Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
bukan seorang penakut


__ADS_3

Bibir Patrick mulai terbuka, ia sangat ingin bicara tapi sangat takut. Bagaimana jika Roy ternyata memiliki kaki tangan dan orang itu ada diantara mereka yang saat ini dihadapannya.


"baiklah, aku akan meminta mereka meninggalkan kita berdua."


Patrick menggeleng perlahan "tidak perlu." dalam hati Patrick ia memang tidak mengenal mereka setelah bertahun-tahun tertidur. Tapi dari pada diam dan memendam semuanya sendiri, lebih baik mengatakan semuanya.  Patrick mulai berbicara dan menatap Cindy.


Setelah Kevin terjatuh diatas tubuhnya secara tiba-tiba membuatnya kaget dan sempat membuka matanya. Kemudian ia mendengar suara wanita itu tercekik, sangat nyaring ditelinga membuatnya ketakutan setengah mati. Pria itu membuka topi yang menutupi wajahnya dan tertawa sepertinya sangat puas dengan perbuatannya. Ia menarik tubuh Kevin dari atas tubuhnya. Saat itu hujan sudah mulai turun rintik-rintik. Patrick membuka matanya dan melihat pria itu tepat dihadapannya, Jarak meraka hanya 5 cm. Ia tertawa melihatnya. Sangking takutnya Patrick tidak bisa menutup matanya seperti yang diminta Kevin kepada nya. Tubuhnya bergetar hebat dan ia pun mulai tidak sadarkan diri sejak saat itu.


"hai penakut" itu kata-kata Roy yang terakhir yang diingat Patrick pada saat itu. Ketika ia koma, ia bisa mendengarkan semua ucapan orang-orang disekitarnya. Ia mendengarkan suara yang sama menyapanya berkali-kali. Patrick sangat ketakutan saat itu, bagaimana orang ini bisa mengikutinya kemana pun ia pergi. Padahal seingat Patrick orang tuanya berganti-ganti negara dan rumah sakit untuk memulihkan kondisinya.


Ketika mendengar suara Kevin, Patrick merasa ini adalah waktu bagi dirinya untuk bangun. Kevin tidak mati, ia masih hidup. Ia bisa bertahan dengan tebasan pedang dari Roy lantas kenapa ia masih terbaring tidak berdaya disini. Ia berusaha keras membuka matanya, dan ia berhasil. Melihat Kevin yang sudah berubah menjadi orang dewasa, benar-benar jauh dari pikirannya selama ini. Semangat Patrick turun, ia melewati waktu selama ini untuk tersadar dari tidur panjangnya.


Ketika masa rehabilitasi ia sama sekali tidak ingat mengenai Roy. Tapi ketika bercerita tentang peristiwa tadi, dan berkali-kali mendengar Roy yang menyangkal perkataan Kevin. Dalam hatinya berkata, sepertinya pernah mengenal suara ini. Tapi dimana dan siapa. Sangat Familiar, sangat menakutkan, sangat mengerikan membuatnya tidak berani mengangkat wajahnya. Padahal Roy berbicara disampingnya tidak melakukan apapun kepadanya.


Lisa dan Jannie yang duduk disamping kanan dan kiri Patrick memeluknya. Patrick menangis mengeluarkan rasa penyesalan dan ketakutannya selama ini.


"Roy memang benar, aku adalah seorang penakut" kata Patrick Lirih


"bukan penakut. Setiap orang mempunyai insting untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Kevin saat ini memintamu berdiam diri pasti ada alasannya. Ia pasti tidak mau kamu mempersulit dirinya yang sedang berusaha melarikan diri dari peristiwa itu. Diamnya kamu pada saat itu sudah sangat membantu dirinya."

__ADS_1


Patrick menatap Cindy dengan penuh harap kalau yang didengarnya kali ini bukan hanya kalimat penghibur.


