Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
penantian itu berbuah manis


__ADS_3

Matahari sudah tinggi, Lisa baru bangun dari tidurnya. Caroline sudah kembali kerumah untuk mempersiapkan makan siang untuk Lisa dan Kevin. Sementara Santoso ke Growth Ltd untuk menyelesaikan pekerjaan Kevin yang tertunda.


Lisa membuka matanya melihat tangannya melingkar ditubuh seorang pria. Lisa terkejut dan langsung duduk ditempat tidur. Kenapa ia bisa tidur ditempat Kevin? Bukan kah seingat Lisa dia tidur dalam posisi duduk? Siapa yang memindahkannya? Lisa melihat tangan Kevin tidak lagi dipasang infus. Lisa panik dan langsung turun dari tempat tidur.


"maafkan aku, aku sudah membuat kekacauan." Lisa hendak pergi tangannya dipegang oleh Kevin.


"tidak apa-apa, memang aku yang meminta dokter Roy melepasnya."


"ooh,,,syukurlah. Aku kira aku membuat masalah karena tidur di tempatmu kemudian dokter Roy terpaksa melepasnya." Lisa bicara sambil mengelus dadanya.


"ayo kita pulang." kata Kevin


"baiklah." jawab Lisa sambil membalikkan badannya. Lisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lisa benar-benar terkejut. Orang yang diajaknya bicara adalah Kevin.


"kamu,,,, kamu....." Lisa gugup dan mundur beberapa langkah.


"bantu aku bangun."


Lisa masih berdiri memandang Kevin. Kedua tangannya masih menutupi mulutnya. Lisa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Air mata Lisa mengalir tanpa disadarinya, perasaan sedih, lega dan senang bercampur jadi satu. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkannya sekarang. Perasaan gelisah nya melebur bagai debu yang tertiup angin.


"kenapa kamu menjauh??" tanya Kevin sambil berusaha untuk duduk.


Lisa hanya memperhatikan Kevin yang kesusahan duduk sambil menahan sakit dari luka bakar ditangan kanannya.


"kamu tidak senang suamimu sadar kembali???" tanya Kevin yang sudah duduk bersandar ditempat tidurnya.


Lisa menangis, perlahan-lahan kakinya melangkah kearah Kevin. "kamu..benar-benar sudah bangun??" Lisa ingin memastikan, selama tiga hari ia menemani Kevin dirumah sakit, berkali-kali Lisa bermimpi Kevin sadar dan bekali-kali juga ketika ia tersadar, ternyata itu hanya imajinasi Lisa. Lia takut mengalami kekecewaan yang sama.


"kemarilah..." kata Kevin sambil melebarkan tangan kirinya untuk memeluk Lisa.


Lisa merasa sedang mengalami de javu. Lisa menggelengkan kepalanya, mengusap-usap kedua matanya dan mencubit tangannya. Rasa sakit benar-benar Lisa rasakan. Tapi apa ini benar? Beberapa kali Lisa melihat Kevin menggerakkan jarinya. Tapi Lisa rasa itu hanya imajinasinya karena setelah diperhatikan lagi ternyata Kevin tidak bergerak lagi.

__ADS_1


Lisa sampai ditepi tempat tidur Kevin. Perlahan-lahan Lisa duduk dan menggenggam tangan Kevin.


"apa kamu terkejut?" tanya Kevin yang masih melihat Lisa menatapnya dengan pandangan tidak percaya kalau orang didepannya adalah Kevin


Lisa mengangguk, wajahnya cemberut dan menangis tersedu-sedu. "kamu.. apa kali ini aku bermimpi?"


"maaf sudah membuatmu menunggu."


Tangis Lisa semakin kuat "kamu..menakutiku,,,aku kira kamu..kamu..." Lisa menangis dengan kuat lagi membuat Kevin bingung, rasa hatinya sedih melihat Lisa susah. Tapi melihat Lisa yang menangis sambil cemberut membuatnya terlihat lucu.


"sudah...sudah jangan menangis lagi. Aku sudah tidak apa-apa." Lisa merebahkan kepalanya dibahu kiri Kevin.


Lisa berkata ditelinga Kevin "terima kasih sudah kembali hidup.."


Kevin tersenyum dan mencium pipi Lisa. "aku menunggu kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku sampai kupingku panas."


Lisa terkejut Kevin bisa mengatakan hal itu. "kamu sengaja mengerjai aku.?" Lisa kesal memukul dada Kevin.


