Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Perasaan Jillian


__ADS_3

Max mengira kalau Justin-lah yang memanfaatkan situasi seperti ini. Dia masuk karena Frey tidak ada. Padahal di awal perkenalan mereka, Justin sudah terlihat menyerah dan mundur. Namun, kenapa kini seolah semuanya tiba-tiba berubah begitu saja. Sangat mengejutkan memang dan Max masih tidak bisa menerimanya.


Max menunjukkan rasa sukanya sejak awal dan tidak pernah mundur sama sekali. Bagaimana mungkin sekarang dia bisa dikalahkan oleh Justin yang hanya seorang asisten saja?


"Kamu pasti dipengaruhi oleh Justin, kan?" Max sepertinya tidak sadar akan ucapannya. Mungkin juga efek minuman beralkohol.


Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba Max menarik baju Justin yang posisinya sedang duduk. Justin sampai harus berdiri karena Max menariknya dengan sangat kuat. Jillian dan Glenda ketakutan pada ulah Max yang barusan. Jillian sampai melepas tangannya dari Justin.


"Justin, kamu pengkhianat! Aku membencimu." Max melayangkan pukulan pada wajah Justin, namun lelaki itu bisa menangkisnya.


Owen dan Darsh berusaha melerai, namun sepertinya keduanya sama-sama dikuasai kemarahan. Justin tentu saja tidak terima dikatakan pengkhianat. Dia membalas pukulan Max dan terjadilah perkelahian hebat. Darsh meminta Owen untuk mengajak adik dan istrinya agar keluar dari ruangan itu. Sementara Darsh akan melerainya.


"Cukup! Kalian ini kenapa, sih? Max, apa kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan, hah? Kalian saling melukai. Bukankah sudah kukatakan, Jillian bebas menentukan pilihannya. Lihatlah dirimu, Max. Kamu berulang kali menggunakan jasa wanita-wanita itu. Apa kamu sadar kalau Jillian enggan memilihmu. Aku minta maaf harus mengatakan ini. Jillian adikku dan dia berhak bahagia. Kumohon, jangan seperti ini terhadap Justin!" ucap Darsh.


Keduanya sudah babak belur akibat perkelahiannya barusan. Di sudut bibir Justin sudah mengeluarkan darah karena Max memukulinya tanpa ampun. Sementara Max, Justin hanya membela diri sehingga Max tidak terlalu terluka.


"Tapi aku tidak terima, Darsh. Aku menyukai Jillian sejak awal," ucapnya masih membela diri.


"Max, harus kukatakan berapa kali lagi. Jillian itu gadis bebas. Siapapun yang mendapatkannya, persahabatan kita tidak akan pernah terputus. Ingat itu!" sahut Owen yang baru saja masuk.


"Tapi, Owen-"


"Cukup, Max! Suka atau tidak, aku dan Jillian sudah menjalin hubungan serius. Tolong mengertilah!" ucap Justin. Dia tidak dendam, namun terkadang Max perlu mendapatkan pelajaran atas sikapnya yang keterlaluan ini.


Max terdiam. Beberapa kali mengenal perempuan, selalu saja mendapatkan penolakan. Max kaya, punya pekerjaan, royal terhadap perempuan, dan yang pasti dia memang tidak terlalu memainkan perasaannya. Berbeda kepada Jillian, Max baru menggunakan perasaannya karena gadis itu sangat menarik di matanya. Gadis muda yang mandiri.


"Max, perseteruan ini kita akhiri sekarang. Jangan bersikap seperti itu! Kamu membuat Jillian ketakutan. Anggap saja, Jillian bukan jodohmu." Darsh membawa Justin pergi untuk menemui istri dan adiknya.


Owen masih bersama Max. Dia mengambilkan obat untuk membersihkan sedikit luka yang didapat karena pukulan Justin.


"Berhentilah terobsesi pada Jillian. Masih banyak gadis lain yang bisa kamu pilih. Kalau kamu memang serius, setidaknya pilihlah salah satu dari Aimee, Helga, atau Clianta. Jangan kamu gunakan uangmu untuk membeli mereka. Berubahlah maka kamu akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kamu tahu, ulahmu hari ini jelas membuktikan bahwa Jillian memang benar tidak memilihmu. Dia tahu mana yang terbaik untuk hidupnya," jelas Owen.


"Tapi, aku menyukai Jillian," ucapnya lirih.


"Kamu ini, Max. Dewasa tapi bodoh! Sudah jelas kalau Jillian menolakmu. Masih saja ngeyel!" Owen kali ini geram sekali sama Max. Berulang kali sudah dikatakan masih saja tidak mau mendengar.

__ADS_1


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Di ruangan lain, Jillian ketakutan. Dia khawatir kalau Justin akan kenapa-nama. Glenda berusaha menenangkan adiknya itu.


