Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Kesempatan Terakhir


__ADS_3

"Jadi, aku harus bagaimana, Justin?" tanya Darsh melemah.


Sikapnya mulai sedikit bisa dikendalikan oleh Justin. Lelaki itu teringat akan cerita Jillian mengenai sepupunya yang selalu saja bersikap dingin terhadap siapapun. Jillian ingin kakak iparnya mendapatkan kebahagiaan berlebih saat kondisi hamil seperti ini. Namun, Darsh sulit sekali untuk merasa peduli pada istrinya.


"Hanya satu kata, Darsh. Berubah! Apa kamu tidak kasihan pada kakak ipar? Dia hamil, perutnya buncit, badannya mulai tidak terurus. Kelelahan yang teramat sangat dan yang pasti, wanita hamil juga perlu bahagia."


Sepertinya Justin benar-benar memiliki pendewasaan yang luar biasa. Walaupun Darsh atasannya, tidak menutup kemungkinan lelaki itu membutuhkan masukan darinya. Ini kesempatan bagus buat Justin daripada pusing-pusing mengajak double date atau candle light dinner, lebih baik dia pergi berdua saja dengan Jillian.


...💝💝💝...


Jillian dan Glenda sudah pergi ke butik yang dimaksud. Sebenarnya Glenda memiliki langganan butik khusus, namun untuk kali ini, dia ingin sekalian membelikan hadiah untuk Max. Dia akan menuliskan kalau kado itu dari suaminya.


"Kak, menurutmu aku harus pakai gaun seperti apa?" tanya Jillian.


"Huft, kakakmu juga tidak bilang konsep pestanya akan seperti apa. Mungkin semi formal kali ya. Kita pilih gaun yang cocok sajalah. Bebas sesuka hatimu."


Memilih dan memilah beberapa gaun. Sebenarnya Jillian tertarik pada sebuah gaun dengan belahan tinggi, tetapi belahan dadanya terlalu rendah. Ini bisa saja memancing pandangan buruk orang lain. Jillian juga memikirkan Justin. Bagaimana mungkin gadis yang dikenalnya akan mengekspos bagian tertentu tubuhnya untuk orang lain?


"Kenapa dikembalikan? Bagus kok," ucap Glenda.


"Tidak, Kak. Terlalu terbuka! Nanti mata Max bisa jelalatan melihatku," ucapnya dengan senyum mengembang.


Jillian akhirnya memutuskan untuk memilih gaun yang lebih tertutup dengan gaun leher model shanghai, berlengan pendek, dan tidak terlalu pendek menurutnya. Warnanya merah menyala, cocok sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Sementara Glenda mendapatkan gaun yang sedikit menyamarkan perutnya yang sedang hamil. Dia mendapatkan warna coklat susu dan tidak terlalu panjang. Pas sekali di badannya yang sedang hamil itu. Modelnya juga tidak terlalu wow sehingga tidak akan menarik orang lain untuk memandangnya lebih jauh.


"Sudah?" tanya Glenda.


"Iya, Kak. Oh ya, setelah ini aku mau mencari sepatu dulu, Kak. Gaun merahku ini tidak ada sepatu yang cocok," ucapnya.


"Hemm, tunggu sebentar! Kakak bayar dulu, ya?"

__ADS_1


Selesai urusannya di butik, mereka menuju ke toko sepatu. Jillian hendak mencari high heels warna putih yang cocok dengan gaunnya yang sudah sangat mencolok itu. Sementara Glenda, dia memilih sepatu ballet flats warna hitam. Dia tidak mungkin memakai high heels untuk saat ini.


"Kak, selesai dari sini, kita pergi ke mana lagi?"


"Kakak mau mencari kado untuk Max. Kira-kira apa yang cocok untuknya?" tanya Glenda.


"Entahlah, Kak. Aku belum pernah punya kekasih. Makanya aku tidak tahu harus memberikan apa."


Glenda tidak kehabisan akal. Dia mampir ke toko parfum. Rasanya nyaman sekali berada di sana. Aroma parfumnya benar-benar membuat Glenda tidak ingin pulang. Setelah memilih beberapa parfum, dia juga meminta pihak toko untuk langsung membungkusnya dan menuliskan atas nama suaminya. Dia juga membelikan beberapa parfum untuk suaminya.


"Kak, yang ini untuk siapa?" Jillian tahu kalau parfum untuk Max sudah dimasukkan box kado oleh pihak toko.


"Untuk kakakmu. Apa kamu tidak ingin membelikannya untuk Justin? Mungkin saja dia senang menerima pemberianmu."


