Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
Negosiasi


__ADS_3

Kevin mengulurkan tangannya, Lisa mendekat kearah Kevin. Kepalannya bersembunyi di pipi Kevin.


Pria ini memiliki kulit yang sangat mulus dan terawat.


Bahkan dimeja rias sebelah kanan adalah barang-barang Kevin dan sebelah kiri adalah barang Lisa. Untuk perawatan wajah saja lebih banyak barang milik Kevin dibandingkan dengan Lisa. Ketika baru pindah ke apartemen Kevin Lisa hanya punya 1 perawatan kulit, tapi setelah 1 hari kemudian tiba-tiba menjadi lebih banyak. Ternyata Caroline memberikan perawatan wajah untuk Lisa.


Katanya wanita harus tampil cantik dan berhak untuk tetap cantik. Walau pekerjaan lebih banyak dirumah. Cantik itu harus. Lisa sangat menyetujui pemikiran Caroline.


"boleh aku melakukan negosiasi dengan mu??" Lisa berkata dengan ragu


"apa itu???


"begini, aku sudah bicara dengan papa. Aku ingin bekerja lagi. Apakah bisa??"


"kamu kerja shopping saja, ke salon, beli hp baru, lakukan yang kamu mau. Itu sudah cukup buatku."


Lisa mundur kebelakang dan wajahnya kini menatap wajah Kevin.


"papa sudah memberikan ku izin, katanya tanya kamu saja aku mau diperusahaan yang mana." Lisa mulai Kesal dengan pria ini.


"apa kamu benar-benar ingin kerja??" tanya Kevin ulang


Lisa tambah kesal, sudah tahu itu yang ditanya kenapa bertanya ulang.  "sudah lah, malas bicara dengan kamu Mr K." Lisa memunggungi Kevin.


Kevin memeluk Lisa dari belakang.  "baiklah, maafkan aku. Aku hanya tidak suka kamu berada didekat pria lain."


"aku bekerja, bukan pacaran dengan rekan kerja pria."


"ia, aku yakin kamu bekerja. Tapi aku yang tidak yakin pria disekitar kamu betul-betul bekerja atau bekerja sambil mendekati mu atau bisa saja mereka tidak bekerja hanya berusaha mendekatimu. Itu yang tidak bisa aku terima."


"maka dari itu belikan aku cincin pernikahan. Biar aku promosikan kalau aku sudah menikah."


"sudah, hanya saja belum selesai. Kalau dari tanggal yang dijanjikan, besok selesai."


"baguslah. Jadi tidak ada alasan kamu berpikiran yang tidak- tidak."


"bagaimana jika kamu jadi seketaris ku saja?" tawar Kevin.


Lisa membalikkan badannya kearah Kevin. "tidak mau, aku tidak sanggup dengan posisi itu." protes Lisa


"kamu pasti sanggup"

__ADS_1


"tidak." bantah Lisa


"aku yang tidak sanggup. Aku yang tidak sanggup kalau tidak berada didekatmu." ujar Kevin


"kenapa kamu genit sekali??"


"aku genit pada istriku sendiri." bela Kevin kepada dirinya sendiri.


Lisa menatap lurus kearah Kevin  "aku mau posisi yang sama seperi perusahaan sebelumnya. bagaimana kalau aku kembali bekerja disitu??" Lisa tersenyum manis.  berharap hati Kevin luluh


Kevin terdiam, pikirannya tertuju kepada Leo. Sungguh tidak bisa dibenarkan kalau istrinya dekat pria itu,


"tidak mau. Aku tidak setuju." Kevin langsung menggelengkan kepalanya


"kenapa??"


"karena kamu pemegang saham Growth Ltd sebanyak 30% . Tanggung jawab akan lebih besar, setiap ada proyek baru yang memerlukan dana besar diperlukan persetujuan para pemegang saham. Dan data yang diberikan oleh direktur pelaksana atau CEO harus dipertimbangkan dari semua sisi. Laba dan ruginya, perkembangan usahanya bagaimana, bisa diterima pasar atau tidak itu semua harus jadi bahan pertimbangan." jelas Kevin


Lisa menarik nafas dalam-dalam. "Kamu menakut-nakuti aku." ujar Lisa


"tidak, memang itu yang jadi pertimbangan. Karena kalau salah ambil keputusan, nasib karyawan dipertaruhkan."


Lisa menarik nafas dalam-dalam lagi. "aku jadi takut menjadi pemegang saham terbesar diperusahaan."


"dirumah jumpa kamu, dikantor jumpa kamu." Lisa membayangkan berada dengan pria ini 24 jam benar-benar mimpi buruk bagi Lisa.


"kamu tidak suka berjumpa dengan suami kamu??? " tanya Kevin sambil mengerutkan keningnya


"bukan begitu...hanya....walau kita menikah, kita tetap butuh ruang untuk diri kita sendiri." Lisa membela diri.


