
Tiga hari sudah berlalu, tapi Kevin belum menunjukkan perubahan apapun. Caroline dan Santoso sudah ada dirumah sakit menemani Lisa. Hati Lisa mulai khawatir, kenapa belum ada tanda-tanda Kevin akan sadar. Leo ikut menemani Lisa dirumah sakit ketika malam hari, yang anehnya Caroline dan Santoso tidak keberatan Leo menemani Lisa dirumah sakit. Cindy datang kerumah sakit berkunjung. Leo terlihat sibuk dengan laptopnya, sementara Caroline dan Santoso suah kembali ke apartemen tempat tinggal Lisa dan Kevin.
Cindy memeluk Lisa yang terlihat sangat murung dan mata sembab. "jangan bersedih lagi, dia akan kembali sembuh."
Lisa mengangguk dengan semangat, semua orang yang datang memberikan semangat kepadanya agar tetap kuat menunggu Kevin kembali sembuh.
Cindy melihat kearah Leo sambil menaikkan alisnya "apa dia setiap hari disini??" tanya Cindy
"ya,,,, padahal sudah berkali-kali aku usir tapi dia tetap tidak mendengarkan aku." keluh Lisa
Cindy tertawa tertahan "aku tahu rasanya dekat dengan orang seperti dia. Benar-benar menyiksa."
"Akhirnya ada juga orang yang berpikiran sama denganku." Lisa tersenyum
"jangan membicarakan aku. Hidungku jadi gatal". jawab Kevin
"padahal kita membicarakan dia, kenapa hidungnya yang gatal? bukannya harusnya telinganya?" sindir Cindy
"sekarang kamu paham kan?? Hanya aku yang sanggup berteman dengan kebodohan dia. Tidak ada orang yang mau berteman dengan dia karena hal itu."
Leo tidak bereaksi, ia bertingkah seolah tidak mendengar apa-apa.
"apa kamu tahu Cindy, pria yang duduk disebelah sana adalah 3 orang terpintar disekolah kami dahulu. Tapi kadang kalau melihat tingkahnya aku tidak yakin dengan semua itu." kata Lisa
Cindy hanya tersenyum menyindir sambil melihat kearah Leo.
Lisa mengajak Cindy duduk disebelah tempat tidur Kevin. Kemudian bertanya kepada Cindy "bagaimana dengan hubungan kalian??"
Cindy melirik kearah Leo yang masih sibuk dengan dokumen dan laptopnya. "setelah kejadian itu dia menemui kedua orang tuaku. Dia berkata kalau dia menyukaiku dan berniat serius denganku."
__ADS_1
Mata Lisa membesar. "benarkah? Kenapa rasanya aku merinding mendengar mu mengatakan hal itu?" Lisa memandang dalam kearah Cindy kemudian melihat kearah Leo. Memang kali ini Leo lebih pendiam dibandingkan sebelumnya. Tapi seorang Leo yang playboy berhasil tunduk dengan Cindy seorang psikolog yang berjiwa bebas dan santai. Benar-benar diluar perkiraan Lisa. Karena semua wanita yang dikenalkan sangat feminim, perhatian, manja dan sangat perhatian kepada Leo. Kalau dilihat lagi, Cindy bukan tipe wanita yang seperti itu. Penampilannya kasual, setidaknya ini ketiga kali Lisa bertemu dengan Cindy. Ia selalu mengenakan celana jeans panjang dan kemeja lengan panjang. Rambut selalu diikat satu dengan model yang sama. Bisa terlihat itulah gayanya sehari-hari.
"kamu bingung dengan ku??" tanya Cindy
"wah kamu mirip dengan Kevin, bagiku dia adalah xavier sang pembaca pikiran." Lisa terkejut Cindy bisa mengetahui isi pikirannya
Cindy tertawa "kamu terlalu banyak menonton x-man."
Lisa tersenyum malu, jawabannya benar-benar sama dengan Kevin. Lisa memegang erat tangan Kevin seolah memberi tahunya kalau ada orang yang mempunyai kemapuan sama dengannya.
"saat ini aku tidak memiliki harapan apapun dengan hubungan ini. Tujuan kita mungkin sama. Menikah karena ingin membahagiakan orang tua. Mau bagaimana kelanjutannya, kita tinggal lihat saja nanti."
Lisa mengangguk "Leo memang pecinta wanita. Tapi aku tahu, ia tidak pernah benar-benar mencintainya. Seingat Ku dari sekian banyak wanitanya hanya 1 orang yang paling sering dia ceritakan, kalau tidak salah namanya nona kelinci.Tapi aku tidak tahu siapa dia."
Cindy terkejut Lisa menyebut nama 'nona kelinci' itu adalah nama panggilan Cindy dari kecil. Leo dan Cindy sebenarnya sudah dijodohkan dari sejak mereka kecil. Mereka sudah sering bertemu tapi hanya sebentar saja. Panggilan itu didapatkan Cindy karena setiap dirumah Cindy selalu memakai bando bertelinga kelinci. Leo selalu berkata kepadanya 'nona kelinci'.
