Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
berbicara empat mata


__ADS_3

Kevin merasa ada yang salah sekarang, Ia keluar dari ruangan kearah kamar mandi dan benar perkiraannya. Lisa berlari kearah Kevin dan memeluknya. "tidak apa-apa ada aku" kata-kata Kevin membuat hati Lisa menjadi tenang.


Kevin melihat Khay dipegang oleh dua pengawal Lisa.


Khay tertunduk tidak berdaya. Ia tahu tidak mungkin bisa menang dari pria ini.


"urusan kita belum selesa" Kevin menatap tajam Khay yang tertunduk menyesali tindakannya "kalian bawa nona kembali kerumah." perintah Kevin.


Kevin melepaskan pelukannya dari Lisa. Pria ini sudah memiliki Sabrina dalam hidupnya, bagaimana mungkin ia bisa mendekati wanita lain. Benar-benar tidak menghargai harta sendiri bantin Kevin.


Lisa merasa ancaman datang. Ia memegang kuat jas Kevin dan memberanikan diri menatapnya. Lisa menggeleng kuat, ia tidak mau Kevin melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada Khay.


"tidak akan ada masalah, kamu kembali saja dulu, aku akan menyusul." Kevin berbicara sambil mengusap lembut kepala istrinya.


Lisa kembali menggeleng dengan wajah ketakutan "aku tidak mau ada Roy lain dalam hidup ku. Biarkan kami bicara empat mata dengan Khay untuk menjelaskan semuanya." bujuk Lisa


"Tidak." jawab Kevin singkat.


"hanya 15 menit tidak lebih." bujuk Lisa lagi.


Wanita dihadapanya ini tidak akan mundur dari keputusannya, tidak ada pilihan lain baginya. Ia pun tidak ingin ada Roy lain menganggu kehidupannya bersama Lisa.  Dengan berat hati Kevin berkata : "Tidak lebih dari waktu itu." Kevin mengeluarkan handphonenya dan berbicara sebentar kemudian menutup panggilannya. "kalian hanya boleh bicara ditangga darurat. Itu satu-satunya tempat tanpa kamera pengawas." Kevin memasangkan hands free bluetoot ditelinga Lisa, agar semua pembicaraan mereka dapat didengarnya.


Lisa mengangguk setuju. "baiklah, terima kasih." Lisa kembali kedalam ruangan tangga darurat. Diluar perkiraan Lisa didalam sudah ada 7 orang berdiri diatas anak tangga, dibawah dan dipintu. Lisa mengerutkan keningnya, kapan mereka ada disini? Lisa masih memegang pintu, kemudian ia menunjuk pria-pria itu sambil melihat kearah Kevin tanoa berbicara apapun.


Kevin menaikkan alis matanya. Lisa paham, pria ini tidak mungkin memberikan izin begitu saja. Lisa iku mengangguk terpaksa dan menggigit bibirnya. Pria ini benar-benar menyebalkan.

__ADS_1


Kevin memberi kode dengan gerakan kepalanya. Pengawal melepaskan Khay. Khay memegang pergelangan tangannya. Rasa sakit dipergelangan tangan karena mereka mencengkramnya dengan kuat. Lisa melihat pergelangan tangan Khay kemerahan. "apakah sakit?" tanya Lisa.


Khay mengerutkan keningnya, berani sekali wanitanya memberikan perhatian kepada pria lain dihadapannya.


Khay menggeleng "tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir.


Lisa mengajak masuk Khay keruangan tangga darurat tadi. Lisa duduk dianak tangga, Khay mengikuti Lisa duduk disebelahnya.


"maaf atas perbuatan ku tadi." Kevin menggenggam tanganya dengan kuat.


"Tidak masalah, aku paham. Sepertinya aku juga perlu menjeaskan sesuatu kepada kakak. Agar kedepannya kita tidak ada salah paham lagi." Lisa menarik nafas dan berusaha memilih kata-kata yang tepat agar tidak menyakiti perasaan Khay.


"apa yang ingin kakak tanyakan?"


"seandainya kamu tidak bersamanya, akankah kamu akan menerima ku ketika kita berjumpa seperti saat ini?"


"aku rasa tidak. Karena walau tidak ada Kevin disampingku tapi ada Sabrina disamping kakak. Aku tidak akan pernah mau bersama pria yang sudah memiliki kekasih."


"maaf..." Kevin menundukkan kepalanya.


"berhentilah meminta maaf, hari ini kakak sudah mengatakan itu berulang-ulang, aku bosan mendengarnya." Lisa tertawa berusaha mencairkan suasana yang tegang.


