
Seperti yang Mamanya ucapkan kemarin, hari ini Darsh harus pergi ke Bandara untuk menjemput Jillian dan keluarga. Khusus hari ini, Darsh tidak datang ke kantor dan tidak menampakkan wajahnya di hadapan Glenda.
"Pa, aku hari ini tidak ke kantor. Mama memintaku untuk menjemput Jillian," ucapnya di sela-sela sarapan pagi.
"Hemm," jawab Dizon.
"Pa, hari ini jangan lupa usahakan pulang lebih cepat. Mama pasti langsung mencarimu," kata Olivia.
"Hemm."
Tidak heran, Dizon selalu saja membuat orang di sekitarnya ikut kesal. Olivia sudah terbiasa dan tidak peduli lagi. Apalagi Darsh, lelaki itu jarang sekali berbicara dengan Papanya.
Selepas Dizon berangkat ke kantor, Darsh kembali ke kamarnya. Dia hanya mengembalikan kunci mobil Frey. Menjemput Jillian dan keluarganya, Darsh akan memakai mobil Mamanya.
"Ma, aku pinjam kunci mobilnya," ucap Darsh.
"Untuk apa? Mobilmu belum kembali?" tanya Mamanya yang baru saja selesai membersihkan meja makan.
"Belum, Ma. Frey belum mengembalikannya."
"Ambilah di gantungan kunci depan kamar Mama."
"Terima kasih, Ma."
Darsh bergegas menuju ke mobil. Dia tidak boleh terlambat. Grandpa-nya pasti akan mengomel padanya.
"Rasanya aku sangat merindukan Grandma. Wanita tua itu sebelas duabelas dengan Mama. Beda sekali dengan Grandpa," lirih Darsh. Dia berangkat seorang diri menuju Bandara.
Menurut informasi yang didapatkan dari Mamanya, dua jam lagi pesawat yang mereka naiki akan landing. Darsh lebih baik menunggunya di sana.
Satu jam perjalanan membuat Darsh ingin beristirahat dulu selama setengah jam. Barulah dia akan menunggu kedatangan Jillian bersama keluarganya.
Darsh mampir sekedar untuk meminum kopi sebelum mereka datang.
"Rasanya aku sudah merindukan Glenda, tetapi aku gengsi untuk mengirimkan pesan padanya. Dia juga tidak mengirim pesan padaku," gerutunya. Dasar Darsh, minta diperhatikan, tetapi tidak mau memperhatikan terlebih dahulu.
Setengah jam untuk sekadar meminum kopi merupakan waktu tersingkat untuk Darsh. Setelah melihat jam tangannya, dia ke kasir untuk membayar satu cup kopinya. Darsh kemudian menuju ke tempat tunggu kedatangan pesawat di jalur Internasional.
Darsh sengaja duduk di kursi tunggu. Kalau Omnya datang, pasti langsung bisa mengenali dirinya tanpa harus berdiri menengok ke sana ke mari.
Darsh mengambil ponselnya. Sebenarnya dia ingin mengirim pesan pada Glenda. Darsh sudah mengetiknya kemudian menghapusnya lagi. Rasanya aneh jika dirinya mengirim pesan pada gadis itu.
__ADS_1
"Ah, biarkan saja untuk beberapa saat. Lagi pula aku masih sibuk mengurus kedatangan mereka." Darsh memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
Tak lama, dari jauh kelihatan Omnya yang berjalan paling depan dengan menarik beberapa koper yang dibantu oleh tantenya.
Darsh lekas mendekati mereka dan menyapanya.
"Halo, Om, tante, Grandpa, Grandma ... kok sepertinya ada yang kurang? Jillian mana, Om?"
"Hei, Darsh. Apa kabar?" balas Felix.
"Darsh baik, Om. Jillian mana?" tanya Darsh lagi. Tanpa kehadiran gadis itu, dia akan dicap pembohong oleh semua sahabatnya.
"Hai, Kak Darsh," sapa seorang gadis dari arah lain.
"Kamu itu, Jill. Kemana-mana selalu hobi mampir ke toilet," sindir Grandpa Denzel.
"Sudahlah, Denzel. Jangan ribut terus dengan cucumu," tegur Grandma Carlotta.
"Hemm, Jillian hanya ingin buang air kecil, Grandpa," jawabnya.
Jillian tipe gadis pendiam dan sangat cerdas. Persis seperti Felix, Daddynya.
"Kamu datang sendirian, Darsh?" tanya Grandma Carlotta.
"Ma, Pa, langsung saja ke mobil, ya? Biar lekas sampai rumah Kak Dizon," usul Felix.
"Ayo. Aku sudah rindu dengan Olivia," balas Grandma Carlotta.
"Ma, sini kubantu membawa tasnya," ucap Kayana.
