
Sementara diluar ruangan Kevin, Frans yang berniat masuk kedalam ruangan membatalkan niatnya dan memberi kode kepada Sekertaris Kevin untuk tidak mengganggu saat sekarang ini jika masih ingin hidup.
Sekertaris Kevin yang bernama Sisca berniat membawa teh untuk Lisa juga tidak berani masuk. Mereka kembali duduk ditempat kerjanya sambil bertukar pandangan satu dengan yang lain. Tidak berani berbicara dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Nafas Lisa kembali normal, emosinya sudah stabil kembali. Kevin melepaskan pelukannya perlahan. Kevin melekatkan keningnya di kening Lisa. Kevin melihat wajah Lisa yang masih kemerahan, kemudian mencium keningnya, "maafkan aku".
Lisa menjatuhkan tasnya, kemudian melihat telapak tanganya sudah berdarah. Kevin melihat tangan Lisa berdarah segera membawanya duduk dikursi tamu dan mengambil kotak obat dari salah satu lemari diruangan kantornya.
Lisa tidak tahu kenapa tangannya bisa terluka, mungkin ketika ia memukul Kevin tidak sengaja melukai dirinya. Kevn mengobati luka Lisa dan membalut dengan kain kasa. Suasana diruangan Kevin sangat hening,
Frans menempelkan telinganya dipintu, ingin memastikan apa sekarang sedang terjadi didalam sana.
Laporan yang harus diperiksa Kevin sudah banyak, Belum lagi jadwal rapat pagi yang harus dihadirinya. Keberanian Frans dibawah rata-rata saat ini. Sejak bosnya menikah, emosinya sering tidak stabil. Salah sedikit saja bisa membuat Frans bekerja lembur. Frans meminta Sisca masuk keruangan Kevin, tapi dengan cepat ia menggelengkan kepala dan melambaikan tangan tanda tidak setuju. Frans menggaruk kepalanya, tidak ada pilihan selain mengorbankan dirinya sendiri.
Frans mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, kemudian Frans memberanikan diri masuk. Ia melihat Kevin sedang menyuapkan makan kepada Lisa. Frans mengedipkan mata kearah Sisca, seolah memberikan kode kalau keadaan sudah aman. Sisca masuk kedalam ruangan dan memberikan teh kepada Lisa. Kemudian ia melihat tangan Lisa yang tadi baik-baik saja kali ini sudah dibalut kain kasa. Benar-benar perkelahian antara suami istri yang tidak biasa.
Sisca melihat kearah Frans dan memberikan kode dengan tatapan matanya melihat kearah tangan Lisa yang dibalut kain kasa.
"jika tidak ada yang penting silahkan keluar,"
Sisca membesarkan matanya melihat kearah Frans, ia dalam bahaya sekarang. Kevin memang tidak melihatnya sekarang, tapi bisa menebak apa yang dilakukan Sisca.
Sadar dengan kesalahannya Sisca berkata : "maaf pak" Sisca membungkukkan badannya,
"silahkan diminum bu. Saya permisi dulu" Sisca keluar dari dalam ruangan dalam tenang, akhirnya bisa terlepas dari suasana mencekam.
Frans memijat dahinya, ia takut memulai pembicaraan. Ruangan ini terlalu dingin, membuat lidah Frans menjadi kaku untuk bicara.
__ADS_1
"letakkan saja laporan dimeja, nanti akan aku periksa. Untuk jadwal rapat katakan ditunda 1 jam."
Frans dengan cepat mengangguk dan meletakkan laporan dimeja kerja Kevin. Ia juga menyempatkan diri melihat tangan Lisa. 'kenapa bosnya berani melukai wanita secantik Lisa? sungguh tidak pantas.' batin Frans sambil menyipitkan matanya kearah Kevin.
Kevin selesai meyuapi Lisa makan. Lisa masih berdiam diri, energinya habis karena Kevin. Dengan santai Lisa berbaring dikursi, kemudian memejamkan matanya.
Kevin menghubungi Sisca untuk mengambilkan selimut, dengan langkah seribu Sisca mengambil selimut untuk Kevin, hanya hitungan detik Sisca sudah mengetuk pintu ruangan Kevin dengan nafas terengah-engah .Lebih baik jangan membuat bosnya menunggu dan marah saat kondisi sekarang.
Kevin membuka pintu dan langsung mengambil selimutnya.
Kevin membuka sepatu Lisa dan memakaikan selimut. Kevin berjongkok didepan Lisa, mengelus kepala Lisa kemudian mencium keningnya. "aku kerja sebentar."
Lisa tidak menjawab, tadi malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kepalanya pusing karena kurang tidur.
Kevin keluar ruangan, aura dingin Kevin masih menempel ditubuhnya. "jangan biarkan ada orang masuk kedalam." Perintah Kevin kepada Sisca.
Kemudian Kevin menghubungi pengawal Lisa. A dan B langsung berdiri didepan pintu ruangan Kevin untuk berjaga.
