
Lisa sampai didepan ruangan Kevin. Sisca menyapa Lisa. Tapi Lisa seperti nya tidak ada di jiwanya sekarang.
"nona Lisa..." Sisca menguat kan volume suaranya dan membuat Lisa terkejut.
"ya...." wajah Lisa masih terlihat bingung.
"perlengkapan mandi anda sudah saya letakkan dikamar mandi. Silahkan anda masuk."
Lisa mengangguk dan berjalan masuk kedalam ruangan Kevin. Lisa segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Lisa mandi sampai 5 kali karena ia masih merasa bau tidak enak dari telur masih menempel ditubuhnya. Hampir 1 jam Lisa mandi dan keluar dengan perasaan puas. Tidak ada lagi aroma tidak sedap menempel ditubuhnya.
Selesai mengering kan rambut Lisa bergegas keruangan rapat. Lisa sudah bolos seharian semalam. Laporan pekerjaan tetap harus diserahkan kepada Kevin walau ia adalah istrinya.Tapi kerjaan tetap kerjaan, tidak ada hubungan dengan perasaan dan ikatan hubungan mereka.
Lisa sampai diruangan rapat. Tatapan mata orang yang hadir diruangan rapat kali ini dirasa berbeda artinya dihati Lisa. Lisa tidak suka tatapan mata seperti ini. Ia tidak suka orang lain melihat dengan tatapan mata iba kepadanya. Hanya Leo yang tidak melihat kearahnya.
"Anda sangat terlambat Bu Lisa, kami sudah 2 jam menunggu anda." kata Leo dengan ketus.
Lisa membungkukkan tubuhnya "maaf semuanya, saya terlambat."
"baiklah, tolong jangan diulangi bagaimanapun kami punya kerjaan lain yang harus dilakukan."
Perkataan Leo yang seperti tidak memiliki hati menjadi pusat perhatian orang diruangan rapat. Bagaimanapun wanita yang berdiri didepan mereka adalah istri CEO. Bukan orang sembarang.
Lisa mengangguk cepat dan berkata "mari kita mulai rapatnya "
Rapat selama 3 jam lebih dan masih berlanjut, belum ada tanda-tanda selesai membuat perut Lisa lapar. Baru memikirkan rencana untuk makan. Sisca datang membawa makan siang untuk semua peserta rapat.
"pak Kevin mengirimkan makan siang dan coffee break. Silahkan menikmati dan melanjutkan rapatnya." Sabrina selesai membagikan makanan dan kemudian mendatangi Lisa sambil berbisik
"nona, pak Kevin titip pesan tolong baca pesan darinya."
Lisa mengangguk dan tidak menjawab perkataan Sisca.
__ADS_1
"kita istirahat 1 jam. Tolong putar musik yang akan dimasukkan menjadi latar game. Aku rasa lebih tepat didengar saat seperti ini. " pinta Lisa
mereka makan siang sambil mendengarkan musik yang akan dipilih mengisi game. Mereka memang sedang makan, tapi wajahnya terlihat sedang berpikir keras.
"bagaimana dengan lagu ini pak Khay...." tanya Leo.
Khay nampak terkejut Leo mengajaknya berdiskusi. Leo sudah memperhatikan Khay dari awal Lisa datang. Ia hampir seharian ini hanya fokus dengan Lisa, bukan dengan materi yang sedang dibahas dalam rapat. Leo tidak suka sahabatnya diperhatikan seperti itu, bagaimanapun Lisa sudah menikah. Tidak pantas bagi seorang pria melihat seorang wanita sudah bersuami dengan tatapan merindu.
"lagu ini....." Khay memiringkan kepalanya "saya rasa cocok juga..." lanjut Khay terbata-bata.
Leo tersenyum mengejek. "saya rasa ini lebih cocok untuk lagi kematian dari pada pertarungan."
Lisa melirik tajam kearah Leo, pria ini dari tadi kenapa selalu sinis dengan semua orang. Apa dia salah makan, pikir Lisa. Lisa mengirim pesan kepada Leo.
'hei..kamu kenapa...' tanya Lisa
Leo melihat pesan masuk di ponselnya dan pesan masuk itu dari Lisa. Leo sengaja tidak membalas. Hanya melirik tajam kearah Lisa.
