Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
Permintaan terakhir mama..


__ADS_3

Selesai makan dan membersihkan meja dan piring makan, Lisa mendatangi mamanya. Didalam ruangan ada suster yang sedang mengganti infus mamanya.


"bagaimana keadaan mama?" tanya Lisa


"sudah lebih baik. Tadi dirumah sakit tekanan darah ibu sangat tinggi, begitu sampai dirumah dan beristirahat kondisi ibu jauh lebih stabil."


Lisa mengangguk, ia paham betul. Mamanya paling benci dengan rumah sakit, karena dirumah sakit adalah tempat papanya menghembuskan nafas terakhirnya.


Lisa berbaring disebelah mamanya sambil menggenggam tangannya. "Cepat sembuh ya ma..."


Merry mendengar suara Lisa dan terbangun tapi sulit membuka matanya.


"sudah pulang?"


Lisa mengangguk sambil mendekat kearah mamanya dan memeluknya.


"apa ada yang sakit???"


"tidak ada, tadi mama sudah minum obat, jadi mama mengantuk sekarang."


"kalau begitu tidurlah." Lisa memeluk mamanya sambil memejamkan mata.


"kenapa kamu tidur disini?Sana kembali kekamar kamu dan Kevin" perintah Merry


"mama minta aku menikah, sekarang mama sudah berani usir aku keluar kamar. Besok mama suruh aku apa lagi?" Ujar Lisa sambil bermanja dengan Merry.


Mery tersenyum tipis "bukan begitu nak, kamu sudah menikah. Nanti apa kata orang kalau kamu tidurnya sama mama bukan sama suami kamu?"


"Mama tenang saja, dirumah ini tidak ada orang, hanya kita bertiga. Kalaupun ada orang lain ada di ruangan sebelah sana."Ujar Lisa sambil menunjuk kearah pintu.


"kamu sudah keliling rumah ini??"


Lisa menggelengkan kepalanya, "Kevin yang mengatakannya."


"ooh..." jawab Merry singkat


Lisa dan Merry berbicara sambil memejamkan mata.


"nak, Lusa mama akan pergi ke desa bunga."


Mendengar itu mata Lisa langsung terbuka.


"mama masih sakit, bagaimana mungkin berpergian?" Lisa tidak setuju dengan pikiran mamanya


"hanya 3 jam perjalanan, tidak lama." bujuk Merry.


"Kevin besok akan mengecek tempat tinggal mama disana. Disana terkenal pengobatan herbalnya. Mama akan mencoba berobat disana." Lanjut Merry


Lisa mengehela nafas panjang sambil duduk bersandar didipan tempat tidur. "Lisa akan bicara dengan Kevin."

__ADS_1


"kamu jangan marahi dia. Ini semua adalah permintaan mama."


"tapi dia tidak ada berdiskusi denganku ma... Anak mama sebenarnya Lisa atau dia sih??" Lisa mulai kesal.


"anak mama ya kamu dan dia. Kalian kan sudah menikah, secara otomatis dia jadi anak mama."


Lisa memeluk guling sambil menarik ujung bibirnya.


"nyawa mama sangat berharga bagi Lisa. Lisa takut kalau mama hanya coba-coba, dan berakhir dengan...."


Lisa mengehentikan ucapannya. Dia tidak berani melanjutkan.


"mama akan berusaha melawan penyakit mama. Jadi kamu juga harus percaya dengan mama."


Lisa terdiam, selama ini dia memang tidak pernah mempercayai siapapun kecuali mamanya. 25 tahun ia hidup bersama wanita kuat ini yang tidak pernah mengeluh. Dia yang mengajarkan Lisa menjadi wanita yang mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Jika dia tidak mempercayai dan mendukung keputusan mamanya, lantas hal apa lagi yang bisa dilakukannya?


Lisa berusaha mengalihkan pembicaraan agar mamanya tidak terlalu banyak pikiran.


"mama lihat rumah ini? besar sekali. Ukuran kamar mama saja sama dengan penggabungan 2 kamar kita."


Merry hanya tersenyum tipis .


"Rumah kita bagaimana ma???"tanya Lisa


"oia,, mama lupa kasi tahu kamu. Hari dimana kamu dinas keluar kota sama Leo, pemilik rumah datang memberitahu kalau masa sewa kita yang sisa 10 hari lagi tidak bisa diperpanjang karena dia mau menjualnya. Kebetulan dihari yang sama, mama bertemu dengan Kevin. Dia mendengar semuanya dan langsung memindahkan barang-barang kita."


"mama dibawa Kevin kemari." lanjut Merry


Merry mengangguk pelan


"sudah lah. Tidak masalah. Apapun keputusan mama, pasti itu terbaik untuk kita berdua. Mama jangan terlalu memikirkannya semua akan baik-baik saja." Lisa kembali berbaring sambil memeluk Merry.


"mama tahu, seharusnya mama minta perobatan diluar negeri, Kevin sepertinya mempunyai banyak uang."