"aduh..." Kevin memegang dadanya yang dipukul Lisa


Lisa tidak tega melihat Kevin berwajah seperti itu. "baiklah" Lisa memanggil pengawalnya untuk membantu Kevin naik ke kursi roda. E mendorong kursi roda Kevin. Ketika keluar dari pintu kamar rumah sakit. Lisa melihat kembali kedalam ruangan inap itu. Ruangan ini banyak menyimpan masa lalu Lisa. Diruangan ini pertama kali mendengarkan kabar tidak menyenangkan mengenai mamanya, Dikamar ini Lisa melamar Kevin dan dikamar ini juga ia melihat Kevin yang biasanya bertubuh sehat harus terbaring lemah. Ruangan ini menyimpan banyak hal diingatan Lisa. Jujur dalam hati Lisa, ruangan ini memberikan kesan yang buruk dihatinya.


Kevin sudah didepan lift sedangkan Lisa masih membeku menatap ruangan 1010.


"sayang..." panggil Kevin


"ya,,,," jawab Lisa singkat. Ketika pintu ruangan akan tertutup Lisa seperti melihat mama dan papanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Lisa merasa terkejut ia tetap berusaha melihat kedalam kamar sambil mengikuti arah pintu yang tertutup perlahan. Lisa merasa penasaran membuka kembali pintu ruangan itu. Perlahan bayangan kedua orang tuanya hilang seperti tiupan angin yang meniup tirai jendela kamar yang berwarna putih itu.


Lisa tersenyum puas, ternyata selama ini ketika ia disini, mamanya selalu menemaninya. Walau mamanya sudah tidak ada didunia ini, setidaknya kedua orang tuanya tetap melindungi dan menjaganya sampai sekarang. 'terima kasih mama, papa' batin Lisa


"apa kalian melihat sesuatu di gorden putih yang melambai itu?" tanya Lisa kepada F dan G yang berdiri dibelakang Lisa.


"tidak terlihat apa-apa nona." kata F

__ADS_1


"jendela diruangan ini tertutup semua, kami sudah pastikan tidak mungkin ada angin yang bisa membuat tirai jendela bisa tergerak tertiup angin" kata G dengan jelas dan lugas.


"bukankah kalian melihat tirai itu bergerak??"


G dan F melihat kedalam kamar melihat tirai ruangan Kevin bergoyang seolah tertiup angin.


"apa nona mau saya pastikan??" kata G


"tidak perlu. Aku sudah melihat orang yang ada disana" jawab Lisa sambil tersenyum kepada mereka berdua.


PIntu ruangan inap Kevin itu tertutup kembali. G dan F saling bertukar pandangan. Bos wanita mereka baru saja menceritakan hal horor, tapi bukannya takut ia malah terlihat senang.


Pintu lift sudah terbuka, Kevin mengulurkan tangan kirinya kepada Lisa. Lisa meraih tangan Kevin sambil tersenyum manis.


"apa yang terjadi??" tanya Kevin


"tidak apa-apa, tadi aku melihat tirai jendela kamar itu bergoyang seperti tertiup angin dari luar." jawab Lisa


"oh..bukankah jendela kamarku semua tertutup F?? tanya Kevin


"seharusnya begitu pak. Tadi kamu akan memeriksanya, tapi nona katakan tidak perlu." jawab F


"lantas apa kalian merasa puas dengan jawaban nona tanpa memeriksanya? " kata Kevin kesal.


"maaf pak. Kami akan kembali keruangan sekarang." jawab G dan F


Lisa menutup pintu lift "tidak perlu, ruangan itu memang memiliki jendela yang terkunci. Beberapa kali aku mencoba membukanya tapi tidak berhasil. Baru kali ini aku melihat jendela dengan kunci mempergunakan kode. Benar-benar aneh."  jawab Lisa sambil menunjukan wajah cemberut


"setidaknya harus diperiksa sayang..." Kevin memaksa. Lisa sudah lebih dahulu menekan angka 1 pada tombol lift.


"kamu sedang terluka, tidak perlu memaksa kan diri. Aku sudah melhat tadi ada apa didalam."


"apa yang ada didalam..." tanya Kevin

__ADS_1


"mama dan papa tadi melambaikan tangan kepada ku."


Ruangan lift menjadi sangat hening tapi hanya Lisa yang terlihat senang sambil tersenyum senang mengingat kejadian tadi. Bahkan Kevin juga terdiam dan tidak berkata apapun.


__ADS_2