"bagiku, kakak adalah seseorang idola. Waktu kita kuliah, kakak selalu menjadi idola banyak mahasiswi, berbeda dengan ku. Melihat kakak yang selalu bersinar sangat berbanding terbalik dengan ku yang selalu diliputi kegelapan."


"kamu salah, kamulah yang bersinar. Seorang wanita yang kuat dan mandiri, sangat berbeda dengan yang lain. Aku sangat mengagumi kamu dari awal kamu masuk kuliah,"

__ADS_1


Lisa menoleh kearah Khay, apa benar pria ini menyuinya dari awal masuk kuliah? Lisa berusaha mengingat kembali, tapi rasanya tidak mungkin. Hanya Leo yang selalu bersama denganya.


"Awal ketika aku akan mendekatimu, Leo menghalangiku. Katanya dia adalah saudara laki-lakimu. Jika aku berani mendekat, maka dia akan membuat perhitungan. Aku terlalu pengecut saat itu, sedikit ancaman saja sudah membuatku takut. Hal itu berbeda dengan dirimu"


Ternyata Leo mejaganya sampai seperti ini, Lisa tidak tahu apakah harus berterima kasih atau marah kepada sahabatnya itu yang membuatnya tidak pernah bersama dengan cinta pertamanya. Tapi kenapa Leo tidak pernah berbicara dengannya tentang hal ini?? batin Lisa


"mendengar kamu sudah menikah dan kamu yang melamar Kevin, hatiku dipenuhi dengan penyesalah. Kenapa aku begitu bodoh melewatkan semua waktu berharga ku untuk mendapatanmu. Kamu benar-benar hebat dalam mengejar kebahagiaan kamu. Kenapa aku begitu pengecut, berlindung dalam cangkang emas dan membuatku terkurung.?" Kevin meremas kepalanya.


Lisa menarik nafas panjang. "Psikater ku berkata, kebahagiaan bukan datang dengan sendirinya. Tapi datang dari perjuangan dan pengorbanan hidup. Sama seperti rasa ikhlas menerima segalanya. Kehidupan kakak saat ini sangat hebat, memiliki tunangan yang baik, cantik dan kaya. Hargailah apa yang kakak miliki sekarang. Bisa jadi jika kakak melewatkanya, akan ada penyesalan lain dikemudian hari."


"Jika itu tetap bersama denganmu, maka aku akan melepas semua." Khay memegang tangan Lisa.


Lisa menarik tanganya dengan cepat "kakak jangan begini. Dulu memang aku sangat menyukai kakak, tapi itu dulu. Sekarang ada Kevin dihidupku dan aku sangat mencintainya. Aku harap kakak juga bisa hidup bahagia dengan Sabrina."


Mata Khay berkaca-kaca, semuanya sudah berubah ketika ia memtuskan pergi bersama Sabrina keluar negeri. Memilih menjadi tunangannya dan menjalankan usaha keluarga mereka. Hidup adalah pilihan, dan ketika sudah memilih maka jalani semuanya. Menyesali sudah tidak ada gunanya. Tidak ada jalan untuk kembali.


"jika kita tidak bisa bersama, bisakah kita berteman?" Khay menjulurkan tangannya.


Lisa tersenyum menyambut tangan Khay, "salam kenal kembali kakak senior. Senang bisa bertemu dengan kakak."


Lisa dan Khay memulai hidup baru sebagai seorang teman kuliah.Hubungan antara senior dan junior tidak lebih.  Perasaan memang tidak pernah salah, keadaan juga tidak pernah salah. Bagaimana kita bisa dengan bijak mengatasi semua masalah yang ada serta kedewasaan dalam berpikir walau tidak bisa memperbaiki seratus persen, tapi setidak nya bisa membuat keadaan dan perasaan  bisa lebih baik


Khay dan Lisa keluar lebih cepat dari perkiraan. Mereka berbicara lebih santai dan tertawa. Kevin yang menunggu didepan pintu melihat dengan tatapan dingin, ketika Lisa membuka pintu darurat itu.


Khay segera mengambil jarak dengan Lisa, membiarkan para pengawalnya berjalan dibelakang Lisa dan Kevin mengikuti dibelakangnya.

__ADS_1


Kevin menarik Lisa kedalam pelukannya. Kemudian berbalik kearah Khay dan berkata "saya harap kedepannya anda jangan menganggu istri saya lagi. Saya tidak peduli hubungan anda dengan Sabrina. Harap kedepannya jaga jarak dengan istri saya."


Kevin berjalan sambil merangkul Lisa meninggalkan Khay dibelakang dengan perasaan bersalah.


__ADS_2