yang sama."
Ucapan Mommynya menggiring rasa penasaran Glenda pada sesuatu. Ingin ditanyakan, tetapi Glenda sangat malu sekali.
"Mandi dulu, gih. Mommy tunggu di sini. Biar lebih segar," pinta Zelene.
"Baiklah. Jangan lupa jawab pertanyaan Glenda ya, Mom," ucapnya. Gadis itu bergegas ke kamar mandi. Butuh waktu 10 menit dan sudah berada di depan Mommynya.
"Cepat sekali, Sayang?"
"Ish, Mommy. Aku hanya mandi dan bukan berendam. Kelamaan di dalam sana keburu Mommy kabur."
Zelene berpindah ke sofa. Dia ingin membiarkan putrinya beristirahat di ranjang.
"Kamu mau tanya apa, Sayang?"
"Mom, rasanya jadi wanita hamil itu seperti apa, sih?"
Deg!
Beberapa kali Zelene mengamati pertanyaan putrinya sudah menjurus ke arah rumah tangga. Sebenarnya Zelene ingin menceritakan banyak hal mengenai kisah rumah tangga, tetapi diurungkan.
__ADS_1
"Ehm, setelah menikah apa kamu ingin lekas hamil?" selidik Zelene.
Deg!
Kali ini Glenda yang bingung harus menjawab apa. Sebagai wanita normal, tentu saja dia ingin lekas hamil. Tapi, itu semua kembali lagi pada keputusan yang akan dibuat bersama suaminya.
"Glenda belum tahu, Mom. Kalaupun Darsh memintanya langsung, terus terang Glenda tidak bisa menolaknya. Mom tahu sendiri kan kalau istri itu harus nurut suami dan segala sesuatunya harus dirundingkan bersama," jelas Glenda.
Iya, Sayang. Mommy hanya khawatir kalau kamu bersama Darsh akan sulit mengendalikan lelaki itu. Melihat papanya yang kakunya luar biasa itu, Mommy jadi kepikiran.
"Kamu benar, Sayang. Jadi, mengenai rumah tanggamu dengan Darsh, semua harus kalian rundingkan bersama. Mommy doakan kehidupan rumah tangga kalian lancar terus."
"Terima kasih, Mom. Glenda masih butuh bimbingan Mommy."
Tak ada alasan lain lagi yang harus disampaikan pada Mommynya. Semua sepenuhnya menjadi urusan Darsh dan Glenda. Namun, ada satu hal yang mengganjal di benak Glenda.
"Mom, ada satu pertanyaan lagi yang ingin Glenda tanyakan. Boleh?"
"Tanyakan saja, Sayang!"
"Mom, kalau misalnya setelah menikah, aku dan Darsh memutuskan untuk tinggal di apartemen, apa Mommy mengizinkan?"
Deg!
Tentu saja itu jawaban yang sangat sulit sekali. Apalagi itu berhubungan dengan suaminya. Zelene tidak bisa memberikan jawaban itu secara langsung.
"Tanyakan pada daddymu! Mommy sebenarnya ingin membebaskan kalian. Mau tinggal di mana pun, asal kalian terus bersama, Mommy akan mengizinkan."
Mommynya memang tidak bisa melarang keputusan anak dan menantunya, tetapi entah suaminya kenapa meminta syarat seperti itu.
"Tidak bisa, Mom. Daddy pasti kekeh memintaku untuk tetap tinggal di rumah ini. Bagaimana caraku berbicara dengannya?" Glenda sudah pusing dengan persyaratan daddynya ketika berada di rumah Darsh. Sebagai gadis muda, tentu saja Glenda mempunyai privasi yang orang tuanya tidak boleh tahu. Apalagi ketika sudah memutuskan untuk menikah. Waktu bersama suaminya akan jauh lebih bermakna tanpa campur tangan orang tuanya.
Zelene juga tidak bisa memberikan saran lagi. Putrinya memang sudah cukup dewasa untuk memahami arti pernikahan yang sebenarnya, tetapi permintaan suaminya mungkin juga penting untuk melihat karakter menantunya lebih jauh.
"Mommy coba bantu berbicara dengan daddymu. Mommy tidak janji. Kamu tahu sendiri kan kalau daddymu punya keinginan, semuanya harus dituruti."
Zelene menyerah, tetapi tidak ingin mematahkan semangat putrinya. Dia akan mencoba menyelesaikan masalah ini. Namun, ada satu pesan yang harus disampaikan pada putrinya. Ini mungkin sempat dilupakan olehnya.
"Sayang, hari ini kamu mulai menstruasi kan?" selidik Zelene.
"Belum, Ma. Hanya sedikit flek saja," jawabnya.
__ADS_1
"Nah, kalau kamu memang ingin menunda kehamilan, jangan lupa berunding dengan Darsh setelah menikah. Perlu kamu ketahui, pernikahanmu terjadi mendekati masa subur. Biasanya akan lebih cepat hamil. Lebih baik kamu pelajari dulu tentang hal ini."
Pesan penting yang disampaikan Zelene pada putrinya agar gadis itu belajar banyak hal. Kalau soal memasak dan aktivitas di rumah, Zelene bisa melepasnya dengan tenang. Glenda gadis yang mandiri, tetapi memiliki beberapa kekurangan yang sempat disampaikan kepada Darsh tempo hari.