Grandma Carlotta memberikan tasnya pada menantunya kemudian berjalan dibantu Jillian. Usianya yang sudah renta membuat wanita tua itu gampang sakit. Sisa kecantikan masa mudanya masih saja terlihat.
"Mobilnya ada di sana, Om." Darsh menunjuk arah kanan dari tempatnya.
Mereka semua berjalan menuju tempat yang di maksud. Darsh membantu Omnya membawa beberapa koper.
Felix dan Darsh lekas memasukkan semua koper itu ke dalam bagasi. Kayana membantu Mama mertuanya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Setelah itu, giliran Felix yang membantu Papanya untuk masuk. Jillian dan Mamanya duduk di kursi penumpang paling belakang dan Felix, duduk tepat di samping Darsh yang mengemudikan mobilnya.
"Sudah lengkap semua?" tanya Darsh.
__ADS_1
"Langsung jalan saja, Darsh!" seru Grandpa Denzel.
"Iya, Grandpa." Darsh mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan sedang. Dia sengaja agar semua orang yang ada di dalamnya menikmati jalanan menuju ke rumahnya.
"Darsh, Om sudah lama tidak ke sini. Adakah restoran yang enak dan nyaman untuk dikunjungi?" tanya Felix.
Deg!
Pertanyaan Omnya itu mengingatkannya pada Glenda, pelayan restoran ZA. Sebenarnya dia tidak ingin membawanya ke sana, tetapi makanan di sana sangat rekomendasi sekali. Darsh tidak bisa membohongi kenyataan itu.
"Ada, Om. Nanti kalau sudah longgar, aku akan membawa kalian semua ke sana. Tempatnya sangat nyaman dan mengenai makanannya, Om nanti bisa berkomentar," jelas Darsh.
Hemm, aku harap Om Felix lupa. Aku sengaja mengabaikan Glenda dalam beberapa hari ke depan. Rasanya untuk bertatap muka dengannya lagi membutuhkan kekuatan penuh.
"Awas, Darsh!" seru Omnya yang membuat Darsh tersadar jika di depannya ada lampu merah yang harus membuatnya berhenti.
"Maaf, Om. Aku tidak bermaksud membuat kalian semua takut," ucapnya.
"Lain kali hati-hati, Darsh!" tegur Grandpa-nya.
Darsh terdiam. Setelah lampu berganti menjadi hijau, Darsh melanjukan kendaraannya lagi. Sepanjang jalan Darsh lebih banyak diam, hingga akhirnya Jillian membuatnya berkata lagi.
"Kak Darsh sudah memiliki kekasih?" tanya Jillian. Gadis itu bersuara lebih keras dari biasanya. Dia tidak tahan dengan rasa penasarannya. Sepupunya yang sangat tampan itu pasti banyak digandrungi semua gadis. Andaikan Jillian bukan sepupunya, bisa dipastikan dirinya juga jatuh cinta pada Darsh.
"Ngomong apa, Jill? Darsh itu tipe pemilih seperti Grandpa," sahut Grandpa Denzel.
"Hemm, Grandpa selalu saja begitu," gerutu Jillian.
"Sayang, jangan berdebat dengan Grandpa!" seru Kayana, Mommynya Jillian.
"Jill, jangan khawatir, sayang. Pertanyaan Daddy-pun sama sepertimu, nak," sahut Felix.
Darsh yang merasa tersudut tidak mampu menjawab apapun dari satu pertanyaan itu.
"Grandma tidak setuju jika Darsh memiliki kekasih. Mamamu pasti sudah menyiapkan calon untuk CEO sepertimu, Darsh," sambung Grandma.
Ah iya, Mama bahkan mendukung hubunganku dengan Glenda. Namun, bagaimana dengan Papa dan Grandpa? Apa keduanya setuju karena Glenda hanya orang biasa. Dia bahkan bekerja sebagai pelayan restoran.
"Mungkin saja, Grandma. Darsh belum membicarakan soal itu dengan Mama. Lagi pula Darsh juga masih muda. Masih jauh untuk menjalani hubungan yang serius," ucapnya.
"Nah, Granpa setuju kalau soal itu. Bekerjalah dulu dengan benar, maka kamu bebas memilih gadis mana yang akan kamu nikahi nantinya," ucap Grandpa Denzel.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah Darsh semakin seru karena mereka semua menyudutkan Darsh untuk mencari gadis yang sepadan dengannya. Yang paling menonjol adalah Grandpa. Pria tua itu masih saja pemilih dan harus melihat latar belakang keluarga gadis itu. Darsh tidak mau ambil pusing. Pikirannya tentang Glenda menari indah di pelupuk matanya. Dia masih harus berjuang antara pekerjaan dan cintanya.
🍋🍈🍋🍈🍋🍈🍋🍈🍋🍈🍋🍈🍋🍈