Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Mawar Pertama


__ADS_3

Rumah mewah yang terletak di perumahan elite itu menjadi saksi bagaimana perjuangan seorang Vigor Abraham dan Zelene Armstrong memulai kehidupan baru. Berkat kegigihannya, kini mereka memiliki banyak restoran yang terletak di beberapa tempat.


Walaupun restoran itu pemberian dari keluarganya, Armstrong, tetapi keduanya tidak mau tinggal diam untuk memajukan bisnis yang sudah lama diimpikan oleh Zelene.


Vigor bekerja sebagai owner sekaligus pengawas untuk semua karyawannya, sedangkan Zelene dulunya pernah masuk menjadi koki di restorannya sebelum dinyatakan hamil.


Restoran cabang telah diurus oleh orang kepercayaan Vigor yang sudah diseleksi dengan ketat. Jadi, mereka tidak akan berani mempermainkan Vigor dan keluarganya.


"Mom, sampai kapan Glen akan berpura-pura menjadi pelayan di restoran sendiri?" tanya Glen yang pagi ini baru saja bersiap.


"Sayang, Mom hanya ingin kamu belajar mengurus restoran."


"Tapi, kenapa Glen harus menyembunyikan rahasia sebesar ini, Mom? Apa alasannya?" tanya Glen penasaran.


Glenda Abraham, gadis manis yang sangat imut, masih berusia dua puluh satu tahun. Dia baru saja wisuda sarjananya. Sekarang, dia harus bekerja di restoran orang tuanya dengan menutup jati dirinya sebagai anak pemilik restoran.


"Kamu sungguh ingin tahu alasannya?" tanya Zelene.


Glenda mengangguk.


"Mom tidak ingin orang lain mengejarmu atas dasar cinta karena harta, sayang. Mom ingin kamu bisa mengenal lelaki tulus dan bukan modus. Ingat, ini bukan tempat yang nyaman untuk membuka jati dirimu sebagai anak dari pemilik restoran. Kamu akan selalu aman bila mau mengikuti apa yang Mom dan Daddy rencanakan." Zelene tidak bisa menutupinya terlalu lama. Glenda harus tau tujuannya.


"Maksudnya, Mom?" Walaupun Glenda sudah tau maksudnya, tetapi ada hal yang mengganjal di hati gadis itu.


"Maksudnya, jika ada seorang lelaki tiba-tiba datang padamu dan mengatakan jika dia tulus mencintaimu sebagai seorang pelayan, itulah lelaki yang tulus menerimamu apa adanya," ucap Zelene.


"Kalau tahu kenyataannya Glenda anak pemilik restoran, bagaimana?" Glenda yang belum pernah mengenal cinta itu semakin dibuat penasaran oleh Mommynya.


"Dia akan tetap menerimamu karena dari awal dia tidak akan peduli siapapun kamu, sayang. Percayalah akan ada lelaki sejati yang berhasil mendapatkan hatimu sebagai seorang pelayan." Zelene percaya bahwa putrinya akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini.


"Baiklah, apapun yang Mom lakukan demi Glenda, aku akan menurut saja," ucapnya.


"Gadis pintar. Ayo sarapan dulu, setelah itu Mom antar ke restoran."


Vigor sudah menunggunya di meja makan. Melihat kedua bidadarinya baru keluar kamar, Vigor memberikan senyuman terbaiknya.

__ADS_1


"Bidadari Daddy, kenapa baru keluar?" tanya Vigor pada Glenda.


"Glenda sedang curhat sama Mommy, Dad. Maafkan Glenda sudah penasaran dengan apa yang Mom and Dad rencanakan."


Glenda duduk dan mulai mengambil makanannya. Secepatnya dia harus menyelesaikan sarapan paginya kemudian bergegas berangkat ke restoran.


Zelene seperti biasa akan mengantarkan putrinya menggunakan sepeda motor. Wanita paruh baya itu sudah terbiasa naik motor daripada mobil. Terlalu lama tidak mengendarai mobil membuatnya lupa bagaimana cara mengemudikannya.


"Dad, Mommy mengantar Glenda dulu, yah. Motornya sudah disiapkan?" tanya Zelene.


"Sudah, Mom. Daddy menyiapkannya sejak pagi."


Zelene bergegas mengambil motornya dan memberikan helm pada anak gadisnya. Kenapa bukan Glenda yang membonceng Mommynya? Karena gadis itu pernah terjatuh dari motor dan itu membuatnya trauma untuk mengendarai sendiri. Dia juga tidak bisa mengemudikan mobil. Glenda sangat bergantung pada Mommy dan Daddynya.