"Jill, jangan khawatir! Justin akan baik-baik saja. Percayalah, kakakmu juga berada di sana."


"Tidak, Kak. Aku sangat khawatir. Max mengerikan sekali. Aku sangat takut sekali." Jillian terduduk di sofa dalam keadaan tertunduk.


Ceklek!


Pintu terbuka dan menampakkan Darsh di sana. Jillian tidak melihat keberadaan Justin. Dia mendongak dan terlihat sangat kecewa, sebab lelaki yang diharapkan kedatangannya tidak muncul. Jillian tertunduk kembali.


"Kak Darsh, mana Kakak Justin?" tanya Jillian dengan suara lirih.


Glenda mendekati suaminya dan memeluk lelaki itu. Dia bersyukur karena Darsh baik-baik saja.


"Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Darsh pada istrinya.


"Tentu saja. Lihatlah Jillian, dia begitu khawatir pada Justin. Mana dia?" tanya Glenda.


"Jill, pulanglah! Justin sudah menunggumu," ucap Glenda.


Jillian merasa pasti terjadi sesuatu pada lelaki itu. Kelihatan sekali dia tidak menampakkan wajahnya. Dengan langkah gontai, Jillian keluar dari ruangan itu menuju ke tempat parkir. Di sana, dia mencari keberadaan mobil Justin. Tak lama, gadis itu menemukannya sudah berpindah posisi di pintu keluar Kafe.


"Masuklah!" ucap Justin.


Setelah Jillian masuk, Justin segera mengemudikan mobilnya. Dia tidak ingin kalau Jillian melihat lukanya. Pasti gadis itu akan berteriak histeris.


"Masih sakit?" tanya Jillian. Gadis itu tahu kalau Max sempat menghajarnya.


"Tidak, aku baik-baik saja, Jill. Jangan khawatir," ucapnya terlihat santai.


"Kak Justin, jangan bohong! Pasti Max itu sudah membuat kakak babak belur, kan?"


Justin menghentikan mobilnya di jalanan yang menyediakan tempat parkir. Rasanya dia harus menyelesaikannya saat ini juga.

__ADS_1


"Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Justin.


"Tentu saja. Lihatlah tepi bibirmu memar, Kak. pasti ini sangat menyakitkan." Jillian berusaha menyentuh tepi bibir Justin yang lebam, namun Justin malah memegang tangan gadis itu.


"Aku baik-baik saja, Jill. Jangan khawatir! Maaf, aku tidak mengizinkanmu untuk memegangnya terlalu lama. Aku bisa khilaf padamu," ucapnya dengan senyum semringah.


"Kakak, masih sakit seperti ini tetap saja bercanda." Jillian menarik tangannya.


Jillian malu. Rupanya Justin memang baik dan tidak seperti lelaki pada umumnya. Dia bahkan menolak Jillian karena takut tidak bisa mengontrol dirinya.


"Aku tidak ingin membuatmu terluka, Jill. Aku lelaki normal. Bisa saja melakukan apapun. Apalagi kita hanya berdua, tetapi aku tidak akan berbuat buruk padamu." Justin melanjutkan laju mobilnya untuk membelah jalanan malam yang semakin padat.


"Terima kasih, Kak."


Jillian semakin yakin kalau Justin pantas untuk diajak pulang bertemu daddynya. Sepertinya, setelah menjadi asisten kakak sepupunya, Justin terlihat lebih dewasa.


"Jill, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Katakan saja, Kak. Kalau aku bisa menjawab, akan kujawab."


Justin menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia tahu, pertanyaan ini pasti akan menyakiti hatinya.


"Bagaimana perasaanmu terhadap Frey?"


Deg!


Jillian menengok sejenak ke arah Justin kemudian menatap ke depan. Inilah yang ditakutkan selama ini ketika harus mendekati lingkaran persahabatan kakaknya. Apalagi Jillian pernah menyukai Frey.


"Aku pernah menyukainya, Kak. Namun, apakah aku akan tetap bertahan pada lelaki yang tidak pernah memberikan kepastian padaku? Hidup terus berjalan, Kak. Apalagi yang kudengar, tanpa pesan dia melanjutkan pendidikannya. Mungkin, dia sedang berusaha melupakanku. Lalu, untuk apa aku menunggu? Aku butuh kepastian, Kak. Bukan harapan yang tidak tentu muaranya di mana?"


Justin lega sekarang. Keputusannya untuk melanjutkan hubungan dengan Jillian semakin jelas. Dia tidak akan menyakiti gadis itu. Namun, pada akhirnya kalau dia berjodoh, maka Justin harus siap ikut ke negara tempat tinggal keluarga Jillian untuk melanjutkan bisnis keluarganya.


...🌿🌿🌿...


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren ini. Bisa marathon tuh, udah End. Cus jangan lupa tinggalkan jejaknya ❣️

__ADS_1



__ADS_2