
Sepanjang perjalanan Lisa selalu tersenyum, wajah orang tuanya masih terlihat jelas dimatanya. Wajah bahagia, ya.... sama seperti mereka yang sudah bahagia berdua di alam sana, Lisa juga harus hidup bahagia bersama orang-orang disekitarnya.
Kevin masih memikirkan perkataan Lisa tadi, pria ini mengedepankan rasional dari pada irasional. Walau hal yang sama pernah terjadi ketika Kevin menggendong Merry keluar dari tempat penculikan. Ia mengatakan kalau suaminya sudah datang menjemputnya. Kali ini Lisa melihat mereka berdua bersama, apakah ini suatu pertanda baik atau buruk? Kevin merasa tidak tenang dengan kejadian ini. Ia melihat keluar jendela, Lisa pernah mengatakan kalau orang yang sudah meninggal akan mengawasi keluarganya yang masih hidup dari balik awan. Lisa melihat kedua orang tuanya, apakah ini berarti mereka akan datang menjemputnya?
Kevin menggelengkan kepalanya, ia tidak mau berpikiran yang tidak-tidak. Bagaimanapun sekarang ia sudah kembali sadar dan akan menjaga Lisa dengan sebaik-baiknya. Berbeda dengan Lisa yang terlihat senang, Kevin justru sebaliknya wajahnya mendadak kembali mejadi seperti dahulu, dingin dan serius.
Caroline merasa keanehan dalam sifat kedua orang ini, sambil makan, Caroline melihat Kevin dan Lisa secara bergantian. Santoso memberi kode dengan matanya agar istrinya tidak perlu khawatir dengan keadaan mereka berdua. Caroline berusaha menerima semuanya pada saat makan siang ini. Tapi ketika makan malam, suasana yang sama terjadi lagi. Lidah Caroline sangat gatal ingin menanyakan kepada mereka berdua apa yang terjadi. Lagi-lagi Santoso melarangnya menanyakannya.
Kevin sudah diambang rasa penasaranya. Ia tidak bisa lagi menahannya, jam 8 malam ketika Frans datang ia menyerahkan dokumen kepada Santoso dan Kevin hasil kerja dari Paris. Kevin pulang lebih awal, sedangkan Frans menyiapkan dokumen kerja sama dengan investor sehingga ia baru bisa pulang hari ini.
Frans terlihat murung melihat kepala dan tangan kanan bosnya yang diperban. Kevin tidak suka dengan tatapan mata Frans, "jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku akan segera sembuh. Beberapa minggu ini kamu bisa sedikit santai, tapi setelah itu aku akan kembali menyiksa mu."
Frans menelan ludahnya, ternyata luka dikepala bosnya tidak menyebabkan ia lupa untuk bersikap dingin kepada dirinya. Kevin tersenyum licik melihat Frans. "aku mau kamu ikut aku sekarang. Ada hal yang harus aku pastikan malam ini."
Frans menggaruk kepalanya, ia masih sangat lelah karena baru tiba malam ini. Dan bosnya ingin mengajaknya lembur. Kevin paham dengan bahasa tubuh Frans. "baiklah, kamu tidak usah ikut denganku."
"Pa, Kevin pergi keluar sebentar ada yang perlu aku pastikan."
Santoso mengerutkan dahinya. "kamu masih baru sembuh ingin pastikan apa lagi. Sudah lah, kamu istirahat saja. Jangan pikirkan pekerjaan dan lainnya."
"ini sangat penting pa..."
Santoso tambah marah mendengar putranya mengabaikan perkataannya."apa yang lebih penting daripada kesehatanmu??? Mami dan Lisa setiap hari menangis melihatmu, papa rasa kamu bisa lihat dari lingkar matanya yang menghitam. Setiap malam mereka tidak bisa tidur memikirkan bagaimana keadaanmu."
__ADS_1
Kevin terdiam, awalnya ia tidak mau menceritakan masalah ini pada siapapun. Karena sudah tidak bisa mengelak, Kevin pun bercerita kepada papanya.
"siang ini ketika pulang dari rumah sakit, kebetulan aku jalan lebih dahulu dan sampai didepan pintu lift, Lisa terlihat masih berdiri didepan pintu kamar inap ku. Ia mengatakan ia melihat orang didalam kamarku, tapi pengawal yang ada dibelakang Lisa dan melihat kedalam ruangan itu tidak melihat ada orang. Hanya tirai jendela yang bergoyang tertiup angin."
