
Selepas makan siang bersama sahabatnya, Darsh kembali ke kantor bersama Frey. Sepertinya waktu berjalan sangat cepat. Baru kembali beberapa jam saja, Darsh melihat jam tangannya menunjukkan waktu pulang telah tiba. Rasanya dia sangat lelah walaupun selama beberapa hari ini tidak ada rapat yang penting. Ini masih pertengahan bulan, mungkin saja rapat itu akan terjadwal lagi mendekati akhir bulan.
"Frey, sepertinya papa sengaja membuat kita untuk menyelesaikan pekerjaan yang hampir selesai. Memulai rapat penting diakhir dan awal bulan akan menjadi waktu paling sibuk untuk kita. Belum lagi rencana pernikahanku. Itu akan menyita banyak waktu," ucap Darsh.
"Kamu jangan khawatir, Darsh. Selama pernikahanmu berlangsung, aku akan mengerjakan semua ini," balas Frey. Dia tidak mungkin pergi begitu saja kalau Darsh tidak mengizinkan. Ini merupakan bentuk tanggung jawab Frey sebagai asisten Darsh.
"Tidak seperti itu, Frey. Aku bisa diejek Bos paling kejam oleh Jillian. Kamu harus ikut. Biarkan perusahaan diselesaikan staf terbaik papaku. Kamu jangan khawatir. Nanti aku akan membicarakan ini padanya."
Ah, nama gadis itu yang hampir dilupakan Frey. Beberapa hari ini memang putus komunikasi sementara karena Jillian sedang menyelesaikan tugas akhir. Gadis itu mau fokus pada tugasnya. Setelah itu akan mengabarinya kembali. Tentu saja Frey tidak akan berharap lebih padanya.
"Baiklah, Darsh. Aku ikut apapun perintahmu saja."
...🍒🍒🍒...
Di rumah keluarga Dizon, Olivia nampak seperti setrikaan. Jalan terus maju mundur tak ada hentinya. Dizon sampai kesal melihatnya. Walaupun dia sendiri juga tahu apa yang menjadi sumber masalahnya.
"Kenapa kamu tidak membantuku berbicara pada mama? Kamu iya, iya, iya, terus. Apa jadinya kalau aku berbicara dengan keluarga Zelene dan mengatakan perubahan rencana pernikahan ini?" kesal Olivia.
Dizon tidak malah membantunya bernegosiasi dengan mamanya, malah mengiyakan seluruh ucapannya. Pria itu tak bisa membuat alasan lain selain setuju dengan permintaan mamanya.
"Aku harus bilang apa pada mama? Lagi pula semua sudah terlanjur. Tinggal mengatakan saja apapun alasanmu pada keluarga Glenda, pasti mereka mau menerimanya."
"Tidak semudah itu, Bambang! Apa yang akan kukatakan pada mereka, hah? Ehm, maaf calon besan, menurut permintaan mertuaku, pernikahan anak kita akan dipercepat. Terus mereka terkejut karena terkesan pernikahan ini dipaksakan secara mendadak. Apa mereka tidak pusing?"
Bukan mereka yang pusing, tetapi Dizon yang melihat tingkah istrinya itu. Dizon tak banyak bicara dan langsung berdiri memeluk istrinya. Jika tidak melakukan itu, tingkah Olivia akan semakin menjadi. Entah karena permintaan mamanya yang mendadak, atau karena Olivia sedang memikirkan masalah lain.
"Eh, kamu ngapain?" protesnya.
"Peluk istri sendiri tidak boleh? Aku pusing loh kalau kamu muter terus seperti itu," balasnya.
Olivia tak menolak pesona suaminya yang sudah berumur. Dari 100%, Dizon hanya memiliki 10% sisi romantisnya. Selebihnya, sikap kaku dan suka bikin keributan menurutnya.
"Kamu merayuku?" tanya Olivia. Dia meletakkan kepalanya dipundak suaminya. Sangat romantis bila orang lain yang melihatnya.
"Tidak juga. Aku hanya ingin membuatmu berhenti untuk mondar-mandir saja," jawabnya.
"Ish, dasar pria tidak romantis!" serunya. Olivia melepas pelukannya kemudian mendorong suaminya. Dizon sampai terduduk di sofa ruang tengah itu karena ulah istrinya.
__ADS_1
"Kamu main kasar, ya! Sejak awal pern--"
”Ada apa ini, Ma, Pa?" sahut Darsh yang baru saja sampai.
"Darsh, baru pulang, Nak?" tanya Olivia.
"Iya, Ma. Kalian sedang berakting?" goda Darsh.
Sebenarnya Darsh sudah melihat tingkah konyol mama papanya agak lama. Makanya, Darsh ingin tahu sampai di mana sisi romantis pasangan berumur Itu. Rupanya tidak mama ataupun papanya, sama-sama tidak romantis.