Waktu rapat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, Kevin segera kembali keruangannya. Lisa masih tertidur dengan lelap. Kevin duduk di ruangan kerjanya dan mulai membuka berkas satu persatu. Sambil membaca berkas, Kevin mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, kemudian menghubungi Frans agar menyiapkan satu ruangan disebelah ruangannya. Kevin menutup panggilannya, dan melihat Lisa masih lelap dalam tidur. Kevin melihat tangan Lisa yang terluka, hatinya sangat sakit. Lagi-lagi ia membuat orang yang dicintainya terluka.
Kevin kembali fokus dengan berkas dimejanya, dalam waktu singkat dia menandatangani berkas dan memberikan kepada Frans. Kemudian berkata "kosongkan jadwal hari ini. Dan aku akan ambil cuti 3 hari kedepan selama 1 minggu."
Frans mengangguk, baru kali ini sejarahnya Kevin mengambil cuti. Frans hari ini kehabisan kata-kata dalam menghadapi bosnya. Tapi ia tidak tahu apakah harus senang bosnya cuti atau bersedih karena kerjaannya pasti akan lebih banyak dari sebelumnya.
***
Lisa tertidur selama 3 jam, begitu bangun semangatnya kembali lagi. Lisa menatap Kevin sambil melihat meja yang kosong. Padahal saat ini ia butuh makan banyak agar energinya bisa kembali penuh.
__ADS_1
Kevin membuka jasnya kemudian memakaikannya kepada Lisa "ayo kita pergi."
Lisa mentap Kevin, tanpa bicara kepadanya. Tapi Lisa mengikuti perkataan Kevin. Lisa membuka jas Kevin dan memberikan kepadanya.
Kevin memakaikannya lagi sambil berkata "baju kamu tanpa lengan, aku tidak suka ada pria yang melihat tubuhmu."
Lisa menarik nafas panjang, 'saat ini ia sangat lapar, lebih baik diam dari pada jatuh pingsan' pikir Lisa.
Lisa dan Kevin keluar dari kantor langsung naik kedalam mobil menuju toko kue. Lisa tidak begitu memperhatikan tempat yang dikunjunginya saat ini. Ketika masuk kedalam, barisan kue yang terpajang dalam etalase membuat mata Lisa membersar. Lisa tersenyum lebar kearah Kevin. Ia langsung lupa peristiwa yang ia alami pagi ini.
Lisa memilih kue kesukaannya, dalam waktu singkat mejanya sudah penuh dengan kue. Lisa tertawa sambil bertepuk tangan... "selamat makan..." Satu suapan besar langsung masuk kemulut Lisa. Dalam waktu singkat smua kue dimeja habis dimakannya, kemudian Lisa masih melihat etalase lagi dan bertanya ragu kepada Kevin "apakah bisa bawa pulang?"
"Silahkan"
"Horreee" Lisa bersorak seperti anak kecil. Lisa sadar saat ini dia ditempat umum. Kemudian melihat keseluruh ruangan ternyata hanya ada mereka berdua. Lisa melihat kearah Kevin dan berkata "kemana semua orang??"
Kevin mengangkat bahunya sambil berkata "tidak tahu. Kamu makan saja, tidak perlu pikirkan yang lain."
Lisa tidak tahu, tepat ini sudah dipesan Kevin tadi pagi. Jadi toko tersebut memang tidak menerima pelanggan hari itu. Mendengar penjelasan Kevin, Lisa hanya mengangguk. Kemudian menatap Kevin dengan wajah manja "boleh aku bungkus semuanya?"
Kevin mengerutkan keningnya "apa kamu sanggup menghabiskan semuanya."
Lisa mengangguk dengan penuh percaya diri.
"baiklah," Kevin memerintahkan membungkus semua kue yang ada didalam toko. Setelah toko kue selesai membungkusnya, Kevin baru mengetahui ternyata Lisa mengajaknya kesebuah panti asuhan. Ia tidak paham, dari begitu banyak panti asuhan yang ada dikota ini, kenapa panti asuhan 'Kasih Abadi' menjadi tempat tujuan Lisa berbagi.
Kevin memperhatikan Lisa dari ruangan kepala panti asuhan. Kevin baru mengetahui dari kepala panti, kalau dulu Lisa dan Merry pernah tinggal ditempat ini. Mereka tinggal selama 5 tahun ditempat ini setelah diusir dari rumah. Terkadang jika mereka tidak mampu membayar uang sewa rumah, mereka akan kembali tinggal dipanti asuhan ini. Jadi tepat ini adalah rumah kedua bagi Lisa dan Merry. Hati Kevin sedih mendengar cerita kepala panti asuhan. Pantas saja, mereka sulit menemukan Lisa dan Merry karena panti asuhan adalah satu-satunya tempat yang tidak pernah mereka lacak.
__ADS_1
Kevin tersenyum melihat Lisa dengan semangat membagikan semua kue kepada para anak-anak panti asuhan. Bermain dengan anak-anak dengan senangnya. Tertawa lepas dengan mereka.