Frans merasa merinding, ia duduk dihadapan Kevin dan Santoso. Kevin segera berdiri dan duduk ditengah mereka berdua. Kevin dan Santoso sama-sama mengerutkan dahinya melihat Frans.
"kenapa kamu duduk disini??" tanya Kevin
Frans tersenyum takut "tidak apa-apa bos, aku hanya merasa tidak nyaman duduk sendiri. Bersama kalian lebih nyaman." Frans tersenyum manis menatap bergantian kedua bosnya.
Santoso menggelengkan kepalanya. "sudah sebesar ini masih menjadi orang yang penakut."
Frans memegang tangan Santoso "pak,saya tidak takut. Saya hanya ingin menemani kalian berdua dengan baik. Percayalah, saya tidak takut hanya sedikit ngeri mendengar ceritanya."
Santoso memutar bola matanya "terserah kamu saja. Bukan kah ngeri dan takut hanya beda huruf tapi sama artinya"
"Jendela diruangan itu ditutup rapat dengan gembok sandi angka. Tidak ada yang tahu kode itu selain aku dan Dokter Roy." jelas Kevin
"mungkin dokter Roy membukanya." jawab Santoso santai
"betul... pasti dibuka dokter Roy" sahut Frans berusaha membuat pernyataan Kevin menjadi lebih rasional sehingga ia tidak takut.
Kevin menatap tajam Frans yang bicara tanpa diminta olehnya. Frans sadar tatapan mata Kevin sangat berbahaya bagi perkembangan karirnya. Frans mundur dan bersandar dikursi sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Lisa mengatakan tadi malam ia melihat jendela masih terkunci rapat. Aku sudah meminta rekaman kamera pengawas yang mengarah ke ruangan juga meminta pengawal memeriksa sidik jari di gembok itu. Mereka mengatakan sidik jari Lisa yang memegang gembok itu dan posisinya tidak terbuka."
"hanya melihat tirai bergoyang kemudian Lisa seperti melihat seseorang kenapa kamu sangat panik.?" tanya Santoso
Frans ingin mengangguk menyetujui perkataan bos besarnya, tapi Kevin sudah melihatnya dengan tatapan tajam.
"Lisa melihat kedua orang tuanya. Aku sangat khawatir, terakhir kali waktu aku menyelamatkan mama Merry, ia mengatakan kalau ia melihat papa Lisa sudah datang menjemputnya. Kali ini mereka datang berdua, dan Lisa melihatnya, aku merasa tidak enak dengan semua ini. Jadi aku ingin memastikan apakah mama Merry dan papa Rendy masih ada disana. Aku tidak mau mereka membawa Lisa seperti papa Rendy membawa mama Merry pergi bersamanya."
Frans memegang tangan Santoso dengan kuat. Ia melihat tangannya kemudian melihat Frans "aku rasa satu anggota mu perlu kita uji nyali. Frans kamu saja menginap diruangan inap Kevin sendirian selama satu malam saja, kemudian laporkan apa yang terjadi"
Frans segera melepaskan tangannya dan menggeleng dengan cepat tanpa bicara sepatah katapun, Wajahnya sudah ketakutan mendengar cerita Kevin. Ditambah uji nyali, sungguh ia pasti tidak sanggup menghadapinya.
"Aku pernah merasakan rasa takut seperti ini sebelumnya, kali ini aku malah semakin takut. Beri aku ijin untuk memastikan semuanya." Bujuk Kevin kepada papanya
"papa saja yang pergi." jawab Santoso
"tidak pa, Lisa adalah istriku. Aku ingin memastikannya sendiri,"
"kamu jangan lupa. ia adalah menantu perempuanku. Ia suah seperti putriku sendiri. Keamanannya ada segalanya bagiku." kata Santoso
"jika papa pergi, mereka akan curiga. Kalau aku dan Frans tidak akan ada masalah. Aku tinggal mengatakan ada urusan kantor."
Frans dengan cepat melambaikan tangannya kepada bosnya tanda ia tidak mau mengikuti keinginannya.
__ADS_1
"Kita pergi bertiga sekarang." Santoso berdiri , Kevin juga ikut berdiri, hanya Frans yang duduk pura-pura tidak melihat kedua bosnya itu.
Santoso menarik tangan Frans "ayo, sudah waktunya kamu menjadi laki-laki sejati." Frans menarik tangannya dan melihat Santoso dengan tatapan memelas agar ia tidak ikut. Tapi usahanya sia-sia. Kedua generasi Sun Group ini terlalu kuat untuk dikalahkannya.