Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
Lisa dan Cindy


__ADS_3

Leo diamankan diruangan lain. Lisa sudah meluruskan kakinya pada sofa tempat konsultasi Cindy.


"apa kamu sudah merasa nyaman??" tanya Cindy


"ya..sudah." Lisa mengangguk sambil merebahkan kepalanya pada sandaran sofa yang nyaman.


"apa kabar Lisa??"


"baik." jawab Lisa singkat


"bagaimana kehidupanmu belakangan ini??" tanya Cindy


Lisa menarik nafas panjang, seperti ada beban berat di pundaknya. "belakangan ini aku mendapatkan teror yang aku sendiri tidak tahu dari siapa. Aku tidak ingin membahasnya dengan Kevin, tapi tidak bisa aku hindari kalau semua hal itu membuatku gelisah."


"teror apa??"


"boneka yang ditusuk pisau penuh dengan darah yang sampai sekarang baunya masih tercium dihidungku. Semalam ada beberapa orang yang melempari ku dengan telur busuk dan tomat. Bahkan bibi nita, orang yang bekerja dirumah kami sebagai asisten rumah tangga ikut terluka." Lisa terlihat murung ketika menceritakan tentang Nita.


"apa yang terjadi dengan nita??"


"kepalanya terkena lemparan batu. Dan harus dijahit beberapa jahitan. Melihat wajahnya berdarah membuat ku takut. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku kemudian mengejar orang yang melempar batu itu. Aku berpikir ia harus mendapatkan pelajaran, sempat terbesit dipikiran ku akan membunuhnya.  Tapi ketika aku menangkapnya, ia mengatakan aku pelacur dan perkataan buruk lainnya. Tapi anehnya aku tidak marah dan perasaan ingin membunuhnya hilang begitu saja."


"kenapa?"


"karena aku merasa kalau aku bukan orang seperti itu. Jadi tidak guna untuk memperpanjang masalah karena ucapannya. Hanya perbuatannya saja yang tidak bisa aku terima, aku tidak ingin mewarisi gen sebagai seorang penjahat seperti adik papaku."


"apa kamu tahu??  Belakangan ini aku merasa kalau apa yang terjadi denganku tidak bisa aku terima dengan lapang dada." lanjut Lisa

__ADS_1


“semua yang terjadi  dikehidupan manusia ada campur tangan Tuhan didalamnya. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu terjadi seperti yang kita inginkan. Jadi jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita jangan kecewa. Pasti ada maksud tertentu didalamnya. Hari ini akan merasa sangat berat, besok kita merasa masalah ini tidak ada apa-apanya.” Cindy berusaha memberikan jawaban atas pernyataan Lisa


“Tapi… aku merasa belakangan ini,  sepertinya lebih banyak orang yang membenci ku.” kata Lisa


”semua orang benar dengan pikirannya masing-masing. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah berusaha mencari jalan tengah agar kita tidak terluka karena pikiran seseorang. Dan tidak perlu merasa kecewa juga. Karena itu hanya benar dipikiran dia bukan kenyataan yang sebenarnya. jelas Cindy


“beberapa hari lagi Kevin akan pulang, dia mengatakan akan memberitahu kepadaku siapa yang memberi teror kepadaku. Rasanya senang akhirnya ia jujur dan mau terbuka dengan masalah ini, walau aku harus menanyakan dahulu kepadanya dengan berat hati. Aku kira dia akan menutupinya selamanya. Ada rasa takut yang sekarang ada di hatiku. Bagaimana jika aku mengenal orang yang melakukan teror kepadaku. Bagaimana jika ia adalah orang dekat.


"maksud kami pria playboy diruangan sebelah" sambung Cindy tanpa merasa bersalah.


Lisa tertawa, "Dia tidak akan punya keberanian untuk hal itu. Dia memang pandai bela diri, tapi tahukah kamu dari dulu ketika ada musuh yang datang dia menyuruh ku untuk melawan mereka. Pada saat itu benar-benar merasa sial bertemu dengannya. Tapi disisi lain aku merasa dia adalah seorang sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri."


"Awal aku melihat mu dan Leo aku kira kalian adalah saudara, bentuk mata kalian hampir mirip. Warna kulit dan struktur wajah juga hampir sama."