Zelene walaupun sudah berumur, dia masih bisa menggunakan sepeda motornya dengan sangat lancar. Perjalanan dari rumahnya menuju restoran sekitar tiga puluh menit. Itu jarak yang sangat lumayan untuk seorang wanita.


Ketika sampai di depan restoran, Glenda turun dari boncengan kemudian melepas helm dan memberikan pada Mommynya. Tak lupa, dia mencium tangan Mommynya.


"Mom, Glenda bekerja dulu, yah. Mom kalau balik, hati-hati di jalan. I love you, Mom," pamitnya.


Glenda masuk ke restoran. Dia harus menuju ke mesin fingerprint untuk absensi kehadirannya. Tak ada yang di istimewakan darinya. Dia disamakan dengan pelayan atau karyawan lainnya.


Glenda masuk ke tempat penyimpanan barang dan lekas berganti dengan seragam pelayan. Dia langsung keluar menemui rekan kerjanya.


Di atas meja terdapat buket bunga mawar merah yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi sangat menarik hatinya.


Wah, siapa yang sedang beruntung mendapatkan buket bunga seindah ini? Andai saja aku yang mendapatkannya, pasti sangat bahagia sekali.


"Glenda, kamu baru datang, yah? Coba saja kamu datang lebih awal, pasti kamu tidak akan penasaran lagi," ucap salah satu rekan kerjanya.


"Hah, apa maksudmu?" tanya Glenda penasaran.


"Oh ya, itu buket bunga mawar untukmu. Tadi ada seorang pria yang datang kemari. Dia memakai jas lengkap seperti seorang CEO, sayang kita tidak terlalu memperhatikan wajahnya karena dia memakai kacamata hitam. Dia hanya berpesan pada kami untuk memberikan bunga itu pada Nona Glen. Begitu katanya."


Untukku? Apa pengirimnya tidak salah orang?

__ADS_1


Glenda mengambil buket bunga itu dan mencari kartu ucapan yang biasanya diselipkan. Sepertinya dia tidak menemukannya, tetapi ada sebuah note kecil yang sengaja diletakkan di sela-sela mawar merah itu. Untung saja tidak jatuh.


Selamat bekerja, Nona Glen. ~Mr. D~


"Cie, rupanya mulai ada secret admirer, nih," goda salah satu rekan kerjanya.


"Apaan, sih? Ini dari teman lama." Glenda beralasan. Padahal dirinya sendiri juga sangat penasaran dengan pengirim bunga mawar pertama ke dalam kehidupannya.


Glenda belum pernah mendapatkan buket bunga mawar merah seindah itu. Selera lelaki itu bisa dibilang sangat bagus sekali.


Setelah menerima mawar merah itu, suasana hati Glenda berbunga-bunga. Dia seperti mendapatkan moodboster yang luar biasa untuk mengisi hari-harinya.


Siapa kamu sebenarnya, Mr. D? Kenapa kamu memberikan perhatian ini padaku? Apa kamu mengenalku?


Rentetan pertanyaan muncul di dalam hatinya. Walaupun tidak ada jawaban yang ditemukan, Glenda sangat bahagia mendapatkan perhatian lebih sekecil itu. Andai saja dia datang lebih pagi, mungkin akan bertemu langsung dengan orangnya.


"Glenda, kamu dipanggil Tuan Vigor di ruangannya," ucap salah seorang rekan kerjanya. Dia membuyarkan lamunan gadis itu.


"Eh, iya. Baiklah, aku akan menemui Dad__" Hampir saja Glenda keceplosan. "Eh, maksudku, Tuan Vigor."


Glenda membawa serta buket itu masuk ke ruangan Daddynya.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Vigor.


Ceklek!


Glenda menutup pintunya lagi. Dia duduk di hadapan Daddynya.


"Ada apa, Dad?"


"Bunga dari siapa, sayang? Sepertinya kamu lebih banyak melamun setelah mendapatkan bunga itu?" goda Vigor.


Pria paruh baya itu tak menampik jika putrinya sudah seharusnya mulai mengenal seseorang. Selama ini, Vigor selalu melarangnya untuk berpacaran. Vigor tidak ingin anaknya terlibat cinta satu malam yang akan merugikan dirinya maupun keluarganya.

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2