
"Tunggu! Daddy heran, sebenarnya apa tujuannya?" ucap Vigor lagi. Baru kali ini dia mengetahui ada hal serumit ini. "Dan, apakah orang tuamu juga tahu?"
Darsh menggeleng. "Aku tidak bisa mengatakannya tanpa bukti apapun, Dad."
"Lalu, bagaimana kalau orang tuamu tujuan sebenarnya?"
Deg!
Motifnya untuk apa mendekati orang tuanya? Apakah dosa di masa lalu mereka yang membuat Willow harus membalas dendam?
"Apakah aku harus menyampaikannya?" Darsh meminta pendapat dari daddy mertuanya.
"Kurasa itu perlu, Darsh. Alasannya adalah sebelum Willow masuk dan memecah belah keluargamu," ucap Vigor yakin.
"Tapi, Dad ... kenapa harus orang tuaku? Bukankah masa lalunya lebih condong pada Om Sean yang notabene adalah mantan suami mamanya."
"Nah, iya. Dad, apakah ini sebuah konspirasi? Maksudku, sebenarnya kedua orang tua Willow baik-baik saja. Mamanya yang kabarnya sudah meninggal itu sebenarnya masih hidup. Papanya juga tidak seburuk yang dia ceritakan pada semua orang."
"Orang tuaku menyaksikan bagaimana mamanya dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit. Bahkan, sampai mamanya meninggal." Darsh tahu pada kondisi ini, orang tuanya hanya melihatnya dari video call. Sebenarnya Dizon dan Olivia sudah dipaksa untuk menjenguk mamanya pada saat di rumah sakit, tetapi mereka menolaknya.
"Bisa saja itu sebuah pancingan agar orang tuamu datang ke sana. Berhubung papa dan mamamu tidak datang, selepas mamanya meninggal, dia kembali lagi untuk melanjutkan rencananya. Dan, yang Daddy heran, kenapa dia juga mau menikah dengan Owen kalau tujuannya kamu? Bukankah seharusnya dia menargetkan dirimu?" terang Vigor pada menantunya.
"Mungkin saja itu caranya untuk masuk dalam kehidupan kami, Dad. Apalagi melihat Darsh sudah menikah. Tak ada alasan lagi yang membuatnya bertahan di sini selain ikatan pernikahan. Apalagi Daddy kan tahu sendiri kalau Max sedang di penjara. Bahkan, dia hampir menikah dengan Max." Glenda pun mulai menyusun teka-teki untuk menarik benang merah masalahnya.
"Sungguh di luar dugaan, Dad. Helga, teman dekat Max pun menghilang dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Aku merasa kasihan sekali pernah mengkambing hitamkan Max dalam posisi ini. Aku baru menyadari kekeliruannya kemarin malam setelah aku bertemu dengannya."
Vigor sudah tahu alasan detail kenapa Max sampai dipenjara. Bahkan, pengacara Max kala itu seolah pasrah jika kliennya harus mendekam di sana. Bukti kuat jelas tertuju pada Max sebagai tersangka utamanya.
"Darsh, kurasa kita bisa membuat orang tuamu mengerti. Namun, ada baiknya Dizon tidak tahu," ucap Vigor.
Hal itu membuat Darsh menelisik apa maksud perkataan daddy mertuanya itu.
"Jadi, maksud Daddy, hanya mama yang bisa mengetahuinya? Alasannya apa sehingga papaku tidak boleh tahu mengenai hal ini?"
"Sebelumnya Daddy minta maaf. Olivia tipe wanita yang cukup bisa diandalkan dalam hal ini. Namun, papamu terkadang seperti ABG labil yang gampang terperdaya. Itu menurut pengamatanku."
Glek!
Pria kulkas 4 pintu yang mulai mencair itu seperti ABG labil? Darsh merasa ada benarnya juga tidak memberitahu papanya.
"Baiklah, Dad. Aku sudah memutuskan untuk memberitahu mama saja."
"Bagaimana caramu memberitahunya?"
"Aku akan memintanya ke kantor. Selebihnya itu urusanku."
"Darsh, aku takut kalau Willow memata-matai mama yang datang kepadamu."
"Kamu jangan khawatir, Sayang," ucap Darsh meyakinkan Glenda.
__ADS_1
...*****...
Keesokan harinya Olivia mendadak terkejut. Pasalnya Darsh memintanya untuk datang ke kantor dan membawa makanan kesukaan putranya itu.
"Ma, mau ke mana?" tanya Dizon.
"Ke kantor. Putramu minta dikirimi makan siang. Aneh sekali, kan?"
"Ya sudah, pergi saja. Mau diantar atau naik taksi saja?"
"Naik taksi saja. Mungkin aku juga mau mampir belanja."
"Baiklah, hati-hati di jalan." Dizon mengecup kening istrinya.
"Kau ini, masih selalu romantis."
"Hemm, tentu saja."