"banyak orang yang mengatakan hal itu. Ketika kami disekolah juga beberapa orang mengatakan dia adalah abangku. Ada juga yang mengatakan sepupu. Tapi aku selalu merasa tidak mirip dengannya. Dia mempunyai sifat playboy yang aku rasa tidak ada dalam gen keluargaku." ucap Lisa dengan bangga.


Lisa tersenyum malu mendengar perkataan Cindy yang memujinya habis-habisan. "aku rasa aku tidak sebaik itu."


"dalam hal mengendalikan diri kamu juaranya. Tapi dalam hal yang lain kamu masih perlu belajar banyak. Belajar mengungkapkan apa yang ada dihati kamu. Ketika kamu tidak suka mendengar seseorang memakimu, silahkan kamu marah, kamu berhak dengan dengan rasa amarah itu."


Lisa menundukkan pandangannya. "aku tidak ingin menjadi orang jahat."


"marah bukan lah kejahatan. Orang yang jahat itu adalah orang yang tidak bisa mengatur proses dalam mengelola emosinya. Aku rasa kamu cukup pintar dalam mengelola amarah. Ketika kamu marah dengan Kevin, kamu tidak pernah mengeluarkan perkataan yang tidak pantas."


Lisa duduk dengan tegak "dari mana kamu bisa tahu mengenai hal itu??" tanya Lisa


Cindy tersenyum "untuk mengatasi masalah kamu, tentu saja aku juga perlu melakukan konseling orang-orang di sekitar mu. Aku perlu memastikan kondisi mereka dalam kondisi pemikiran yang baik dan harus bersikap positif dalam kehidupanmu."

__ADS_1


Lisa kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.


"belakangan ini dia sedikit berubah. Apa itu karena bantuan mu.? " tanya Lisa


Cindy tersenyum, "Kevin terbiasa hidup sendiri dan selalu membuat keputusan sendiri. Memikirkan masalah sendiri dan memikirkan jalan keluarnya sendiri. Tapi aku rasa ia pria yang romantis, walau kadang ia bingung bagaimana cara mengatasi rasa canggung nya."


Lisa memijat dahinya mendengar perkataan Cindy "aku rasa kamu salah mengenai hal ini. Ia sama sekali tidak canggung dalam bermesraan denganku. Bahkan terlihat ia sangat berpengalaman. Aku terkadang tidak bisa mengenali dirinya yang seperti itu."


Cindy tertawa "itulah bentuk kecanggungan nya. Ia juga sebenarnya sangat gugup dan takut. Ia sangat memikirkan apa yang kamu pikirkan. Apakah ia terlihat begitu tergesa-gesa??" tanya Cindy


"awalnya begitu. Sekarang ia seperti air sungai yang tenang dipermukaan. Tiba-tiba membuat mu tenggelam dan sulit bernafas." keluh Lisa sambil cemberut.


"bukankah ada kata maklum dalam hatimu??"


Lisa melihat keatas Sambil menggigit bibirnya. "aku bingung menjawabnya, kadang aku rasa memahaminya kadang tidak. Apalagi kalau dia memaksaku menjawab pertanyaan apakah aku mencintainya. Rasanya aku tertekan mendengar dia mengatakan hal itu "


"dia sangat penasaran dengan hal itu. Ia sangat ingin kamu mengatakan hal itu kepadanya. Kalau aku lihat kamu menyukainya, kenapa tidak menjawab pertanyaan saja "


Lisa kembali memijat dahinya. "ada hal yang perlu aku pastikan sebelum aku menjawabnya."


"baiklah sebaiknya kamu cepat menjawabnya, jangan membiarkan dia menunggu terlalu lama."


Lisa mengangguk paham, ia juga memerlukan waktu. Biarkan ia memastikan suatu hal dahulu.


***


TERIMAKASIH UNTUK PARA PEMBACA YANG SUDAH MEMBERIKAN KOMENTAR DAN LIKE NYA... 😊😊😊

__ADS_1


MAAF HANYA MEMBERIKAN LIKE UNTUK SEMUA KOMENTAR DAN TIDAK MENJAWAB SATU-PERSATU. SEMOGA SEMUA PEMBACA SEHAT SELALU DAN SELALU MENDUKUNG PENULIS. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2