Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Grandma Jenica Sakit


__ADS_3

"Baiklah, kita sepakat," jawab Darsh. "Kita akan check out malam ini dan langsung ke rumah grandma kembar."


Darsh tidak bisa bertahan terlalu lama di hotel. Apalagi mengingat permintaan Glenda yang mendadak. Selama di negara T, dia harus memaksimalkan waktu untuk bertemu dengan grandma kembarnya. Namun, ada satu hal yang paling dirindukan Glenda. Bertemu dengan Aquarabella di tempat grandma kembar.


"Darsh, aku langsung kembali, ya? Kalau kamu perlu sesuatu mendadak, kabari aku," pamit Frey.


"Frey, kami masih merindukanmu," sahut Owen.


"Pergilah ke rumah grandma dulu, setelah itu kita bisa bertemu lagi. Bukan begitu, Daddy Darsh?" balas Frey.


Rasanya sangat lucu. Frey memanggil Darsh dengan sebutan Daddy sehingga mengundang tawa sahabatnya yang lain.


"Jangan tertawa, Owen! Ingat tujuan kalian ke sini untuk menjadikanmu seorang Daddy juga."


Glenda berusaha menepuk dada suaminya untuk tidak tersulut emosi karena ucapan Frey barusan.


"Sabar, Sayang. Frey hanya bercanda. Jangan terlalu diambil hati," ucap Glenda.


Willow pun mendekati suaminya untuk tidak bercanda dengan Darsh. Tumben sekali lelaki itu tiba-tiba emosi.


"Owen, sebaiknya kita ke hotel dan bersiap-siap. Kita akan ikut Darsh ke rumah grandma kembar," ucap Willow.


Frey dan Mezzaluna telah kembali. Tinggal dua pasang suami istri yang masih berada di pantai. Walaupun Darsh baru saja datang, setidaknya sudah cukup untuk berduaan dengan istrinya. Kini, mereka semua kembali ke kamar hotelnya masing-masing.


"Kita pergi ke rumah grandma seusai makan malam!" ucap Darsh yang memutuskan berpisah di lorong menuju kamarnya.


Kesempatan langka berdua dengan istrinya tidak akan disia-siakan begitu saja. Dia ingin menikmati quality time yang sebenarnya.


"Kenapa menunggu setelah makan malam, Darsh? Bukankah kita sampai sana semakin larut?" Glenda tidak terima. Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh, tetap saja kalau ke sana membutuhkan waktu.


"Aku ingin berdua denganmu, Sayang. Kalau di rumah grandma kembar, kita tidak bisa ngapa-ngapain."


"Memangnya kamu mau apa?"


"Berkuda denganmu. Aku sudah merindukannya, Sayang."


Setelah beberapa bulan pasca melahirkan, Darsh belum berani mengajak istrinya untuk olahraga berkuda. Pasalnya, dia tidak tega kalau bekas jahitan di perutnya masih sakit atau apalah.


"Hah, berkuda? Bukankah di sini tidak ada kuda?"

__ADS_1


"Jangan sok polos, Glenda! Kita sudah menghasilkan dua bayi kembar dan kamu masih bertanya tentang olahraga berkuda?"


Sebenarnya bukan pura-pura polos, hanya saja akan seperti apa jadinya kalau ini masih siang menjelang sore. Akan sangat melelahkan jika harus menuruti keinginan Darsh, tetapi bagaimana pun juga itu sudah kewajibannya.


"Ti-tidak, Darsh. Aku tidak bermak-"


Glenda tidak bisa menyelesaikan ucapannya keburu Darsh menyerangnya dengan ciuman yang memabukkan. Sebelum ini terjadi, Darsh keburu mendekati istrinya dan memojokkan wanita itu ke tembok. Darsh tak lagi malu. Bahkan, dia terlihat sangat agresif.


Glenda mendorong tubuh suaminya. Sejak tadi, Darsh menciumnya tanpa henti sampai Glenda kesulitan untuk bernafas.


"Darsh, ini berlebihan! Aku sampai tidak bisa bernapas."


"Aku masih merindukanmu, Sayang. Aku menginginkannya. Boleh, ya?"


Tak ada penolakan. Glenda menyiapkan bathtub untuk sesi mandinya. Dia ingin lebih segar sebelum berkuda dengan sang suami. Ya, walaupun ini kedua kalinya setelah wedding anniversary-nya kapan hari, Glenda ingin tampil secara maksimal.


Begitu juga dengan Darsh. Dia juga hendak menyiapkan dirinya sebaik mungkin untuk memberikan sesuatu yang istimewa di sore hari menjelang malam.