Olivia lekas menaiki taksi online yang sudah dipesannya. Dia tidak mau terlambat karena makan siang tinggal beberapa jam lagi. Sepanjang jalan, suasana jalanan lengang sehingga kendaraan yang lalu lalang pun bisa dihitung dengan jari.
"Nyonya, maaf. Sepertinya di belakang ada yang mengejar mobil ini." Sopir taksi melihat mobil yang terus saja mengikutinya.
"Biarkan saja. Mungkin orang yang kebetulan lewat saja," balas Olivia. Bersamaan dengan itu, mobil yang mengikutinya berhenti tepat di hadapannya.
"Willow?" ucap Olivia ketika melihat siapa yang turun dari mobil itu. Kemudian mobil itu langsung pergi begitu saja.
"Ikut Mama. Memangnya Mama mau ke mana?"
"Oh, ayo masuklah! Mama mau ke kantor Darsh. Hari ini dia minta Mama siapkan makan siang. Rindu masakan Mama, katanya."
"Oh, kebetulan sekali. Tadinya aku mau ke rumah, tetapi melihat mama keluar naik taksi, Willow terpaksa mengikuti Mama sampai ke sini."
"Iya, tidak apa-apa. Oh ya, suamimu bekerja, ya?" tanya Olivia.
"Iya, Ma. Dia itu kan pria yang sangat bertanggung jawab. Ya, beda tipis dengan Darsh, lah."
"Iya, putraku itu sangat menyayangi istrinya sehingga dia tidak sedikitpun membiarkan istrinya untuk keluar rumah."
Willow tidak menanggapinya. Dia malah mengepalkan tangannya karena kesal kalau Darsh adalah pria yang baik dan sayang kepada istrinya.
Taksi sudah memasuki halaman parkir kantor DD Corporation. Olivia dan Willow turun bersama-sama. Olivia menemui resepsionis dan menanyakan tentang putranya. Resepsionis tak ambil pusing karena Darsh sudah memberitahu kalau mamanya akan datang dan meminta untuk langsung masuk ke ruangannya.
"Ayo, Willow," ajak Olivia. Wanita paruh baya itu bahkan mengajaknya berjalan beriringan. Sampai di depan ruangan Darsh, Olivia mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Darsh dari dalam.
Ceklek!
__ADS_1
Darsh mengira yang datang hanya mamanya.
"Mama? Syukurlah Mama akhirnya datang juga."
"Iya, Mama datang bersama Willow," ucapnya. Willow baru muncul ketika Olivia sudah masuk.
Deg!
Darsh terkejut. Semua rencananya buyar begitu saja. Dia mengira kalau Willow sudah mengendus rencananya sehingga mendadak gadis itu ikut mamanya.
"Kok kamu melihat Mama seperti melihat hantu saja," ucap Olivia yang tidak tahu masalah Willow dan putranya.
"Oh, kupikir Mama akan datang bersama papa." Darsh harus berpura-pura tidak terjadi sesuatu.
"Papamu mana mau datang. Mama tak sengaja bertemu Willow di jalan. Benar begitu kan, Willow?"
"Iya, Ma. Sebenarnya aku mau main ke rumah Mama karena aku kesepian di apartemen. Suamiku juga sedang berada di Kafe," ucapnya.
Dasar ratu drama! Apa yang akan kamu lakukan pada Mamaku, hah? Awas saja kalau terjadi hal buruk pada Mama. Aku tidak segan-segan untuk memenjarakanmu. Batin Darsh.
"Duduk, Ma! Willow, silakan duduk juga. Maaf, aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebentar." Tak ada alasan lain selain menghindari Willow. Darsh harus pura-pura bekerja agar Willow tidak mencari kesempatan.
"Darsh, kamu lanjutkan bekerja dulu. Makanannya Mama bawa ke pantry dulu, ya? Mama mau siapkan di sana," ucap Olivia meminta izin. "Willow, apa kamu mau ikut Mama ke pantry?"
"Mama pergi saja," ucap Darsh.
"Willow mau di sini saja, Ma. Lagipula aku tidak tahu harus ngapain di pantry."
Deg!
Siasat apalagi yang akan dilakukan Willow? Batin Darsh.
Setelah Olivia keluar, tersisa Willow dan Darsh. Darsh masih melanjutkan pekerjaannya yang sebentar lagi selesai. Namun, mendadak Olivia berdiri kemudian mendekati Darsh dan memposisikan dirinya tepat di samping kursi kerja Darsh.
"Kamu mau ngapain?"
"Darsh, ini kesempatan bagus untuk kita, bukan? Lagipula Mama tidak ada di sini."
"Minggir!" Darsh mendorong Willow sampai jatuh.
"Aduh!" Willow bangkit. "Kamu pikir aku takut atau merasa tersakiti kalau hanya jatuh seperti ini? Bahkan, aku sudah menusuk diriku sendiri dengan pisau. Aku baik-baik saja."
"Sebenarnya apa tujuanmu?"
...💦💦💦...
Yuk mampir karya keren berikut ini dan jangan lupa tinggalkan jejaknya.
__ADS_1