Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Bertolak Belakang


__ADS_3

Glenda turun dari mobil dengan membawa dua box pemberian Darsh. Dia langsung masuk ke rumah dan mengabaikan Daddynya yang belum turun dari mobil. Glenda bertemu Mommynya di ruang tamu.


"Baru pulang, sayang? Mana Daddy?" tanya Zelene.


Glenda belum menjawab sudah didahului oleh Daddynya.


"Putrimu itu sudah mempunyai pesaingku. Makanya dia melupakan jika Daddynya belum turun dari mobil. Benar begitu, Glenda?" sahut Vigor.


Glenda hanya tersenyum memegangi dua box yang dibawanya.


"Apa itu, sayang?" Zelene melihat dua kotak yang sedang dipegang Glenda.


"Rahasia, Mom. Boleh Glenda langsung masuk ke kamar?" Glenda merasa malu untuk menunjukkannya pada kedua orang tuanya.


"Masuklah. Jangan lupa bersihkan dirimu. Ingat, jangan terlalu larut dengan kebahagiaan semu, sayang. Bisa jadi akan membuatmu terluka lebih cepat. Pikirkan hal yang realistis," pesan Zelene.


"Baik, Mom." Glenda secepatnya masuk ke kamar. Dia akan langsung membuka pemberian Darsh yang sudah membuatnya penasaran sejak berada di restoran.


Buru-buru Glenda membuka pintu yang membuatnya hampir menjatuhkan salah satu box itu.


"Huft, untung saja tidak jatuh," gerutunya.


Glenda lekas mengunci pintu kamarnya. Dia tidak ingin orang tuanya tahu tentang hadiah yang diberikan Darsh. Glenda pasti akan langsung digoda mereka.


Glenda meletakkan box itu di atas ranjangnya. Tak lupa, dia melepas tas kecil yang selalu melingkar di pundaknya.


"Sebaiknya aku mandi dulu, setelah itu baru membukanya," ucap Glenda. Dia masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk di tangannya.


Biasanya Glenda akan berlama-lama di kamar mandi, tetapi tidak untuk hari ini. Rasa penasaran yang terlalu tinggi membuatnya harus menyudahi ritual mandinya. Dia mengeringkan rambutnya setelah itu mengambil satu stel baju.


Setelah selesai, Glenda memakai bedak tipis agar terlihat lebih segar. Bergegas dia naik ke ranjang. Sebelum itu, dia menyiapkan ponselnya karena berharap akan mendapatkan balasan dari Darsh. Nyatanya setelah Glenda mengirimkan pesan balasan, lelaki itu tak kunjung membalasnya.


"Kenapa tidak membalas pesanku?" gerutunya.


Glenda mulai membuka box pertama yang ukurannya tidak terlalu besar tetapi sangat menarik baginya. Glenda tersenyum melihat isi box pertama berupa coklat berbagai jenis. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak.


Glenda mencari pesan yang terselip di dalam kotak coklat itu, tetapi dia tidak menemukannya.


"Hemm, mana pesannya? Kenapa Darsh tidak menuliskannya untukku?"


Glenda beralih ke kotak kedua yang ukurannya lebih besar. Dibukanya perlahan dan membuat Glenda tersenyum lebih lebar dari yang sebelumnya.


"Wow, ini keren. Semua ukuran binder diberikan untukku. Lengkap dengan bolpoinnya juga. Wah, kamu sangat romantis, Darsh," ucapnya semakin bersemangat.

__ADS_1


Lagi-lagi Glenda harus kecewa karena tidak menemukan pesan yang terselip di dua box itu. Hampir saja dia mengirimkan pesan untuk menanyakan perihal itu.


"Mungkin dia lupa menuliskannya." Glenda mengambil semua binder itu lalu diletakkan di meja belajarnya. Tak lupa, beberapa bolpoin pemberian Darsh dimasukkan ke dalam kotak penyimpanannya.


Di luar, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok.


Glenda buru-buru merapikan ranjangnya. Dia tidak menyadari jika sebuah amplop kecil jatuh ke lantai.


"Tunggu sebentar!" jawab Glenda. Gadis itu segera membuka pintu.


Ceklek!


"Tumben sekali pakai dikunci, sayang," ucap Zelene.


"Lupa, Mom," ucapnya berbohong. Padahal dia sengaja agar Mommynya tidak tahu tingkahnya saat membuka box tersebut.


"Hemm, apa isinya, sayang? Boleh Mommy tahu?" tanya Zelene penasaran.


"Hanya coklat dan beberapa binder lengkap dengan bolpoinnya, Mom," ucapnya jujur.