"berhentilah berpikir yang tidak-tidak, itu hanya membuatmu seperti seekor katak yang terkurung dalam gua. Gelap dan tidak berani melihat indahnya dunia luar karena kamu terlalu takut mendengar suara kerbau, suara orang, suara jangkrik bahkan suara hujan. Semua orang memiliki rasa takut. Semua orang yang ada diruangan ini juga sama dengan dirimu. Lisa juga memiliki masalah yang hampir sama dengan dirimu. Tapi kamu lihat dia sekarang. Ia sangat kuat dan bisa menjalani semuanya dengan sangat baik." jelas Cindy panjang lebar


"benarkah...." tanya Patrick kepada Lisa


"ya.... ibuku meninggal karena ulah adik kandung ayahku. Waktu aku berusia 5tahun dan bertepatan baru meninggal ayahku selama beberapa hari kami diusir dari rumah oleh keluarga ayahku. Kami bertahan hidup berdua dengan mamaku, hingga saat terakhir mamaku divonis menderita penyakit yang mematikan, dalam kondisi sekarat. adik ayahku berani menculik mamaku dan akhirnya ia meninggal karena terlambat mendapatkan pertolongan." kata Lisa dengan satu tangan memegang pundak Patrick


"maaf...aku tidak tahu,,," patrick merasa bersalah membuat Lisa mengingat masa lalunya yang kelam.


"tidak masalah, kamu sangat beruntung. Kedua orang tuamu masih menemanimu sampai sekarang ini. Lihatlah dukungan keluarga besar mu sangat besar, sangat bertolak belakang dengan hidupku yang terbuang. Untunglah aku menemukan satu-satunya keluarga yang mendukungku sekarang." kata Lisa sambil melihat kearah Leo


Leo menatap Lisa sambil tersenyum.


Patrick mengangguk dengan pasti. Ia merasa sudah menjadi orang yang berbeda sekarang.


Sementara diluar kamar itu. Kepala polisi memberikan data pembunuhan yang terjadi 20 tahun yang lalu kepada Roy dan mula menanyainya.


"apa kamu kenal wanita ini??" kata polisi sambil menunjukkan foto seorang wanita Eropa berusia 20 tahunan kepada Roy.

__ADS_1


Roy menggelengkan kepalanya "tidak kenal." jawabnya singkat


Kevin melihat foto itu "bukankah ia adalah......" Kevin merasa wanita ini sangat familiar baginya.


"ia,,,dia adalah wanita yang bersama kalian 20 tahun yang lalu dihutan itu." jelas polisi tersebut kepada Kevin


Detak jantung Kevin meningkat, suara wanita menjelang kematiannya masih terdengar ditelinga Kevin walau itu adalah peristiwa lampau. Rasanya seperti baru terjadi semalam. Kevin merebut foto itu dari tangan Roy. Tidak terasa tangan Kevin bergetar melihat foto itu.


"aku...aku....." Lidah Kevin menjadi keluh kata-kata yang ingin diucapkan tidak bisa keluar dari mulutnya.


"jangan dipaksa anakku..." kata Santoso sambil menepuk perlahan pundak Kevin.


"kami bertahun-tahun melakukan penyelidikan dan secara kebetulan DNA yang ditemukan pada kado itu ditemukan DNA yang sama kejadian 20 tahun yang lalu. Aku kebetulan pada saat itu adalah salah opsir yang berada di TKP. Pada saat itu hujan deras, jadi jejak pembunuh itu tidak begitu jelas." jelas Kepada Polisi itu


"anda tidak salah orang?? bukan kah tadi sudah dikatakan Patrick kalau yang membunuh wanita itu adalah dia." kata Roy sambil menunjuk Kevin


"jaga bicara kamu Roy..." Santoso tidak suka cara Roy menyudutkan anak laki-lakinya


"berhentilah melindungi seorang pembunuh. Sekali pembunuh maka ia selamanya adalah seorang pembunuh." cibir Roy

__ADS_1


Nafas Kevin mulai tidak beraturan, kata pembunuh membuat Kevin merasa ketakutan. Nyawa orang yang tidak berdosa dihilangkan oleh dirinya sendiri. Ia sudah merampas hak orang untuk hidup, benar-benar kejahatan yang tidak terampuni. Bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkannya pasti mereka sangat terpukul. Keringat jagung mulai keluar dari kening Kevin. Santoso mengusap pundak Kevin.


"BRAAK" suara hantaman membuat suasana tegang di ruang tamu itu menjadi hilang seketika. Pandangan mereka tertuju pada asal suara tersebut.


__ADS_2