Merry tersenyum lemah.


"coba kalau mama minta keluar negeri, kan kita bisa sekalian jalan-jalan. Mama sih, coba tanya aku dulu " Lisa berusaha menghibur Merry agar suasana hatinya mejadi senang.


.


"tapi sepertinya dia mafia ma,,,, lihat la diluar. Begitu buka pintu ada orang bediri didepan pintu, tangga darurat sampai di didepan lift. Lisa takut melihatnya apalagi membayangkannya." Lisa makin kuat memeluk Merry.


Merry mengelus kepala Lisa, "Kevin itu anak baik, pekerjaannya bukan mafia. Dia seorang pengusaha."


"Mama terlalu mempercayainya. Tapi sudahlah, mama tidur."


"Kamu sana tidur sama Kevin, jangan disini."


"Jangan usir Lisa." Lisa  menambah kekuatannya dalam memeluk  Merry

__ADS_1


"mama punya permintaan terakhir untuk mu nak."


 "Hari ini si play boy menyiksa Lisa dengan laporan seperti gunung merapi."Lisa berusaha menghindari perkataan mamanya.


"dengarkan mama dulu"


Lisa hanya diam tidak bicara, ia pura-pura tertidur. "aku sudah tidur...." kata Lisa singkat.


"Berbahagialah. Mami, papa dan Kevin akan mejaga kamu setelah mama tidak ada. Kamu harus bisa menjaga diri dengan baik. Ingat, mama ingin dikubur sebelah papa." Air mata Lisa keluar dari sudut matanya dan tidak menjawab apapun.


Pengaruh obat membuat Merry tertidur dengan cepat, begitu juga dengan Lisa yang sudah lelah dengan pekerjaannya hari ini.


Lisa malam itu tidur dikamar Merry. Tengah malam lagi-lagi Lisa terbangun, Ketika  banyak pikiran, Lisa sering terbangun pada malam hari.


Lisa duduk dan memperhatikan mamanya masih tidur, suster menjaga Merry terlihat masuk kedalam kamar dan memeriksa  suhu badan  dan infus Merry.


"mama tidak apa-apa??" ujar Lisa khawatir.


"ibu baik-baik saja."


"terima kasih." Hati Lisa sedikit tenang mendengar perkataan perawat .  Lisa memperbaiki  selimut mamanya, kemudian beranjak keluar kamar.  Suasana redup di ruang tamu, tapi masih terang di ruangan atas.


'jangan-jangan dia belum tidur.' pikir Lisa.


Lisa naik keatas dan membuka pintu kamar. Lampu dikamar masih menyala dengan terang, tapi tidak ada Kevin.


'apa dia tidur di ruangan lain?' pikir Lisa


Lisa memegang dinding kamar. 'Wallpaper nya sangat bagus, benar-benar bergaya eropa, 3 bunga besar dengan model 3 dimensi membuat kesan mewah. Ketika Lisa memegang bunga yang paling kecil, tiba-tiba dinding bergeser searah kanan.  Dinding kamarnya terlipat dengan sempurna. Ruangan kerja ini ternyata adalah ruangan rahasia. Buku tersusun dalam rak dengan sangat rapi.


Kevin melihat Lisa yang masih terdiam menyaksikan ruang rahasia Kevin.


"kamu belum tidur??" tanya Kevin


"keren sekali ruangan ini. Aku melihatnya di TV. Begitu melihat sendiri yang seperti ini aku benar-benar terkejut." Lisa melangkah masuk keruangan kerja Kevin dan benar-benar terpesona dengan ruangan ini.


Lisa duduk didepan kursi Kevin. Lisa memundurkan kursinya dan kemudian sibuk berputar kekanan dan kekiri, Mirip seperti anak kecil yang baru medapatkan kursi mainan, padahal kursi dikantor Lisa sama fungsinya dengan yang sekarang. Tapi sensasinya berbeda.


"kursi ini lebih nyaman dari pada yang dikantor." puji Lisa


"apa aku perlu memberikan satu seperti ini dikantor mu??"


Lisa menggigit bibirnya, "tidak perlu. Aku akan mengajukan surat pengunduran diri besok. Setidaknya 2 hari kedepan aku sudah jadi pengangguran."


Lisa sudah memutuskan, setelah mendengar perkataan mamanya tadi, bagaimana pun hanya Lisa yang dimilikinya saat ini. Tidak ada pilihan lain, ia harus menguburkan semua keinginannya dan ambisinya untuk tetap bekerja. Walau ia sangat benci bergantung pada orang lain, untuk kali ini ia coba mempercayai perkataan mamanya. Percaya kepada pria yang ada dihadapannya untuk menaggung hidupnya.


"istirahatlah dahulu, fokus dengan mama. Hal lain tidak usah kamu pikirkan."


Lisa mengangguk. "Baiklah, sepertinya kamu sangat sibuk, aku tidak akan menganggu."

__ADS_1


Lisa bangkit dari kursinya.


__ADS_2