"Wah, romantis sekali lelaki itu. Siapa namanya?" Zelene duduk di ranjang putrinya. Tak sengaja kakinya menginjak lipatan kertas di lantai.


Ketika Glenda berbalik arah menuju meja belajarnya, Zelene memungut sebuah amplop kecil yang ada di lantai itu.


Ceroboh sekali putriku. Sampai sampah yang jatuh saja dia tidak tahu. Apa ini? Seperti semacam surat.


Zelene membuka amplop kecil itu dan mengeluarkan isinya. Selembar kertas kecil berisi pesan singkat. Sangat tidak mencerminkan sikap romantis seorang lelaki kepada perempuan.


Maaf, hanya coklat dan binder. ~Mr. D~


"Sayang, apa kamu sudah membaca ini?" Zelene menunjukkan kertas kecil beserta amplop yang telah dibukanya.


"Mommy? Mommy menemukannya dimana? Aku daritadi mencarinya." Glenda mendekati Mommynya dan mengambil kertas itu dari tangannya. "Mommy sudah membacanya?"


Zelene mengangguk. "Tidak romantis sama sekali, sayang."


Glenda sebenarnya kecewa karena Mommynya lebih dulu membacanya. Bukan karena pesannya yang tidak romantis. Dia seperti menjadi orang kedua setelah Mommynya.


"Maafkan Mommy. Mommy terlalu penasaran dengan siapa sebenarnya Mr. D itu. Mommy pikir dia akan memberitahukan nama aslinya, tetapi masih saja inisialnya."


"Aku sudah tahu namanya, Mom. Apa Mommy masih penasaran?" goda Glenda. Kali ini, gadis itu akan membalas perbuatan Mommynya.

__ADS_1


"Siapa, sayang? Mommy penasaran." Zelene mendekati putrinya dan memaksa gadis itu untuk berkata jujur.


"Rahasia, Mom."


Glenda belum mau orang tuanya tahu nama lelaki itu. Biarlah hanya dia yang tahu untuk saat ini. Lagipula pendekatannya juga masih membutuhkan waktu yang lumayan lama.


"Hemm, baiklah. Setelah ini, jangan lupa bantu Mommy di dapur. Kamu tidak mau kan jika punya mertua galak nantinya. Kamu harus pandai dalam segala hal. Oke, sayang?" ucap Zelene kemudian keluar dari kamar gadis itu.


Glenda bergegas mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Darsh.


[Darsh, terima kasih hadiahnya. Aku sangat menyukainya.]


Glenda meletakkan kembali ponselnya. Dia berharap agar lelaki itu lekas membalasnya, tetapi sayang. Harapannya sia-sia.


Sebenarnya kamu itu lelaki seperti apa, Darsh? Kenapa setelah membuat aku berbunga-bunga, malah kamu acuhkan seperti ini. Rasanya sakit, tetapi tidak berdarah. Hanya kesal saja, sih.


Glenda merebahkan dirinya di atas ranjang. Sejenak melupakan Darsh membuatnya nyaman, namun ingatan wajah lelaki itu membuat Glenda senyum-senyum tidak karuan.


Tring!


Ponselnya berbunyi. Bergegas dia mengambil dan membukanya.


[Sama-sama.]


Hanya pesan pendek itu yang diterimanya membuat Glenda menepuk jidatnya sendiri.


"Ya ampun, ini sangat tidak romantis sekali. Aku pikir akan mendapatkan balasan yang lumayan panjang," ucapnya.


Glenda yang baru pertama kali merasakan perhatian dari lawan jenis membuatnya merasa di ajak terbang ke awan kemudian dihempas begitu saja ke dasar lautan. Setelah mendapatkan nomor ponselnya, Darsh malah mulai menunjukkan sikap aslinya yang membuat Glenda merasa galau yang luar biasa. Padahal Glenda ingin berbicara langsung kepadanya.


Glenda mulai mengetik pesan balasan lagi. Terkesan seperti mengejarnya, tetapi mau bagaimana lagi. Dia juga butuh kejelasan dari semua ini.


[Bagaimana kalau tiga hari lagi kita bertemu?]


Terkirim. Glenda harap-harap cemas menanti jawabannya.


Tring!


"Wah, cepat sekali dia membalasnya." Glenda bergegas membuka ponselnya dan nampak jelas raut kecewa di wajah gadis itu.


[Maaf, aku sibuk!]


Glenda rasanya seperti mengenal dua orang kembar yang mempunyai karakter bertolak belakang. Dia tidak tahu kedepannya akan seperti apa hubungannya dengan Darsh yang baru saja dimulai.

__ADS_1


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


__ADS_2