'ok.. besok-besok tidak usah berteman lagi denganku.' Lisa meletakkan ponselnya.
'aku tidak suka dengan pria didepan mu. Dari tadi dia melihatmu seperi melihat berlian dan berniat mencurinya.๐ค๐ค๐ ๐
'๐ค' balas Lisa.
'apa aku perlu membuat perhitungan dengannya?? ,๐คจ
'sudah jangan buat masalah lagi ๐ฅบ'
Leo dan Lisa sama-sama menarik nafas panjang.
"ibu Lisa dan pak Leo sepertinya sangat akrab ya..." kata salah seorang peserta rapat dari bagian pengembangan animasi game.
__ADS_1
"kami sudah dari kecil bersahabat tentu saja kami sangat akrab" jelas Leo.
Lisa hanya tersenyum, ia sudah selesai makan. Kemudian permisi kepada yang lain kalau ia akan kekamar mandi. Ketika Lisa akan masuk kedalam kamar mandi, ia mendengar ada beberapa orang yang membicarakan tentang nya. Lisa bersandar didinding sebelah pintu masuk ke kamar mandi.
"kalian tahu peristiwa pagi ini didepan kantor??" kata salah seorang dari mereka.
"ia... jangan-jangan memang benar yang dikatakan mereka." jawab yang lain.
"sebaiknya kalian berdua berhati-hati berbicara. Bagaimana pun ia adalah istri CEO kita. Jika ia tidak senang, kalian bisa dipecat."
"kamu jangan pura-pura baik, bagaimana jika benar istrinya seorang perempuan murahan."
"tidak bagus mendengar hal buruk dan mencampuri permasalah orang. Aku pergi dulu." Salah seorang dari mereka keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat Lisa berdiri disebelah pintu masuk sambil melipat kedua tangannya.
Lisa tersenyum melihat wanita yang keluar dari kamar mandi itu. Ternyata ada juga orang baik yang masih berpikir waras. Tidak menghakimi dirinya secara sepihak tanpa mengetahui permasalahan nya.
Wanita itu ingin menyapa Lisa. Lisa mengarahkan jari telunjuk nya kebibirnya. Wanita itu paham maksud Lisa dan bergegas meninggalkan kamar mandi.
"aku dengar istri CEO kita itu adalah seorang anak yang dibuang oleh keluarganya. Hidupnya sangat miskin. Katanya ia karyawan di kantor kita sebelum menikah dengan CEO. Benar-benar hebat bisa merayu bos kita yang berkepribadian dingin."
"zaman sekarang kalau kamu mau mendapatkan sesuatu yang besar, kamu harus berani berkorban lebih besar." jawab wanita satu lagi.
Seorang wanita masuk kedalam kamar mandi melihat Lisa berdiri didepan pintu. Awalnya wanita itu tidak paham kenapa Lisa tidak masuk kedalam setelah mendengar pembicaraan kedua wanita didalam kamar mandi ia mengangguk paham dengan keadaannya.
"kalian berbicara sangat buruk. Orang yang kalian bicarakan ada didepan kamar mandi." kata wanita yang baru masuk kekamar mandi.
Wajah kedua wanita itu berubah merah padam. Lisa sudah berdiri didepan pintu sambil melipat kedua tangannya, tatapan mata nya lurus kearah kaca yang memantulkan bayangan mereka bertiga.
"aku memang dibuang keluarga ku, tapi tidak dengan orang tuaku. Memang hidupku sangat miskin sebelum bertemu dengan papa mertua ku yang memegang akta kepemilikan saham papaku yang sudah meninggal. Sekarang aku sangat kaya dari warisan orang tuaku walau tanpa Kevin. Sesulit apapun hidupku, kalian tidak berhak menghakimi hidupku."
Kedua orang itu membungkukkan badannya dan meminta maaf kepada Lisa.
__ADS_1
Lisa hanya tersenyum kepada mereka berdua.
Lisa tidak sakit hati dengan perkataan mereka, hanya saja yang perlu disayangkan adalah orang tidak boleh berprasangka buruk kepada orang lain. Jika tidak tahu tentang apapun lebih baik diam, daripada bicara tapi menyakiti perasaan orang lain.