Tanpa permisi, Darsh rupanya masuk ke dalam kamar mandi dan melihat pasangan hidupnya itu sedang berendam. Darsh tiba-tiba masuk ke bathtub dan mengejutkan istrinya.


"Sayang, antre dulu, dong!" protes Glenda.


Kalau sudah begini, Glenda mana bisa mengusir suaminya selain tetap mengikuti ajakan suaminya yang tak bisa ditunda lagi. Darsh mulai mengajarkan teknik berkuda yang baik dan benar menurut versinya. Perlahan namun pasti, Darsh mengecup bibir istrinya. Perlahan namun pasti mulai menyusuri jalanan yang mengarah pada inti tujuannya. Namun, hendak mencapai puncak kebahagiaannya, bel kamar berbunyi. Sepertinya ada tamu, namun siapa yang menggangunya di sore yang indah ini?


"Sial! Siapa yang menganggu?" umpat Darsh.


"Aku tidak tahu, Darsh. Lebih baik kamu turun dulu. Ambil bathrobe milikmu. Aku lupa membawa bathrobe-ku."


Mau tidak mau, Darsh harus turun dan mengusir pengganggu yang datang tiba-tiba.


Ceklek.


Darsh sudah membuka pintunya dan melihat orang asing yang berada di hadapannya. Sepertinya dia mengenal pria paruh baya yang sedang berdiri di hadapannya.


"Om?"


Ya, yang datang adalah kakak dari mommy mertuanya, Sean Armstrong. Pria paruh baya itu sengaja menjemput keponakannya karena mendadak grandma Jenica masuk rumah sakit.


"Maaf, aku terpaksa datang ke sini. Mertuamu yang mengatakan kalau kalian berada di hotel ini. Mana Glenda?"

__ADS_1


"Silakan masuk, Om." Darsh hendak marah, tetapi mengingat siapa yang datang, Darsh berusaha menetralkan amarahnya. "Glenda masih di dalam."


Rencana yang sudah dibuat sedemikian rupa harus berakhir solo. Tidak mungkin Darsh melanjutkan aktivitasnya, sementara keluarga pihak istrinya datang.


Darsh masuk ke kamar mandi kemudian menemui istrinya dan menyampaikan kedatangan Om-nya.


"Om Sean yang datang, Sayang. Lekas temui dia. Aku mau melanjutkan mandi dulu. Ingat, kali ini kita gagal berkuda. Aku akan mencari waktu yang tepat supaya tidak gagal lagi."


Glenda seperti tersenyum malu pada suaminya. Bukan saatnya untuk terus mengobrol. Sampai di ruang tamu, Om-nya sudah menunggu di sana.


"Om?"


"Syukurlah kamu keluar. Om melihat gelagat aneh pada suamimu."


"Biasa, Om. Dia lagi sensitif hari ini. Mungkin juga karena kelelahan setelah perjalanan jauh. Om tumben menyusulku ke sini. Ada apa?"


"Grandma masuk ke rumah sakit."


"Yang mana, Om? Grandma Jenica atau Jelita?"


"Grandma Jenica. Baru masuk ke rumah sakit semalam. Namun, Om mau mengirim pesan mendadak padamu dilarang grandma. Dia memintaku untuk menjemputmu."


"Om, kami akan segera ke sana bersama Willow."


Deg!


Sean terdiam. Dia memikirkan sebuah nama yang disebut Glenda barusan. Sepertinya ada cerita yang sempat dilewatkan. Namun, itu tidak penting untuknya saat ini. Yang paling penting, Sean bisa menjemput keponakannya dengan segera.


"Kamu ke rumah sakit bareng Om, ya?" Sean berusaha meminta persetujuan Glenda.


"Tidak, Om. Glenda akan pergi bersamaku," sahut Darsh yang baru saja keluar.


"Baiklah. Lekaslah pergi ke rumah sakit X kamar VVIP nomor 3. Grandma sudah berada di ruang rawatnya."


Sean pamit dengan membawa ribuan pertanyaan. Dia penasaran, apakah Willow yang dimaksud adalah gadis kecilnya dulu?


"Sayang, kenapa Om-mu tiba-tiba pergi?"


"Entahlah. Sepertinya karena kepikiran kondisi grandma yang sedang sakit. Sayang, aku bersiap dulu. Kita tetap akan pindah ke rumah grandma. Aku akan menyiapkan semua koper kita. Tolong kamu kirim pesan pada Owen. Minta dia bersiap dengan segera."

__ADS_1


Darsh lekas menjalankan apa yang istrinya ucapkan barusan. Setelah selesai, kini mereka sudah menunggu Owen dan Willow di basemen. Tujuannya langsung ke rumah sakit X seperti ucapan Om-nya barusan.


__ADS_2