Saran Glenda memang bagus. Apalagi beberapa waktu lalu, Jillian menerima cincin dari Justin. Sampai sekarang cincin itu tidak pernah terlepas dari tangannya.


"Baiklah, Kak. Terima kasih saranmu." Jillian mulai memilih beberapa parfum kemudian meminta dibungkus sekalian. Dia tidak akan membelikan kado untuk Max. Itu akan membuat Justin salah paham padanya.


"Kak, kenapa kita harus ke sini? Bukankah kakak sedang hamil?" selidik Jillian.


"Bukan kakak, tetapi kamu. Kakak ingin agar kamu terlihat cantik malam ini. Buatlah Justin tidak bisa berpaling darimu. Kakak yakin, dia lelaki yang pantas untukmu."


Jillian tidak bisa menolaknya. Perjuangannya untuk lari ke negara H demi mengejar orang yang mencintanya tidak akan disia-siakan. Justin pilihan terakhir untuknya. Namun, Jillian juga butuh waktu untuk memutuskannya. Makanya, selama tiga bulan ini akan dimanfaatkan dengan baik olehnya.


Rupanya Glenda tidak main-main. Dia memilihkan Jillian paket lengkap untuk seluruh tubuhnya. Walaupun perawatannya cukup lama, Glenda akan pulang terlebih dahulu. Sementara Jillian akan berada di sana untuk beberapa jam sampai perawatannya selesai. Glenda juga meminta sopir untuk menjemput lagi adik sepupu suaminya itu. Intinya, Glenda totalitas mendukung Jillian dan Justin untuk bersatu.


...🍃🍃🍃...


Jillian pulang ke rumah kakaknya menjelang sore. Tubuhnya terlihat lebih segar dan wajahnya jauh lebih menarik. Dia sangat bersyukur memiliki kakak ipar sebaik Glenda. Wanita hamil itu cukup mengerti bagaimana membuat adiknya tampil lebih menarik.

__ADS_1


"Bagaimana, Jill?" tanya Glenda yang kebetulan berpapasan di ruang tengah.


"Terima kasih, Kak. Kakak memberikan kesempatan terbaik untukku."


"Bukan kesempatan terbaik, tetapi lebih tepatnya cara yang baik untuk membuat Justin semakin tertarik padamu. Kakak mendukungmu."


"Terima kasih, Kak." Jillian berkaca-kaca mendengar ucapan kakak iparnya.


"Hei, girl. Jangan menangis, Sayang. Kamu berhak bahagia."


"Kamu juga, Kak. Kami akan membantu mengubah Kak Darsh menjadi lelaki yang perhatian dan romantis untuk kakak. Kakak sabar dulu, ya?"


Glenda mengangguk. Dia memang harus bersabar untuk beberapa waktu. Sampai suaminya benar-benar bisa mengerti dirinya.


Aku selalu bersabar untuk itu, Darsh. Karena aku mencintaimu. Namun, aku tidak bisa menunjukkan rasa cintaku padamu sebelum kamu benar-benar bisa berubah.


"Beristirahatlah, Jill! Kalau kamu lapar, ambil makanan di dapur atau minta pelayan untuk menyiapkannya."


Keliling Mal tadi, mereka memang tidak sempat makan ataupun minum. Mereka fokus untuk mengurus keperluan apa saja yang dibutuhkan. Sementara Glenda langsung makan siang di rumahnya karena dia pulang terlebih dahulu. Kalau Jillian, entahlah. Mungkin gadis itu sudah makan di sana.


Jillian yang saat ini berada di dalam kamarnya merasa berbunga-bunga. Rupanya kesempatan untuk bersama Justin jauh lebih besar.


"Aku tidak boleh mengecewakan Kak Justin. Dia sudah berbuat banyak untukku. Ini kesempatan terakhirku untuk menunjukkan pada daddy bahwa aku bisa mendapatkan lelaki yang baik untuk masa depanku."


Jillian menatap cermin. Sesekali dia berpindah melihat cincin di jari manisnya. Sepertinya Jillian mulai tergila-gila pada Justin. Sampai dia rela menerima permintaan kakaknya untuk perawatan selama berjam-jam di salon itu. Dia ingin mendapatkan kecantikan yang paripurna di hadapan Justin. Malam ini, dia berharap akan menjadi malam spesial untuknya.


...🍅🍅🍅...


Sambil menunggu update untuk hari esok, cus kepoin karya teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❣️

__ADS_1



__ADS_2