Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
mencari dukungan


__ADS_3

Perdebatan suami istri berakhir dengan seri. Masing-masing pihak tidak ada yang mau mengalah.


Pagi itu Lisa bangun lebih awal, semangatnya membara, bagaimana pun ia harus mencari dukungan dari para petinggi Sun Group yang lain pikir Lisa. Sarapan sudah selesai Lisa buat dengan masakan kebesaran Lisa spaghetti bolognese, salad sayur, salad buah, telur dadar gulung, dan roti panggang.


Caroline keluar kamar dan menemukan sarapan sudah tertata rapi dimeja makan.


"kamu bangun pagi sekali nak??"


"ia mi....hari ini Lisa sangat bersemangat." Lisa tersenyum ceria


"baguslah jika begitu." ujar Santoso menjawab dari belakang Caroline sambil memegang koran.


Santoso duduk dimeja makan sambil membaca koran dan menunggu Kevin turun untuk sarapan.


Tidak lama berselang, Kevin turun untuk sarapan dan ia sudah rapi dengan setelan jas berwana abu-abu muda.


"selamat pagi mi, pa..." sapa Kevin


Caroline dan Kevin mengangguk, dan sarapan pun dimulai.


Lisa membuka topik pembicaraan yang dari tadi malam ingin dikatakanya.


"papa...." ujarnya Lisa ragu.


"kenapa nak?" tanya Santoso.


"apakah hari ini aku bisa mendapatkan posisi pekerjaan yang aku mau???"


Santoso mengangguk "tentu saja, Kevin tolong sediakan apa yang diinginkan Lisa."


"tidak ada posisi yang cocok untuk Lisa pa.."


Lisa mengecilkan pandangannya kepada Kevin.


Dari tadi malam perkataanya benar-benar membuat Lisa kesal.

__ADS_1


"kalau tidak ada yang cocok, ya segera kamu buat cocok. Apa susahnya?? perintah Santoso.


Lisa menyandarkan kepalanya di lengan Santoso.  "memang papa yang terbaik." ujar Lisa tersenyum


"apa Kevin menindas mu nak??? " tanya Caroline.


Lisa mengangguk sedih, didepan orang tua ini Lisa berperan menjadi orang yang tertindas.


"Dia menyuruhku menjadi sekretarisnya" Lisa menunjuk kearah Kevin


"bukankan posisi itu bagus??"


"Lisa ingin dengan posisi yang sama tempat Lisa bekerja dulu mi." jelas Lisa


"Baik, nanti papa masukkan kami lagi disitu."


"Tidak bisa pa, nanti dia dekat-dekat terus dengan yang namanya Leo."


"Leo???" Caroline dan Santoso  bicara bersamaan.


"ia.." jawab Kevin singkat


"mereka itu bersahabat nak." bela Caroline


"mana ada sahabat pria dan wanita ma.." bantah Kevin


"kalau mereka memang berhubungan antara pria dan wanita, papa yakin mereka suah menikah beberapa tahun yang lalu." Santoso mencoba membela Lisa


"Lisa cinta mami dan papa" ujar Lisa senyum kemenangan sambil melihat Kevin dengan menaikkan alisnya.


"itu bukan masalah yang perlu kamu khawatirkan, biarkan Lisa bekerja ditempat yang lama. Bukan kah kamu CEO di perusahaan itu?? Akan lebih mudah bagi kamu memantau Lisa." jelas Santoso.


"ya benar." Lisa menyetujui perkataan Santoso, tapi tunggu ada yang salah. Kata 'memantau seperti terlalu mengerikan untuk didengar.


"papa....." Lisa mengerutkan keningnya ke Santoso.

__ADS_1


"maksud papa menjaga kamu, mana tahu ada orang yang jahat dengan kamu."Santoso mengkoreksi ucapannya.


Caroline tersenyum, suami dan anaknya sama-sama memiliki sifat cemburu. Bahkan walaupun Caroline dan Santoso sudah menikah selama bertahun-tahun, suaminya ini mempunyai kebiasaan unik. Untuk arisan sosialita yang biasa Caroline lakukan sebulan sekali ketika sudah sampai di lokasi, Santoso akan meminta Caroline melakukan video call dengannya untuk memastikan tidak ada pria yang ikut dalam acara tersebut. Belum lagi ketika akan shopping dengan teman-temannya minimal 2 orang pengawal akan ada dibelakang Caroline. Awalnya memang membuatnya tidak nyaman dengan keadaan tersebut, tapi lama kelamaan Caroline mulai terbiasa, walau dia sering protes kepada Santoso, jawabannya tetap sama 'baiklah', tapi hasilnya sama saja. Tidak ada yang berubah.