"Tidak, kami tidak berakting, sayang. Duduklah dulu! Mama ingin berbicara denganmu." Olivia menarik tangan Darsh menuju ke sofa.
Darsh merasa ada sesuatu yang aneh pada kedua orang tuanya. Tak masalah untuknya, asal keduanya masih rukun dan membuat Darsh selalu nyaman.
"Ada apa, Ma? Apakah sesuatu yang penting?" tanya Darsh penasaran.
"Iya, Darsh. Sangat penting. Ini menyangkut kamu dan Glenda."
Deg!
Hampir saja Darsh melupakan nama itu. Untung saja mamanya mengingatkan. Pasca pertunangan, tak ada lagi obrolan walaupun sekedar melalui pesan.
"Tidak sayang. Grandma meminta pernikahanmu dipercepat," jelas Olivia.
Terkejut? Tentu saja Darsh terkejut. Rentang waktu 1 bulan untuk menikah telah membuatnya tertekan. Apalagi di majukan. Ini bukan seperti sebuah mimpi di siang bolong, tetapi seperti sebuah prank yang berwujud nyata. Tertekan bukan karena Darsh tidak mau menikah, tetapi akan sangat aneh untuk menjalani kehidupan setelah menikah.
"Kapan, Ma?"
"Dua minggu lagi, sayang."
Bom!
Rasanya Darsh tidak bisa berdiri. Waktu 1 bulan saja sangat cepat dan sekarang dimajukan 2 minggu lagi. Rasanya seperti naik mobil yang kecepatannya di atas rata-rata.
Darsh pasrah. Tidak mungkin lagi harus menolak permintaan Grandmanya.
"Tak masalah untukku, Ma. Kenapa Mama dan Papa ikutan bingung? Harusnya senang karena permintaan terakhir grandma akan terpenuhi dengan sangat cepat," balas Darsh.
__ADS_1
"Mamamu bingung harus menyampaikannya bagaimana kepada keluarga Glenda," sahut Dizon.
"Aku akan menelepon Glenda sekarang." Darsh mengambil ponsel yang sejak tadi berada di saku jasnya. Dia lekas mendial nomor calon istrinya, Glenda.
Hampir menyerah karena Glenda tak langsung mengangkatnya. Barulah pada panggilan ketiga, telepon tersambung.
"Halo, Darsh," sapa Glenda.
"Kamu kemana saja? Kenapa baru diangkat?" berondong Darsh.
Tentu saja itu membuat orang tua Darsh dan Glenda terkejut. Darsh terlihat sangat panik dan kesal dalam waktu bersamaan. Panik karena pernikahannya dimajukan dan kesal. karena Glenda tak lekas mengangkat teleponnya.
"Maafkan aku, Darsh. Aku baru saja membantu Mommy di belakang," balasnya.
Darsh berusaha untuk tetap tenang. Dia baru saja membuat Glenda ketakutan. Mungkin hanya perasaannya Darsh saja. Padahal gadis itu biasa saja karena senang sekali menerima telepon pertama kalinya dari calon suaminya. Sungguh pribadi yang bertolak belakang.
"Ada kabar penting untukmu. Aku harap, secepatnya kamu menyampaikan ini pada orang tuamu."
"Katakan saja! Apa itu?" Glenda sudah tidak sabar untuk mengetahuinya.
"Pernikahan kita dimajukan dua minggu lagi."
"Apa? Aku tidak salah dengar?"
Tentu saja Glenda langsung refleks untuk mengungkapkan rasa terkejutnya.
"Tidak, itu memang benar. Sebelumnya aku minta maaf. Ini permintaan grandma-ku dan kami tidak bisa menolaknya," jelas Darsh.
Tentu saja keluarga Glenda harus setuju. Bagaimana mungkin mereka akan menolaknya.
"Aku sampaikan pada Mommy dulu. Nanti aku kabari melalui pesan," bala Glenda.
"Baiklah, terima kasih."
Klik, telepon terputus.
"Bagaimana, Darsh? Apa keluarga Glenda setuju?" tanya Olivia.
__ADS_1
"Tunggu kabar selanjutnya, Ma," jawab Darsh.
Lelaki itu langsung meninggalkan kedua orang tuanya. Dia menuju ke kamarnya. Sementara di tempat lain, Glenda merasa senang dan juga takut. Pernikahannya yang semula akan berlangsung 1 bulan lagi, nyatanya dipercepat menjadi 2 minggu. Rasanya seperti berada di negeri dongeng. Apa-apa seakan terlihat mudah, tetapi kenyataannya tidak seperti membalik telapak tangan.