"ruang dihatiku sudah penuh oleh kamu dari dulu sampai sekarang. Tidak ada perlu ruangan khusus lagi bagi aku dan kamu."


Lisa membelakangi Kevin lagi, Pria ini selalu membantah perkataan Lisa membuat Lisa kesal. "malas bicara dengan kamu Mr K."


Kevin tersenyum licik. Lisa benar-benar gampang marah dan terpancing emosi, ketika ia sedang marah, Lisa akan memajukan bibirnya sambil mengerutkan keningnya.


Ketika Lisa takut salah bicara dia akan menggigit bibirnya.


Ketika Lisa sedang senang, dia bisa melakukan hal seperti anak kecil. Melompat kesana-kemari, mengayun-ayunkan tangan orang ditemuinya.


Ketika membuat kesalahan, Lisa akan menunjukkan ekspresi wajah sedih dengan mata berkaca-kaca membuat orang tidak tega untuk memarahinya.

__ADS_1


Menurut Kevin hal itu sangat lucu dan menarik.


"Besok pagi aku akan memberikan list pekerjaan yang cocok untukmu. Tapi aku rasa kamu cocok menjadi seorang pengusaha. Bakat dari almarhum papa aku lihat melekat kuat pada diri kamu. Cara kamu membuat laporan, cara menyampaikan pendapat, bahkan cara kamu bicara ketika meeting sangat menarik."


Lisa tidak pernah memikirkan hal ini. Lisa jadi ingat, 1 hari sebelum mamanya meninggal Lisa pernah mengatakan kepada mamanya kalau Lisa ingin menjalankan usaha hydroponik tanaman dan algribisnis. Dengan lahan yang diberikan Kevin seluas 3 hektar untuk usaha rasanya bagus. Tapi Lisa sadar akan kelemahannya, jika dia bisa mengerjakan data perusahaan dalam hal negosiasi dan menjual hasil panen bukanlah keahliannya.


"apa kamu memikirkan desa bunga???" tanya Kevin.


Lisa berbalik lagi melihat Kevin dengan ekspresi kagum "kamu pasti xavier. Tidak salah lagi. Kamu terlalu hebat mejadi manusia biasa. Aku akan tanya mami, kamu manusia asli atau manusia mutan"


"kamu ini sembarangan saja kalau bicara." Kevin melekatkan dahinya ke Lisa, Lisa merasakan hangat dari dahi Kevin.


Lisa tersenyum malu sambil menundukkan pandangannya.


"begini saja, aku tidak ingin melarang kamu melakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Tidak lama lagi akan ada rapat pemegang saham, kamu kan ikut menjadi ahli waris almarhum papa. Nanti coba kamu ikuti saja meetingnya. Nanti kamu akan mengetahui bagaimana rasanya pekerjaan dilevel atas. Kalau kamu bisa, kamu menjadi CEO Sun Group menggantikan aku." Kevin tersenyum bercanda dengan Lisa


"Tidak lucu"


"Kamu ini mudah sekali marah."


"cara kamu bicara seperti pak tua. Panjang dan terlalu detail" protes Lisa.


Kevin tertawa geli melihat eksepresi istrinya yang cemberut kesal.


"maafkan aku, maksudnya agar kamu tahu bagaimana membedakan pekerjaan yang kamu mau. Nanti untuk desa bunga, kamu bisa memperkerjakan team pemasaran, admin yang mencatat pembelian dan penjualan. Kamu bisa atur."


"Mr. K walau kamu menyebalkan, tapi aku akui kamu itu pintar sekali. Aku rasa kamu ada benarnya. Usahan di Desa bunga tetap akan aku jalankan. Tapi aku ingin juga bekerja diperusahaan Sun Group walau dengan level pekerjaan yang rendah."


"kamu masih tetap mau bekerja???" Kevin tertunduk lemah.


Lisa tertawa melihat kelakukan Kevin.  "tentu saja. Sangat menyenangkan dikejar deadline kerjaan, makan dikantin bersama teman kerja, nanti pulang kerja pergi karoke dengan teman-teman, kemudian pergi ketempat makan yang lagi terkenal di internet. Bukankah menyenangkan??"


Kevin menggeleng tidak setuju.


"terima kasih izinnya pak suami." Ujar Lisa sambil tersenyum manis,tidak peduli dengan arti gelengan kepala Kevin.


"aku tidak memberikan izin." bantah Kevin


"tadi kamu menggeleng" bantah Lisa


"menggelengkan kepala artinya tidak setuju."

__ADS_1


"Pokoknya sudah deal, negosiasi selesai. Besok pagi aku akan bicara dengan papa, bagaimana pun juga papa dan mami adalah pembela ku sekarang." Lisa sambil tertawa menang.


Kemudian memeluk Kevin dan tertidur dengan perasaan senang


__ADS_2