Mendengar perkataan papanya, Kevin mengedipkan sebelah matanya kepada Lisa.


"mami rasa, Lisa berhak menentukan pilihannya. Kalian menikah untuk menyatukan pemikiran yang berbeda. Coba kamu pikirkan, kalau kamu terlalu memaksakan pikiran kamu ke Lisa, terus Lisa jadi seperti semalam itu bagaimana??" jelas Caroline.


Semua orang diruangan makan terdiam. Lisa tidak begitu paham maksud Caroline tapi mencoba membaca raut wajah kedua pria disebelah dan didepannya. Raut wajah tegang.


"mami paham, kamu pasti ingin mencari posisi kerja untuk Lisa yang dekat dengan kamu. Tapi apakah Lisa nyaman dengan pilihan kamu? Kalau pun kamu mau dia diposisi itu perlahan-lahan. Jangan langsung membuatnya takut dengan kamu. Sama seperti hubungan kalian sekarang, masih pada tahap belajar mengenal satu sama lain." lanjut Caroline.


Lisa memandang Caroline dengan bangga, wanita ini memang memiliki peranan kecil dalam rumah tangga, tapi kedua pria ini sangat patuh kepada nya. Semua perkataanya benar sekali, kalau pun ingin merubah Lisa tidak bisa langsung merubahnya dalam satu hari. Semua butuh proses. Kalaupun Kevin yang sangat ingin Lisa menduduki posisi yang bisa membuat keputusan untuk perusahaan, dari dalam hati Lisa tidak berani. Karena bagaimana pun juga setiap keputusan seperti yang Kevin bilang tadi malam, tidak hanya berhubungan dengan perusahaan tapi juga dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan itu.


Kevin mengangguk paham, bagaimana pun ia tidak bisa memaksakan keinginanya. Walau ia sangat tidak menyukai Leo dekat dengan istrinya, tapi ia tidak mau Lisa mengalami hal seperti beberapa hari yang lalu. Tidak mau melihatnya dan berbicara padanya adalah hal terburuk yang pernah dialaminya.


"Baiklah....." Kevin belum selesai bicara Lisa memotong pembicaraannya


"Lisa, akan coba belajar dengan Kevin. Lisa tidak mau membuat mami, papa dan Kevin terlalu mengkhawatirkan Lisa. Selama 3 bulan Lisa akan coba kerja bersama Kevin, setelah itu Lisa mau mencoba mengelola tanah di desa bunga."


Caroline tersenyum "apapun itu asal kamu bahagia nak."


"terimakasih semuanya." Lisa tersenyum puas. Ada banyak cinta dan dukungan yang ia terima sekarang.


"Kevin, kamu harus ingat jangan suka memaksa pikiran kamu kepada Lisa." kata Santoso kepada Kevin."


"ia pa..." jawab Kevin.


"satu lagi, memaksakan kehendak kamu ke Lisa hanya akan membuat hubungan pernikahan yang sedang kalian jalani hancur. Jadi...ingat nasihat papa ya..."


"baik pa. Kevin akan lebih perhatikan."


Caroline minum air putih sambil melihat kearah suaminya, nasihatnya luar biasa bijak. Tapi benar-benar berbeda dengan aslinya. Mengajarkan anaknya agar tidak memaksakan kehendak. Lalu yang selama ini dilakukannya apa?? Benar-benar seperti kacang lupa akan kulitnya.


Santoso sadar dengan tatapan istrinya, ia mengangkat gelasnya kearah Caroline sambil tersenyum menggoda. Caroline menggelengkan kepalanya pelan, sambil melirik kearah Kevin dan Lisa. Santoso perlahan meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya, sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


Bagaimana pun rahasianya tidak boleh terbongkar didepan menantu dan putranya. Untungnya Lisa dan Kevin sedang sibuk dengan makanan nya, sehingga tidak memperhatikan Caroline dan Santoso.


__ADS_2