"kamu tidak apa-apa??" tanya Lisa melihat Cindy yang sepertinya terkejut dengan perkataan Lisa
"aku sedikit tidak terkejut mendengarnya, karena nona kelinci itu adalah sebutannya kepadaku." jawab Cindy pelan
"benarkah..." Lisa tidak percaya ternyata orang yang disukai Leo ada dihadapannya. Selama ini dari dulu sampai sekarang Leo sering membicarakan tentang nona kelincinya. Tapi Lisa benar-benar tidak menyangka orang yang diceritakan Leo adalah Lisa. Benar-benar jauh sekali imajinasi Lisa mencerna bentuk visual yang selalu dibicarakan Leo dengan fisik Lisa.
"aku mendengar semuanya dari sini." Leo bicara sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
Lisa berdiri dan duduk disebelah Leo
"benar dia orangnya??" tanya Lisa sambil menunjuk Cindy yang duduk memperhatikan mereka berdua.
"ia." jawab Leo singkat.
__ADS_1
Lisa merebut laptop Leo dan meletakkannya dibelakangnya. "jelaskan kepadaku" Lisa memaksa Leo untuk bicara
Kulit Leo yang putih mendadak memerah. "wajah kamu kenapa???" Lisa memegang kening Leo "apa kamu demam??" tanya Lisa
Leo menyingkirkan tangan Lisa di keningnya "aku tidak apa-apa..." bantah Leo
Lisa tersenyum menggoda sambil menyenggol lengan Leo."kamu malu ya,,," Lisa menggoda Leo
"wanita rubah, berhenti menggangguku. Aku harus bekerja." Leo berusaha mengambil laptop dibelakang Lisa. Tapi Lisa menghalanginya
"kalau kamu tidak menjawab pertanyaan ku. Aku akan menghubungi papa mertuaku. Agar kamu dapat pelajaran. Kamu tahukan, selama Kevin sakit ia yang mengambil alih pekerjaannya???" ancam Lisa
"semenjak kamu jadi menantu orang kaya, kamu jadi suka semena-mena kepadaku ya nona rubah."
"aku tidak sejahat kamu raja kegelapan." balas Lisa
"cepat ceritakan padaku." Lisa menarik lengan baju Leo sambil cemberut karena Leo lama sekali berbicara.
Leo sebenarnya tidak ingin bicara, tapi Lisa yang sudah seperti ini akan susah dikendalikan. Ia akan bertahan berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan akan memaksanya bicara sampai keinginannya tercapai. Leo trauma dengan Lisa yang seperti itu.
"baiklah-baiklah..." Leo akhirnya menyerah juga dan merubah posisi duduknya. Lengan kanannya bersandar di sofa, tangannya menyangga kepalanya dan memandang Lisa dengan serius.
"wanita yang duduk disebelah suamimu adalah nona kelinci yang sering aku ceritakan dari dulu. Ya, aku menyukainya. Apa kamu sudah puas?" tanya Leo
Lisa mengangguk. "kenapa dia sangat berbeda dengan yang kamu ceritakan? Kamu selalu menceritakan wanita mu seorang yang benar-benar anggun. Tapi kalau aku lihat Cindy dan aku tidak jauh berbeda. Kami suka pakaian kasual, Tidak ada kesan feminim." Lisa berusaha meyakinkan Leo. Lisa bicara sambil menunjuk kearah Cindy dan dirinya.
"kamu dan dia jelas berbeda. Dia benar-benar feminim dan anggun dari kecil. Mirip seperti yang aku ceritakan kepadamu.Ia selalu terlihat seperti seorang putri dalam cerita dongeng. Berbeda denganmu yang seperti rubah yang kerjanya berlari kesana kemari, tidak ada kesan feminimnya.Ia berbicara juga sangat lembut aku sangat menyukai suaranya. Sekarang memang dia sedikit berubah. Tapi dia tetap nona kelinciku. "
Lisa merasa kecewa sahabatnya ini memuji Cindy setinggi angkasa dan menjatuhkan dirinya kedalam lumpur, benar-benar tidak ada perasaan. Mereka berdua pun berdebat seperti biasa, membuat suasana ramai dalam ruangan inap Kevin. Lisa memukuli Leo dengan bantal sofa karena kesal dengan perkataan yang memojokkannya.
__ADS_1
Cindy menahan senyum sambil menunduk mendengar perkataan Leo. Hatinya malu mendengar Leo berbicara sebagus itu tentangnya. Dalam hati Cindy sangat puas mendengar perkataan Leo yang mengakui kalau ia adalah cinta pertamanya dan ia menjadi seorang playboy karena ingin membuktikan kepada Cindy ia adalah laki-laki tampan yang disukai banyak wanita. Karena Cindy pernah berkata, ia hanya menikah dengan seorang pangeran yang tampan. Leo yang berpikiran dangkal kala itu mengira kalau seorang pangeran yang tampan selalu dikelilingi banyak wanita cantik. Anak kecil mengambil kesimpulan dan secara tidak sengaja Leo keterusan dengan perbuatannya. Tapi dalam harinya selalu ada nona kelinci dan tidak akan tergantikan oleh wanita manapun dan sampai kapan pun.